Siapa yang ingin hidup jika harus dibayang-bayangi dosa? Jika saja ada jalan lain yang bisa dipilih, tentu mereka akan memilihnya. Tapi apa daya bagi mereka, yang tak punya kekuatan, penindasan dan pemaksaan, serta ancaman membuat mereka harus pasrah menerima takdir yang sangat menyakitkan. Mesti terasa sesak dan menyedihkan, namun itulah kenyataannya yang harus diterima. Begitulah nasib kedua gadis Malang ini, mereka menjalani hidup dengan penuh duka lara.
Jihan adalah wanita malam yang hidupnya menjadi pemuas nafsu pria hidung belang, yang akhirnya, ia menemukan seorang pria tampan yang selalu dia puja. Mesti mustahil untuk digapai tapi Jihan tak pernah putus asa.
Begitu juga dengan Lusi, dia berusaha keras menuntut pertanggungjawaban, yang dilakukan oleh kekasihnya, Sandi. Namun di saat itu, bayang-bayangan Baron, Ayah kandungnya sendiri, selalu mengitari hidupnya yang telah hancur. Mampukah kedua wanita ini mewujudkan harapannya dan menjalani hidup yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Minwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23 Kebaikan keluarga Rehan
“Tolong kalian berikan langsung uang ini pada juragan kalian, ingat jangan kalian buka amplopnya, karena setelah ini aku akan datang ke rumah juragan kalian untuk menanyakan uang yang telah aku berikan.”
“Baiklah, tapi berapa hari kau akan memboking nya?”
“Nggak lama, hanya dua hari saja.”
“Baik, selamat menikmati.”
Kemudian keduanya langsung pergi meninggalkan Rehan dan Jihan berdua, di dalam sebuah rumah. Setelah di pastikan kedua pria itu pergi, lalu Rehan menyalakan lampu rumah itu, saat itu Jihan baru sadar kalau orang yang telah memboking nya adalah Rehan.
“Hah, kau?” tanya Jihan kaget.
“Jangan salah paham dulu, aku sengaja melakukan ini, agar kau terbebas dari mucikari kejam itu.”
“Oh, terimakasih Re,” ujar Jihan seraya berlari hendak memeluk tubuh Rehan.
Akan tetapi saat Jihan sudah mendekat, Rehan mencoba untuk sedikit bergeser dari tempat berdirinya.
“Maaf, kita bukan muhrim. Kamu tahu kenapa aku menyelamatkan mu?”
“Nggak.”
“Karena ketiga adik mu berada di rumah ku saat ini, mereka terus saja menangis memikirkan dirimu, walau kami sekeluarga sudah berusaha untuk membujuknya, tapi mereka tetap saja menangis.”
“Makasih, kau dan keluargamu telah menolong kami sekeluarga. Aku telah berhutang Budi pada mu. Nanti kalau aku punya rezeki, maka akan ku bayar semua hutang ku pada keluarga mu.”
“Nggak perlu, sekarang mari kita pergi, nanti keluarga juragan akan mencari kita kesini.”
“Kenapa mereka ingin mencari kita?”
“Karena uang yang ku berikan pada mereka hanya kertas buku.”
“Hah! benarkah?”
“Iya.”
“Wah gawat, jika nanti aku tertangkap mereka, pasti mereka akan menghajar ku hingga babak belur.”
“Benarkah?”
“Iya, hanya satu minggu saja aku nggak datang ke klub, mereka udah menghajar ku habis- habisan.”
“Jadi selama ini, kau disiksa oleh mereka ya?”
“Iya, mereka menangkap ku, ketika aku membeli makanan untuk ketiga adik-adik ku.”
“Kalau begitu untuk sementara waktu tinggallah kau bersama Ibu di rumah ku.”
“Benarkah?”
“Iya, apakah kau nggak takut pada mulut semua orang, karena telah menyembunyikan seorang pelacur di rumah mu.”
“Maaf Jihan, mulai hari ini kau jangan sebut kata itu lagi di hadapan ku.”
“Kenapa? kau nggak suka berteman dengan wanita pelacur seperti ku.”
“Cukup Jihan! cukup! bukankah sudah ku katakan, aku benci dengan sebutan itu!”
“Maaf, kalau begitu aku nggak perlu bicara lagi.”
Ketika mereka berdua berjalan menuju desa Waluh, dari kejauhan Rehan melihat mobil juragan Juanda sedang menuju desa seberang.
“Wah gawat! Itu pasti mobil juragan Juanda, ayo sembunyi!” ajak Rehan seraya menarik tangan Jihan dan memeluknya di balik semak-semak.
Saat itu, Jihan sangat merasakan betapa nikmatnya di peluk oleh pria yang dipuja nya selama ini. Akan tetapi, setelah Rehan sadar, dia pun segera melepaskan pelukannya, sehingga Jihan hanya bisa tersenyum geli melihat hal itu.
“Kenapa ketawa? apa menurut mu lucu?” tanya Rehan yang berusaha menyembunyikan rasa malunya di hadapan Jihan.
