Indonesia
NovelToon NovelToon
Masuk Ke Dunia Film

Masuk Ke Dunia Film

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Dunia Lain / Perperangan / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Han.Ifa

(CERITA INI SEDANG DIREVISI, BANYAK NAMA YANG DIGANTI. JADI KALAU ADA PART YANG BEDA NAMA/ALUR, BERARTI ITU BELUM DIREVISI JADI TOLONG JANGAN DIBACA DULU YA :D)

Hari itu, gadis bernama Isabel tiba-tiba terbangun di tempat asing alias istana. Dia menjadi seorang putri, dan tak disangka ternyata kekasihnya juga masuk ke dunia itu dan menjadi tunangannya dalam dunia tersebut.

Mereka sadar, kalau mereka baru saja masuk dalam dunia film yang mereka tonton sebelumnya. Mereka harus menjalankan misi untuk keluar dari dunia itu. Misi untuk merubah takdir yang kurang masuk akal, namun mereka tidak punya jalan lain.

Lantas, bagaimana cara mereka menyelesaikan tugasnya? Akankah mereka berhasil, disaat Deroxia juga harus menghadapi Pangeran Harixon yang sangat terobsesi padanya? Sedangkan dia sudah bertunangan dengan Feroxan.



Story by: Honeyfa354

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Han.Ifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Untuk Darixa

Sekarang Deroxia berada di kamarnya untuk melelehkan batu tersebut. Ia melakukannya seperti cara Feroxan waktu itu, kemudian sambil menunggu dua hari batu ini akan dia letakkan di bawah kasurnya lagi. Berdoa saja semoga kasurnya tidak jebol agar tidak mengenai api itu, atau sesisi kamar akan terbakar!

Karena bosan, Deroxia pun turun dari kasurnya kemudian dia keluar menuju kamar sebelah---kamar Deraixa berada. Meski dia tau ada kemungkinan dia diusir dari kamar kakaknya itu karena Deraixa masih marah, tapi ya apalah jika sudah bosan, dia juga penasaran bagaimana tampilan kamar Deraixa. Deroxia mengetuk pintunya lalu membukanya sedikit.

"Masuklah." Sahut Deraixa dari dalam. Mendengar itu Deroxia membuka pintunya lebar-lebar. Terlihat di sana Deraixa sedang bercermin di depan kacanya, sepertinya dia baru saja ingin pergi.

Berbeda dari kamar Deroxia, kamar Deraixa yang satu ini berdinding ungu, lantainya berwarna coklat, barang-barangnya juga tidak begitu banyak dan sederhana. Tidak seperti kamar Deroxia yang memiliki cukup banyak barang di sana.

"Mau kemana Kak?" Tanya Deroxia pelan.

"Aku ingin ke pasar membeli kado ulang tahun Rixa nanti lusa. Kau mau ikut?" Ajaknya, mata Deroxia membulat mendengar kata 'ulang tahun' yang berarti sebentar lagi perang akan dimulai kembali. Kenapa cepat sekali? Aku baru saja melelehkan batunya dan itu membutuhkan waktu dua hari, pikirnya.

"Kenapa diam saja?" Tanya Deraixa sambil mengangkat satu alisnya.

"Ah... y-ya baiklah aku ikut..." Jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap, padahal baru saja dia pergi ke pasar tadi, sekarang balik ke pasar lagi. Dia berharap semoga saja Harixon sudah pergi dari sana.

Seperti biasa, mereka pergi menaiki kuda berdua. Sampai di pasar tersebut mereka memilih-milih barang untuk adik mereka.

"Kamu ingin membelikannya apa?" Tanya Deroxia.

"Aku ingin membelikannya busur panah, bagaimana menurutmu?" Jawab Deraixa, Deroxia tersenyum senang.

"Wah Rixa pasti suka tuh." Kekeh Deroxia. "Kalau aku... ah tidak tau. Lihat saja nanti."

Setelah memberi busur panah untuk Darixa, mereka lanjut menelusuri pasar itu dalam hening. Deroxia sendiri bimbang ingin membelikan Darixa apa, dia sama sekali tidak tau barang apa yang disukai oleh Darixa.

"Barang yang disukai oleh Darixa adalah Buku. Darixa menyukai buku." Deroxia menatap sekelilingnya, mencari darimana suara itu berasal namun tak ada yang sedang berbicara padanya saat ini. Kemudian Deroxia baru menyadari kalau itu suara yang selalu ada di kepalanya.

Buku, oke aku haru mencari buku.

"Buku di mana deh Kak?" Tanya Deroxia.

