Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Bayangan
"ada apa ini!" teriak pak Dirga "mengapa lampunya mati!"
Genggaman pak Dirga semakin erat di tangan Sinta, namun keadaan membuatnya tak nyaman
"diam di sini! Jangan berani kabur!" ancamnya. Tangannya mulai melepaskan tangan Sinta, perlahan dan menuntut
Pak Dirga mulai melangkah ke arah pintu, dengan pandangan yang gelap ia meraba-raba, merasakan tangannya yang sudah menyentuh pintu itu
Ia memutar kuncinya dengan berani. Mengira orang suruhannya sudah datang dan mengira masalah di luar sudah teratasi, karena keadaan luar sudah tenang
Lampu kembali menyala saat pak Dirga membuka pintu perlahan, pak Dirga bisa melihat. Di depannya sudah ada petugas keamanan dan polisi yang menerima laporan, dan ada begitu banyak karyawan perempuan di sana
Wajah Pak Dirga seketika berubah pucat. Senyum angkuh yang tadi ia tunjukkan kini menghilang, berganti dengan kepanikan yang tidak dapat ia sembunyikan.
"Apa maksudnya ini?" bentaknya dengan suara bergetar. "Siapa yang memanggil kalian?"
Salah satu petugas polisi maju ke depan. Tatapannya tajam dan tegas.
"Kami menerima laporan adanya tindak pelecehan di ruangan ini. Kami juga menerima laporan dari beberapa karyawan perempuan lainnya mengenai perilaku Anda, Pak."
Di belakang pak Dirga, terlihat Raka berdiri dengan rahang mengeras memapah Sinta.
"Aku... aku takut," isak Sinta di dada Raka.
Raka mengusap punggung Sinta dengan lembut. "Sudah, tidak apa-apa. Aku di sini. Kamu aman sekarang."
Pak Dirga menoleh ke belakang, ia menatap Raka tajam. Seolah ada yang ingin ia sampaikan. Namun pak Dirga berusaha tetap tenang, ia merapikan jasnya
"Ini semua fitnah! Gadis itu yang datang sendiri ke ruangan saya. dia yang menyerahkan tubuhnya kepada saya!"
"Tutup mulutmu," potong salah satu polisi. "Bukti sudah cukup. Rekaman CCTV, kesaksian karyawan, dan laporan korban. Anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan."
Beberapa petugas keamanan kemudian menggiring Pak Dirga keluar. Ia masih terus berteriak dan mengumpat, tetapi tidak ada satu pun karyawan yang membelanya.
Di lorong, para karyawan perempuan lain berdiri berderet. Beberapa dari mereka menatap Sinta dengan mata berkaca-kaca. Ada yang mengangguk pelan, seolah memberi dukungan.
Raka masih memeluk Sinta. "Kamu hebat sudah bertahan. Sekarang kita selesaikan ini bersama."
Tak lama setelah kericuhan mereda. Langkah kaki terdengar dari ujung lorong
Hans datang. Bersama Ayana
Suasana seketika memegang
"apa yang terjadi!?" tanya Hans, rendah tapi menusuk
Ayana langsung mencari. Matanya berhenti pada Sinta. "kamu baik?" bisiknya pelan, seolah sudah tahu
"saya.... Baik, buk" jawab Sinta bergetar. Raka merangkul bahu Sinta, tangannya mengusap punggung Sinta, pelan "sudah. Tenang"
Hans tidak menatap mereka, ia berjalan lurus ke arah ruangan Dirga
*Dirga sudah tidak ada...* batinnya
Hans berbalik, ia menyapu satu persatu orang yang ada, lalu ia diam di satu wajah yang ia lihat. Raka.
*bukankah dia!?...* batin Hans, sorot matanya berubah, seolah mengingat sesuatu, seolah mengenal wajah itu
Namun Hans mengabaikan pikirkan itu, ia menarik napas "dimana Clare, saya belum melihat dia!" tanya Hans tajam ke arah Ayana
"saya juga belum melihatnya, pak" jawab Ayana, dia meraih ponsel di sakunya namun tiba-tiba ada suara bunyi nada dering telepon dari saku jas Hans
Hans meraih ponselnya, di layar tertulis nama "tuan Bima" dia tersenyum kecil, berdehem pelan, lalu mengangkatnya
"halo, tuan" sapanya, semua orang di sana menatap ke arah Hans
"Bisakah kita bertemu, tuan Hans" ajak Bima, nadanya terdengar serius
"tentu saja tuan, Bima. Jika boleh saya tahu ada masalah apa?!" tanyanya
"sepertinya tidak enak jika di bicarakan melalui telepon, jadi kapan anda mempunyai waktu luang?"
