Nayla Kei seorang gadis cantik dan manis memiliki sifat periang terpaksa dia menerima perjodohan dengan salah satu sahabatnya yang merupakan anak dari teman dekat ibunya.
Atas dasar balas budi Nayla menerima pernikahannya dengan terpaksa. Namun siapa sangka dalam perjalanan pernikahan itu Nayla mulai merasa hal lain pada suaminya.
Akankah suami Nayla menerimanya sebagai seorang istri?
Akankah Nayla mendapat perlakuan semestinya sebagai seorang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Dua minggu sudah berlalu, hubungan Nayla dan Rayden tidak secanggung awal menikah. Terlebih lagi hari kedua setelah menikah, Rayden pergi ke Bandung untuk urusan bisnis dan baru kembali tiga hari kemudian. Sedangkan Nayla selama seminggu menemani Mama Anggi di rumah. Pasangan pengantin baru itu tetap berusaha menjaga komunikasi,saling bertukar pesan bahkan panggilan video beberapa kali.
Rayden berusaha membangun hubungan wajar diantara keduanya, pria itulah yang mulai mendekatkan diri pada istrinya. Bukankah pernikahan suatu hal yang suci dan sakral? Ia pun tidak ingin membuat sahabat yang telah dinikahinya menjadi wanita sial karena menikah tanpa cinta dan tidak mendapat perlakuan layaknya seorang istri.
Nayla kembali bekerja di L gym ia memutuskan tidak menerima murid laki-laki demi menjaga statusnya sebagai istri dan nama baik Rayden. Namun saat ini ia masih mengajar dua orang lelaki sampai kontraknya habis.
Ketika sudah selesai latihan mereka bertiga berfoto bersama dengan posisi Nayla berada ditengah tentunya, kedua lelaki berbeda generasi itu merangkul Nayla, sisi kiri pria berusia 40 tahunan, sedangkan sisi kanan pria tampan berusia 22 tahun, lebih muda dari Nayla.
“Makasih Ka Nay, udah bantu aku” ucap pria lebih muda.
“Sama-sama” Nayla tersenyum hangat.
“Saya pasti merindukan mu Nayla” ujar pria berusia 40 tahun.
Ketiganya bercanda di ruang istirahat.
Sementara Nayla berpikir ini sebagai perpisahan, ia pun menjadikan foto tersebut status WhatsApp nya dengan caption “Bersama pria tampan” ditambah emoticon nyengir dan sedih.
Tanpa diduga seseorang yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya, menatap geram pada apa yang ia lihat.
Rayden baru selesai menerima panggilan telepon dari Indra, ia pun membuka aplikasi chat hijau dan melihat pembaharuan status Nayla, alangkah terkejutnya. Melihat sang istri dirangkul pria lain, dua lagi. Ditambah pakaian Nayla sedikit terbuka, yang menampilkan pinggang dan perut ramping dan sedikit berotot itu.
“****” umpat Rayden, segera menyambar kunci mobilnya dan bergegas menyusul Nayla menuju L Gym tanpa memberitahu gadis itu.
“Aku pun belum menyentuh dirimu Nayla, kau berani sekali dirangkul pria lain” geram Rayden mencengkram stir erat. Walaupun ia tahu kedua pria dalam foto itu adalah murid Nayla, namun hatinya merasa panas.
Dengan kecepatan tinggi mobil merah membelah jalan, menyalip mobil-mobil yang menghalangi jalannya. Kebetulan siang ini jalan Ibu Kota lancar tidak ada kepadatan seperti biasanya, hanya lima belas menit waktu perjalanan Rayden hingga tiba di pelataran parkir gym milik Leo.
“Wah pengantin baru, sahabat gue kesini pasti mau jemput bini lo ya bro?” goda Leo yang sedang asyik duduk ditemani kekasih barunya.
“Dimana Nayla?” tanya Rayden tegas
“Ada bro lagi ngajar dia, masuk aja bro” sahut Leo kembali menikmati minumannya
Derap langkah sepatu pantofel milik Rayden terdengar nyaring
Tap
Tap
Tap
Beberapa orang yang menoleh padanya, melihat siapakah sosok tampan didepan mereka mengapa sorot matanya sangat tajam. “Uhhh tampanya, aku harus bisa mendapatkan dia” kagum salah seorang wanita.
“Nayla” suara berat Rayden memanggil sang istri yang tengah duduk bersama pria tampan muda.
