Indonesia
NovelToon NovelToon
Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.

Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.

Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.

Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

​"Iya, itu nomor gua."

​Layar ponsel di meja belajar Regina berpendar terang. 

Notifikasi balasan dari nomor tidak dikenal itu masuk tepat saat rintik hujan di luar jendela kamar lantai dua berkerumun makin padat, menciptakan suara gemericik konstan yang memantul di kaca. 

Tik-tik-tik-tik...

​Regina menarik kursi kayunya sedikit lebih dekat ke meja. 

Jarinya menahan pinggiran casing ponsel, matanya menatap deretan huruf yang baru saja muncul di layar.

​"Simpan aja," bunyi pesan susulan yang terpampang di bawahnya. "Biar lu gak bingung lagi kalau ada SMS nyasar."

​Regina mengusap layar dengan ibu jari kanan. 

Ia membiarkan kursor berkedip di kolom input nama kontak selama lima detik. 

Tombol simpan ditekan tanpa penambahan keterangan kelas atau jurusan, hanya nama tunggal yang diketik dengan huruf kapital di awal: Helga.

​Klek.

​Ponsel itu diletakkannya telungkup di atas tumpukan buku catatan Biologi yang terbuka di halaman seratus empat belas.

​"Regina! Turun dulu, Nak! Makan malam udah siap!"

​Suara Ratna memanggil dari lantai bawah, menembus celah bawah pintu kamar yang sedikit terbuka. 

​"Iya, Ma! Bentar lagi!" teriak Regina dari mejanya.

​Ia berdiri, merapikan ujung rok seragam abu-abunya yang sedikit kusut di bagian belakang, lalu menyisir rambutnya dengan telapak tangan sebelum melangkah menuruni tangga kayu.

​Di meja makan kayu jati yang terletak di samping dapur, Hermawan sudah duduk di sudut kanan, melipat koran sorenya dan meletakkannya di atas kulkas kecil. 

Ratna sedang memindahkan sepinggan pisang goreng hangat yang tersisa dari sore tadi ke samping piring nasi.

​"Duduk, Reg," kata Hermawan sambil mengambil centong nasi. "Tadi HP kamu kenapa mati? Mamamu sampai bingung mau nanya ke siapa."

​Regina menarik kursi di seberang ayahnya. 

Ia meraih piring porselen putih, membiarkan ibunya menuangkan satu sendok sayur kangkung ke atas nasinya.

​"Lowbat, Pa," sahut Regina pelan. 

Ia meraih sendok besi, mengaduk nasi hangatnya hingga asap tipis mengepul ke udara. 

"Lagian tadi cuma sebentar di Kafe Semak."

​"Sama Helga kan?" tanya Ratna sambil duduk di samping Hermawan. 

Tangannya meraih cangkir teh hangat yang masih berasap. 

"Anaknya sopan banget ya. Tadi pas Mama tawarin masuk, dia kelihatan gak enak gitu mau nolak. Bilangnya ada janji sama orang rumah."

​Hermawan menyuap nasinya, mengunyah pelan sebelum menanggapi. 

"Anak IPS yang begitu jarang. Biasanya teman-teman Varen itu kalau lewat depan rumah sukanya bleyer gas motor. Kalau Helga tadi pelan banget pas masuk gang."

​"Dia emang gitu," gumam Regina pendek. 

Jarinya mengetuk-ngetuk gagang sendok di tepi piring. 

Ting. Ting.

​"Gitu gimana?" lejar Ratna, melirik anak perempuannya dengan senyum tipis. "Sering cerita sama kamu?"

​"Gak sering," potong Regina cepat. 

Ia menyuap sendok pertamanya, mengunyah kangkung tumis itu tanpa memandang wajah ibunya. 

"Cuma kebetulan satu kelompok OSIS kemarin pas pendataan alat olahraga."

​"Tapi dia punya nomor telepon Mama," goda Ratna pelan, meletakkan cangkir tehnya kembali ke tatakan porselen. 

