Bab 3: Pengenalan

Pagi itu, udara di dalam gedung kantor terasa lebih sejuk dari biasanya, namun bagi Rima, rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk perutnya.

Ia sudah bangun dua jam lebih awal, menyetrika seragam magangnya sampai licin tanpa satu pun kerutan, memastikan sepatunya bersih, dan bahkan berlatih berdiri tegak di depan cermin sambil melarang mulutnya untuk berbicara sendiri.

"Kamu harus tenang, Rima," bisiknya pada bayangan cermin tadi pagi. "Jangan bikin kesalahan. Jangan lari-lari. Jangan menawari makanan ke siapa pun. Dan yang paling penting, jangan sampai Pak Andre ingat wajahmu!"

Sekarang ia sudah duduk di kursi paling pojok belakang ruang rapat utama, di balik tumpukan berkas setebal dua jari.

Ia berusaha menyusutkan tubuhnya sekecil mungkin, menundukkan kepala sampai dagunya hampir menyentuh dada, dan berdoa dalam hati agar dirinya transparan.

Di sekelilingnya sudah duduk belasan anak magang lain yang tampak tenang dan percaya diri, sibuk memeriksa buku catatan atau berbisik pelan dengan teman di sebelahnya.

Rima melirik sekilas ke arah pintu ruangan, lalu segera menunduk lagi. Bayangan wajah dingin Andre masih terbayang-bayang di kepalanya.

Rasanya baru kemarin ia masuk sembarangan ke mobil pria itu, menawarinya gorengan, lalu lari ketakutan. Bagaimana kalau Andre mengenalinya? Bagaimana kalau ia langsung dikeluarkan dari ruangan? Atau lebih parah lagi, dijadikan contoh buruk di depan semua orang?

"Selamat pagi semuanya," suara ramah Bu Tia, staf bagian SDM, memecah keheningan saat ia berdiri di depan ruangan.

"Terima kasih sudah datang tepat waktu. Sebelum kita mulai sesi perkenalan dan penjelasan tugas, sebentar lagi Bapak Direktur Utama akan menyapa kalian semua."

Ruangan seketika menjadi hening. Bahkan suara gesekan kursi pun terdengar berhenti. Rima menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dadanya.

Pintu ruang rapat terbuka perlahan.

Langkah kaki yang tenang namun berwibawa terdengar mendekat. Rima tidak berani mendongak sedikit pun, matanya terpaku pada garis-garis di lantai keramik.

Ia tahu siapa yang datang. Udara di ruangan seolah berubah menjadi lebih dingin begitu sosok itu berdiri di dekat meja depan.

"Selamat pagi," suara berat dan datar itu terdengar jelas di setiap sudut ruangan. Tanpa nada ramah, tanpa senyum, hanya kalimat yang tegas dan berwibawa.

"Selamat pagi, Pak Andre!" jawab serempak semua orang di ruangan.

Rima ikut berbisik pelan, nyaris tak terdengar. Tangannya meremas ujung rok seragamnya dengan kuat. Ia berharap, sungguh berharap, tatapan mata tajam itu tidak akan sampai ke pojok belakang tempatnya bersembunyi.

"Perkenalkan, saya Andre Pratama, Direktur Utama perusahaan ini," lanjutnya singkat. "Saya tidak suka berpidato panjang lebar. Saya hanya ingin menyampaikan satu hal penting sebelum kalian memulai masa magang."

Andre berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah anak magang di depannya dengan tatapan yang membuat siapa pun tidak berani menunduk sembarangan, kecuali Rima yang sudah menunduk sedari tadi.

Namun saat matanya menyapu ke arah barisan paling belakang, langkahnya terhenti sepersekian detik.

Ia melihat gadis yang duduk di pojok paling ujung, yang berusaha menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan berkas.

Punggungnya yang sedikit membungkuk, rambut yang diikat kencang namun masih ada beberapa helai yang berantakan... Andre mengenali sosok itu sekaligus.

Tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang dingin, Andre menyebutkan nama dari daftar di tangannya.

"Rima. Bagian Desain Kreatif."

Nama itu disebut dengan nada biasa, namun bagi Rima rasanya seperti petir yang menyambar tepat di atas kepalanya.

