Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan Bersama
Firlan langsung bergerak. Dirga berinisiatif membantu. Sementara Saka bertanya dulu ke warga sekitar. “Apa ada pintu belakang rumah kosong itu?”
“Ada. Belok ke kiri, ada gang kecil, itu jalan belakangnya,” jawab salah satu warga.
Secepat kilat Saka berlari ke arah yang ditunjukkan tadi.
Di bagian depan, Firlan langsung membuka pintu rumah. Karena terkunci, pria itu mendobraknya.
Dua tendangan Firlan masih belum bisa membuat pintu terbuka. Dirga membantu mendorongnya dengan kekuatan bahunya.
Di bagian dalam rumah, tiga pelaku penculikan seketika dibuat panik. Mereka sudah tidak memikirkan para gadis yang diculik. Ketiganya memilih kabur melalui pintu belakang.
Begitu membuka pintu belakang, salah satu penculik mendapat bogeman dari Saka. Tubuhnya langsung terjungkal.
Pada saat bersamaan, Firlan berhasil mendobrak pintu. Sekarang mereka dikepung dari dua arah. Mau tidak mau, mereka harus menghadapi orang-orang yang menyergap.
Dalam waktu singkat, pertarungan terjadi. Firlan mengelak saat sebuah pukulan mengarah padanya. Pria itu sedikit menunduk lalu menghantamkan tinjunya ke perut lawannya.
Saka bergerak mundur saat lawannya melayangkan tendangan. Serangan pertama tidak berhasil, penculik itu kembali melancarkan serangan kedua.
Namun kali ini Saka berhasil menangkap kaki lawannya. Saka memutar pergelangan kaki lawannya hingga terdengar bunyi gemeretak tulang, disusul teriakannya.
Saka melepaskan pegangannya lalu menghantamkan tinjunya ke wajah sang lawan. Penculik itu terhuyung lalu jatuh ke lantai.
Penculik yang berhadapan dengan Firlan pun tidak kalah mengenaskan. Tubuhnya terkapar tidak berdaya akibat pukulan dan tendangan yang didapatnya.
Berbeda dengan Saka dan Firlan, karena tidak punya kemampuan bela diri, Dirga kesulitan menghadapi lawannya.
Pria itu lebih banyak menghindar sambil melemparkan barang-barang di sekitarnya. Pada satu kesempatan, Dirga berhasil menyeruduk lawannya.
Dirga menandukkan kepalanya ke perut lawan sambil mendorong tubuh penculik itu hingga terpojok ke dinding.
Perlawanan Dirga berakhir saat lawannya menghantam perut pria itu dengan lututnya. Dirga jatuh sambil memegangi perutnya.
Saat penculik itu hendak memukul Dirga lagi, Saka muncul. Dia menghantam wajah penculik itu dengan sikunya. Saka melayangkan tendangan ke perut pria itu hingga jatuh dan tidak bisa bangun lagi.
Dirga terbengong melihat Saka yang di matanya adalah Aryan bisa mengalahkan musuh dengan mudahnya. Seingatnya, Aryan tidak bisa bela diri. Sahabatnya itu juga tidak pernah berkelahi sebelumnya.
Apa jangan-jangan Aryan belajar bela diri di belakangnya?
Lamunan Dirga buyar saat Saka mendekat lalu membantu pria itu bangun. “Sejak kapan kamu bisa bela diri?” tanya Dirga yang penasaran.
“Baru-baru ini,” jawab Saka asal-asalan.
Karena situasi genting, Saka lupa bahwa Aryan memang tidak memiliki kemampuan bela diri. Namun karena sekarang dirinya yang berada dalam raga Aryan, kemampuannya tetap terbawa. Dia hanya perlu melakukan olah tubuh agar tubuh Aryan terbentuk.
Saka membantu Firlan mengikat tiga penculik itu, sedangkan Dirga mencari perempuan-perempuan yang diculik.
Di ruangan pertama, Dirga menemukan tiga perempuan. Salah satunya yang dilihat Saka.
Di ruangan kedua, Dirga menemukan tiga perempuan lagi. Dan di ruangan terakhir, dia menemukan empat perempuan. Total ada sepuluh perempuan yang menjadi korban penculikan.
Firlan segera menghubungi ambulans karena ada beberapa korban penculikan dalam keadaan lemas dan ada juga yang terluka.
Situasi di sekitar rumah kosong itu langsung ramai saat mobil patroli polisi datang. Suara sirene ambulans juga ikut meramaikan suasana.
Para warga banyak yang berkumpul untuk melihat apa yang terjadi.
Mereka sama sekali tidak menyangka rumah yang selama bertahun-tahun kosong dijadikan tempat untuk menyekap para perempuan korban penculikan.
“Terima kasih atas bantuan kalian. Aku pergi dulu,” ujar Firlan sambil membawa tiga pelaku ke kantor polisi.
