"Segera pergi dari sini!" perintah seorang pria setelah mengenakan setelan jas mahal miliknya.
Terlihat seorang wanita duduk bersimpuh di lantai dengan tubuh gemetar.
"Tapi tuan." wajah wanita itu terlihat sembab.
"Kamu tidak bisa menyenangkanku. Untuk apa masih mengharapkan imbalan." lalu pria itu menendang wanita itu hingga tersungkur di atas lantai yang dingin.
Pria itu keluar hotel dengan gagah. Meninggalkan wanita itu dengan tega. Pria itu Lalu memasuki lift dan menunggu untuk turun sampai di loby.
"Tuan!"
Seorang pria bersetelan hitam menyambutnya ketika pintu lift terbuka.
Terlihat Gavin mendengus sambil melirik pria dihadapannya itu. Lalu melewati pria yang menyambutnya itu menuju keluar loby hotel.
Terlihat pria itu panik lalu mengejarnya dan membukakan pintu mobil. Setelah Gavin sudah aman, ia ikut masuk ke mobil di bagian depan penumpang.
Terlihat wajah Gavin tidak enak dilihat. Pria bersetelan hitam itu menarik nafas dalam dalam.
Wajah Gavin terlihat suram. Untuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qumaira Muhamad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Malam itu, kedua manusia itu saling membelit satu sama lain di atas ranjang di kamar mereka. Sepanjang malam, Gavin melakukannya berkali kali bersama Siera. Sudah sejak lama ia tidak pernah bergairah lagi setelah menikah. Dan kali ini pria itu mencurahkan nafsunya kepada Siera seluruhnya.
Tubuh Siera seakan remuk redam karena perbuatan Gavin. Si lelaki brengsek itu telah melakukannya sampai sepuluh kali dalam semalam. Bahkan tidak memberinya kesempatan untuk tidur.
Ketika hari menjelang fajar. Barulah Gavin melepaskannya. Siera sangat lemas dia tertidur meringkuk dengan Gavin yang memeluknya dari belakang.
Saat di pagi hari. Gavin terbangun lebih dulu. setelah itu dirinya keluar kamar dan menuruni tangga. Wajahnya lebih cerah dari saat sebelumnya. Di sana ada Damian yang tengah menunggunya untuk berangkat ke kantor.
Damian menebak jika tuannya itu pasti mendapatkan servisan yang bagus. Karena ia dapat melihat binar cerah dari tatapannya. Damian sudah bekerja bertahun tahun dengan Gavin dan ia bisa menemukan tatapan cerah itu ketika sudah menghabiskan malam bersama wanita.
"Tuan! Anda sepertinya terlihat cerah hari ini. Apakah servisannya sangat memuaskan." kata Damian seraya berbisik.
"Bagaimana kau tau? tanya Gavin melirik asistennya itu.
"Saya tau dari raut wajah anda. Sepertinya hari cerah akan muncul." kata Damian tersenyum lalu mengarahkan pandangannya keluar jendela.
"Hum. Pandai berkata." kata Gavin.
"Hehehe...." Damian tertawa memperlihatkan giginya.
"Tuan, apakah anda akan sarapan sekarang?" seorang pelayan menghampiri Gavin dan bertanya.
Gavin melirik arlojinya. "Hum, siapkan sekarang." kata Gavin mengangguk.
Pelayan itupun pergi dan segera menyiapkan sarapan.
Gavin melirik asistennya itu yang setia menunggu. "Damian, kau pasti belum sarapan, ayo sarapan." ajak Gavin pada asistennya.
"Huh, kebetulan tuan menawari saya sarapan. Dengan senang hati saya menerimanya." kata Damian.
Kedua pria dewasa itu memasuki area meja makan. Di sana tertata hidangan yang memenuhi meja.
"Serli. Panggil nyonya untuk sarapan bersama." perintah Gavin.
Serli pun mendekat. "Baik tuan." kata pelayan yang bernama Serli itu.
Pelayan Serli itu pun segera pergi ke lantai atas membangunkan Siera.
Siera terlonjak kaget ketika ada seorang pelayan yang memaksanya bangun.
"Jam berapa ini Bik?" tanya Siera. Tubuhnya masih polos tanpa balutan pakaian apapun selain selimut yang menutupi.
"Sudah jam setengah 7, nyonya. Anda di tunggu tuan di bawah untuk sarapan bersama." kata Pelayan Serli.
"Baiklah. Katakan pada tuan, setengah jam lagi aku turun." kata Siera.
"Baik nyonya."
Pelayan Serli pun berlalu.
Siera menurunkan pandangannya melihat tubuhnya yang polos, belum lagi bagian dada dan leher yang terlalu banyak cupangan yang meninggalkan bekas keunguan di sana.
"Huh, Gavin sialan." dengus Siera.
Ia bahkan hampir tidak mampu menggerakkan bagian bawahnya karena terasa perih.
Setelah setengah jam, yang ditunggu pun datang. "Selamat pagi." sapa Siera kepada orang yang menunggunya.
"Pagi." Sahut Gavin seraya menurunkan koran paginya dan melipatnya.
