Bab 5: Dino yang Memberi Peringatan

Ruangan arsip yang hening kini kembali dipenuhi suara gesekan kertas dan gumaman pelan Rima. Ia sudah duduk di sana sejak jam dua siang, tumpukan berkas di depannya belum berkurang banyak.

Sinar matahari sore menembus jendela kecil di bagian atas, menerangi debu-debu halus yang melayang di udara.

Rima menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu membetulkan posisi duduknya yang mulai pegal. Ia memandang tumpukan dokumen yang harus diperiksa ulang satu per satu, lalu menghela napas panjang.

"Satu, dua, tiga..." hitungnya pelan sambil membalik lembaran. "Lima belas halaman... ya, benar. Tapi kenapa rasanya makin lama makin banyak saja ya? Kayaknya dokumen ini biang kerok semua berantakan di kantor deh."

Ia baru saja selesai memasukkan satu map ke dalam kotak saat terdengar suara ketukan pelan di pintu. Rima menoleh dan melihat Dino berdiri di ambang pintu sambil membawa dua gelas teh hangat.

"Selamat sore, Mbak Rima. Masih sibuk ya?" tanyanya ramah sambil melangkah masuk.

Rima buru-buru berdiri tegak. "Eh Pak Dino! Sore Pak. Iya nih, masih ada sisa sedikit lagi. Maaf ya Pak, merepotkan gara-gara kesalahan saya tadi."

"Santai saja, namanya juga belajar," Dino meletakkan gelas teh di meja kerja Rima.

"Ini diminum dulu ya, biar nggak lemas. Saya kebetulan lewat, sekalian mau kasih sedikit pesan buat kamu."

Rima duduk kembali dengan sopan, tangannya memegang gelas hangat itu. "Pesan apa Pak? Apakah Pak Andre marah lagi?"

"Bukan marah, tapi beliau memang punya kebiasaan yang harus kamu tahu," Dino menarik kursi kosong dan duduk di hadapannya dengan sikap santai tapi serius.

"Saya sudah bekerja sama dengan Pak Andre hampir tiga tahun, jadi saya cukup paham apa yang beliau suka dan tidak suka."

Ia menatap Rima dengan tatapan mengingatkan. "Pak Andre itu orang yang sangat teratur, perfeksionis, dan sama sekali tidak suka kekacauan, baik itu kekacauan berkas, kekacauan waktu, maupun kekacauan pembicaraan.''

''Kalau nanti kamu dipanggil beliau atau harus melapor sesuatu, bicaralah langsung ke inti saja. Jangan bertele-tele, jangan cerita hal yang tidak perlu, dan jangan menambahkan alasan yang panjang lebar."

Rima mengangguk antusias, tapi matanya berbinar seolah baru saja menemukan topik menarik.

"Oh begitu ya Pak? Jadi beliau nggak suka ya kalau suatu masalah di perinci? Padahal tadi saya cuma mau jelasin kalau gambar kucing itu maksudnya biar semangat hitung angka loh Pak!

''Soalnya saya kalau lihat deretan angka yang banyak dan kaku, kadang jadi capek sendiri. Terus saya ingat kucing itu fokus kalau menjaga incarannya, jadi saya pikir... , lucu saja kalau digambarkan jadi penjaga dokumen."

Dino menahan tawa, bibirnya tertekan rapat menahan senyum melebar.

"Terus selain itu," lanjut Rima tanpa sadar makin bersemangat,

"saya memang suka banget gambar kucing sejak kecil Pak. Dulu waktu saya masih SD, rumah saya dekat tempat penampungan kucing liar, hampir setiap sore saya main ke sana.''

''Rasanya kucing itu tenang, nggak banyak omong, tapi selalu tahu apa yang harus dilakukan. Beda sama saya yang mulutnya lari duluan sebelum otak mikir.''

''Makanya kalau saya lagi bingung atau capek kerja, saya suka gambar kucing biar hati saya tenang lagi.''

''Kadang saya kasih mereka ekspresi lucu, kayak kucing yang lagi kaget, kucing yang lagi ngomel, atau kucing yang lagi pura-pura galak padahal hatinya lembut..."

