"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPisode 23. Berebut hak
Dua jam kemudian, Adam sudah berdiri di koridor lantai dua Rumah Sakit Medika Utama. Pria itu menolak menunggu di ruang tunggu biasa. Ia berjalan cepat, mengabaikan tatapan heran beberapa staf medis yang melintas.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruang praktik Dokter Fitri. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Adam mendorong gagang pintu kayu itu hingga terbuka lebar.
Brak!
Fitri yang sedang memeriksa berkas rekam medis di meja kerjanya tersentak kaget. Wajah cantiknya seketika mengeras saat melihat sosok Adam berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah dan mata memerah membara.
"Pak Adam?! Apa-apaan Anda main masuk sembarangan seperti ini?" tegur Fitri tajam, langsung berdiri dari kursi kerjanya dengan raut wajah marah. "Saya sedang tidak menerima tamu! Tolong keluar sekarang!"
Adam tidak mundur sepangkah pun. Dengan tangan gemetar, ia merogoh tas kerjanya, mengeluarkan lembaran kertas hasil tes DNA, lalu melangkah maju dan membantingnya pelan di atas meja kerja Fitri.
"Aku sudah tahu semuanya, Fitri!" ucap Adam dengan suara parau yang bergetar hebat. "Hasil tes DNA ini tidak bisa bohong. Aiden adalah anak kandungku! Dia darah dagingku!"
Fitri membeku sejenak, melirik dingin pada lembaran kertas di hadapannya tanpa berniat menyentuhnya sedikit pun. Tidak ada raut panik atau terkejut di wajah sang dokter. Yang tersisa di matanya hanyalah tatapan kekecewaan mendalam dan senyuman sinis yang teramat dingin.
"Lalu kalau dia memang anak Anda berdasarkan selembar kertas itu, Anda pikir Anda punya hak untuk hadir di hidupnya?" bisik Fitri pelan, suaranya mengalun rendah namun menembus jantung Adam bagai belati.
"Hak? Tentu saja punya fitri! Aku ini ayah kandung nya tentunya dan pasti punya hak" Adam memajukan tubuhnya, menatap Fitri dengan pandangan memohon sekaligus menuntut. "Fitri, tolong jangan bersikap dingin seperti ini! Kertas ini bukti sah secara medis! Aku ayah biologis Aiden. Aku berhak bertemu dengannya, memeluknya, dan memberi dia nafkah. Kamu tidak bisa menyembunyikan kenyataan ini selamanya!"
Fitri menghela napas pelan, melipat kedua tangan di dada tanpa sedikit pun riak cemas.
"Ayah biologis?" bisik Fitri dengan tawa kecil yang sarat kepahitan. "Anda cuma memberikan sebutir sel tiga tahun lalu, Pak Adam. Setelah itu, di mana posisi Anda saat saya harus mual muntah sendirian di kamar kos yang sempit? Di mana Anda saat saya bertaruh nyawa di ruang operasi tanpa ada satu pun keluarga di samping saya?"
Kata-kata Fitri meluncur tenang namun tajamnya melebihi sembilu. Adam menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa begitu kering.
"Aku tidak tahu kamu sedang hamil waktu kita bercerai dulu, Fit.." sela Adam membela diri, suaranya naik satu oktav menahan penyesalan yang membakar. "Kalau saja kamu mengatakannya dari awal, aku tidak akan pernah melepaskanmu! Aku akan merawatmu dan anak kita! Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama fitri.."
"Bohong!" potong Fitri tegas, matanya menyipit menatap Adam lurus-lurus. "Kalau saat itu saya bilang saya hamil, Anda cuma akan menuduh saya menjebak Anda agar tidak diceraikan! Ingat tidak, Mas? Anda saat itu cuma peduli pada Rosa dan kecantikan luarnya. Anda menganggap saya beban, wanita udik yang menumpang hidup di rumah Anda. Apa kata-kata jahat itu sudah Anda lupakan?"
Adam membeku di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak kelu, tak sanggup menyusun kata balasan. Bayangan masa lalu saat ia membentak Fitri demi membela Rosa berputar hebat di kepalanya, menelanjangi semua kebohongannya hari ini.
"Tidak.. bukan begitu.." Ucap Adam terbata-bata.
Fitri melangkah mendekat ke meja, mengambil lembaran tes DNA itu lalu menyimpannya di dalam laci meja kerja tanpa meremasnya.
