Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Pelarian Mencekam dan Kepanikan Sang Penguasa (Lanjutan)
•Asupan sebelum masuk ke cerita
...~ HAPPY READING ~...
...|...
“Huh... huh...”
Napas Elia terdengar sangat berat dan terengah-engah.
“Huh... capek. Stop dulu. Napas gue udah Senin-Kamis...”
Gadis itu akhirnya menyerah pada rasa lelah yang menggerogoti fisiknya. Ia langsung terduduk lemas di tepi jalan tanah yang berdebu. Kedua tangannya menopang tubuh yang gemetar, sementara dadanya naik turun dengan cepat menangguk udara. Kakinya terasa mati rasa dan kebas. Sejak melarikan diri dari bangunan pabrik tua itu, mereka hampir tidak pernah benar-benar berhenti. Berlari, berjalan, bersembunyi di semak-semak, lalu berlari lagi.
Tubuh Elia benar-benar sudah berada di ambang batas kemampuannya.
Namun Leila, yang berdiri di hadapannya, justru memandangnya dengan wajah panik luar biasa. “Helena, ayo!”
Elia mendongak pelan.
“Kita nggak boleh berhenti. Kalau mereka ngejar kita pakai mobil, bisa-bisa kita ketangkep lagi!” desak Leila, napasnya ikut memburu. “Dan orang yang kamu tendang 'burung kicau mania'-nya tadi pasti—”
“Oke, stop!” Elia langsung mengangkat tangan kanannya ke udara. “Jangan dilanjutin.”
Leila seketika terdiam.
Elia mengusap wajahnya yang penuh debu dan keringat dingin. “Gue nggak mau mengingat bagian itu sekarang...”
Beberapa detik kemudian, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Elia memaksa tubuhnya untuk kembali berdiri. Kaki-kakinya masih terasa sangat berat bak diikat pemberat besi. Namun ia mengepalkan tangan erat-erat.
“Semangat...” gumamnya pada diri sendiri. Ia menepuk kedua pipinya pelan untuk mengumpulkan kesadaran. “Gue bisa!”
Leila memandangnya selama beberapa detik, lalu menghela napas. “Ayo, Hel. Jangan banyak gaya, ih.”
Tanpa menunggu jawaban Elia, Leila langsung menggenggam erat tangan Elia dan menariknya melangkah maju.
Elia menggerutu pelan. “Pelan-pelan...”
Mereka kembali berjalan menapaki jalanan sepi. Namun kali ini, tubuh mereka sudah tidak lagi mampu untuk berlari. Sisa tenaga mereka telah habis terkuras. Langkah kedua gadis itu semakin lambat dan terseret-seret.
Satu langkah...
Dua langkah...
Tiga langkah... lalu mereka terhenti total.
“Aku udah nggak kuat...” Suara Elia terdengar lirih seperti rengekan pasrah. Ia menatap nanar ke arah jalanan panjang di depan mereka. “Ini di mana lagi...?”
Tidak ada jawaban. Hanya ada jalanan sepi tanpa penghuni yang diapit oleh rimbunnya pepohonan dan semak liar.
Tiba-tiba—
Tit!
Elia menunduk kaget. Layar smartwatch di pergelangan tangannya mendadak menyala terang. Matanya langsung melebar sempurna.
“Ada jaringan!”
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Elia menyapu layar jam tangannya, membuka fitur panggilan darurat, dan langsung menghubungi satu-satunya nomor pria yang sejak tadi sangat ingin ia dengar suaranya: Alex.
Tut...
Tut...
Tut...
Panggilan tersambung!
Suara berat dan penuh kecemasan dari Alex langsung menggelegar melalui pengeras suara jam tangan. “Helena! Kamu di mana?!”
Elia mengangkat smartwatch-nya mendekati telinga. “Gak tahu...” Ia menyapu pandangan ke kanan dan kiri. “Kanan-kiri gue hutan...”
Namun kemudian, Elia mendadak terdiam kaku. “Alex, diem.”
“Hah?”
