Cerita ini ringan, hanya bercerita pada sebuah kisah dimana menuju pernikahan mungkin saja melewati sebuah proses. Apa aja sih proses itu? ya bisa pendewasaan diri, sebuah intropeksi maupun pengenalan sifat yang baru di ketahui. Karena pacaran adalah definisi mengarungi kepalsuan, dan pernikahan adalah sebenar-benarnya apa yang ada pada diri kita. Udah ah jangan kebanyakan teori hehe, mari kita simak aja kisah menuju pernikahan dari pasangan Fais dan Maya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gak ada narasi
Saya terdiam untuk beberapa menit lamanya. Dengan perasaan berdebar, saya mencari-cari keberadaan Yoga yang sudah tega membohongi perempuan tak tahu apa-apa ini. Apa salah saya padanya hingga dia berbuat tak berbelas kasih?
Telepon Aa barusan hanya untuk membuat saya tersadar bahwa saya telah gagal memahami Aa. Seharusnya saya bisa membedakan, antara yang benar-benar perbuatan Aa dengan tindakan manis kepalsuan. Bunga mawar itu, tulisan itu, dan perasaan gak enak yang kerap kali saya rasakan ketika hal ganjil akan menimpa.
Gak menyerah dengan situasi ini, saya mencoba menghubungi nomor yang dipakai Aa menelepon tadi. Dan alhamdulillah tersambung tanpa drama baterai habis.
Tut..
Tut..
Tut..
Pada layar pemanggilan, status memanggil sudah berubah menjadi berdering. Artinya telepon saya ke Aa sudah tersambung hanya tinggal menunggu di angkat. Pada nada tut ke lima, saya mendengar kasak-kusuk diseberang telepon.
"Hallo a, assalamualaikum. Aa My minta jemput," pertama kali saya meminta pada Aa dengan sangat memohon.
Alih-alih mendapat jawaban, HP saya malah terenggut dari genggaman. Saya memicingkan mata ketika tahu siapa dalangnya.
"Ketemu lagi kita Mbak. Apa kabar?" seru perempuan bernama Tantri Wijayanti.
"Kabar saya baik-baik saja. Kamu mau apa?"
Tantri tertawa. Ia mengelilingi saya seperti tokoh antagonis di film-film. Tawanya renyah namun penuh gaham. Senyumnya lebar namun tersirat kamuflase. Segalanya semu dilihat dari kacamata orang yang miliknya ingin direbut. Mau apa dia? gini-gini, saya tipe orang gak mau diinjak-injak.
"Mbak nanya saya mau apa? kalau saya bilang mau Fais emangnya Mbak mau kasih? gak kan. Mbak Maya tuh kalem tapi kompleks."
Saya geram dengan perkataan Tantri.
"Dia bukan barang yang jika orang mau bisa dengan mudahnya dikasih. Aa adalah laki-laki yang punya perasaan. Saya menjadi calon istrinya bukan saya yang mengemis seperti anda. Saya gak menghalalkan segala cara agar bisa bersama dengan seseorang yang bahkan ngerasa keganggu sama kehadiran saya. Kami bersatu karena terkait perasaan masing-masing."
Saya per tegas begitu, Tantri tergelak kembali. Heran, perempuan satu ini hobinya ketawa penuh kebencian.
"Yaelah Mbak, selow aja kali. Orang cuma bercanda. Kita tuh kesini cuma ngajak Mbak Maya have fun aja. Iya gak teman-teman?" Tantri melongok ke arah yang mungkin dia seru sebagai teman-teman. Tapi saya mengikuti arah pandangnya, gak nampak apa-apa disana. Apakah teman-teman nya Tantri berupa dedemit? saya rasa sih gak begitu. Soalnya Tantri mengumpat saat yang ia panggil teman-teman ternyata kosong melompong.
"Temannya gak kelihatan ya?" saya bergumam sambil curi pandang pada HP saya yang digenggam Tantri. Ada kesempatan, secepat kilat saya rebut kembali dan berakhir saya yang menang.
