Yoona seorang gadis cantik yang berprofesi sebagai model dan selebriti terkenal terjebak perasaan dengan seorang CEO cerdas lulusan Jerman.
mereka yang awalnya hanya berpura-pura pacaran pada akhirnya saling jatuh cinta satu sama lain.
namun sayangnya kisah cinta Yoona dan sang CEO tidak berjalan mulus begitu saja, teror demi teror berdatangan menjelang hari pertunangan mereka.
dapat kah Yoona dan kekasihnya melewati semua rintangan itu?
Persahabatan, Konflik, Komedi, Romantis dan kesedihan tersaji didalam cerita ini.
penasaran seperti apa keseruan cerita nya?
yuk dukung dan baca karya saya Hujan Temani Aku Menangis.
Instagram penulis: rii_mhey
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni'matul Ula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 (Tepi Pantai)
Yoona mengambil ponsel dan
menelepon Jeje, ia memintanya agar segera kembali ke kamar hotel dengan membawa
makanan, serta obat penurun demam.
"nih pesanan lu" ucap
April saat dirinya dan Jeje tiba dikamar hotel, bersamaan dengan itu ia
menyerahkan kantong kresek yang ia bawa.
"demamnya parah gak??"
imbuh April bertanya.
Yoona: "gak kok, semoga aja
habis minum obat demamnya turun"
"perasaan tadi baik-baik aja,
apa dia terlalu bekerja keras tadi?? kan gue udah bilang buat santai, gak usah
buru-buru" ujar Jeje dengan pikiran liarnya.
Yoona: "kerja keras apaan sih
jeee... sumpah ya.. pikiran lu kemana-mana"
"kekekekekek... tapi Jeje
bener tahu Yoon, gak usah bekerja terlalu keras!! santai..!! nikmati...!!
mumpung dibali...!!!" April terkekeh dan ikut menggoda Yoona.
"aaaiiiissssshhh" Yoona
mengumpat jengkel.
mereka pun duduk dibalkon teras depan
kamar yang mana pemandangannya langsung mengarah ke pantai, ditengah
perbincangan mereka, terdengar dering ponsel dari dalam kamar.
Yoona pun masuk dan memeriksa
darimana asal sumber suara, setelah diketahui bahwa itu berasal dari ponsel Galvin
yang kala itu berada di dalam saku celana.
Yoona mencoba membangunkan Galvin
yang masih terbaring diatas tempat tidur, namun Galvin hanya diam tidak memberi
reaksi apapun.
"dia tidur lelap banget
lagi..!! ini pasti efek dari obat penurun demam yang gue kasih tadi"
gumamnya dalam hati.
dengan perasaan was-was ia mengambil
ponsel tersebut "kak Dewa lagi yang telepon" Yoona menggerutu.
"vin, galvin ada telepon
nih" ujar Yoona sambil menepuk-nepuk pelan lengan Galvin.
dering ponsel berhenti sesaat
namun kembali berdering lagi seakan ini panggilan mendesak yang harus diterima,
dengan terpaksa Yoona mengangkat telepon tersebut.
"hallo bang Galvin" Dewa
menyapa dari seberang telepon.
"hallo.... " jawab Yoona
ragu.
Dewa: "ini siapa yaa?? bang
galvin nya mana??"
"aku Yoona, Galvinnya sedang
ke toilet" jawab Yoona berbohong, karena dia tidak mungkin mengatakan
bahwa Galvin sedang tidur didekatnya.
Dewa: "yaudah aku tunggu
kalau gitu, gak usah dimatikan teleponnya!!"
"dimatikan dulu aja, ntar
telepon lagi setelah dua jam" ucap Yoona membujuk.
"cuma ke toilet aja kenapa
nunggu dua jam??" Dewa merasa ada yang aneh.
Yoona kembali memutar otak mencari
alasan "karena ke toilet nya harus antri"
Dewa: "kamu gak lagi bohong
kan?? ini aku telepon disuruh papa soalnya"
Yoona mengernyitkan alisnya, ia
bingung karena Dewa bilang panggilan telepon tersebut atas perintah ayahnya.
"sebenarnya Galvin lagi
tidur" ucap Yoona jujur.
"tidur...?? tidur
dimana??" tanya Dewa menelisik.
___
sementara dilokasi Dewa menelepon,
pak Irwan tiba-tiba muncul dibelakangnya "sini hp nya, biar papa yang
bicara" Dewa pun menyerahkan ponselnya tanpa berani membantah.
pak Irwan: "hallo"
"iya hallo om" jawab Yoona
dengan detak jantung yang menderu.
pak irwan: "apa benar Galvin
sedang tidur disitu??"
"benar om, dia lagi tidur,
dia demam" Yoona menjawab apa adanya.
Galvin terbangun ia menggenggam
tangan Yoona yang berkeringat dingan karena gugup.
melihat itu Yoona langsung
menyerahkan ponsel Galvin "ini telepon dari bokap lu" ujar Yoona
dengan suara pelan cenderung bisik-bisik.
Galvin: "hallo paaa"
pak Irwan: "hallo Galvin,
benar kamu sedang demam??"