Elia memberikan isyarat jari di depan bibir kepada Leila agar tidak bersuara sedikit pun.
Brummm... Brummmm...
Suara deru mesin kendaraan terdengar samar-samar dari kejauhan, semakin mendekat.
“Ada suara mobil...” bisik Leila ketakutan. Tanpa aba-aba, ia langsung menarik lengan Elia menuju pinggiran hutan.
Mereka berdua merebahkan diri, bersembunyi rapat di balik rimbunnya semak-semak.
“Sttttt... jangan berisik,” bisik Elia sangat pelan.
Di seberang panggilan, Alex yang mendengar bisikan ketakutan mereka langsung membisu total. Pria itu menahan napas, memahami betul situasi berbahaya yang sedang dihadapi tunangannya.
Beberapa detik kemudian, suara raungan mesin kendaraan terdengar semakin jelas dan dekat. Elia mengintip perlahan dari balik celah dedaunan. Wajahnya seketika pucat pasi.
“Itu mobil yang nyulik kita tadi...”
Leila hanya bisa mengangguk pasrah, jantungnya berdegup serasa ingin melompat keluar dari dada. Keduanya menundukkan kepala semakin rendah ke tanah.
Mobil hitam itu perlahan melewati jalanan tepat di depan semak persembunyian mereka. Kendaraan itu tidak berhenti. Namun Elia tahu, mereka belum benar-benar aman.
Begitu suara mesin kendaraan mulai menyayup dan menjauh, Leila berbisik gemetar. “Sekarang gimana?”
Elia menatap lurus ke depan. “Kita nggak bisa maju.”
Leila menoleh ke belakang. “Juga nggak mungkin buat mundur.”
Suara Alex akhirnya kembali terdengar melintasi pengeras suara smartwatch. “Helena.”
Elia mendekatkan jam tangannya ke bibir. “Hmm?”
“Tetap di situ. Jangan ke mana-mana,” perintah Alex. Suaranya terdengar jauh lebih tegas, dingin, dan penuh kendali. “Rayanza sudah dapat titik lokasi kamu.”
Elia terdiam sejenak. “Lo lacak gue?”
“Iya.”
“Ini darurat, Hel.”
Elia menghela napas panjang. “Iya sih...”
“Jangan ke mana-mana. Dan jangan sekali-kali putuskan panggilannya!”
Elia melirik indikator baterai di layar jam tangannya. “Tapi kamu harus cepat. Baterai gue tinggal dua puluh persen.”
“Itu lebih dari cukup,” potong Alex cepat. Suaranya berusaha terdengar tenang meskipun gemuruh napasnya mengindikasikan ia sedang memacu kendaraan dengan membabi buta. “Cuma tiga puluh menit, Hel. Bertahan sedikit lagi.”
Elia menyandarkan belakang kepalanya ke batang pohon di belakangnya. “Hmmm...”
Untuk pertama kalinya sejak mereka berhasil kabur dari pabrik tua itu, ada sedikit rasa lega yang menyeruak di dada Elia. Setidaknya, seseorang yang sangat bisa diandalkan sedang mempertaruhkan nyawa untuk mencari mereka.
Waktu terus bergulir tanpa kompromi.
Langit jingga yang sebelumnya masih menyisakan sedikit cahaya sore perlahan-lahan meredup dan berubah menjadi guratan malam yang pekat. Jarum jam menunjukkan tepat pukul 06.00 sore.
Elia melirik layar smartwatch-nya. Cahaya dari layar digital itu tampak terlalu mencolok dan terang di tengah kegelapan hutan yang mulai gulita. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mematikan layarnya.
“Hari semakin gelap,” bisik Elia sambil mengamati sekeliling. “Kita nggak boleh ada cahaya. Bisa ketahuan.”
Leila mengangguk setuju.
Elia kemudian mendongak, memandang pepohonan tinggi di sekitar mereka. “Lo bisa manjat?”
Leila menatap batang pohon besar di depan mereka. “Nggak terlalu...” Ia mengamati bentuk dahan-dahannya. “Tapi bisa.”