Rima baru berhenti bicara saat melihat Dino menepuk pelan bahunya sambil tertawa kecil.

"Waduh Mbak Rima... baru saya bilang jangan bertele-tele, kok malah cerita panjang lebar soal kucing?" canda Dino.

Wajah Rima seketika memerah padam. Ia menutup mulutnya dengan tangan. "Waduh! Maaf Pak! Mulutku ini emang suka nggak bisa diajak kompromi. Sekali mulai ngomong, susah berhentinya."

"Iya saya tahu, itu bukan hal buruk kok," Dino tersenyum ramah, lalu kembali menatapnya dengan serius. "Cuma satu hal penting yang harus kamu ingat baik-baik.''

''Jaga jarak dengan Pak Andre. Beliau adalah pimpinan tertinggi di sini, kamu adalah anak magang. Jarak jabatan itu harus dijaga, jangan sampai kamu terlalu bebas bicara seperti sama teman sendiri."

Ia menunjuk tumpukan berkas di meja. "Pak Andre menghargai kerja keras dan ketelitian. Kalau kamu ingin beliau melihat kamu sebagai pekerja yang andal, tunjukkan lewat pekerjaanmu yang rapi dan laporan yang singkat padat jelas.''

''Kalau bicara soal kucing atau hal pribadi lain, simpan dulu di waktu istirahat atau saat ngobrol sama temanmu ya."

Rima mengangguk kencang, matanya berbinar penuh pengertian. "Siap Pak Dino! Saya paham banget maksud Bapak.''

''Saya janji bakal berusaha mengontrol omongan saya kalau sedang berhadapan sama Pak Andre. Saya nggak mau dianggap anak yang nggak tahu sopan santun cuma gara-gara kebanyakan ngomong."

"Bagus kalau begitu," Dino berdiri dan merapikan setelannya. "Semangat ya menyelesaikan arsipnya. Kalau sudah selesai, kamu bisa lapor ke saya, nanti saya bantu periksa sebentar sebelum dikirim ke Pak Andre."

"Terima kasih banyak ya Pak! Bapak baik banget," ucap Rima tulus.

"Sama-sama. Saya pamit dulu ya, masih ada laporan yang harus saya siapkan," Dino melambaikan tangan lalu berjalan keluar ruangan.

Setelah pintu tertutup, Rima kembali menatap tumpukan berkas di depannya. Ia mengambil satu lembar kertas kosong, menulis pesan singkat di atasnya lalu menempelkannya di pinggir meja:

"Ingat: Fokus, Rapi, Jangan Banyak Omong!"

Ia tersenyum melihat tulisannya sendiri, lalu mulai bekerja kembali dengan lebih hati-hati. Sesekali ia berhenti sejenak, menahan napas saat rasanya ingin berbicara sendiri, lalu menggelengkan kepala pelan.

"Oke Pak Andre, Pak Dino... saya buktikan saya bisa berubah," bisiknya pelan. "Nggak ada lagi gambar kucing di laporan, nggak ada lagi cerita panjang lebar tanpa perlu. Pokoknya saya jadi anak magang paling sopan dan teliti!"

Di lantai atas, Dino baru saja masuk ke ruangan Andre. Andre sedang menandatangani berkas, namun menyadari langkah asistennya yang terlihat menahan tawa.

"Ada apa?" tanyanya singkat tanpa menoleh.

"Tadi saya ketemu Mbak Rima di ruang arsip Pak," jawab Dino sambil tersenyum. "Saya sudah kasih peringatan supaya beliau bicaranya singkat dan menjaga batasan jabatan.''

''Eh, baru selesai saya bilang, dia malah cerita panjang lebar soal alasan kenapa suka menggambar kucing. Mulai dari masa kecil sampai sifat kucing yang tenang."

Andre berhenti menulis sejenak, ujung bibirnya bergerak sedikit membentuk senyum tipis yang tak disadari.

"Benar-benar unik," gumamnya pelan. "Tapi setidaknya dia mau mendengar nasihat. Biarkan saja, asal pekerjaannya benar."

