Apakah kembali ke rimba bersama perempuan masa laluku menyenangkan ?
Jika bukan karena uang yang sedang kubutuhkan, Aku memilih untuk tak akan kembali ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Pesta Geselma Yang Gagal Menghasilkan Sesuatu
Jam lima pagi tanggal 8 Mei 1996 Aku memastikan waktu di arlojiku setelah semalam tidurku benar-benar lelap. Bisa jadi karena pakaian yang kupakai terasa nyaman, membuatku terbangun dengan badan yang lebih segar.
Tak menunggu lama Aku meninggalkan honai, bermaksud mencuci muka dan menggosok gigi di sisi bukit yang terlindung bebatuan. Suatu kemewahan yang lama tak kurasakan selama ini.
Tak terbiasa di luar saat matahari baru mengintip, angin gunung yang menerpa tubuhku benar-benar terasa menyiksa tulangku.
Jika bukan karena pesta adat yang akan berlangsung nanti, Aku akan lebih memilih mencari kehangatan dekat perapian honai yang masih menyala.
"Selamat pagi Yos," suara di belakangku mengejutkanku.
"Pagi bapak," berpaling ke arah suara itu, Aku membalas sapaan itu setelah mengenali sosok yang membuatku terkejut. Rupanya Albert menyusul ku ke luar.
"Sa ke bawah dulu Yos, siapkan api buat bakar batu nanti." Menatapku sejenak, laki-laki kekar itu bergegas menuruni bukit setelah memberikan sebungkus rokok yang entah darimana didapatnya.
Aku hanya mengiyakan kata-katanya, berjanji menyusulnya nanti setelah membersihkan badan dan mengisi perutku dengan ubi bakar sisa semalam.
Selain karena dingin dan sedikit gelap di bawah sana, Aku tak ingin terburu-buru terlibat dalam kesibukan yang melibatkan banyak pendatang di Geselma.
Sejak kemarin prajurit aliansi yang kutaksir ada seratusan orang lebih sudah memenuhi lapangan Geselma. Masing-masing kelompok berbicara dengan bahasa yang tak ku mengerti.
Aku menduga mereka sedang membahas papan tulis yang sempat ku baca di gereja Geselma. Papan itu seperti menegaskan susunan suatu kabinet negara dengan nama dan jabatan yang terpampang jelas .... Presiden Kelly Kwalik, Panglima Perang Yudas Daniel Kogoya, Menteri Pertahanan dan Keamanan Daud, Menteri Keuangan Elmin Silas Kogoya .... "Aaaah negara Papua kah ini ?" gumam hati kecilku setelah tak sengaja membacanya.
Itulah yang membuatku memilih berlama dulu di atas salah bukit Geselma. Merokok dengan isi kepala penuh segala kemungkinan yang bisa saja terjadi nanti.
"Sepertinya nanti akan hujan Yos." Rey yang menyusul ku menunjuk ke arah langit.
Aku mengikuti arah tangannya, memperhatikan awan hitam yang mulai terlihat bergulung-gulung di arah timur bukit Geselma tempat kami menginap.
"Semoga saja ramalan mu salah." Aku berharap hujan yang diperkirakan Rey tak akan turun selama pesta berlangsung. Setidaknya jika hujan turun, semoga saja setelah keriuhan pesta usai.
Menerima rokok yang kuberikan, Rey ikut merokok di sampingku.
"Kulihat para peneliti yang bersamaku di Mapenduma ada di sana." Tangan Rey menunjuk ke arah honai yang ada di salah satu bukit yang ada di depan kami. Ku taksir ada sekitar satu kilo jaraknya dari tempat kami duduk. "Sebentar aku ambil teropong." Rey beranjak lagi ke arah honai.
Sepeninggal Rey, Aku membasuh muka dan menggosok gigi menggunakan air hujan yang ku tampung dalam gentong gerabah tanah liat.
***
Tak lama sesudah Aku membasuh muka, Rey datang membawa teropongku. Aku menyuruhnya mengamati setiap honai yang terlihat dari tempat kami.
"Sepertinya mereka tinggal beberapa orang saja." Sambil meneropong, Rey yang tahu persis para peneliti itu mengatakan apa yang sedang dilihatnya padaku.
John dan Yakob yang mengikuti Rey hanya menyimak saja perbincangan kami. Keduanya tak banyak berkomentar. Mungkin karena mereka sedang membayangkan akan secepatnya pulang.
Tentang pesta adat, sepertinya kami sudah kompak untuk tak harus terlibat lagi di dalamnya. Toh urusan kami sudah selesai di Geselma. Kini kami hanya fokus untuk tetap bersama dan saling menjaga.
"Ada sebelas orang yang ku kenali Yos." Rey menyerahkan teropong kepadaku.
Membenarkan kata-katanya, Aku menghitung ada sebelas orang ada di dekat honai setelah ikut mengamatinya. Dari teropongku terlihat enam laki-laki dan lima perempuan. Beberapa di antaranya adalah orang asing.
"Kemana yang lain ?" tanyaku ke arah Rey.
