Kita cerai saja, Mas."
Kanaya bangun di rumah sakit dengan kepala diperban, perut yang
membawa tiga bayi, dan satu pengetahuan dingin di hatinya: di kehidupan
lain, dia mati saat melahirkan, sementara suaminya — Letkol Arsen
Pradipta Wijaya — terjebak pernikahan kontrak dengan wanita yang
menghancurkan keluarganya.
Kali ini Kanaya tidak akan menangis. Tidak akan menunggu. Tidak akan
membiarkan Yara, "sahabat keluarga" Mas Arsen, mendekat sedikit pun.
Dia akan cerai gugat, mengambil semua tabungan suaminya sebagai
kompensasi, dan membuka Manis Hati Bakery di Bekasi. Dia akan
membesarkan ketiga bayinya sendirian — dan kali ini, dia bersumpah:
tidak ada satupun anaknya yang akan mati.
Tapi takdir tidak semudah itu.
Anak sulungnya, Adrian, ternyata juga ingat kehidupan sebelumnya —
dengan dua kepribadian yang siap menggorok siapapun yang mengancam
keluarganya. Suaminya yang dingin ternyata menyimpan rahasia darah
priyayi konglomerat Jakarta. Dan Yara... Yara bukan sekadar wanita
ambisius. Dia adalah "Yako", agen rahasia organisasi peninggalan
kolonial yang sudah membunuh ibu mertua Kanaya tiga puluh tahun lalu.
Saat Letkol Arsen pulang dari misi penyamaran empat tahun, dia mendapati
istrinya sudah menjadi pemilik bakery sukses, dengan tiga anak luar
biasa dan satu pria lain yang setia mendampingi.
"Sayang, beri aku satu kesempatan lagi. Aku mohon."
Kanaya hanya tertawa pelan.
"Mas, kali ini aku tidak butuh kesempatanmu. Kau yang harus mendapatkan
kepercayaanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Arsen memejamkan mata di bahu Kanaya, seolah seluruh perjalanan panjangnya baru benar-benar selesai ketika tubuh perempuan itu ada dalam jarak yang diizinkan.
Lalu Aiden menabrak kaki mereka.
"Papa!"
Pelukan itu pecah bukan karena Kanaya mendorong, melainkan karena Aiden memeluk paha Arsen dengan seluruh tenaga anak kecil yang tidak peduli penonton, etalase, atau sejarah orang dewasa. Arsen menunduk cepat. Wajah Aiden terangkat, matanya basah dan marah sekaligus.
"Papa lama sekali!"
Kalimat itu membuat tawa tertahan beberapa pelanggan berubah menjadi isakan kecil dari Sinta.
Arsen berlutut.
"Iya," katanya serak. "Papa lama sekali."
Aiden memukul bahunya dengan tangan kecil. Tidak sakit, tetapi Arsen menerima pukulan itu seperti hukuman resmi.
"Papa jahat."
"Iya."
"Papa tidak datang waktu aku pentas."
"Maaf."
"Aku lupa tariannya karena Papa tidak lihat."
Kanaya menutup mata sebentar. Ia tidak tahu Aiden menyimpan kalimat itu. Anak itu selama ini tertawa paling keras, bertanya paling banyak, membuat rumah paling ramai. Ternyata ada ruang kecil di dadanya yang tetap menunggu kursi kosong di acara TK.
Arsen menarik Aiden ke pelukan. Kali ini anak itu tidak melawan. Ia menangis keras di leher ayahnya.
Di tangga, Alana akhirnya berhasil turun dengan bantuan Bu Sumi. Rok merah mudanya miring, bando bunganya hampir jatuh, dan wajahnya basah oleh air mata.
"Papa?" suaranya kecil.
Arsen mengangkat wajah.
Alana berhenti dua langkah dari mereka, ragu. Ia mengenal wajah itu dari foto, dari mainan kiriman, dari cerita yang tidak pernah Kanaya buat terlalu indah. Tetapi wajah nyata selalu lebih menakutkan daripada foto.
Arsen tidak langsung menariknya. Ia mengulurkan satu tangan, telapak terbuka.
"Alana," panggilnya lembut.
Bibir Alana bergetar. "Papa bawa boneka?"
Pertanyaan itu membuat beberapa orang tertawa basah. Arsen juga tertawa, suaranya patah.
"Di mobil. Papa bawa."
Alana langsung berlari kecil dan menabrak dadanya. "Papa!"
Arsen hampir jatuh ke belakang karena Aiden masih menempel di satu sisi. Ia memeluk keduanya, tidak rapi, tidak gagah, tetapi begitu hati-hati sampai Kanaya merasakan sesuatu di dadanya melunak lagi.
Adrian belum bergerak.
Anak sulung itu berdiri di anak tangga terakhir, tangan di sisi tubuh, mata menatap ayahnya. Tidak ada tangis. Tidak ada teriakan. Di wajahnya ada ketenangan yang membuat Yudha, dari seberang jalan, tanpa sadar memperhatikan lebih tajam.
Arsen melihat Adrian.
Untuk beberapa detik, dunia kembali sunyi.
"Adri," panggil Arsen.
Adrian turun satu langkah. Lalu satu lagi. Ketika ia sudah berada di depan Arsen, ia tidak langsung memeluk. Ia hanya berkata, "Selamat datang, Papa."
Sama seperti tadi.