"Oh di sana--ayok!" Deraixa menarik tangannya menuju pedagang yang menjual buku-buku. Sampai, Deroxia pun memilih-milih buku yang kira-kira disukai oleh Darixa.

"Buku tema apa ya?" Tanyanya pada dirinya sendiri, namun sepertinya Deraixa mendengarnya.

"Biasanya dia suka buku sejarah, atau buku ilmu pengetahuan mengenai dunia X." Jawab Deraixa, Deroxia mengangguk-angguk kemudian dia mengambil satu buku yang berjudul 'Kisah Naga Laut Penyembur Duri'. Dia berusaha menahan tawanya membaca judul tersebut, entah kenapa dia tertarik dengan buku ini. Apa lagi saat melihat di sinopsisnya bahwa Naga ini nyata, ada di dunia X ini namun belum pernah ditemukan lagi selama beribu-ribu tahun lamanya.

"Kira-kira dia suka tidak ya?" Kekeh Deroxia.

"Mungkin. Sepertinya menarik."

Deroxia memilih untuk membeli buku tersebut, tak lupa setelah itu mereka membeli tali pita merah untuk mengikat dan menghias barangnya. Kemudian mereka berdua pulang ke istana.

...----------------...

Sekarang mereka berada di kamar Deraixa, mengikatkan pita merah pada barang yang akan mereka berikan untuk Darixa. Masih hening di antara keduanya, mereka terlarut dalam pikiran masing-masing. Deroxia pikir mungkin kakaknya masih sedikit marah dengannya, tapi entahlah.

"Kira-kira Rixa senang tidak ya dengan kado yang kita berikan?" Tanya Deroxia basa basi.

"Tentu saja. Dia menyukai hadiah." Kekeh Deraixa. Lalu hening kembali. Tak ada satu pun yang membuka suaranya, atau kita bisa menyebutnya mati topik. Akhirnya Deraixa membuka suaranya selama beberapa menit.

"Hm, soal daun merah yang kamu petik itu... Memangnya kamu ambil itu dari mana?" Tanyanya.

"Hutan Renerest. Daxien bilang daun itu berwarna merah, jadi aku pilih yang itu. Mungkin ada jenis daun lain yang merupakan obatnya, tapi aku malah memetik daun yang itu. Aku baru ingat daun itu namanya daun Reisond, itu racun yang mematikan." Jawab Deroxia dengan pelan, dia merasa sangat bersalah memberikan daun itu untuk obat Bibi Jexia, yang mana malah membuat Bibi Jexia meninggal. Dia sangat kesal dengan sifat pelupanya, entahlah saat itu menurutnya tanaman-tanaman yang Feroxan sebut tidak begitu penting, wajar ia lupa karena dia tidak peduli.

"Lalu, sebenarnya tanaman apa yang dimaksud Axien?"

"Itu dia, aku tidak tahu."

Lagi-lagi suasana ruangan tersebut kembali hening, membuat Deroxia ataupun Deraixa sedikit resah, juga canggung.

"Selesai." Gumam Deroxia sembari menatap kado yang baru saja dia hias dengan pita di sekelilingnya. Deraixa tersenyum kecil, lalu dia menepuk pundak kanan Deroxia membuat adiknya tersebut mendongak menatapnya.

"Maaf Roxia, mungkin kemarin aku kesal denganmu dan Oxien. Aku tau kamu pasti tidak akan meracuni Bibi Jexia seperti itu, ini sebuah kesalahan bukan?" Ucapnya membuat Deroxia terdiam, kemudian mengangguk kecil.

"Maafkan aku Kak."

"Aku tau, semua orang jelas mempunyai kesalahan. Tapi itu sudah berlalu, aku tidak marah padamu. Aku hanya... masih tak percaya kalau Bibi akan pergi... Makanya aku mendiami kamu dan Oxien." Lirihnya pelan dengan mata yang berkaca-kaca. Dia menunduk, keduanya terdiam mengingat Bibi Jexia yang telah meninggalkan mereka.

Kami memang sudah besar, namun Bibi Jexia masih tetap membantu kami. Kalau ia sudah tiada, siapa lagi yang akan membantu kami? Kami bukannya manja, namun mengingat senyum dan ketulusan yang ia berikan pada kami membuat hati kami sakit karena sesosok orang itu kini sudah meninggalkan kami.

Sejujurnya, Deroxia baru saja mengenal sesosok bibi itu karena pada kenyataannya Deroxia adalah Isabel sekarang. Namun, siapa sih yang tidak sedih ditinggalkan oleh wanita baik hati, setia dan pekerja keras sepertinya? Apa lagi semua itu terjadi karena kesalahan Isabel sendiri yang tidak begitu peduli mengenai tanaman-tanaman.