"Siap Pak," Dino mengangguk. "Beliau terlihat sangat berusaha keras mengubah kebiasaan cerobohnya Pak. Semoga saja berhasil."

Andre kembali menunduk ke berkasnya, namun pikirannya sejenak melayang pada gadis ceroboh yang selalu punya alasan lucu di balik setiap kesalahannya.

"Semoga saja," ucapnya pelan.

Terpopuler

Comments

Arni Arlinawati pratiwi

Arni Arlinawati pratiwi

kok emak bayangin nya kamu nge gambar patung kucing yang gerak gerak tangan nya tuh apa nama nya lupa.. /Facepalm/

2026-08-21

0

THE GIRL COOL😑

THE GIRL COOL😑

andreeeeeeee sumpah gue senenga banget sama tuh nama

2026-07-18

1

🌺⃟ SasMaya

🌺⃟ SasMaya

🤣🤣🤣 tuh kan...Rima masih coba jelasin... pdhl tinggal manggut aja Rim... itung-itung latihan

2026-07-20

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Salah Masuk Mobil di Tengah Hujan
2 Bab 2: Tas yang Ketinggalan
3 Bab 3: Pengenalan
4 Bab 4: Berkas yang Tertukar
5 Bab 5: Dino yang Memberi Peringatan
6 Bab 6: Terlambat Mengantar Dokumen
7 Bab 7: Kesalahpahaman di Kantin
8 Bab 8: Tugas Memeriksa Data
9 Bab 9: Payung yang Tertukar
10 Bab 10: Salah Masuk Ruangan
11 Bab 11: Membantu Angkat Barang
12 Bab 12: Bertemu di Halte
13 Bab 13: Kopi yang Salah Antar
14 Bab 14: Mengobati Luka Kecil
15 Bab 15: Pertemuan dengan Teman Lama
16 Bab 16: Cerita di Telepon
17 Bab 17: Undangan Makan Malam Keluarga
18 Bab 18: Lupa Membawa Dompet
19 Bab 19: Clara Memperhatikan Rima
20 Bab 20: Payung dan Senyum yang Tertinggal
21 Bab 21: Obrolan di Ruang Dokumen
22 Bab 22: Berkunjung ke Rumah Andre
23 Bab 23: Undangan ke Rumah Clara
24 Bab 24: Rima Bercerita Masa Magang
25 Bab 25: Jamuan Makan di Rumah Clara
26 Bab 26: Pembicaraan di Rumah
27 Bab 27: Laporan Akhir
28 Bab 28: Berita Kepulangan ke Jogja
29 Bab 29: Berpamitan
30 Bab 30: Andre Datang ke Tempat Kost
31 Bab 31 Keraguan Rima
32 Bab 32: Keputusan yang Dihargai
33 Bab 33: Berangkat ke Jogja
34 Bab 34: Yogyakarta
35 Bab 35: Memulai hari
36 Bab 36: Kesibukan Andre
37 Bab 37: Rima dan Skripsi
38 Bab 38: Keteguhan Hati Andre
39 Bab 39: Percakapan yang Membuka Pikiran
40 Bab 40: Inspirasi yang Mengalir
41 Bab 41: Kesulitan Dana
42 Bab 42: Kejutan dari Jauh
43 Bab 43: Langkah Berdua di Malioboro
44 Bab 44: Janji di Tengah Senja
45 Bab 45: Perpisahan dan Janji
46 Bab 46: Semangat di Balik Kalung
47 Bab 47: Garis Akhir yang Semakin Dekat
48 Bab 48: Wisuda
49 Bab 49: Menuju Jakarta
50 Bab 50: Kabar Bahagia
51 Bab 51
52 BAB 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 Bab 55: Bayang-bayang yang Mengganggu Hati
56 Bab 56: Perhatian itu
57 Bab 57
58 Bab 58: Patah Hati Dalam Diam
59 Bab 59: Nasib yang Menemukan
60 Bab 60: Langkah Yang Sama
61 Bab 61: Keputusan yang Berat
62 Bab 62: Ikatan Suci
63 Bab 63: Kabar Mengejutkan
64 Bab 64: Kebiasaan Baru
