Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Kenapa Jangan?
Karissa terlentang di atas sofa besar dan empuk yang ada di ruangan itu. Sekuat tenaga ia menahan gejolak yang ada pada dirinya. Tangan kecilnya menarik tangan pria itu agar tidak membuka sweaternya.
"Jangan!" lirihnya dengan perasaan tidak menentu. Tubuhnya terasa panas dan sangat tidak nyaman.
"Hehe, kenapa jangan?" Pria itu menyeringai, menghentikan gerakannya, lalu beralih menyentuh wajah cantik Karissa, dan mengelus lembut pipinya.
"Bukankah kau menginginkannya, hemmm?" goda pria itu dengan suara yang sangat lembut. Masih mengelus wajah Karissa yang sudah memerah. "Sekuat apapun kau menolak, tubuhmu tetap menginginkannya!"
"Ahhh!" Karissa menggeliat. Tidak tahan menahan sensasi yang timbul dari sentuhan lembut pria itu.
"Se-sebenarnya, apa yang kau masukan ke dalam minumanku?" Tiba-tiba ia menanyakan hal itu.
Karena, kalau tidak ada apa-apa di minuman itu, tidak mungkin dirinya merasakan reaksi seperti ini.
"Apapun itu, kau akan menyukainya!" Pria itu menunduk, mendekati wajah Karissa.
Tiba-tiba tangannya terhenti ketika pria itu menyibak rambut yang menutupi kening Karissa. Ada sebuah plester besar berwarna krem di kening itu yang membuat wajah cantiknya tiba-tiba berubah menjadi jelek. Gerakkan tangannya seketika terhenti, kening pria itu mengkerut, menunjukkan bahwa ia tidak menyukai wanita cedera.
Pria itu segera bangkit dari atas tubuh Karissa, duduk di sofa sambil memperhatikan setiap lekuk tubuh wanita di depannya.
Ketika matanya menatap kaki putih dan halus yang hanya memakai celana yang sangat pendek, keningnya kembali mengkerut. Ada luka juga di kaki itu.
"Kenapa tubuhmu banyak luka?" tanya pria itu pada Karissa. Jari telunjuknya menunjuk setiap luka di tubuhnya.
"Aku tidak minat sama wanita yang tidak bersih sepertimu!" ucapnya dengan kejam.
Tiba-tiba pria itu bangkit berdiri. Memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai, lalu memakainya kembali. Api yang tadi sudah menyala, kini mulai padam setelah melihat luka-luka di tubuh Karissa.
"Aku sudah membayar mahal untuk malam ini! Harusnya Karin memberiku wanita cantik dan mulus. Bukan wanita penuh luka sepertimu," cibirnya dengan tajam. Matanya menatap Karissa yang masih terlentang di sofa.
"Awas saja, gadis licik! Aku tidak akan melepaskanmu!" ancamnya pada orang yang tidak ada di sana.
Pria itu segera berpaling, bergegas pergi ke depan pintu, lalu membuka kunci. Dia pergi meninggalkan Karissa.
Sikap kecewa pria itu malah membuat Karissa sangat bersyukur. Ia juga merasa beruntung karena tadi siang sempat berkelahi dengan Marine hingga tubuhnya penuh luka. Kalau tidak, mungkin pria itu akan menidurinya sampai pagi.
Dengan susah payah, Karissa bangun dari atas sofa. Ia bangkit dan berdiri dengan kaki bergetar. Tubuhnya masih terasa panas dengan keringan yang mulai membanjiri tubuhnya.
"Bagaimana ini? Aku harus segera keluar dari tempat ini. Kalau tidak, aku bisa celaka!"
Karissa segera pergi meninggalkan ruangan itu. Langkahnya sangat cepat, sambil menunduk kebawah ia berjalan ke lantai satu. Sebisa mungkin Karissa menghindari setiap orang, jangan sampai ada yang menyadari kondisi dirinya saat ini. Bisa-bisa, ia dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Baru beberapa langkah kakinya keluar dari klub, tiba-tiba kepalanya menabrak seseorang. Dengan cepat Karissa segera meminta maaf tanpa mengangkat wajahnya.
"Eh! Maaf, maaf!"
Setelah meminta maaf, ia bersiap untuk berjalan lagi.
Tapi, dekati berikutnya tangannya ada yang menarik, diiringi suara seseorang yang ia kenal.
"Kariss!"
"Eh!"
Karissa segera mendongak, menatap pria tinggi yang ada di depannya.
"Lo-Louis?"
'Sedang apa dia di sini?'
Melihat wajah cantik di depannya bersemu merah dan banyak keringat di keningnya, Louis tidak tahan kalau tidak bertanya.
"Kau kenapa?"
Pria itu menyentuh wajah merah Karissa.
"Ah, jangan!" Tiba-tiba Karissa menolak.
Ia mundur dua langkah ke belakang untuk menghindari tangan besar Louis.
"Kenapa tidak boleh?"
Louis semakin mendekat. Ia memegang kedua bahu Karissa, lalu menunduk untuk melihat wajah wanita itu dari dekat.
Karissa semakin gelisah dengan sikap Louis.
Kalau pria itu terus menyentuh tubuhnya, bisa- bisa ia ....
"Eh, kenapa kau datang kemari?" Karissa bertanya untuk mengalihkan perhatiannya. "Apa kau ingin masuk ke dalam klub?"
Karissa melangkah ke samping untuk memberi jalan pada Louis.