Leila kembali menatap Elia. “Oke. Kita naik ke atas pohon.”
“Kenapa?”
“Kalau kita tetap di bawah, gue khawatir mereka lihat kita.”
Elia mengangguk pelan. “Jaga-jaga aja sih.”
Leila berpikir sejenak. “Kamu benar.”
Keduanya mulai bergerak mencari pohon yang cukup besar dan memiliki dahan-dahan yang kokoh. Leila menunjuk satu pohon rindang di dekat mereka. “Pohon ini lumayan besar.”
Elia mengangguk. “Hm. Ya udah. Lo naik duluan, biar gue bantu.”
Leila mulai merayap dan memanjat. Elia mengikuti tepat di belakangnya. Mereka memanjat perlahan dan sangat hati-hati, mencari dahan besar yang sanggup menopang bobot tubuh mereka. Semakin tinggi mereka memanjat, suasana di sekitar terasa semakin gelap dan mencekam. Tidak ada suara manusia, hanya gesekan daun yang tertiup angin malam.
Namun tiba-tiba—
CRASS!
“Agh!”
Elia spontan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kakinya mendadak tergelincir! Salah satu dahan kayu yang patah dan runcing menyabet keras betis kanannya. Rasa sakit yang tajam dan panas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Hel!” Leila menoleh panik dari atas.
“Sttt!” Elia buru-buru menahan jeritannya. “Aku oke...”
Namun dari sela-sela jarinya yang mencengkeram betis, darah segar mulai merembes deras. Elia menarik napas dalam-dalam, menahan rasa pening yang menohok kepalanya, lalu memaksa dirinya untuk terus memanjat naik. Tidak ada pilihan lain.
Akhirnya mereka menemukan sebuah dahan raksasa yang cukup lebar. Leila naik lebih dulu, disusul Elia yang tersengal-sengal. Elia meluruskan kakinya di atas dahan sambil memegangi betisnya yang terus mengucurkan darah.
“Sebentar...” Elia melihat luka robekan tersebut. Darah merah pekat mengalir membasahi kulitnya. “Sial!”
Ia menggigit bibir, menahan pening. Dengan tangan yang mulai gemetar hebat, Elia menarik kain bagian bawah bajunya.
Krak!
Ia merobek kain bajunya dengan paksa.
“Aduh...” Suara rintihannya tertahan bagai bisikan halus.
Dengan jemari yang semakin lemas, Elia melilitkan kain robekan itu erat-erat di sekitar lukanya untuk menghentikan pendarahan. “Sial... darahnya masih terus keluar. Sedalam apa sih ini?”
Di seberang panggilan telepon yang masih terhubung, Alex mendengar setiap rintihan dan gesekan kain tersebut. Ia tahu Elia terluka parah. Namun, ia tidak bisa langsung memanggil nama gadis itu lewat pengeras suara; satu gelombang suara saja bisa menjadi petunjuk maut bagi para preman yang sedang memburu mereka.
Alex mengepalkan tangannya di balik kemudi hingga bergetar hebat. Pria itu menahan napasnya. “Bertahan, Hel...” bisiknya sangat pelan di depan mikrofon ponselnya. “Lima belas menit lagi.”
Kemudian, nada suaranya berubah menjadi sangat dingin dan mematikan. “Rayyan, lebih cepat lagi!”
“Baik, Bos!” Rayyan menginjak pedal gas mobil SUV mereka hingga kandas ke lantai. Mobil melaju kesetanan, membelah jalanan malam dan menyalip kendaraan lain secara ekstrem.
“Kita hampir sampai, Bos!”
“Jangan hampir!” bentak Alex dengan mata menyala murka menatap layar pelacak. “Harus sampai!”
Sementara itu, di atas pohon...
Keadaan Elia semakin memburuk secara drastis. Wajahnya mulai memucat pasi, dan helaan napasnya terdengar semakin pendek dan melemah akibat pendarahan.