"Lalu apa? Anda bicara soal nafkah dan hak?" lanjut Fitri dengan suara tenang yang begitu berwibawa. "Selama dua tahun ini, saya membiayai susu Aiden, pakaiannya, tempat tinggalnya, hingga pendidikan terbaiknya dari hasil keringat saya sendiri sebagai dokter. Saya tidak pernah mengetuk pintu rumah Anda untuk meminta sepiring nasi. Saya tidak butuh uang Anda, dan Aiden jauh lebih tidak butuh sosok ayah yang baru ingat anaknya setelah hidupnya sendiri hancur! Keluar! Atau saya panggil security!" Ucap Fitri Tegas.
"Fitri, aku mohon..." suara Adam memelan, berganti menjadi bisikan pasrah yang hancur. Air mata pria itu akhirnya menetes membasahi pipinya yang tirus. "Aku tahu dosaku padamu sangat besar. Aku tidak minta kamu memaafkanku sekarang, tapi tolong... biarkan aku jadi ayah buat Aiden. Aku ingin menebus semuanya."
Fitri menatap air mata Adam tanpa emosi, sebuah pencapaian dari proses penyembuhan luka yang telah selesai.
"Tebusan terbesar yang bisa Anda berikan adalah tidak pernah muncul lagi di hadapan anak saya," tegas Fitri pelan. "Jangan racuni pikirannya yang polos dengan kehadiran Anda. Bagi Aiden, ayahnya sudah lama tidak ada. Biarkan dia tumbuh dalam kedamaian bersama orang-orang yang benar-benar mencintainya sejak awal."
"Tapi dia anakku, Fitri! Dia punya darahku!" tangis Adam pecah, ia melangkah maju ingin meraih tangan Fitri, namun Fitri langsung mundur selangkah dengan tatapan penuh ancaman.
"Satu langkah lagi Anda maju, saya tekan bel darurat ini," ancam Fitri dingin, jarinya sudah berada di atas tombol panggil keamanan bawah meja. "Silakan keluar, Pak Adam. Jangan memaksa saya membuat Anda diusir secara tidak hormat dari rumah sakit ini."
Adam berdiri mematung di tengah ruangan. Seluruh kekuatan dalam tubuhnya telah dikuras habis. Benteng yang dibangun Fitri bukan sekadar amarah sesaat, melainkan keadilan mutlak dari seorang ibu yang berpendirian baja.
"Fitri... Apa aku enggak boleh bertemu anakku sendiri?" Ucap pelan Adam.
"Keluar!"Ucap tegas Fitri lagi
Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk dalam keputusasaan, Adam berbalik, melangkah keluar meninggalkan ruangan tanpa bisa membawa satu pun kemenangan. Adam terduduk termenung di bawah pohon rindang di rumah sakit itu.
"Kenapa kamu tidak memberikan aku kesempatan sekali saja fit.. Aku sungguh-sungguh ingin berubah dan sungguh ingin kita bersama lagi." Gumam Adam.
Tiba-tiba terlintas cepat di hati dan pikiran adam untuk menempuh ini ke jalur hukum. "Kalau cara halus tidak berhasil, aku akan membawa ini ke hukum negara. Demi kamu dan demi anak kita. Kalau aiden berhasil aku dapatkan, kamu pasti akan mengikuti juga fitri. Kita akan bersama-sama lagi." Gumam Adam lalu dia pun beranjak berdiri dan menuju parkiran mobil nya.
Dia melajukan mobil nya itu ke gedung firma hukum di kota bandung. Adam masuk dan mulai menjadwalkan sesi konsultasi dengan pengacara kenalan dia waktu di jakarta dulu. Setelah menunggu hampir 1 jam, Adam masuk dan mulai berkonsultasi pada pak pengacara tersebut.
Ruang konsultasi pengacara di pusat kota Bandung itu terasa begitu sunyi, hanya dihiasi deru pendingin udara yang bertiup konstan. Adam duduk di atas kursi kulit berwarna cokelat tua, menatap pria paruh baya berkacamata yang sedang mempelajari berkas hasil tes DNA milik Aiden. Di samping lembaran medis tersebut, terdapat pula dokumen silsilah keluarga dan surat keputusan perceraian Adam dengan Fitri beberapa tahun silam.
"Selamat siang pak pengacara. Apa kabar?" Ucap Adam berjabat tangan.
"Baik pak Adam.. Silahkan duduk pak." Jawab pengacara itu. Mereka pun duduk, "Maaf menunggu lama ya pak, ada yang bisa saya bantu?" Ucap pengacara itu lagi.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.