"Silahkan, aku tidak akan menghalangi jalanmu," ucapnya dengan acuh.
Karissa ingat, tadi, ketikan mereka masih ada di rumah, ia kesal pada Louis karena lebih membela Marine daripada dirinya.
"Hah, siapa yang ingin masuk ke dalam klub? Aku datang mencarimu!"
"Apa? Men-mencariku?" Karissa tidak menyangka, pria ini datang untuk mencari dirinya.
'Untuk apa?'
"Iya! Tadi Davi menghubungiku, katanya kau mencari kakakmu di Mahandi. Karena Davi sedang ada di luar kota, jadi dia memintaku untuk datang mencarimu!"
Itu memang benar. Davi mengkhawatirkan Karissa, ia meminta Louis untuk menggantikan dirinya mencari Karissa di Mahandi.
"Oh!" Karissa memalingkan muka ke samping. Tidak berkata apa-apa lagi.
"Ayo kita pulang!" ajak Louis.
Ia merangkul pundak Karissa, memaksa wanita itu untuk berjalan menuju tempat parkir.
Dengan linglung Karissa mengikuti langkah Louis sampai ke tempat parkir. Tiba di samping mobilnya, Louis membuka pintu depan untuk wanita itu.
"Masuklah!"
Antara "Iya" dan "Tidak" untuk masuk ke dalam mobil, Karissa terdiam sejenak.
'Haruskah aku pulang dengan Louis? Tapi, kondisiku sekarang sedang tidak baik!'
"Masuk, kita pulang!" ucapnya lagi, membuat Karissa tidak punya pilihan lain selain masuk dan duduk di sana.
Louis pun segera berputar, masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Mobil mulai berjalan meninggalkan klub itu menuju rumah.
Di perjalanan, Karissa sangat gelisah duduk di kursi samping pengemudi. Ia sudah tidak kuat menahan reaksi yang timbul dari obat yang diberikan oleh pria itu. Tubuhnya terasa panas juga sangat gatal, wajahnya pun semakin memerah, padahal AC di dalam mobil sudah sangat dingin.
Tanpa pikir panjang, Karissa melepas sweater tebal yang melekat di tubuhnya, menyisakan tanktop berwarna hitam. Berharap, dengan melepas sweater itu rasa panas di tubuhnya akan segera reda.
"Eh, Karissa! Apa yang kau lakukan?" tanya Louis, terkejut melihat tindakan wanita itu.
"Apa kau ingin kita bermain di dalam mobil, haha?" candanya tiba-tiba.
"Diam!" sergah Karissa menghentikan tawa Louis.
"Konsentrasi saja menyetir, jangan menghiraukan aku!"
"Kenapa, apa kau masih marah karena kejadian tadi?" tanya Louis dengan serius. "Aku minta maaf!"
'Aishjh, kenapa Louis membahas hal itu sekarang? Aku sedang tidak ingin membicarakan hal itu dengannya!' Karissa menarik napas panjang. Menahan semua rasa tidak nyaman di tubuhnya.
"Baiklah, aku sudah memaafkanmu! Sekarang kau diam saja, bawa aku pulang!"
Karissa kembali memejamkan mata. Ia duduk bersandar sambil melipat kedua tangan di depan. Sekuat tenaga menahan rasa gatal di tubuhnya, juga rasa sakit di kepalanya yang kembali muncul.
"Baiklah!"
Louis tidak berbicara lagi. Ia melajukan mobilnya dengan tenang, sesekali melirik wanita di sampingnya yang berekspresi sangat aneh. Karissa mengerutkan kening, napasnya terlihat berat, keringat terus bercucuran dari dahinya, seolah sedang menahan sakit.
Sesampainya di halaman rumah, Louis segera menghentikan mobilnya. Setelah mobil benar-benar berhenti, ia menatap Karissa dengan seksama sebelum keluar dari dalam mobil.
"Sebenarnya kau kenapa? Apa karena berkelahi dengan Marine, kau jadi seperti ini?" bisik Louis, tidak tega.
Ia mendekat. Mengelus dahi Karissa, dan menyeka semua keringatnya.
"Apa ini sakit?" bisiknya lagi ketika tangannya menyentuh dahi, dan goresan di pipi.
"Pasti sangat sakit, ya?" Ia terus berbicara sendiri sambil mengelus wajah wanita itu, tidak berniat membangunkannya.
Setiap sentuhan-sentuhan lembut dari tangan Louis membuat tubuh Karissa bergetar.
Tiba-tiba wanita itu membuka mata, membuat mata keduanya saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.
Antar sadar dan tidak, Karissa segera merangkul leher Louis dengan kedua tangannya, menarik pria itu agar mendekat.
"Lakukan untukku!" lirihnya diiringi sebuah desahan yang membuat Louis terkejut.
Detik berikutnya Karissa mencium bibir pria itu dengan penuh hasrat. Tarikan tangannya semakin kuat memeluk leher Louis.
"Ehh, eemmh!" Bibir Louis ditutupnya, tidak ada kesempatan untuk bertanya atau bersiap. Ia seolah dipaksa wanita itu untuk segera mengikuti permainannya.
'Eh, ada apa ini?'
"Aku ... menginginkanmu!" bisik Karissa di sela ciuman mereka.
Ia sudah tidak punya kekuatan untuk menahan ini lagi. Ia ingin segera memuntahkan lahar panas yang sedari tadi sudah mendidih.