Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.
Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —
Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Penitip Bayi
Setelah Adipati melangkah keluar meninggalkan aula besar Keluarga Ye, pengawal masih sibuk mengikat dan menahan Ye Ba serta Nyonya Liu yang terus meronta dan menangis. Anggota keluarga lainnya masih bersujud di lantai, gemetar ketakutan menanti nasib mereka. Namun tiba-tiba, udara di ruangan itu berubah menjadi luar biasa berat — seolah-olah seluruh langit menimpa ke atas pundak mereka. Semua orang tanpa terkecuali jatuh terduduk, napas mereka terasa sesak, dan tubuh mereka tak mampu bergerak sedikit pun.
Dengan satu gerakan yang nyaris tak terlihat, sebuah sosok melesat masuk ke dalam aula. Cahaya di ruangan itu seakan meredup seketika. Sosok itu berhenti tepat di depan kursi kepala keluarga — lalu duduk dengan tenang, seakan itu adalah tempat yang memang ditujukan untuknya. Semua pengawal yang tadinya berjaga dan menahan Ye Ba serta Nyonya Liu langsung jatuh pingsan serentak, tak sadarkan diri.
Di hadapan mereka, duduk seorang pemuda yang luar biasa tampan. Kulitnya putih bersih bagai susu, wajahnya begitu rupawan hingga sulit menebak usianya. Namun yang membuat seluruh isi aula gemetar hebat bukan penampilannya, melainkan aura yang terpancar dari tubuhnya — kekuatan yang begitu purba, dalam, dan mutlak, seakan ia adalah penguasa yang berdiri di puncak segala sesuatu. Dialah pemuda yang dua puluh tahun lalu menolong Ye Ba di perbatasan, membantai seluruh suku Tanduk Merah seorang diri, dan menitipkan bayi Ye Hu kepadanya.
"Tu… a… nn…" Ye Ba berusaha bersuara, namun kata-kata itu keluar dengan susah payah. Keringat bercucuran di dahinya sebesar biji jagung, tubuhnya gemetar hingga giginya berbenturan.
Pemuda itu menatapnya datar, tanpa amarah, tanpa kehangatan — hanya ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan. "Kau melalaikan tugasmu, Ye Ba… atau harus kupanggil Tuan Marquis Ye."
Suaranya pelan namun terdengar jelas di setiap sudut ruangan, menembus kesunyian yang mencekam. "Dua puluh tahun lalu, saat aku menitipkan bayi itu kepadamu, aku juga memberikan kepadamu sebuah cincin penyimpanan berisi harta dan kekayaan yang cukup untuk membuatmu menjadi bangsawan. Aku berharap kau akan merawatnya dengan baik."
Ye Ba menangis hingga air mata bercampur ingus, tubuhnya merosot jatuh ke lantai. "Hamba… hamba salah… Tuan… mohon ampun…"
Pemuda itu mengalihkan pandangannya kepada Nyonya Liu yang tergeletak di samping suaminya. "Dan kau, Nyonya Liu. Satu tahun setelah bayi itu berada di rumahmu, aku meninggalkan sebutir pil di atas meja kerjamu — pil penyubur kandungan. Karena itulah setelah bertahun-tahun tidak bisa hamil, kau tiba-tiba mengandung dan melahirkan anak-anakmu. Kau mengira itu anugerah dari langit atau pemberian suamimu, padahal itu pemberianku agar kau tidak merasa dikucilkan dan mau merawat anak itu dengan tulus."
Nyonya Liu teringat kembali kejadian itu. Benar sekali, pagi itu ia menemukan sebutir pil di atas meja, dan tak lama kemudian ia dinyatakan bisa hamil. Ia selalu bersyukur dan mengira itu takdir. Namun sekarang, di hadapan pemuda itu, ia hanya bisa menangis tersedu-sedu, berharap diberi kesempatan kedua. Di hadapan kekuatan yang mutlak seperti ini, mereka tak berdaya, tak mampu berkutik sedikit pun.
"Apakah kalian ingat janjiku?" Pemuda itu berdiri perlahan dan mulai berjalan mendekati mereka, setiap langkahnya membuat lantai aula bergetar pelan. "Aku pernah berkata — jika kalian berbuat jahat kepada anak itu, jika kalian menyakitinya, maka aku akan membantai seluruh keluarga Ye hingga keturunan terakhir."
Tiba-tiba Ye Du yang berdiri di belakang, wajahnya berubah pucat, matanya terbelalak, tangannya meremas kerah baju seakan kesulitan bernapas. Sebelum sempat berteriak, tubuhnya menjadi kaku, lalu ia tergeletak lemas di lantai — kehabisan napas, tanpa luka, tanpa darah. Ia mati begitu saja.
Ye Ba dan Nyonya Liu berusaha berteriak, berusaha memohon ampun, namun tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Pita suara mereka seakan terkunci.
Penyesalan sudah tidak ada gunanya sekarang.
Tak lama kemudian, Ye Gan ikut terjatuh, tubuhnya kejang pelan sebelum menjadi diam. Satu per satu anggota keluarga Ye — paman, sepupu, anak-anak, semua yang ada di dalam aula itu — jatuh tergeletak, bernapas terakhir tanpa ada yang bisa menolong. Kematian yang begitu tenang namun mengerikan, seakan udara di sekitar mereka lenyap begitu saja.