“Rayden kamu mau jemput aku? Kamu ngga kasih tahu” ujar Nayla lemah lembut
Rayden merasa kalimat tersebut sebagai penolakan, bahwa Nayla tidak menginginkan dirinya berada di gym tersebut. Ya Rayden tersulut emosi sejak melihat foto kebersamaan Nayla bersama pria lain.
“Ayo pulang” perintah Rayden
“Tapi Ray, aku masih belum ganti baju, masih berkeringat. Sebentar ya” jawab Nayla memang benar tubuhnya tidak nyaman penuh keringat.
“Tidak perlu” Rayden membuka jas miliknya dan menutupi tubuh Nayla, kemudian dikancingkan jas tersebut agar tubuh sexy atletis Nayla tidak terekspos.
Pria tampan pemilik cafe dan hotel itu, menarik lengan Nayla dan mengambil tas istrinya itu yang berada tepat di samping seorang pria.
Mereka berjalan keluar, Leo yang melihat itu semua hanya bisa tertawa terbahak-bahak “Wow, pengantin baru, gue dukung lo Ray, kurung aja istri lo di kamar, kasih gue keponakan banyak oke” teriak Leo benar-benar tidak tahu malu. Hingga membuat semua pengunjung gym menoleh padanya juga Rayden dan Nayla.
Nayla yang bingung hanya mengikuti langkah kaki Rayden dan memasuki mobil mewah milik suaminya, selama perjalanan mereka berdua saling diam satu sama lain. Satu hal yang disadari oleh Nayla, suaminya itu sedang kesal terlihat dari raut wajahnya. Tapi atas dasar apa ia pun tidak tahu, Rayden hanya memandang lurus kearah jalan, seolah fokus menyetir mobil padahal pikiran dan hatinya sedang berkecamuk.
“Apa-apaan dia, statusnya istriku tapi dipeluk pria lain dengan pakaian terbuka” batin Rayden geram
Mobil pun berhenti di lampu merah, “Rayden kamu ke—“ kata-kata Nayla terputus saat Rayden mulai menjalankan mobilnya kembali. “Ish dia kenapa sih? Kayanya tadi pagi sewaktu sarapan biasa aja, apa ada masalah di hotel?” batin Nayla bertanya.
“Mulai saat ini aku tidak akan membiarkannya bekerja seperti itu, ah tidak, tidak boleh bekerja di luar rumah” batin Rayden.
Pasangan yang aneh memang, suaminya itu bilang memperbolehkan Nayla bekerja kembali karena ia tidak ingin merenggut kebebasannya setelah menikah. Nayla pun bebas berkumpul bersama keluarganya dan teman-teman lainnya, bisa mengajar murid pria, hanya saja Nayla berjanji pada Rayden bahwa ia hanya akan mengajar wanita saja, karena ia ingin menjaga dirinya sebagai seorang istri, ia pun ingin menjaga perasaan Rayden.
Bayangkan siapa pun pasti merasa marah dan kesal ketika melihat suami atau istri bercengkrama dengan lawan jenis. Begitupun mereka, kesepakatan itu mereka ambil setelah dua hari pasca menikah.
“Ray, jangan ngebut, kamu kenapa sih?” Nayla ketakutan melihat mobil merah ini melesat cepat. “Hati-hati Ray, aku ngga mau mati muda, Rayden ya ampun” pekik Nayla.
“Diam” tegas Rayden, melirik sekilas wanita disampingnya yang duduk gemetaran, perkataan Nayla tidak dihiraukan olehnya. Mobil pun tetap melaju dengan cepat
“Turun” perintah Rayden , mereka saat ini sudah tidak dikediaman Dave Bradley, rumah nampak sepi karena Dave tengah menjalani pengobatan di Singapura ditemani Anggi tentunya.
“Iya aku turun” Nayla bersungut dan itu menggoda bagi Rayden
“Ayo, cepat” perintah Rayden, lagi-lagi menarik tangan Nayla dengan sedikit kasar.
“Awww, Ray, sakit kamu kenapa sih?, lepas Ray” gadis itu berusaha memberontak namun tenaganya kalah dari sang suami.
Klek
Pintu kamar terbuka, mereka pun masuk.
Bruk
Rayden menutup kasar pintu yang tidak tahu apa-apa itu dan mengunci pintunya. Ia berbalik badan menatap Nayla dengan emosi, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mendorong tubuh sang istri terjatuh diatas ranjang dalam posisi duduk, menundukkan wajah mendekati bibir tipis Nayla dan menci**nya dengan kasar.