Hans mengerutkan dahi. Jemarinya mengetuk layar ponsel satu kali
"tentu saja. Sekarang saya mempunyai waktu luang jika untuk bertemu dengan anda" jawab Hans begitu antusias
"Baik, saya akan mengirimkan lokasinya" sahut bima singkat, telepon terputus
Hans menurunkan ponselnya. Ia menoleh, semua orang di lorong itu masih menatapnya, menunggu
Ayana meraih ponselnya kembali. sementara Hans berjalan pergi meninggalkan Raka dan Sinta yang masih mematung
Ayana berniat menelepon Clare, ia sudah mengangkat ponselnya namun tidak sengaja pandangan jatuh antara Raka dan Sinta
"oh ya! Sinta sebaiknya kamu mengambil cuti untuk menenangkan diri, lalu kembali setelah kamu merasa lebih baik" Ayana menatap Raka, seolah memerintahkan sesuatu padanya
Raka mengerti dengan tatapan Ayana. Ia melepaskan jaketnya, menutupkannya ke bahu Sinta. Lalu berjalan pergi tanpa menolah pada siapapun yang menatap mereka
________________________________
Di sisi lain
Di kuburan yang sunyi, hawa yang dingin, pepohonan yang tinggi, dan angin yang menusuk. Tampak seorang gadis berjongkok di salah satu makam sembari memegangi sebuah nisan, tampak ia sedang bercerita, air mata menggenang di pelupuk matanya
"Ma! apa kamu mendengarkan ceritaku?"
Tiba-tiba dari dalam tas gadis itu, terdengar dentuman kecil, ponselnya berdering. Dia meraih itu sembari menepuk pelan air mata yang tersisa di pipinya
"Halo, Ay" sambutnya gembira seolah menutupi kesedihan yang terpancar
"Clare, kamu baik?" tanya Ayana, dia mendengar isakan tangis yang tersembunyi itu
"ya! Aku baik" jawab Clare, santai
"tapi aku mendengar kamu sedang tidak baik-baik saja, kamu dimana?"
Clare menarik napas pelan, berusaha untuk bicara biasa "aku di makam Ibuku, ada apa mencariku?"
Ayana memejamkan mata. Napasnya tertahan sejenak
"Sendirian?" tanyanya langsung, nada datar namun ada gusar yang tertahan di dalam Kalimatnya
"ya!" jawab Clare singkat
"kenapa tidak mengajakku! Aku sangat mempunyai banyak waktu untuk menemanimu!" jawabnya keluh "apa boleh aku menyusul mu!?"
Clare berseru "Tidak perlu! Aku sudah berniat pulang!"
Di seberang telepon Clare mendengar ada teriakan panggilan di kantor itu. Suaranya begitu jelas, dia menyuruh Ayana untuk mendekat
"Clare, teleponnya aku tutup, ada yang memanggilku!" ucapnya, lalu telepon itu terputus begitu saja tanpa menunggu jawaban Clare
Clare menurunkan tangannya, ia menaruh lagi ponselnya
"langit sudah mulai gelap, aku pamit, Ma. Dan maaf untuk seluruh kekacauan yang terjadi" air mata menetes lalu hilang terserap tanah. Tatapan Clare sendu ke arah batu nisan itu
Clare berdiri, ia merapikan bajunya yang sudah terkena tanah, lalu berpamitan tuk pergi
Di perjalanan yang sunyi, tidak ada manusia satupun. Hanya suara angin yang menyimak dedaunan kering dan langkah Clare di atas kerikil
Ia mempercepat langkahnya. Langit sudah mulai begitu gelap. Lampu malam belum semua menyala
Langkah..
Berhenti..
Clare berhenti. Dadanya memegang
Ia menoleh ke belakang. Kosong. Hanya deretan nisan yang berjejer gelap
Clare melanjutkan berjalan lagi tanpa berbicara, lebih cepat
Langkah. Langkah
Jelas. Ada suara langkah lain. Mengikuti iramanya
Tubuh Clare menegang. Tubuhnya terasa dingin, membeku
Ia tidak berani menoleh lagi. Tangannya merogoh ponsel di dalam tas. Layarnya menyala. Namun tak ada signal
Jantungnya berdegup kencang.. Makin kencang
Clare memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, rasa penasaran lebih banyak menguasai tubuhnya daripada takut
kepala Clare berputar ke arah kiri
.
Dari samping, bayangan besar terlihat melangkah. Lalu.... Clare menoleh hingga sosok dari bayangan besar itu terlihat.