Leila yang berada di dahan atas menyadari perubahan kondisi Elia. Ia perlahan merayap turun mendekati Elia. “Hel...”
Elia mengangkat wajahnya yang layu. “Kenapa turun?”
“Kamu pucat banget!”
“Gue masih hidup...”
Leila menatap perban kain di betis Elia yang sudah basah oleh darah. “Kamu kehilangan banyak darah!”
Elia mencoba mengulas senyum tipis. “Gue belum mati...”
Leila menunjuk dahan besar tempat mereka berada. “Dahan ini bisa menampung kita berdua. Pohon ini cukup kokoh buat kita. Kamu sudah hampir pingsan, Helena!”
Elia menggeleng lemas. “Gue nggak—”
“Lima menit lagi.” Suara Alex tiba-tiba kembali terdengar pelan namun tegas dari pengeras suara smartwatch.
Kedua gadis itu seketika terdiam kaku.
“Tolong jaga Helena,” ucap Alex memohon lewat panggilan tersebut.
Leila bergerak semakin merapat ke tubuh Elia. “Cepatlah, Tuan! Helena sudah hampir nggak bisa bertahan!”
“Gue masih sadar...” potong Elia dengan suara yang sangat lemah. Namun tubuhnya sudah tidak mampu lagi berbohong. Kepalanya terasa luar biasa berat, dan pandangannya mulai berkunang-kunang hebat.
Leila dengan cepat merengkuh dan memegang erat kedua bahu Elia agar tubuh gadis itu tidak meluncur jatuh dari atas dahan pohon. “Jangan tidur! Hel!”
“Gue nggak tidur...”
“Jangan tutup mata!”
“Gue cuma... istirahat...”
Leila menatap wajah Elia dengan mata berkaca-kaca penuh kecemasan. “Helena!”
Di bawah pohon...
Suara langkah kaki yang berat mendadak terdengar menginjak ranting-ranting kering.
Satu...
Dua...
Tiga...
Sorot lampu senter yang terang benderang menyapu kegelapan pepohonan.
“Cari mereka!” teriak suara bariton kasar milik salah satu anak buah Boni. “Senter semua sudut! Jangan sampai ada yang tertinggal!”
Beberapa orang preman menyebar, menyisir pinggiran hutan dengan senjata tajam dan senter di tangan.
“Tidak ada di sini!”
“Cari lagi! Mereka nggak mungkin lari jauh!”
Tiba-tiba, salah seorang dari mereka menghentikan langkahnya. Sorot senternya tertuju pada tanah. “Jams!”
“Apa?!”
“Ini bercak darah!”
Jams melangkah mendekat dengan cepat. Matanya yang licik mengikuti ceceran tetesan darah segar yang mengarah ke pangkal pohon besar. “Darah?”
Jams perlahan menengadahkan kepalanya ke atas dahan pohon, lalu kembali menatap tanah. Bibirnya perlahan mengembang membentuk senyuman yang sangat mengerikan.
“KETEMU KALIAN!”
Teriakannya yang menggelegar memecah keheningan malam di dalam hutan.
Leila di atas dahan seketika membeku ketakutan. Elia memaksa matanya yang berat untuk kembali terbuka. “Sial...”
Jams mengarahkan senternya tepat ke wajah kedua gadis di atas pohon, lalu tertawa berderai. “Pelanggan sudah pergi,” ujarnya dengan nada mengejek. “Artinya sekarang, mereka berdua milik kita!”
Beberapa anak buahnya langsung melangkah maju mendekati batang pohon. “Kalian naik!” perintah Jams seraya menunjuk ke atas. “Bawa dua gadis sialan itu turun!”
Leila memeluk tubuh Elia yang makin melemah dengan sangat erat. Elia menatap pasrah ke bawah. Orang-orang itu mulai memanjat. Dalam kondisi sekarat seperti ini, system yang selama ini selalu ia harapkan muncul... tetap tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaannya.
‘Sistem sialan...’ umpat Elia menjerit dalam hatinya. ‘Sampai akhir pun dia bahkan nggak muncul!’
