Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Pura-pura Lupa
Sebastian bangun dengan kepala seperti dipukul palu.
Matahari menembus tirai kamar. Kemeja semalam tergantung di kursi, kusut dan masih menyimpan aroma wiski. Di meja samping ranjang ada segelas air, dua tablet pereda sakit, dan secarik kertas dari Robby.
Minum. Jangan sok kuat. Dan jangan tanya gue kenapa tangan lo digigit.
Sebastian langsung melihat tangan kanannya.
Dua lengkung bekas gigi tampak merah pada bagian berdaging antara ibu jari dan telunjuk.
Ingatan datang dalam potongan.
Tangga yang bergerak. Jaket gelap jatuh. Tangan Lia menangkap tubuhnya. Aroma manis yang mengisi ruang kerja. Bibir hangat. Suara perempuan itu menyebut namanya tanpa gelar.
Sebas.
Kemudian rasa sakit tajam di tangan dan wajah Lia yang marah sekaligus malu.
Sebastian menutup mata.
“Bodoh.”
Ia tidak ingat seluruh urutan dengan jelas. Namun, satu hal pasti: ia telah mencium Lia. Ia juga mungkin mencoba mencium lagi setelah Lia meminta berhenti. Bekas gigi adalah bukti yang tak bisa ditawar.
Rasa puas yang sempat muncul langsung ditelan penyesalan.
Sebelum turun, ia menelepon Robby.
“Apa yang lo lihat semalam?”
Robby tertawa pelan. “Selamat pagi juga.”
“Jawab.”
“Gue lihat Lia berdiri dekat lo, pakai jaket lo, bibirnya merah, dan tangan lo ada bekas gigi. Selebihnya, gue enggak lihat.”
“Dia menangis?”
Nada Robby berubah serius. “Enggak. Malu, panik, terus kabur. Lo duduk setelah dia pergi. Gue tanya lo menyakitinya atau enggak, lo bilang sempat enggak dengar saat disuruh berhenti, lalu dia gigit. Setelah itu lo minta maaf.”
Sebastian mengembuskan napas yang baru ia sadari ditahan.
“Gue enggak akan bercanda soal bagian itu,” lanjut Robby. “Lo harus bicara sama Lia saat sadar. Jangan paksa dia menenangkan rasa bersalah lo.”
“Saya tahu.”
“Dan jangan pura-pura lupa cuma untuk menguji.”
Sebastian melihat tanda gigi di tangan. “Saya memang tidak ingat semuanya.”
“Tapi cukup untuk bertanggung jawab.”
“Cukup.”
Ia memutus telepon dengan kepala masih sakit, tetapi tujuan yang jauh lebih jelas.
Ia mandi, minum obat, lalu turun lebih lambat dari biasanya.
Di ruang makan, Cornelia sedang menuang teh. Vanessa membaca pesan di ponsel. Popo Mei Hoa menyuapi dirinya sendiri bubur, sementara Lia berdiri dekat meja dengan wajah terlalu tenang.
Tatapan Lia bertemu dengan Sebastian sesaat.
Ia langsung menunduk.
Tidak ada sapaan Ko Sebas.
Sebastian duduk di tempatnya. “Pagi.”
Semua menjawab kecuali Lia, yang pura-pura sibuk mengatur piring.
Cornelia menatap anaknya. “Kepalamu sakit?”
“Sedikit.”
“Mama mencium alkohol dari ruang kerja semalam. Pintu juga terbuka.”
Tangan Lia berhenti di atas keranjang roti.
“Robby bersama saya,” jawab Sebastian.
Itu tidak sepenuhnya bohong. Robby memang bersamanya sebelum dan sesudah kejadian.
“Mama mengetuk dua kali. Kamu tidak jawab.”
“Saya sedang di balkon.”
Cornelia mengerutkan kening. “Mama merasa ada orang lain di dalam.”
Vanessa mengangkat kepala, tertarik.
Sebastian mengambil kopi. “Kalau Mama masuk, Mama akan lihat Robby di sofa dengan dua cangkir minuman yang terlalu manis.”
“Saya tidak masuk karena telepon.”
“Berarti tidak ada yang perlu dibahas.”
Ia berhasil menutup kecurigaan tanpa menyeret Lia. Namun, saat mengangkat cangkir, bekas gigi terlihat.
Popo menyipitkan mata. “Tangan kamu kenapa?”
Sebastian menatap Lia.
Lia menegang.
“Digigit kucing,” katanya.
Engkong Tek Sun memandang sekitar. “Kita punya kucing?”
Edwin yang baru masuk hampir tersedak tawa. “Mungkin kucing liar, Kong.”
“Kucingnya galak,” komentar Popo.