Ia tersentak kaget, kepalanya terangkat secara refleks, dan matanya langsung bertemu dengan mata Andre yang sedang menatap lurus ke arahnya.

Wajah Rima seketika memerah padam. Ia buru-buru berdiri dengan tergesa-gesa sampai kursi di belakangnya berbunyi berdecit keras.

"I-iya Pak! Hadir Pak!" suaranya sedikit melengking karena gugup.

Di sekelilingnya, beberapa anak magang lain menoleh kaget lalu menahan senyum. Rima ingin sekali menghilang saat itu juga.

Andre masih menatapnya sebentar, tidak ada perubahan ekspresi, tidak marah, tidak tertawa, hanya pengamatan tenang seolah memastikan bahwa gadis ceroboh itu benar-benar ada di ruangan ini.

Lalu ia mengangguk pelan, memberi isyarat agar Rima duduk kembali.

"Duduk," ucapnya singkat, lalu melanjutkan pidato seolah tidak terjadi apa-apa.

"Saya sudah membaca berkas kalian semua. Saya tahu kalian memiliki potensi, ide-ide baru, dan semangat yang tinggi. Namun di perusahaan ini, semangat saja tidak cukup."

Ia berjalan perlahan di depan meja rapat, suaranya terdengar tegas dan berat.

"Kedisiplinan, ketelitian, dan tanggung jawab adalah syarat mutlak. Di sini tidak ada alasan untuk kesalahan karena lupa, karena panik, atau karena kecerobohan yang tidak perlu.''

''Semua pekerjaan harus rapi, semua tenggat waktu harus dipenuhi dengan tepat. Satu kesalahan kecil bisa berdampak besar bagi tim dan bagi perusahaan."

Matanya kembali melirik sekilas ke arah Rima, lalu berlanjut ke orang lain.

"Jadi saya harap kalian semua menanamkan hal itu di dalam pikiran kalian sejak hari pertama. Jangan membawa kebiasaan sembarangan ke sini. Kerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, dan hargai waktu orang lain."

"Siap, Pak!" jawab serempak semua anak magang.

Rima mengangguk kencang sampai lehernya terasa pegal. Mulutnya ia rapatkan sekuat tenaga, berusaha menahan diri agar tidak berkomentar atau berbisik sendiri seperti biasanya.

Ia paham betul pesan tersirat dari ucapan Andre tadi. Itu teguran khusus untuknya. Tentang salah masuk mobil, tentang panik, tentang tas yang berantakan.

Setelah Andre selesai menyampaikan pesannya, ia menoleh ke arah Bu Tia. "Saya serahkan sisanya kepada Anda. Pastikan mereka memahami aturan dengan baik."

"Baik, Pak Andre."

Andre berjalan keluar ruangan dengan langkah tegap, diikuti pandangan semua orang. Pintu tertutup rapat, dan baru setelah itu suasana ruangan menjadi sedikit lebih santai.

Rima baru berani menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.

"Wah, Pak Andre kelihatan tegas banget ya," bisik gadis di sebelahnya yang bernama Sari. "Kamu tadi kaget banget ya Rim? Wajahmu merah padam."

"Iya... namaku dipanggil duluan aja aku udah gemetar," jawab Rima pelan, berusaha menjawab seperlunya saja agar tidak banyak bicara. "Dia kelihatan orang yang sangat teliti banget ya."

"Banget! Katanya beliau perfeksionis tingkat dewa. Nggak suka berantakan, nggak suka telat, nggak suka kebisingan," tambah Sari sambil merapikan buku catatannya. "Kita harus hati-hati banget kalau kerja di bawah pengawasannya."

Rima hanya mengangguk lagi, tapi di dalam hatinya ia berteriak. Tahu banget! Aku udah merasakannya duluan!

Bu Tia kembali berdiri di depan dan mulai menjelaskan pembagian tugas serta jadwal pembimbing masing-masing.

Rima mendengarkan dengan saksama, matanya lekat-lekat pada catatan di depannya, berjanji dalam hati untuk menjaga jarak sebaik mungkin dengan ruangan lantai atas tempat Andre bekerja.

Namun takdir sepertinya punya rencana lain.

Saat sesi perkenalan selesai dan semua orang mulai beranjak berdiri, Bu Tia menunjuk ke arah Rima.