Elia menarik napasnya yang berat. “Lo naik lebih tinggi, Leila...”
Leila menatapnya tak percaya. “Apa?!”
“Gue masih bisa bertahan sendiri...”
“Nggak!”
“Leila—”
“Kamu udah kehilangan banyak darah!” Leila menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air matanya menetes. “Kita udah nggak punya tenaga!”
Leila menatap mata Elia dengan yakin. “Aku percaya sama orang yang kamu hubungi. Mereka pasti tiba tepat waktu!”
DOR!
DOR!
Suara tembakan senjata api menggelegar dahsyat membelah malam!
Semua preman di bawah pohon seketika menghentikan pergerakannya. Jams membeku di tempat, sementara anak buahnya saling berpandangan panik.
“Apa—”
DOR!
Satu tembakan presisi kembali meletus. Kemudian, suasana hutan mendadak berubah menjadi sunyi mencekam.
Sebuah suara dingin penuh aura membunuh terdengar dari balik kegelapan malam.
“Jangan bergerak.”
Alex muncul dari balik semak-semak bersama puluhan anak buah berpakaian serba hitam. Pria itu bahkan melompat turun dari kendaraannya yang belum berhenti sempurna, tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri.
“BOS!” teriak Rayyan panik dari belakang, menyusul bersama tim keamanan.
Alex tidak menjawab. Tatapan matanya yang membara penuh kebencian tertuju lurus kepada Jams.
“Siapa kalian?!” bentak Jams yang masih memegang senjata, mencoba gertak sambal.
Namun ketika pria itu berbicara, Alex seolah mengenali sesuatu. Suara itu... suara yang tadi sempat memantul masuk lewat sambungan smartwatch Elia. Suara bariton kasar yang berteriak KETEMU KALIAN.
Bibir Alex terangkat sedikit, mengulas senyuman tipis yang sangat mengerikan. “Aku ingat suara itu.”
Tatapannya seketika berubah menjadi sangat dingin dan mematikan. Pria itu menoleh sedikit kepada Rayyan. “Rayyan.”
“Ya, Bos?”
“Helena ada di atas.” Alex kembali menatap kelompok preman di hadapannya. “Bereskan mereka.”
DOR!
Tanpa peringatan, peluru meluncur tepat menembus lutut Jams!
“ARGHHH!” Jams menjerit histeris dan langsung jatuh tersungkur memegangi kakinya yang hancur.
Anak-anak buah Alex bergerak cepat bak bayangan. Dalam hitungan detik, para preman anak buah Boni dilumpuhkan secara brutal satu per satu. Tubuh-tubuh mereka dijatuhkan ke tanah, dan senjata mereka disingkirkan tanpa ampun. Tidak ada lagi satu pun preman yang mampu mendekati pohon tempat Elia dan Leila bersembunyi.
Di atas dahan pohon, Leila mendengar jelas seluruh keributan dan suara tembakan di bawah. Ia memberanikan diri mengintip ke bawah, lalu wajahnya seketika berubah penuh kelegaan luar biasa.
“Tuan!” teriak Leila bersemangat. “Kamu di sini!”
Alex mendongakkan kepalanya ke atas, matanya mencari keberadaan Elia. Namun sebelum Alex sempat mengujarkan sepatah kata pun
Arton, yang berdiri beberapa meter di belakang Alex dengan senjata di tangan, tiba-tiba membeku di tempat. Matanya melotot menatap lurus ke arah dahan pohon di atas sana.
Suara itu...
Arton sangat mengenalnya. Sangat, sangat mengenalnya.
“Suara itu...” gumam Arton dengan napas tertahan. Ia menatap lekat-lekat sosok gadis yang merengkuh Helena di atas dahan. Ekspresi wajahnya yang dingin seketika hancur berkeping-keping, berganti dengan keterkejutan yang luar biasa.
“Leila...?”
...Bersambung 🫰🏻🤗...
kamu keren wuw ☺👍