Hai Reader's tolong berikan like, komentar positif yang membangun dan rating bintang 5 ya. Terima kasih semuanya 🙏🏻😇🥰
Orang bilang roda hidup itu berputar, dan memang benar roda itu memutar arah nya menunju tempat yang paling terbawah dalam kehidupan. Bagaimana tidak setelah bersusah payah bangkit dari kebangkrutan, mereka harus di hadapkan pada perpisahan yang telah di gariskan oleh sang maha kuasa. Mama yang berjuang sendiri akhirnya memutuskan untuk meninggalkan anak-anaknya bekerja di negara tetangga. Bagaimanakah nasib anak yatim tersebut setelah mama mereka meninggalkan nya tanpa ada siapapun yang mendampingi anaknya?
Ikutin ceritanya yaa!!
Ambil pelajaran yang bisa di petik dari cerita ini. Sayangi orang tua kita dan orang baik yang ada di sekeliling kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zahnita Irsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Benar orang bilang kehilangan akan terbiasa seiring waktu yang berlalu. Waktu yang akan membiasakan kita untuk hidup dan terus melangkah walau terkadang jalan yang di lalui penuh duri.
Siapa sangka sudah hampir satu tahun zahra dan amira melalui hidup tanpa orang tua maupun saudara. Mereka berdiri tegar menyelesaikan semua masalah yang ada.
Kini hati mereka kembali di liputi rasa pilu, memandangi dan mulai mengemasi seluruh barang yang ada. Mereka harus pindah dari rumah yang telah terukir begitu banyak kenangan di sana.
Sekilas kembali teringat saat Ayah mereka ikut membangun rumah bersama tukang, senyumnya dan semangatnya. Sekarang mengingat kumpulan batu putih itu ada rasa penyesalan di hati mereka, andai saat itu mereka cukup besar untuk memahami maksud sang ayah.
Di rumah ini juga kembali teringat saat Mama mereka mengalami banyak kepedihan yang di sebabkan oleh orang-orang sekelilingnya bahkan terdekatnya. Perjuangan seorang wanita single parent yang begitu luar biasa.
Wanita yang mengorankan hidup dan kebahagiaannya hanya untuk mengabdi sebagai seorang ibu demi kebahagiaan anaknya.
Semuanya sudah terjadi, yang telah berlalu hanya akan menjadi kenangan tersendiri dalam kehidupan setiap anak manusia. Sekarang hanya perlu menjalaninya dengan sebaik yang kau mampu.
Zahra dan Amira membulatkan tekadnya untuk pindah dan ingin mengubur semua yang telah terjadi di rumah itu. Mereka mencari rumah sewa yang tidak jauh dari sekolah agar bisa menghemat biaya transportasi.
" Mbak, berat mau ninggalin rumah ini " Ucap Amira yang telah menghentikan kegiatannya mengemasi pakaian yang ada di lemari.
Zahra menghela nafas seolah ingin membuang beban yang ada di dada.
" Terkadang hidup memaksa kita untuk mau tidak mau, suka tidak suka melakukan sesuatu di luar kendali kita " Zahra menunduk sambil mengemasi barang pecah belah yang ada.
" Mira cuma bisa bilang ANDAI mbak " Amira tertunduk menahan sedih.
" Semoga di rumah yang baru akan ada cerita yang lebih baik dan semoga mama bisa pulang kumpul lagi sama kita disini. " Zahra melihat adiknya sambil tersenyum kecil.
" Ya mbak, bertahan disini pun yang ada semakin sakit. Rumah ini bukan rumah kita lagi, kita asing di sini. " Ucap amira menatap sebentar foto sang mama yang terpajang indah di dinding kamar.
Zahra memilih diam tidak merespon ucapan adiknya, karena ia paham betul jika di teruskan sudah pasti air mata yang akan menghiasi pembicaraan itu.
Biarlah hati mereka yang berbicara mengadu pada sang Maha Pencipta. Karna hanya Sang Pencipta lah yang tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya.
Zahra dan Amira memiliki banyak teman, sehingga mereka tidak kesulitan untuk meminta bantuan ketika pindah rumah. Rian, Niko dan Ikmal adalah sahabat laki-laki zahra dan amira di kelas.