Tuk. 

"Waktu pembagian rapor kemarin dia yang bantuin Mama bawa tumpukan majalah sekolah ke mobil. Terus dia sendiri yang nanya, 'Tante, boleh minta nomornya gak? Siapa tahu nanti Regina butuh bantuan operasional OSIS.' Gitu katanya."

​Regina menghentikan gerakan sendoknya di udara. 

Matanya mengerjap dua kali sebelum ia kembali menyuap nasi.

​"Mama ngasih begitu aja?" tanya Regina.

​"Ya ngasih lah. Kan buat urusan sekolah," sahut Ratna santai. "Lagian Helga kelihatan anaknya bertanggung jawab. Gak kayak anak-anak yang sukanya nongkrong di pinggir jalan rel itu."

​Hermawan berdehem keras, mengalihkan perhatian dua wanita di meja makan itu. 

"Udah, makan dulu. Nanti dingin nasinya. Itu kangkungnya habisin, Reg."

​Suasana meja makan kembali hening, diselingi bunyi denting sendok beradu dengan porselen dan deru hujan yang perlahan mengendur di luar dinding rumah.

​Kamis malam, pukul 18.40 WIB.

​Sementara itu, di lorong parkiran bawah tanah dekat area penerimaan pasien RSUD, Helga sedang bersandar di pilar beton bercat abu-abu yang terkelupas. 

Hujan di luar sudah menyusut menjadi gerimis tipis yang jatuh di atas permukaan air tergenang.

​Helga merogoh ponsel murahnya dari saku jaket jeans yang masih agak basah. 

Ia mengetikkan sesuatu di layar, mengabaikan beberapa lalu-lalang keluarga pasien yang berjalan terburu-buru membawa plastik obat.

​Ponselnya bergetar di telapak tangan. Bukan dari Regina.

​Sebuah notifikasi aplikasi pesan singkat dengan nama kontak Pak Yudi (Manager Kafe) muncul di baris paling atas.

​Helga membuka pesan itu. Jarinya yang memiliki luka gores tipis di buku jari membesar-kecilkan tulisan di layar.

​Pesan:

​"Ga, besok hari Jumat abis solat jumat lu bisa masuk shift sore gak? Anak barista kasir mendadak ijin sakit, cafe bakalan rame banget pas jam pulang sekolah. Lu handle meja depan sama beres-beres bahan di belakang ya. Penting."

​Helga menatap pesan itu tanpa mengedipkan mata selama tiga detik.

​Ia memiringkan kepala, mengusap tengkuknya yang terasa pegal akibat terpaan angin sore tadi. 

Ibu jarinya bergerak ke keyboard layar, membalas pendek:

​Balasan:

​"Siap, Pak. Besok abis Jumat gua langsung ke Kafe seduh”

​Helga mengunci layar ponselnya kembali. Klek.

​Ia memasukkan benda itu ke dalam saku, lalu berjalan keluar dari naungan pilar beton menuju ke arah motor matic hitamnya yang terparkir di bawah rintik gerimis. 

Di kepalanya, jadwal rapat evaluasi OSIS SMA Negeri 1 yang diumumkan Regina tadi sore dan shift kerja mendadak dari manajer kafenya mendadak berbenturan tepat di jam yang sama besok sore. 

​Ponsel Helga kembali bergetar keras tepat saat ia hendak memasang helm bogo hitamnya di bawah guyuran gerimis. 

Sebuah pesan baru masuk dari Varen:

​Ga, gawat. Pak Toto nemuin kaset bekas yang hilang itu di loker IPS 2. Dia nyariin lu buat besok pagi sebelum solat Jumat.

1
Fitria Sumer
lanjut ka cerita ny
ayunda: btw di quarterfull juga ada loh kak, ga kalah seru sama yang ini, yoo mampir
total 1 replies
Fitria Sumer
llanjut cerita ny lg seru😄💪
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!