"Rima, kamu sebentar ya. Kamu ditugaskan langsung di bawah pengawasan tim khusus yang dipimpin oleh Pak Andre. Jadi nanti kamu akan sering berkoordinasi dengan ruangan lantai atas."

Rima melongo lebar, mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar. Sari menepuk pundaknya pelan sambil tersenyum simpati.

"Beruntung sekali kamu Rim. Semangat ya menghadapi Pak Andre yang dingin itu."

Rima hanya bisa tersenyum kecut sambil memegang dadanya yang kembali berdegup kencang. Ia berharap bisa bersembunyi, tapi malah ditugaskan ke area yang paling ingin ia hindari.

"Ya ampun..." bisiknya pelan, "Satu janji aja udah susah ditepati, gimana ini ya..."

Ia mengumpulkan barang-barangnya dengan gerakan hati-hati, memastikan tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang berantakan.

Lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah perlahan, berharap hari-hari ke depannya tidak akan seberat bayangannya sekarang.

Terpopuler

Comments

❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ

❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ

aduh rima. kamu lucu sekali 🤣

2026-07-19

2

❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ

❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ

jodoh emang gak kemana ya rima🤣

2026-07-19

1

❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ 🇮🇩

❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ 🇮🇩

ini sebuah kebetulan atau memang pak andree yang memilih rima jadi bawahan dan dalam pengawasan timnya🤭