Jihan hanya diam saja, dia takut kalau Rehan akan marah padanya, untuk itu Jihan berpura-pura tak mendengar apa yang di tanyakan Rehan padanya.
Setelah mobil juragan Juanda menjauh dari mereka, lalu Rehan menarik tangan Jihan, agar berjalan lebih cepat lagi, Jihan tak membantah sama sekali, dia terus mengikuti langkah Rehan hingga mereka tiba di rumah sederhana itu.
Saat pintu dapur di ketuk dari belakang, Surtini merasa takut untuk membukanya, tapi saat mendengar suara Rehan, Ibu tiga orang anak itu, langsung bergegas menuju dapur dan membukakan pintu untuk putranya.
“Jihan!” ujar Surtini kaget saat melihat Jihan ada bersama Rehan.
“Ayo masuk nak, ayo!” ajak Surtini seraya menarik tangan Jihan, untuk masuk kedalam rumahnya.
Di dalam rumah itulah Jihan di pertemukan dengan ketiga orang adik-adiknya. Rasa haru pun menyelimuti suasana rumah saat itu, Jihan tak kuasa membendung air matanya, begitu juga dengan Rehan, dan Ibunya.
“Sekarang mandilah!” ujar Surtini pada Jihan.
“Tapi Bu, aku nggak punya pakaian.
“Ada pakaian Diana yang muat dengan mu.”
“Tapi Bu.”
“Udah, kau kerjakan saja yang Ibu perintahkan, nggak usah sungkan dengan Ibu.”
“Baiklah,” jawab Jihan pelan.
Rehan hanya diam saja, melihat Diana mengantarkan wanita itu pergi ke kamar mandi. Setelah Jihan pergi, lalu Surtini menghampiri Rehan yang masih duduk diam.
“Kamu jumpa Jihan di mana nak?”
“Aku terpaksa menipu juragan Juanda Bu.”
“Menipu gimana maksud mu?”
“Aku berpura-pura membayar Jihan selama dua hari, lalu uangnya ku masukkan kedalam amplop.”
“Kau dapat uang dari mana nak?”
“Itu bukan uang Bu, di dalam amplop itu hanya potongan kertas.”
“Apakah mereka nggak melihatnya?”
“Mereka nggak melihatnya Bu, karena amplop itu ku rekat, dan ku bilang pada kedua pria yang mengantarkan Jihan, agar nggak membuka amplopnya.”
“Apa kamu nggak takut, jika ketahuan nanti?”
“Untuk sementara waktu, biarkan Jihan tinggal disini.”
“Apa kata orang nanti nak, jika semua warga tahu kalau kita menyembunyikan Jihan dirumah ini?”
“Jika kita nggak mengizinkan Jihan keluar rumah, maka nggak akan ada warga yang tahu.”
“Lalu bagai mana dengan mu?”
“Biar aku tidur di Masjid nantinya.”
“Tapi sampai kapan kau mesti seperti ini nak?”
“Aku nggak tahu Bu, tapi aku nggak tega, melihat Jihan mereka siksa dengan kejam sekali.”
Surtini tak dapat berbuat apa-apa, dia hanya bisa menarik nafas panjang, setelah mendengarkan cerita Rehan.
“Gimana kalau kau nikahi saja dia nak,” ucap Surtini secara spontan.
“Maksud Ibu, apa ya?”
“Nikahilah dia, kalau memang kau merasa kasihan dengan nasib hidupnya.”
“Ibu yakin dengan ucapan Ibu itu?”
“Kenapa nggak nak, bukan kah kita sudah melihat, kalau Jihan itu orang baik.”
“Ibu, kita kan baru saja mengenalnya, kita belum tahu latar belakang kehidupannya Bu.”
“Tapi Ibu yakin, kalau Jihan adalah wanita yang baik, nak.”
“Naluri seorang Ibu, memang jarang sekali meleset, tapi aku hanya ingin memastikan, siapa jihan itu yang sebenarnya.”
“Baik, nanti kalau dia telah selesai mandi, Ibu akan bertanya padanya.”
“Apa yang ingin Ibu tanyakan?”
“Kamu tenang saja nak, nanti setelah Jihan duduk disini, kau masuklah kedalam kamar, dari dalam kau akan mendengar dengan jelas apa yang akan dia katakan nantinya.”
“Baiklah, kalau itu yang Ibu inginkan.”
Rehan memang anak baik, dia selalu menuruti perintah Ibunya, mesti hal itu tak sesuai dengan keinginan dirinya sendiri.
Setelah Jihan selesai mandi, Surtini langsung memanggil Jihan, agar dia bisa bicara dengan wanita itu.
“Kau udah selesai mandi nak?”
“Udah Bu.”
“Diana!”
“Iya Bu,” jawab Diana pelan.
“Buatkan kak Jihan minum.”
“Baik Bu,” jawab Diana seraya bergegas menuju dapur.
“Nggak usah Bu, aku udah minum kok.”
“Udah, kamu nggak perlu sungkan dengan Ibu.”
“Maafkan aku Bu, kami sekeluarga telah menyusahkan Ibu.”
“Tapi Ibu nggak merasa di susahkan kok.”
Bersambung...
*Selamat membaca*