Seorang gadis muda bertubuh mungil dengan rambut panjang terurai indah,dengan seragam putih abu yang ia kenakan.
sosok pelajar yg tidak menonjol di sekolah dengan prestasi yang bisa di bilang di bawah peringkat atas.ingin sekali menghindari asmara selama sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leticia Arawinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 23
"Mir.. bisa kita ngobrol serius? tapi jangan marah ya?!"
"Baiklah"
Aldi menjelaskan dengan rinci semua yang terjadi dan apa yang sudah Winda perbuat sehingga berdampak buruk terhadap Mira.
Mengambil kesimpulan dari semua fakta yang Mira ketahui, dia hanya menghela nafas karena rasa kecewa yang sudah menumpuk ditambah lagi, ibarat menabur garam diatas luka.
Intinya disini Mira sudah tidak mau tahu tentang apapun yang berhubungan dengan Winda saudara nya itu.
"Lebih baik kita bahas yang lain saja ya Al?! aku malas kalau ngomongin dia, cukup tahu saja"
"Oke.. Besok kan libur kita pergi nonton, mau nggak?"
"Sip.. hubungi aku lagi kalau jadi"
"Siap!!"
Mereka kembali ke kelas karena sudah terlalu lama berada di kantin. Mereka berjalan beriringan tapi sesampainya di depan kelas, langkah mereka terhenti.
Di depan kelas ada yang menunggu mereka dan itu tidak lain adalah saudara Mira dan pacarnya.
Entah apa yang akan mereka lakukan lagi setelah berbuat banyak kesalahan.
"Hai.. Mir" Winda melambaikan tangan
"Ada apa kesini?!" jawab Mira dengan nada yang tinggi
"Aku minta maaf ya mir! aku salah"
Mira tidak menghiraukan Winda karena terlalu kecewa dan melewatinya begitu saja masuk ke kelas.
Winda yang hilang akal dan takut Mira tidak memaafkan kesalahannya langsung mengikuti dibelakang Mira.
"Mir.."
"Tolong kali ini saja maafin aku ya?"
"NGGAK PEDULI!!"
dengan suara yang sangat lantang Mira menjawab penuh dengan amarah dan tidak berbalik sedikitpun.
Setelah mendengar jawaban Mira tiba-tiba Winda langsung pingsan. Semuanya heboh, Bastian dan Aldi membantu mengangkat tubuh Winda yang tergeletak itu menuju UKS.
Mira yang tadinya sudah benar-benar tidak mau memikirkan saudaranya itu, tidak tega dan mengikuti mereka.
Dia tidak menyangka hanya dengan nada tinggi dan perkataan seolah tidak ingin diganggu bisa membuat Winda pingsan seperti itu.
"Heh.. Winda bangun"
Mira memakaikan minyak ke badan Winda dan ke hidungnya agar dia tersadar dan bangun dari pingsannya.
"Win.. bangun.." ucap Mira yang khawatir
Setelah beberapa menit kemudian Winda terbangun dan saat melihat Mira disamping nya dia langsung memeluk Mira sambil menangis dan memohon maaf.
"Mir.. maafin aku ya? hiks.. hiks.. "
"Iya.. iya.. jangan mikirin apa-apa dulu yang penting kamu baik-baik saja"
Mira menepuk-nepuk punggung Winda yang berada dalam pelukannya.
Meskipun masih ada rasa kecewa dan amarah tetapi Mira mencoba netral melihat kondisi Winda.
Tak bisa di pungkiri rasa kesal itu tidak akan hilang hanya hitungan hari.
"Ta.. tapi kamu mau maafin aku kan?!" Winda menegaskan lagi permintaan maafnya
"Iya.. aku maafin kok"
"Kamu istirahat dulu disini ya? aku mau keluar dulu"
"Oke"
Mira keluar dari ruangan itu dan membiarkan saudaranya istirahat.
Hanya saja dia masih terheran, kenapa bisa pingsan seperti itu.
Karena selama Mira hidup tidak pernah merasakan yang namanya pingsan, meskipun dalam kondisi yang tidak baik.
"Kok bisa?"
"Aneh?"
Dia bergumam sembari berjalan meninggalkan hal yang membuat banyak pertanyaan.
Setidaknya permasalahan yang terjadi sudah terselesaikan. Meski tidak menuntut kemungkinan suatu saat dia akan mencari masalah lagi. Toh Mira sebentar lagi lulus sekolah.
Tidak ada salahnya memaafkan kesalahan orang lain meskipun sering disakiti.
Tetapi prinsip Mira tetap sama yaitu sebisa mungkin menghindari untuk tidak terlibat sesuatu dengan Winda dalam kesehariannya.
Hari itu menjadi hari yang sangat panjang dan melelahkan baik secara fisik maupun mental.
Apakah baik, untuk seorang siswa menahan banyak rasa sakit dan kekecewaan yang bertubi-tubi menghampiri.
Apa tidak akan berdampak dengan kemampuan belajarnya.
Itulah yang di pendam Mira selama ini.
Bagaimana tidak, di rumah hal yang sangat dia nantikan tak kunjung dia dapatkan. Perhatian dan kehadiran orangtuanya tidak dia rasakan setiap harinya karena keadaan.
Kehidupan sekolah yang dia inginkan berjalan normal malah di hadapkan dengan banyak hal yang memusingkan.
Pertemanan, persaudaraan hingga asmara juga banyak mengalami kesulitan.
Pada dasarnya Mira menjalani hidupnya dengan penuh harapan yang akhirnya membuat dia kecewa.
Tetapi hal itu tidak membuatnya patah semangat karena masih banyak hal yang harus dia lakukan dan dia inginkan.