Sebastian masih menatap Lia. “Sangat galak.”
Pipi Lia berubah merah.
Setelah sarapan, ia membawa nampan ke dapur secepat mungkin. Sebastian menunggu beberapa menit agar tidak terlalu jelas, lalu menyusul.
Lia sedang mencuci cangkir ketika ia masuk. Tak ada pekerja lain di sana.
“Kita perlu bicara.”
“Tentang apa, Ko Sebas?”
Sebastian memperhatikan panggilan itu. Gelar kembali dipasang seperti dinding.
“Semalam.”
“Semalam Ko Sebas mabuk dan Robby mengantar tidur.”
“Hanya itu?”
“Apa lagi?”
Ia menunjukkan bekas gigi.
Lia hanya melirik. “Mungkin benar digigit kucing.”
“Di lantai dua?”
“Kucing bisa naik tangga.”
“Kucing itu memakai jaket saya?”
Gerakan Lia terhenti.
“Saya mengembalikan jaket, lalu pergi.”
“Jadi kamu memang datang.”
Lia sadar terjebak. Ia menyalakan keran lebih besar untuk menutupi kegugupan.
“Ko Sebas mau saya mengakui apa?”
Sebastian mendekat satu langkah, tetap menyisakan jarak.
“Bahwa saya mencium kamu.”
Cangkir di tangan Lia hampir lepas.
“Ko Sebas ingat?”
“Potongan.”
“Berarti tidak utuh.”
“Saya ingat rasanya.”
Lia buru-buru mematikan keran. Air masih menetes dari jari-jarinya.
Sebastian menurunkan suara. “Saya juga ingat kamu menyuruh berhenti dan saya terlambat mendengar.”
Keceriaan tersembunyi di wajah Lia hilang. Ia menatapnya lebih serius.
“Saya minta maaf,” lanjut Sebastian. “Mabuk bukan alasan.”
“Ko Sebas sudah minta maaf semalam.”
“Berarti itu benar terjadi.”
Lia menggigit bibir. Ia tertipu lagi.
Sebastian hampir tersenyum, tetapi menahannya karena masalah ini tidak boleh dibuat ringan.
“Saya tidak akan mengulang tanpa persetujuanmu.”
“Bagus.”
Lia mengeringkan tangannya pada lap. “Saya juga tidak mau Ko Sebas menganggap semua salah Ko Sebas.”
“Saya mabuk.”
“Tapi saat pertama bertanya, Ko Sebas menunggu. Saya tidak pergi.” Wajah Lia memerah, tetapi ia memaksa menyelesaikan kalimat. “Saya bilang pelan. Saya ikut mencium.”
Sebastian terdiam. Potongan ingatan tentang jari Lia di pergelangannya menjadi lebih terang.
“Itu tidak membatalkan saat kamu bilang cukup.”
“Saya tahu. Saya hanya tidak mau Ko Sebas bangun lalu merasa sudah melakukan sesuatu yang sepenuhnya saya benci.”
“Kamu tidak membencinya?”
Lia memelototinya. “Jangan ambil kesempatan.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, Sebastian tersenyum sungguh-sungguh.
“Baik.”
“Dan jangan cerita kepada Robby.”
“Dia sudah melihat cukup banyak.”
Lia menutup wajah dengan kedua tangan sejenak. “Saya tidak mau keluar dapur lagi.”
“Saya bisa suruh dia lupa.”
“Ko Sebas sendiri saja tidak mau lupa.”
“Benar.”
“Tapi saya juga tidak akan pura-pura itu tidak berarti apa-apa.”
Napas Lia berubah pendek.
“Ko Sebas sedang pusing. Jangan buat keputusan.”
“Keputusan itu dibuat sebelum saya minum.”
“Keputusan apa?”
Sebastian hendak menjawab ketika suara Cornelia memanggil Lia dari ruang keluarga. Lia segera mengambil nampan bersih.
“Tante memanggil saya.”
Ia melangkah pergi, tetapi Sebastian berkata, “Satu hal lagi.”
Lia berhenti di pintu.
“Kamu memanggil saya Sebas.”
“Tidak.”
“Saya ingat.”
“Ko Sebas salah dengar.”
“Kalau begitu, nanti saya buat kamu mengatakannya lagi saat saya benar-benar sadar.”
Lia menoleh dengan mata membesar, lalu pergi tanpa jawaban.
Sebastian menatap bekas gigi di tangannya. Semalam mungkin berantakan, tetapi perasaannya tidak.
Ia tidak akan lagi hanya melindungi Lia dari kejauhan.
Kali ini, ia akan mengejarnya dengan sadar.
Dan memberi Lia hak penuh untuk menentukan jawabannya sendiri.