Hingga akhirnya hanya tersisa Ye Ba dan Nyonya Liu. Mereka saling berpandangan, menyadari bahwa akhir mereka telah tiba. Nyawa mereka pun tercabut dengan cara yang sama — tenang, tanpa darah, tanpa luka. Pemuda itu berdiri di tengah tumpukan jenazah itu, menatap mereka tanpa ekspresi. Bukan kejam, bukan pula membanggakan diri. Ia hanya… menepati janjinya.
Beberapa saat kemudian, sosoknya perlahan memudar dan lenyap dari ruangan itu, seakan ia tidak pernah ada di sana.
Para Pengawal masih dalam keadaan pingsan.
Sepuluh menit berlalu. Seorang gadis berjalan masuk melalui gerbang kediaman Keluarga Ye dengan tenang. Ia berpakaian sederhana, wajahnya cantik namun matanya dingin dan tajam — dialah Chu Hua, Ketua Bayangan Malam yang telah berubah wujud menjadi gadis muda. Ia datang untuk melaksanakan perintahnya sendiri: mengeksekusi Nyonya Liu dan adiknya, serta memastikan tidak ada jejak yang membahayakan organisasinya.
Namun begitu ia melangkah masuk ke aula besar itu, langkahnya terhenti. Matanya membelalak kaget.
Di ruangan itu, para pengawal dan pelayan tergeletak pingsan di mana-mana. Gadis itu berjalan sampai ke aula keluarga dan di tengah aula, seluruh anggota Keluarga Ye — Ye Ba, Nyonya Liu, Ye Gan, Ye Du, dan semua keturunannya — terbaring mati di lantai. Tidak ada darah, tidak ada luka senjata, tidak ada jejak pertarungan. Semuanya mati karena kehabisan napas, seakan udara di dalam tubuh mereka ditarik paksa keluar.
"Ini… kekuatan apa ini?" gumamnya pelan, merinding. Ia sendiri adalah seorang kultivator tingkat Nascent Soul, namun bahkan ia pun tidak mampu melakukan hal seperti ini — membunuh puluhan orang sekaligus tanpa menyentuh satu pun senjata, tanpa merusak sehelai kain pun. Ini bukan sekadar kekuatan besar… ini adalah kekuatan yang menguasai ruang dan kehidupan itu sendiri.
Ia segera melangkah kepada salah satu pengawal yang masih pingsan, menamparnya berkali-kali hingga pengawal itu perlahan membuka mata.
"Siapa… siapa kau?" tanya pengawal itu gemetar.
"Jawab pertanyaanku atau kau ikut mati," ancam gadis itu dingin. "Apa yang terjadi di sini? Siapa yang membunuh mereka?"
Pengawal itu ketakutan setengah mati. Dengan tergagap ia menceritakan semuanya — tentang kedatangan Ye Hu, tayangan Giok Perekam, pengakuan Nyonya Liu sebagai anggota Bayangan Malam, tentang Ye Ba yang diam tahu racun itu, lalu tiba-tiba ruangan menjadi berat, semua orang tak bisa bergerak, hanya itu yang di ketahui karena setelah itu pengawal itu pingsan.
Gadis itu mendengarkan dalam diam. Matanya menyipit tajam saat mendengar informasi yang tidak lengkap. Ia sudah mendengar deskripsi itu sebelumnya tentang dua puluh tahun lalu, di perbatasan, seorang pemuda sendirian membantai seluruh suku Tanduk Merah dalam sekejap mata. Dan orang itulah yang menitipkan bayi Ye Hu kepada Ye Ba.
"Jadi… dia datang," gumamnya pelan. "Dan dia yang membersihkan Keluarga Ye sendiri."
Ia tidak bisa membiarkan saksi hidup. Dengan satu gerakan jari, ia mematahkan leher pengawal itu tanpa suara. Pengawal itu mati seketika.
Gadis itu berdiri di tengah aula yang sunyi dan penuh jenazah itu, menatap ke arah langit-langit. "Si Penitip anak itu … dia jauh lebih kuat dari yang kubayangkan. Jika dia melindungi Ye Hu, maka rencana kita akan jauh lebih sulit dari yang diperkirakan."
Ia mendekati mayat Ye Ba yang masih segar, tangannya menyentuh kepala Ye Ba, dan pada saat itu juga ingatan tentang kejadian dalam ruangan ini tertarik ke dalam pikiran Chu Hua. Sampai akhirnya tubuh mayat Ye Ba seperti orang kehabisan darah.
"Pemuda tampan berkulit halus. " Ucap Chu Hua kepada dirinya sendiri.
Ia berbalik dan melangkah keluar dari kediaman Keluarga Ye. Bayangan Malam kini menghadapi musuh yang jauh lebih berbahaya daripada kerajaan, daripada sekte-sekte besar — seseorang yang bisa membunuh puluhan orang dengan satu kedipan mata, dan seseorang yang jelas-jelas berdiri di pihak Ye Hu.
Satu hal yang dapat di pastikan bahwa Pemuda itu hanya berada di Nascent Soul namun tekniknya seperti teknik dewa.
Chu Hua meninggalkan tempat itu, Langkah kakinya menghilang di balik gerbang besar. Di Kota Awan ini, benih-benih perang besar mulai bersiap tumbuh.
Chu Hua harus memikirkan langkah selanjutnya.