Aku sudah melakukan kesalahan, tapi mengapa waktunya tidak terulang? Atau Deroxia melakukan hal yang sama sepertiku sehingga Bibi Jexia meninggal? Sepertinya aku dan Deroxia memiliki banyak kesamaan ya? Pikirnya dalam hati.

"It's okay Roxia, kamu ga sepenuhnya salah di sini." Deraixa terkekeh pelan, Deroxia ikut terkekeh kemudian tersenyum.

"Terima kasih."

Kini mereka duduk bersebelahan di tepi ranjang milik Deraixa, mereka mengobrol, tertawa karena candaan aneh yang mereka buat. Dan entah darimana tiba-tiba saja Deraixa menanyakan hubungan Deroxia dan Feroxan, membuat Deroxia terdiam. Deraixa pun mengangkat satu alisnya.

"Ada apa?"

"Hmm... ya tidak apa-apa. Hanya saja, seperti ada yang aneh dengan Feroxan kemarin." Gumamnya.

"Apa?"

"Dia seperti tidak suka saat aku datang ke sana, dan dia menyuruhku pergi." Lanjut Deroxia membuat mata Deraixa melebar.

"Yang benar saja?!"

"Pasti ada yang aneh dengannya, dia tak mungkin berubah 180 derajat seperti itu. Sepertinya dia juga sedang sedih karena kehilangan adiknya. Aku yakin dia tidak akan membunuh adiknya sendiri, pasti ada yang menjebaknya. Kau percaya Feroxan kan?"

"Hmm, entahlah. Sebenarnya sulit mempercayainya karena banyak saksi yang melihat bahwa Feroxan yang membunuhnya sendiri dengan pedangnya, tapi aku akan coba mempercayainya." Jawab Deraixa sembari tersenyum tipis, mengingat Fliaxi sekarang telah tiada. Mereka tidak menyangka gadis kecil itu akan mati dengan mengenaskan. Deraixa mengusap air matanya yang hampir turun, begitu juga Deroxia.

"Kalau Kakak bagaimana? Hubunganmu dengan Pangeran Hiraixan." Tanya Deroxia balik, gantian kali ini Deraixa yang terdiam mendengarnya.

"Hmm, y-ya seperti itu. Kurasa dia menyukaiku, dan aku juga mulai menyukainya. Dia orang yang baik, manis, peduli, bahkan dia tidak memandang golongan atau apa pun itu. Aku bisa melihat dari matanya, bahwa dia benar-benar mencintaiku. Aku sangat yakin dia berbeda dari orang-orang Westria yang lain." Jawab Deraixa dengan senyum yang terukir di bibirnya.

"Kamu sangat beruntung Kak." Kekeh Deroxia, Deraixa pun terkekeh.

...----------------...

Pagi ini, Deroxia sedang membantu ibunya di dapur membuat kue ulang tahun untuk Darixa besok. Kebetulan sekarang Darixa sedang pergi bersama Deraixa, jadi Darixa tidak akan melihat mereka selama mereka membuatnya dengan cepat.

Keduanya saling membagi tugas, juga sambil mengobrol-ngobrol. Ini adalah pertama kalinya Deroxia mengobrol dengannya, sebelumnya dia sangat jarang mengobrol langsung dengan ibunya seperti ini.

Di sepanjang waktu membuat kue, ibunya tidak menghapus senyum manisnya selama membuat. Bahkan dari matanya terlihat bahwa ibunya sangat tulus membuat kue ini, seperti membuatnya dengan cinta. Itu lah kunci memasak yang baik, dengan cinta.

"Tuang ke sini nak." Pintanya sambil meletakkan loyang berbentuk bundar di atas meja. Deroxia pun menuangkan adonan kue tersebut dalam loyang, lalu mereka memasukkan loyang tersebut dalam oven.

Aku pasti akan rindu saat-saat ini -batin Deroxia sembari tersenyum kecil.

...-TBC-...

1
Silvi Aulia
hallo Thor aku udah mampir lagi nih di cerita author bawa like dan subscribe untuk novel author ,jangan lupa untuk balik dukung novel aku ya Thor 🙏🙃
Giffa
Si Axien nih ya, keterlaluan. Ingin berkata kasar rasanya😂
Giffa
agak bingung jg sama namanya😂tp keren thor!
Giffa
semangat thor!
Silvi Aulia
cerita bagus Thor saya suka 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!