"Sebagian sudah dilepaskan." John yang terakhir bersama mereka selama negosiasi rimba menjawab pertanyaanku.
Jawaban itu melegakan ku. Karena dari mulut Kelly saat berbincang denganku di Purua, dia tak segan akan membawa para peneliti menyeberang ke Papua New Guinea atau menghabisi seluruh sandera jika tuntutannya tak dipenuhi.
"Kamu tahu selama ini mereka ditempatkan di mana John ?" Baru kali ini melihat mereka setelah penyerbuan Mapenduma tentu saja menjadi pertanyaanku. "Bagaimana Kelly dan Daniel begitu rapi berbulan-bulan menyembunyikan dan memberi makan puluhan orang di kelebatan rimba tanpa meninggalkan jejak ? Belum lagi urusan makan ratusan prajurit yang mengikutinya ?" tanya hati kecilku lagi.
"Aku sendiri tak tahu pasti Yos .... Mapenduma telah kosong sejak para misionaris dan tokoh agama tidak datang lagi," jawab John.
Menyimpan dulu pertanyaan tentang keberadaan para peneliti selama ini, Aku menyapukan teropongku ke lapangan terbuka dekat helipad Geselma saat kudengar suara helikopter yang mendekat.
Kulihat ratusan orang duduk tertib di sana. Semacam panggung dengan bangku yang terbuat dari kayu gelondongan ada di depan panggung itu.
"Biar Aku saja yang turun menyusul bapak Albert," kataku, "selesai pesta adat Aku akan secepatnya kembali."
Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Matahari tidak terlalu cerah. Tetapi hawa dingin Geselma sudah tidak terlalu menggigit saat kami mengisi perut dengan sisa ubi semalam yang dibawa Yakob dari honai.
"Jangan lupa bekal yang akan kita bawa untuk pulang." Aku mengingatkan John dan Rey. Jika sesuai rencana, setelah pesta adat usai kami akan berbaur dengan undangan suku sekitar Geselma yang diundang Wimbo Geselma.
Apakah aliansi Geselma mencakup seluruh suku di sekitarnya, itulah yang masih kucari tahu.
Merasa tak ada lagi yang perlu dibahas, Aku beranjak turun mengikuti jejak Albert yang masih membekas.
Berbulan-bulan bersama di rimba Tiom membuatku semakin tahu tentang jejak apa saja yang yang barusan melewatinya ....
***
Sekitar jam 9 pagi kemeriahan pesta adat dimulai. Helikopter yang tadi datang dan pergi menurunkan beberapa penumpang kulihat terparkir di helipad.
Aku sengaja berdiri dekat dinding gereja. Memudahkan Aku mengamati lapangan yang lebih rendah dari tempatku berdiri.
Tak sengaja Aku melihat seseorang yang sangat kukenal ketika Aku mengalihkan pandangan ke arah helikopter tadi.
"Angga ...!" Jantungku bergemuruh hebat. "Apa yang kamu lakukan di sini ?" gumam hati kecilku.
Tentu saja Aku terkejut dengan kedatangan Angga di Geselma. Ada Kepentingan apa lagi yang membuatnya memilih persinggahan penuh resiko di sini ?
Aku menarik diri menjauhi tempat terbuka setelah memastikan sosok yang tak sengaja kulihat tadi memang benar Angga ....
"Sialan kamu Angga," keluhku dalam hati, "kenapa kamu selalu muncul di pekerjaanku pada saat yang tidak tepat." Aku terus menggerutu.
Antara menemuinya untuk mencari tahu jawaban pertanyaanku atau membiarkan saja seolah-olah tak pernah kenal dengannya di Papua sesuai kesepakatan ku dulu, kini menguji tindakan apa yang harus kulakukan.
Suara Kelly yang kudengar mulai berpidato menunda tindakan yang sedang kupikirkan.
Ada sepuluh menit dia berbicara, tanpa ada yang ku mengerti sebab pikiranku justru beralih ke arah Angga.
"Kenapa bersembunyi Yos ?" Entah bagaimana Albert mengetahui keberadaan ku. "Makan sudah, pesta su dimulai," ajak Albert.
Tak tahu harus bagaimana, Aku memilih menyalakan rokok dulu sebelum menanggapi ajakannya.
"Kelly barusan membacakan proklamasi kemerdekaan Papua Barat, dan sepertinya Kelly memilih tak akan melepaskan sanderanya jika pidatonya tak dianggap." Kali ini nada suara Albert terdengar lirih.
Mendengar ucapannya barusan, kepalaku semakin tak karu-karuan.
"Jadi pesta ini adalah pesta proklamasi kemenangan Kelly ? Dan bukan pesta adat pembebasan para peneliti ?" Akhirnya Aku menanggapi kata-kata Albert.
"Entahlah, ... pesta adat ini sangat kacau .... Leluhur akan marah .... " Albert seperti mengingatkan apa yang akan terjadi nanti. "Kitorang pulang sudah jika ko tak berminat lagi dengan pesta ini," pungkasnya kesal.
***
setangkai mawar untuk mu thor.. 🥹❤️❤️