Namun kali ini, jaraknya cukup dekat untuk membuat Arsen melihat mata anaknya. Di sana ada rindu. Ada marah. Ada pengetahuan yang tidak seharusnya dimiliki anak kecil. Dan ada sesuatu yang lebih berat: penilaian.
Arsen menunduk. "Papa pulang terlambat."
"Iya."
"Papa minta maaf."
Adrian menatapnya lama. "Mama menunggu dengan cara Mama sendiri."
Kalimat itu terlalu dewasa. Sinta yang berdiri dekat kasir mengira ia hanya anak yang cepat matang karena ayahnya lama pergi. Kanaya tahu lebih dari itu.
Arsen juga merasakannya, meski belum mengerti.
"Papa tahu," jawabnya.
Baru setelah itu Adrian melangkah maju dan memeluk leher ayahnya.
Arsen menutup mata.
Dengan tiga anak menempel pada tubuhnya, ia tidak lagi terlihat seperti letkol yang baru pulang dari operasi rahasia. Ia hanya terlihat seperti seorang ayah yang akhirnya dihukum dan diampuni pada saat bersamaan.
Kanaya mengusir pelanggan dengan cara paling sopan yang bisa ia lakukan. Sinta menutup toko setengah hari tanpa menunggu perintah. Yudha akhirnya turun dari mobil, memberi hormat singkat dari jauh, lalu berkata kepada Arsen bahwa ia akan menunggu di warung seberang.
Arsen mengangguk, tetapi matanya masih pada anak-anak.
Di lantai atas, suasana berubah menjadi kacau. Aiden memaksa menunjukkan semua gambar yang ia buat selama bertahun-tahun. Alana menuntut boneka dari mobil dibuka saat itu juga. Adrian duduk di samping Arsen, lebih banyak diam, tetapi setiap kali Arsen mengalihkan pandang ke Kanaya, Adrian ikut melihat ibunya, seperti memastikan tidak ada satu pun gerakan yang melukai.
Kanaya menyadari itu.
Ia tidak menegur.
Biarkan Arsen belajar bahwa izin harus dijaga setiap detik.
Aiden menyeret satu kotak sepatu dari bawah lemari. Di dalamnya ada tiket pentas TK, foto ulang tahun, kertas lipat yang sudah penyok, dan mobil-mobilan kayu kiriman Arsen yang catnya mulai terkelupas. "Ini semua dari Papa, kan? Mama bilang Papa kerja jauh."
Arsen mengambil mobil kayu itu. Benda kecil yang dulu ia beli di pasar pelabuhan dengan identitas palsu kini penuh bekas gigitan Aiden. Dadanya terasa sesak.
"Iya. Papa yang kirim."
"Kenapa tidak tulis nama?"
"Supaya orang jahat tidak tahu."
Aiden menerima jawaban itu dengan dahi berkerut, seolah baru memutuskan ayahnya agak keren tapi tetap sangat bersalah sekali hari ini.
Sore turun tanpa terasa. Bu Sumi membuat teh. Sinta membawa sisa roti susu. Anak-anak mulai lelah setelah terlalu banyak menangis dan bicara. Alana tidur lebih dulu dengan boneka baru di dada. Aiden tertidur di paha Arsen, mulutnya masih sedikit terbuka. Adrian pura-pura membaca buku gambar, tetapi matanya beberapa kali menutup.
Kanaya berdiri di dekat jendela.
Arsen menghampirinya setelah memastikan Aiden tidak bangun. Jarak mereka satu lengan. Cukup dekat untuk bicara pelan, cukup jauh untuk tidak membuat Kanaya mundur.
"Terima kasih sudah mengizinkan aku masuk."
"Anak-anak yang mengizinkan."
"Kamu yang membuka pintu."
Kanaya tidak menjawab.
Di luar, Yudha masih duduk di warung seberang, menerima telepon sambil sesekali melirik toko. Kanaya melihatnya dari balik tirai.
"Dia siapa?"
"Letkol Yudha Suryadiningrat. Rekan operasi."
Nama Suryadiningrat tidak berarti apa-apa bagi Kanaya saat itu, selain terdengar seperti nama keluarga lama yang terlalu besar untuk hidupnya. Namun Adrian yang duduk di belakang mereka mendadak berhenti membalik halaman.
Arsen menarik napas. "Aku belum bisa pulang sepenuhnya, Kana. Operasi utama selesai, tapi Yara belum ditemukan. Ada jaringan yang masih bergerak. Aku harus bolak-balik untuk laporan, pengamanan, dan mungkin tugas lanjutan."
Kanaya menatapnya.
Empat tahun ia belajar hidup tanpa janji laki-laki itu. Kini Arsen berdiri di depannya, pulang tapi belum utuh, hadir tapi masih ditarik perang yang sama.
"Lalu kenapa datang?" tanyanya.
Arsen melihat anak-anak yang tertidur di lantai, lalu kembali padanya.
"Karena sebelum pergi lagi, aku harus memastikan mereka tahu Papa mereka bukan hanya foto."
Di belakang mereka, Adrian menutup buku pelan. Matanya mengarah ke Yudha di luar jendela, lalu ke wajah Arsen.
Seperti ada kepingan lama yang mulai bergerak.
TDK suka sampe ada korban jiwa lebih dr satu....
bagaimana pun klo keduanya suka dg yg menumpang MK mereka makin betah di tubuh inangnya