2026-07-12

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Salah Masuk Mobil di Tengah Hujan
2 Bab 2: Tas yang Ketinggalan
3 Bab 3: Pengenalan
4 Bab 4: Berkas yang Tertukar
5 Bab 5: Dino yang Memberi Peringatan
6 Bab 6: Terlambat Mengantar Dokumen
7 Bab 7: Kesalahpahaman di Kantin
8 Bab 8: Tugas Memeriksa Data
9 Bab 9: Payung yang Tertukar
10 Bab 10: Salah Masuk Ruangan
11 Bab 11: Membantu Angkat Barang
12 Bab 12: Bertemu di Halte
13 Bab 13: Kopi yang Salah Antar
14 Bab 14: Mengobati Luka Kecil
15 Bab 15: Pertemuan dengan Teman Lama
16 Bab 16: Cerita di Telepon
17 Bab 17: Undangan Makan Malam Keluarga
18 Bab 18: Lupa Membawa Dompet
19 Bab 19: Clara Memperhatikan Rima
20 Bab 20: Payung dan Senyum yang Tertinggal
21 Bab 21: Obrolan di Ruang Dokumen
22 Bab 22: Berkunjung ke Rumah Andre
23 Bab 23: Undangan ke Rumah Clara
24 Bab 24: Rima Bercerita Masa Magang
25 Bab 25: Jamuan Makan di Rumah Clara
26 Bab 26: Pembicaraan di Rumah
27 Bab 27: Laporan Akhir
28 Bab 28: Berita Kepulangan ke Jogja
29 Bab 29: Berpamitan
30 Bab 30: Andre Datang ke Tempat Kost
31 Bab 31 Keraguan Rima
32 Bab 32: Keputusan yang Dihargai
33 Bab 33: Berangkat ke Jogja
34 Bab 34: Yogyakarta
35 Bab 35: Memulai hari
36 Bab 36: Kesibukan Andre
37 Bab 37: Rima dan Skripsi
38 Bab 38: Keteguhan Hati Andre
39 Bab 39: Percakapan yang Membuka Pikiran
40 Bab 40: Inspirasi yang Mengalir
41 Bab 41: Kesulitan Dana
42 Bab 42: Kejutan dari Jauh
43 Bab 43: Langkah Berdua di Malioboro
44 Bab 44: Janji di Tengah Senja
45 Bab 45: Perpisahan dan Janji
46 Bab 46: Semangat di Balik Kalung
47 Bab 47: Garis Akhir yang Semakin Dekat
48 Bab 48: Wisuda
49 Bab 49: Menuju Jakarta
50 Bab 50: Kabar Bahagia
51 Bab 51
52 BAB 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 Bab 55: Bayang-bayang yang Mengganggu Hati
56 Bab 56: Perhatian itu
57 Bab 57
58 Bab 58: Patah Hati Dalam Diam
59 Bab 59: Nasib yang Menemukan
60 Bab 60: Langkah Yang Sama
61 Bab 61: Keputusan yang Berat
62 Bab 62: Ikatan Suci
63 Bab 63: Kabar Mengejutkan
64 Bab 64: Kebiasaan Baru
65 Bab 65: Hati yang Mulai Berbicara
66 Bab 66: Senja, Ombak, dan Rasa yang Berubah
67 Bab 67: Pulang Membawa Hati
68 Bab 68: Hari‑hari yang Lebih Indah
69 Bab 69: Langkah Pertama
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72: Jejak Masa Lalu yang Menyatukan
73 Bab 73
74 Bab 74: Pintu itu Terbuka Sedikit
75 Bab 75: Restu yang Akhirnya Datang
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Bab 1: Salah Masuk Mobil di Tengah Hujan
2
Bab 2: Tas yang Ketinggalan
3
Bab 3: Pengenalan
4
Bab 4: Berkas yang Tertukar
5
Bab 5: Dino yang Memberi Peringatan
6
Bab 6: Terlambat Mengantar Dokumen
7
Bab 7: Kesalahpahaman di Kantin
8
Bab 8: Tugas Memeriksa Data
9
Bab 9: Payung yang Tertukar
10
Bab 10: Salah Masuk Ruangan
11
Bab 11: Membantu Angkat Barang
12
Bab 12: Bertemu di Halte
13
Bab 13: Kopi yang Salah Antar
14
Bab 14: Mengobati Luka Kecil
15
Bab 15: Pertemuan dengan Teman Lama
16
Bab 16: Cerita di Telepon
17
Bab 17: Undangan Makan Malam Keluarga
18
Bab 18: Lupa Membawa Dompet
19
Bab 19: Clara Memperhatikan Rima
20
Bab 20: Payung dan Senyum yang Tertinggal
21
Bab 21: Obrolan di Ruang Dokumen
22
Bab 22: Berkunjung ke Rumah Andre
23
Bab 23: Undangan ke Rumah Clara
24
Bab 24: Rima Bercerita Masa Magang
25
Bab 25: Jamuan Makan di Rumah Clara
26
Bab 26: Pembicaraan di Rumah
27
Bab 27: Laporan Akhir
28
Bab 28: Berita Kepulangan ke Jogja
29
Bab 29: Berpamitan
30
Bab 30: Andre Datang ke Tempat Kost
31
Bab 31 Keraguan Rima
32
Bab 32: Keputusan yang Dihargai
33
Bab 33: Berangkat ke Jogja
34
Bab 34: Yogyakarta
35
Bab 35: Memulai hari
36
Bab 36: Kesibukan Andre
37
Bab 37: Rima dan Skripsi
38
Bab 38: Keteguhan Hati Andre
39
Bab 39: Percakapan yang Membuka Pikiran
40
Bab 40: Inspirasi yang Mengalir
41
Bab 41: Kesulitan Dana
42
Bab 42: Kejutan dari Jauh
43
Bab 43: Langkah Berdua di Malioboro
44
Bab 44: Janji di Tengah Senja
45
Bab 45: Perpisahan dan Janji
46
Bab 46: Semangat di Balik Kalung
47
Bab 47: Garis Akhir yang Semakin Dekat
48
Bab 48: Wisuda
49
Bab 49: Menuju Jakarta
50
Bab 50: Kabar Bahagia
51
Bab 51
52
BAB 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
Bab 55: Bayang-bayang yang Mengganggu Hati
56
Bab 56: Perhatian itu
57
Bab 57
58
Bab 58: Patah Hati Dalam Diam
59
Bab 59: Nasib yang Menemukan
60
Bab 60: Langkah Yang Sama
61
Bab 61: Keputusan yang Berat
62
Bab 62: Ikatan Suci
63
Bab 63: Kabar Mengejutkan
64
Bab 64: Kebiasaan Baru
65
Bab 65: Hati yang Mulai Berbicara
66
Bab 66: Senja, Ombak, dan Rasa yang Berubah
67
Bab 67: Pulang Membawa Hati
68
Bab 68: Hari‑hari yang Lebih Indah
69
Bab 69: Langkah Pertama
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72: Jejak Masa Lalu yang Menyatukan
73
Bab 73
74
Bab 74: Pintu itu Terbuka Sedikit
75
Bab 75: Restu yang Akhirnya Datang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!