Tantri gak nyerah gitu aja. Dia ngejar-ngejar saya dan saya pun berlari bak hyena. Kami berlari cepat menabraki angin. Dan pada moment seperti ini saya melihat Yoga melintas sekilas. Tantri berteriak padanya.
"Yoga, bantuin gue. Cegat perempuan itu."
"Gue dah bantuin. Dan gue gak mau bantuin lagi. Ternyata rencana lo busuk. Lo bilang mau kasih kejutan buat Teh Maya karena lo respect sama dia. Taunya lo gak lebih dari seorang pecundang. Nyesel gue udah sayang ama lo."
Jadi, Yoga itu antek-anteknya Tantri sekaligus korban manipulasi? benar-benar gila Tantri ini. Saya harus bergerak cepat menghindari mereka.
"Rencana lo gagal. Orang-orang suruhan lo lagi fighting sama orang. Sorry, mending gua balik anterin Teh Maya pulang sebelum terlambat."
"Siapa orangnya?"
"Gak tahu. Gak kenal."
"Lo emang gak sayang sama gue?"
"Kagak"
"Oh gitu. Gue punya foto-foto lo ngapelin Maya bawa-bawa bunga sambil meluk tahu. Itu kalo Fais tahu mampuss lo berdua."
"Bodo amat. Sebarin aja sebarin. Yang penting gue bisa pulangin Teh Maya dengan selamat."
Yoga ngejar saya dan pegang pergelangan tangan agar mengikuti langkahnya. Saya gak mau. Tangan dia yang tersimpul di pergelangan tangan langsung saya kibas begitu saja. Saya sudah tidak percaya siapapun yang ada disini. Saya semakin berlari menjauh.
"Percaya sama saya Teh!" pekik Yoga.
"Saya gak percaya. Kalau bener mau bantu lemparin kunci mobil."
Saya lihat Yoga merogoh saku celana dan mencari-cari sesuatu. Tapi Tantri secara cepat menepis tangan Yoga dan melempar kunci itu hingga tak tahu keberadaannya. Mereka adu mulut lagi, cekcok lagi, saya sudah muak lalu pergi sejauh-jauhnya.
Btw, saya minta kunci mobil segala karena saya sudah bisa menyetir dengan lancar. Bahkan sudah memiliki SIM.
"Eh Mbak, kalau mau kabur jangan kesitu arahnya. Tapi kesana!" seru Tantri.
Bodo amat. Saya sudah gak percaya.
Saya terus berjalan cepat tak tentu arah. Semakin saya susuri, jalanan semakin asing dan tak terjamah orang-orang. Kanan kiri tebing, kesana nya lagi ada air terjun kecil yang hanya seperti aliran tak deras. Saya memutar arah.
Dalam memutar arah saya gak lagi bertemu dua orang menyebalkan yang hobinya cekcok satu sama lain. Tapi dari kejauhan mereka masih ngejar-ngejar saya tanpa lelah. Saya aja yang dikejar sudah lelah ngos-ngosan, sampai-sampai kaki ini tergelincir dan saya masuk,
Blubuk blubuk blubuk.
Aa tolong jemput My disini
Aa My gak bisa berenang. Kaki My gak napak ke dasar.
Astaghfirullah
Ashadu..
BYUURRR
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
(Gak ada narasi lagi ya? mohon maaf, Maya pingsan di dalam air. Jadi Maya tidak bisa meneruskan narasi ini. Mau beralih zenun yang bercerita, itu tidak mungkin karena melanggar kode etik perjanjian. Jadi kita tunggu sampai Maya tersadar. Ataukah mungkin dia tak sanggup lagi meneruskan cerita?)
Zenun mau kasih tahu sedikit doang nih, Diatas kan ada suara BYURR, itu Fais yang turut menceburkan diri ke dalam kubangan air. Karena yang tersayang akan selalu tahu caranya untuk menjaga. Gak ada kata terlambat untuk sebuah ketulusan. Semangat untuk Fais, dan bertahanlah untuk Maya.
Maya lupa, bahwa takdir tuhan bisa menghampirinya dalam bentuk apa saja. Pernikahan yang merangkulnya ataukah kematian yang duluan menjemput.
.
.
.
.
.
Bersambung...
DinDut Itu Pacarku Mampir