"Damian!" kata Siera tertegun untuk sesaat saat melihat kehadiran Damian yang duduk di sana.
"Selamat pagi nyonya." sapa Damian meringis.
"Ayo segera sarapan. Jika kau tidak segera duduk kita semua akan kesiangan." tegur Gavin membuat wanita itu menoleh.
"Pagi Damian." sahut Siera lalu duduk di kursinya.
Mereka bertiga menghabiskan sarapan mereka. Gavin sengaja memberikan porsi banyak ke atas piring Siera.
"Gavin! Apa aku ini babi? Perutku tak mampu menampung makanan banyak seperti ini." kata Siera menegur Gavin yang terus mengambilkan sayuran ke atas piringnya.
"Kau harus makan banyak hari ini. Biar kau kuat untuk bekerja." sahut Gavin santai.
Siera mendelik karena kesal. Gavin hanya melebarkam bibirnya penuh makna. Kemudian memberikan isyarat bahwa di sana ada Damian. Jadi wanita itu hanya bisa menahan kekesalannya dalam hati.
Selepas sarapan. Mereka bertiga pergi ke kantor bersama sama. Siera di antarkan sampai di depan pintu loby perusahaan. Kemudian barulah Gavin pergi ke perusahaannya sendiri.
Raut wajah Siera tampak kuyu dan lelah.
"Nona!" sapa Santi ketika bertemu di pintu loby.
"Santi." Siera menyapa dengan suara letih.
"Anda sepertinya tidak bersemangat hari ini. Apakah anda sakit?" tanya Santi.
Siera menggeleng. "Tidak! Aku hanya perlu beristirahat." jawab Siera.
Kedua perempuan itu segera memasuki lift dan menuju ruangan kantornya.
Sebelum memasuki kantor Siera memerintahkan Santi untuk membuatkan kopi. "Santi, tolong buatkan aku kopi." kata Siera.
"Baik nona."
Siera pun masuk ke dalam kantornya. Tak berapa lama Santi datang membawa kopi dan meletakkannya di samping.
"Nona, anda sangat kelelahan. Apakah anda benar benar lembur semalam?" tanya Santi.
Siera mengangguk lalu mengambil cangkir yang berisi kopi itu dan menyesapnya karena masih panas ia menyesapnya perlahan.
"Semalam aku lembur sampai pagi." balas Siera mengangguk.
Siera masih teringat jelas lembur semalam yang di maksudkan. Gavin benar benar ganas. Bahkan pria itu terus saja melakukannya meski ia meronta memohon untuk berhenti. Tetapi pria itu tidak menggubrisnya sama sekali hingga fajar menyongsong.
"Nona. Ini masih awal bekerja. Anda jangan memaksakan bekerja lembur sampai pagi. Tidak baik untuk kesehatan anda." kata Santi menasehati.
"Hum." Siera mengangguk.
Santi pun keluar agar ketuanya itu bisa bekerja.
Disisi lain.
Meskipun Gavin telah mengeluarkan tenaganya tak sedikitpun ia merasa lelah seharian ini. Justru ia semakin bersemangat dalam memerhatikan detail pekerjaannya.
Dia seakan seperti mesin yang bekerja siang dan malam.
Hingga menjelang malam. Damian mengetuk pintu membuat kefokusannya dalam bekerja teralihkan.
"Ada apa Damian?" tanya Gavin.
"Tuan, ada jadwal susulan. Tuan Wahyono meminta anda untuk menghadiri perjamuan di hotel bintang tujuh. Beliau meminta anda yang menggantikannya karena beliau akan terbang ke Shine malam ini." kata Damian panik.
"Jam berapa aku harus datang?" tanya Gavin.
Damian melirik arlojinya. "Jam tujuh. Masih ada waktu buat anda mempersiapkan diri."
"Hm, baiklah. Hubungi Siera agar dia pulang lebih dulu." kata Gavin seraya memerintahkan.
"Baik tuan."
Damian pun keluar dan tidak lupa menghubungi nyonya mudanya. Lalu memberitaukan maksud meneleponnya.
"Gavin tidak menjemputku. Kalau begitu aku bisa istirahat malam ini." Gumam Siera bahagia.
Ia pun bergegas memberesi mejanya dan bersiap pulang.
"Anda akan pulang? Nona." tanya Santi.
"Ya. Gavin tidak menjemputku. Kemungkinan aku pulang naik taksi. Santi! Kau juga pulanglah."
"Iya nona."
Siera bergegas menuju lift sementara Santi segera merapikan mejanya.
…
Sesampainya di rumah, Siera langsung pergi ke lantai dua. Membuang tas tangannya asal dan melompat ke atas tempat tidur.
"Akhirnya aku bisa istirahat dengan bebas." kata Siera memekik.
Ia seharian ini tidak bisa istirahat lantaran ada banyak kerjaan yang ia kerjakan. Perusahaannya tergolong masih baru. Tetapi karena pabrik dan gudang akan segera beroperasi jadi ia harus mengatur segalanya.
Dalam sekejap wanita itu sudah terbang ke dalam mimpi dengan pakaian kerja yang masih lengkap hanya sepatu saja yang ia lepaskan dan membuangnya asal.