65 Bab 65: Hati yang Mulai Berbicara
66 Bab 66: Senja, Ombak, dan Rasa yang Berubah
67 Bab 67: Pulang Membawa Hati
68 Bab 68: Hari‑hari yang Lebih Indah
69 Bab 69: Langkah Pertama
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72: Jejak Masa Lalu yang Menyatukan
73 Bab 73
74 Bab 74: Pintu itu Terbuka Sedikit
75 Bab 75: Restu yang Akhirnya Datang
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Bab 1: Salah Masuk Mobil di Tengah Hujan
2
Bab 2: Tas yang Ketinggalan
3
Bab 3: Pengenalan
4
Bab 4: Berkas yang Tertukar
5
Bab 5: Dino yang Memberi Peringatan
6
Bab 6: Terlambat Mengantar Dokumen
7
Bab 7: Kesalahpahaman di Kantin
8
Bab 8: Tugas Memeriksa Data
9
Bab 9: Payung yang Tertukar
10
Bab 10: Salah Masuk Ruangan
11
Bab 11: Membantu Angkat Barang
12
Bab 12: Bertemu di Halte
13
Bab 13: Kopi yang Salah Antar
14
Bab 14: Mengobati Luka Kecil
15
Bab 15: Pertemuan dengan Teman Lama
16
Bab 16: Cerita di Telepon
17
Bab 17: Undangan Makan Malam Keluarga
18
Bab 18: Lupa Membawa Dompet
19
Bab 19: Clara Memperhatikan Rima
20
Bab 20: Payung dan Senyum yang Tertinggal
21
Bab 21: Obrolan di Ruang Dokumen
22
Bab 22: Berkunjung ke Rumah Andre
23
Bab 23: Undangan ke Rumah Clara
24
Bab 24: Rima Bercerita Masa Magang
25
Bab 25: Jamuan Makan di Rumah Clara
26
Bab 26: Pembicaraan di Rumah
27
Bab 27: Laporan Akhir
28
Bab 28: Berita Kepulangan ke Jogja
29
Bab 29: Berpamitan
30
Bab 30: Andre Datang ke Tempat Kost
31
Bab 31 Keraguan Rima
32
Bab 32: Keputusan yang Dihargai
33
Bab 33: Berangkat ke Jogja
34
Bab 34: Yogyakarta
35
Bab 35: Memulai hari
36
Bab 36: Kesibukan Andre
37
Bab 37: Rima dan Skripsi
38
Bab 38: Keteguhan Hati Andre
39
Bab 39: Percakapan yang Membuka Pikiran
40
Bab 40: Inspirasi yang Mengalir
41
Bab 41: Kesulitan Dana
42
Bab 42: Kejutan dari Jauh
43
Bab 43: Langkah Berdua di Malioboro
44
Bab 44: Janji di Tengah Senja
45
Bab 45: Perpisahan dan Janji
46
Bab 46: Semangat di Balik Kalung
47
Bab 47: Garis Akhir yang Semakin Dekat
48
Bab 48: Wisuda
49
Bab 49: Menuju Jakarta
50
Bab 50: Kabar Bahagia
51
Bab 51
52
BAB 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
Bab 55: Bayang-bayang yang Mengganggu Hati
56
Bab 56: Perhatian itu
57
Bab 57
58
Bab 58: Patah Hati Dalam Diam
59
Bab 59: Nasib yang Menemukan
60
Bab 60: Langkah Yang Sama
61
Bab 61: Keputusan yang Berat
62
Bab 62: Ikatan Suci
63
Bab 63: Kabar Mengejutkan
64
Bab 64: Kebiasaan Baru
65
Bab 65: Hati yang Mulai Berbicara
66
Bab 66: Senja, Ombak, dan Rasa yang Berubah
67
Bab 67: Pulang Membawa Hati
68
Bab 68: Hari‑hari yang Lebih Indah
69
Bab 69: Langkah Pertama
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72: Jejak Masa Lalu yang Menyatukan
73
Bab 73
74
Bab 74: Pintu itu Terbuka Sedikit
75
Bab 75: Restu yang Akhirnya Datang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!