Galvin: "iya sedikit
paaa..."
pak Irwan: "ini sedang
dimana? biar dijemput sama adik kamu"
"engga, gak usah paa...!!!
ini juga udah baikan kok..!! udah minum obat dikasih sama pacar Galvin
tadi" ucap Galvin sambil melirik ke arah Yoona.
pak Irwan: "kamu yakin gak
mau dijemput??"
Galvin: "iya paa"
pak Irwan: "ya sudah kalau
begitu jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa langsung telepon papa"
Galvin: "baik paaa..."
setelah menutup panggilan telepon,
Galvin bertanya pada Yoona mengenai tangannya yang tadi berkeringat dingin, dan
yona pun mengakui bahwa dirinya gugup berbicara dengan pak Irwan.
"papa saya orangnya santai
kok" ucap Galvin menenangkan sambil tersenyum.
lalu dia mengecup lembut tangan Yoona
yang sejak tadi ia genggam, seraya mengucap "i love you"
Yoona tertawa kecil lalu tersenyum
menyunggingkan bibirnya "apaan sih" ujar Yoona sambil menghempaskan
tangan Galvin yang memegangi tangannya.
"mau kemana??" tanya
Galvin ketika Yoona beranjak dari tempat duduknya.
"ya siapin makan lu lah, ntar
telat makan sakit lagi..!! gue lagi yang repot" jawab Yoona mengomel.
"galak banget sih, untung saya
sayang" celoteh Galvin dengan senyum menggoda.
Yoona mengulurkan tangannya,
memberikan semangkuk bubur ayam yang dibawakan April dan Jeje tadi.
tapi Galvin enggan menerimanya ia
justru bertanya "ini orang sakit disuruh makan sendiri??"
dan Yoona balik berkomentar
"astagaaa... ini orang banyak mau nya yaa... udah lu makan sendiri, lu kan
cuma sakit demam bukan lumpuh".
Galvin tersenyum menambah tingkat
ketampanan diwajahnya seraya berkata "iya sudah saya akan makan sendiri,
saya juga tidak maksa kok"
_______
sore harinya April dan Jeje
bersantai ditempat SPA untuk menikmati pijat refleksi,
sementara Galvin sendiri mengajak
Yoona berjalan-jalan ditepi pantai, saat itu demamnya memang sudah turun dan
membaik.
"demam lu beneran udah
turun?" Yoona bertanya sambil melangkah dengan santai diatas pasir putih
yang terhampar luas ditepi pantai.
pertanyaan itu ditujukan pada Galvin
yang sedang berjalan beriringan disebelahnya.
"periksa saja
sendiri...!!" ujar Galvin sambil meletakkan tangan Yoona didahinya.
Yoona pun menghentikan langkahnya,
dengan tangan yang masih menempel didahi, Yoona menatap lekat bola mata Galvin
dia termenung beberapa saat menciptakan moment romantis.
hingga pada akhirnya Galvin
dikejutkan dengan tangan Yoona yang tiba-tiba menggetok keningnya.
Galvin pun memegangi keningnya
sambil mengeluh "aaaahhh.... kok kamu getok kepala saya sih??"
"itu hukuman, karena lu
selalu muncul dihadapan gue" Yoona menjawab tanpa rasa bersalah sedikitpun.
lalu kembali bertanya
"sekarang jelasin kenapa lu bisa tahu gue di Bali?? mana tiba-tiba muncul diatas
ranjang saat gue bangun tidur lagi"
Galvin: "ya mungkin karena
kita jodoh kali"
"mau jujur gak...?? jujur
gak...?? jujur gak..??" pinta Yoona sambil tangannya bergerak liar
menggelitik perut Galvin.
pria itu pun tertawa geli dan
mencoba melepaskan tangan Yoona yang berkeliaran di tubuhnya.
namun Yoona tidak mau kalah ia
terus menggelitik tanpa ampun, Galvin pun terus tertawa dan berjalan mundur
dengan tangan yang masih berusaha menyingkirkan tangan Yoona.
hingga akhirnya ia tersandung,
terjatuh terlentang diatas pasir, tak hanya sampai disitu.
Yoona yang sejak tadi mengganggunya
juga ikut terjatuh dengan posisi telungkup menimpa tubuh Galvin.
kini mereka berdua saling tumpang
tindih dan saling berhadapan, mereka diam tak bergeming dari posisi itu, cukup
lama tatap mata mereka beradu pandang satu sama lain, hingga akhirnya...
"kamu gak mau turun??"
tanya Galvin menggoda membuyarkan lamunan Yoona.
Yoona melotot kaget dan langsung terlonjak
turun dari atas tubuh Galvin.
muka nya memerah manahan malu, Galvin
semakin menggodanya dengan berbisik "nanti dilanjutin dihotel disini
banyak orang"
Yoona mengangkat dan menunjukkan kepalan
tinju ditangan kanannya "ngomong sekali lagi gue tonjok nih...!!!"
tutur Yoona mengancam.
alih-alih takut Galvin malah
menertawainya.