Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Ke Meja Yang Sama

Kembali Ke Meja Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Cuek Tapi Manis

Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemulihan

Pagi menjelang ketika Alya terbangun dari tidurnya yang sebentar di kursi tunggu rumah sakit, leher dan punggungnya terasa kaku akibat posisi tidur yang tidak nyaman sepanjang malam. Ia melihat Raka masih terjaga di sampingnya, matanya sedikit merah karena kurang tidur, namun tetap setia menemani tanpa sedikit pun tanda ingin meninggalkannya.

"Kamu nggak tidur sama sekali?" tanya Alya, suaranya serak.

"Aku sempat tidur sebentar," jawab Raka, tersenyum lelah. "Tapi aku lebih milih jagain kamu sama Tante. Gimana kondisi kamu?"

"Aku baik," jawab Alya, meski tubuhnya terasa lelah luar biasa. "Aku mau liat Papa dulu."

Mereka berdua bersama ibu Alya memasuki ruang ICU, mendapati Pak Rudi sudah tampak lebih segar dari malam sebelumnya, meski masih terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.

"Pagi," sapa ayahnya, tersenyum tipis melihat kedatangan mereka. "Kalian nggak pulang semalam?"

"Nggak tega ninggalin Papa sendirian," jawab Alya, duduk di kursi samping ranjang. "Dokter bilang apa pagi ini?"

"Katanya kondisi Papa udah lebih stabil," jawab ayahnya. "Mungkin dua atau tiga hari lagi bisa dipindah ke ruang rawat biasa, kalau semuanya terus membaik."

Kelegaan terlihat jelas di wajah Alya mendengar kabar itu. Ia melirik ke arah Raka yang berdiri di sudut ruangan, memberi sedikit jarak agar keluarga bisa memiliki momen pribadi mereka, namun tetap berada dalam jangkauan untuk memberikan dukungan kapan pun dibutuhkan.

"Raka," panggil Pak Rudi tiba-tiba, menatap ke arah pria yang selama semalam penuh setia menemani putrinya. "Terima kasih udah nemenin Alya dan istri Papa semalaman. Papa denger dari istri Papa, kamu bahkan nggak pulang sama sekali."

"Sudah seharusnya, Pak," jawab Raka, melangkah mendekat. "Alya dan keluarganya penting buat saya."

Pak Rudi menatap Raka lama, ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya—bukan lagi tatapan seorang ayah yang hati-hati menilai calon menantu karena tekanan bisnis, melainkan tatapan tulus yang penuh penerimaan. "Papa senang kalian berdua akhirnya bisa saling jujur dan saling jaga kayak gini. Ini yang seharusnya terjadi dari dulu, tanpa perlu dipaksa perjanjian apa pun."

---

Beberapa hari berikutnya, Pak Rudi dipindahkan ke ruang rawat biasa sesuai perkiraan dokter, kondisinya terus membaik meski ia masih harus menjalani pemulihan dan perubahan gaya hidup yang signifikan—mengurangi beban kerja, menjaga pola makan, dan yang terpenting, belajar mengelola stres dengan lebih baik.

Alya mengambil cuti beberapa hari dari kantor untuk fokus mendampingi ayahnya selama masa pemulihan awal, sesuatu yang tidak pernah ia sesali meski tumpukan pekerjaan menanti di kantor. Raka, meski memiliki tanggung jawab besar sebagai Direktur Marketing yang baru, tetap menyempatkan diri mengunjungi rumah sakit setiap sore sepulang kerja, membawakan makanan kesukaan Pak Rudi atau sekadar menemani mengobrol ringan untuk mengalihkan pikiran dari kebosanan dirawat di rumah sakit.

"Kamu tau," kata Pak Rudi suatu sore, ketika hanya ada dirinya dan Raka di ruang rawat sementara Alya sedang mengurus administrasi di bawah, "Papa dulu sempat menyesal banget soal keputusan Papa menyetujui perjanjian perjodohan itu delapan tahun lalu. Papa pikir, kalau Papa nggak setuju, mungkin kamu nggak akan pernah ninggalin Alya, dan kalian berdua nggak perlu ngalamin delapan tahun yang penuh luka itu."

Raka terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-kata itu. "Saya pikir, Pak, meskipun jalannya berliku dan penuh luka, mungkin ini emang jalan yang harus kami lewatin buat sampai ke titik ini—di mana kami berdua akhirnya benar-benar jujur satu sama lain, tanpa rahasia, tanpa tekanan dari siapa pun."

Pak Rudi tersenyum, mengangguk pelan. "Kamu benar. Kadang jalan yang paling berliku itu yang justru ngajarin kita hal paling berharga." Ia menatap Raka dengan sungguh-sungguh. "Raka, Papa mau tanya sesuatu secara langsung ke kamu, bukan lewat perjanjian atau pihak ketiga mana pun. Apa niat kamu sama Alya ke depannya?"

Raka menghela napas, menyadari bahwa ini adalah kesempatan yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu yang telah lama ia persiapkan. "Pak, sebenarnya malam itu—malam Bapak dilarikan ke rumah sakit—saya baru aja mau melamar Alya sebelum telepon dari rumah sakit masuk."

Mata Pak Rudi melebar, terkejut sekaligus bahagia mendengar pengakuan itu. "Kamu serius?"

"Saya serius, Pak," jawab Raka mantap. "Dan saya ingin minta restu Bapak secara langsung, tanpa perjanjian bisnis apa pun yang mendasarinya—murni karena saya mencintai Alya, dan saya ingin menghabiskan sisa hidup saya bersamanya."

Pak Rudi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca mendengar ketulusan dalam suara Raka. "Kamu punya restu Papa sepenuhnya, Raka. Dengan senang hati."

---

Tepat ketika percakapan emosional itu berlangsung, Alya kembali memasuki ruangan, tidak menyadari momen penting yang baru saja terjadi antara ayah dan pria yang dicintainya. "Kalian ngobrolin apa?" tanya Alya, sedikit penasaran melihat ekspresi bahagia di wajah kedua orang yang paling berarti dalam hidupnya itu.

"Nggak ada apa-apa," jawab Raka cepat, tersenyum misterius sambil bertukar pandang dengan Pak Rudi yang juga tersenyum penuh arti. "Cuma ngobrol biasa."

Alya mengerutkan kening, curiga dengan jawaban yang terlalu singkat itu, namun memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh, mempercayai bahwa apa pun yang mereka bicarakan pastilah sesuatu yang baik, mengingat suasana hangat yang terasa di ruangan itu.

Seminggu kemudian, Pak Rudi akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah, dengan kondisi yang terus membaik dan semangat baru untuk menjalani hidup dengan lebih sehat dan tenang. Alya pun mulai kembali bekerja secara penuh, meski kini dengan perspektif baru tentang pentingnya menyeimbangkan karier dengan kesehatan dan kebahagiaan pribadi.

Suatu malam, beberapa minggu setelah kepulangan ayahnya dari rumah sakit, Raka mengajak Alya untuk makan malam di sebuah tempat yang sama sekali berbeda dari biasanya—sebuah restoran romantis di atas bukit yang menghadap langsung ke pemandangan kota yang berkilauan di malam hari.

"Ini tempat yang indah," kata Alya, terpesona dengan pemandangan yang terbentang di hadapan mereka. "Ada acara khusus hari ini?"

Raka tersenyum, tangannya mulai gemetar meraih sesuatu dari saku jasnya, momen yang sempat tertunda berminggu-minggu lalu kini akhirnya siap ia lanjutkan. "Alya, ada sesuatu yang udah lama banget aku pengen tanyain ke kamu..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!