“Wah, seru juga ya, ternyata,” ujar Dirga sambil berjalan menuju mobilnya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Saka. Tadi dia sempat melihat Dirga terkena hantaman di perutnya.
“Masih lumayan mules sih perut.”
“Kita istirahat dulu di Alifmart.”
Tanpa penolakan, Dirga mengikuti saja arahan Saka. Perutnya juga masih terasa nyeri dan mulas akibat hantaman tadi. Saka meminta Dirga duduk di kursi.
“Coba buka kemejamu. Aku mau lihat apakah ada memar.”
Dirga segera membuka kancing kemejanya, lalu menyingkap kaos dalam yang dikenakannya. Saka mengamati perut Dirga. Ada sedikit memar di sana.
Pria itu kemudian masuk ke minimarket. Tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa air mineral, minuman kaleng dingin, dan roti.
“Kompres perutmu dengan minuman kaleng ini.”
Tanpa banyak bertanya, Dirga langsung mengompres perutnya. Saka meninggalkannya sebentar. Pria itu menuju apotek yang tidak jauh dari minimarket. Tak lama kemudian Saka kembali dengan membawa obat pereda nyeri.
“Sambil mengompres, kamu makan roti. Habis itu minum obat pereda nyerinya.”
“Kamu kok tahu soal kayak gini?”
“Aku tahu dari pelatih.”
“Kamu latihan di mana? Aku juga mau ikut dong.”
Seketika Saka langsung terdiam. Pria itu tidak tahu apakah di daerah dekat rumahnya ada dojo atau tidak. Kalaupun ada, bagaimana kalau Dirga bertanya-tanya tentang dirinya?
“Aku hanya berlatih dengan salah seorang teman saja,” akhirnya Saka menemukan jawaban yang tepat. Untungnya Dirga mempercayai ucapannya.
“Tapi kalau kamu mau latihan bela diri, bisa mendaftar. Kan di sini banyak tempat latihan bela diri. Terserah kamu mau latihan karate, taekwondo, atau silat.”
“Kalau kamu latihan apa?”
“Taekwondo,” jawab Saka.
Saka memang sudah berlatih taekwondo sejak berusia 13 tahun. Sekarang dia sudah memegang sabuk hitam tingkat dua. Sejak aktif membantu ayahnya di kantor, Saka sudah jarang berlatih.
“Kalau aku belajar sekarang, terlambat nggak?”
“Nggak ada kata terlambat untuk belajar. Kalau kamu mau serius belajar, nanti aku carikan tempat latihan yang bagus untukmu.”
“Kalau aku belajar dari kamu aja, gimana?”
“Nggak bisa, aku juga baru belajar. Lebih baik kamu belajar sama ahlinya langsung.”
Bukan tanpa alasan Saka menolak permintaan Dirga. Dia sadar kesabarannya setipis tisu. Bisa-bisa Dirga akan terus terkena omel darinya dan menjadi curiga bahwa dia bukanlah Aryan.
***
Sepulang kerja, Saka menyempatkan diri menemui Ayura. Meski hanya berbincang santai sambil mengantar wanita itu pulang ke rumahnya, hal itu sudah membuat Saka senang. Hubungannya dengan Ayura mulai berkembang sedikit demi sedikit.
Karena lelah bekerja, Saka memutuskan untuk langsung beristirahat sesampainya di rumah. Setelah membersihkan diri, pria itu berbaring di kasurnya. Dia mengingat kembali apa yang sudah dilakukannya hari ini.
Senyum tersungging di bibirnya saat mengingat dirinya berhasil menyelamatkan perempuan korban penculikan.
Sekarang dia sudah tahu bagaimana cara melatih penglihatannya. Jika terus berlatih, Saka yakin bisa mengatur kapan penglihatan itu muncul. Penglihatan tidak muncul secara acak seperti sekarang.
Lelah dan mengantuk, Saka jatuh tertidur.
Dalam tidurnya, Saka mendengar seseorang memanggil namanya. “Saka.”
Perlahan, Saka membuka matanya. Di hadapannya sekarang berdiri Aryan. Pria yang tubuhnya sekarang menjadi tempatnya. “Aryan,” panggil Saka.
“Bagaimana keadaanmu? Baik? Apa sulit hidup sebagai diriku?”
***
Nah, Aryan nongol nih
bentar mau ambil air sama baskom...
mau di liat lewat media air dlm baskom... apakah bisa keliatan gk ya .... Saka mau jujur apa mingkem 😂
apakah mau jujur kau...ato kau masih mau ngeles blom mau terbuka 😔
jangan bikin in cemas pembaca Ka....kamu itu kuat dan dgn keyakinan seyakin-yakinnya pasti kerja kerasmu akan membuahkan hasil /Determined//Determined//Determined/