Mereka dengan senang hati membantu zahra dan amira selain karena pertemanan, mereka juga sangat simpati akan kondisi teman sekelas mereka yang harus berjuang sendiri tanpa dampingan orang tua.
Semua barang sudah di angkat yang tersisa kini hanya beberapa foto yang masih terpajang. Zahra dan amira naik motor bersama rian dan niko.
Rian dan Niko mengantar temannya untuk menginjakan kaki terakhir kalinya dirumah yang akan menjadi kenangan di dalam hidup mereka.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, perasaan Zahra dan Amira sudah tak menentu. Mereka hanya diam larut dengan fikirannya masing-masing.
Entah kenapa rasa kehilangan kini kembali melanda hati kedua gadis belia itu.
Ketika turun dari sepeda motor yang di kendarai rian dan niko, zahra dan amira terlihat begitu sedih. Rian dan niko begitu memahami perasaan mereka, hanya kata sabar yang bisa mereka ucapkan.
Perlahan zahra dan amira masuk melangkahkan kakinya masuk kerumah itu, sementara rian dan niko menunggu di luar.
Perlahan-lahan foto yang ada di setiap ruangan mereka turunkan lalu memasukkan nya kedalam sebuah kantung plastik berwarna hitam besar.
Hati mulai berkecamuk, berbohong mereka yang tau perjuangan kedua orang tuanya bisa menepis rasa sedih yang ada di hati. Air mata kembali menetes sambil satu persatu bingkai foto itu mereka simpan.
Suasana hening terlebih saat memasuki kamar mamanya yang begitu banyak foto-foto bahagia sang mama, terpajang rapi di setiap sudut kamar.
" Ma, andai semuanya baik-baik saja " ucapan zahra sambil memandangi foto cantik itu, membuat amira yang telah berurai air mata memasukan semua foto dengan cepat.
" Ayo mbak, kita cepat pergi dari sini " ucap Amira sambil menghapus air matanya.
Ia selalu ingin memberikan kekuatan kepada kakaknya.
" Dek, gak sedih? " zahra masih mematung memandangi tubuh amira yang hendak keluar.
Amira menghentikan langkahnya, tanpa menoleh kebelakang ia menjawab pertanyaan kakaknya.
" Sedih mbak, tapi lebih sedih lagi kalau kita bertahan di rumah ini yang jelas-jelas bukan punya kita lagi. Jadi lebih baik kita akhiri cerita disini kita buka lembaran baru. " Amira melanjutkan langkahnya.
Zahra terdiam dan mulai menghapus air matanya. Ia berjalan keluar kamar berdiri menatap setiap sudut rumah ini.
" Ayah maafkan kami, semua yang terjadi di luar batas kemampuan kami untuk bertahan disini. " Zahra membayangkan seolah ayahnya ada di sini.
" Ayah kami pergi tapi kami janji akan sering datang ke makam ayah walaupun nanti akan jauh " ucap zahra menitikkan air matanya dan memutuskan untuk ke makam sang ayah yang tak jauh dari rumah mereka.
Zahra dan amira di temani rian dan niko, sesampainya di makam kedua gadis belia itu menangis sejadi-jadinya memeluk nisan sang ayah.
Rian dan Niko pun larut dalam kesedihan kedua sahabatnya itu, mereka hanya bisa menyabarkan zahra dan amira yang seolah mengadu kepada ayahnya akan beratnya hidup yang mereka lalui.
Di mana mereka butuh sosok seorang ayah untuk menguatkan mereka saat ini. Namun lagi-lagi mereka harus tersadar pada takdir, bahwa mereka harus mampu bersandar di pundaknya sendiri.
Memikul segalanya sendiri tanpa adanya sosok kekuatan seorang ayah dan sosok kesabaran seorang ibu.
" Ayo zahra dan amira kalian yang biasa kuatbitu mana? ucap rian memberikan semangat kepada zahra dan amira.
Zahra dan Amira menatap kedua sahabatnya dengan berurai air mata.
" Udah gak usah sedih nanti ayahmu ikutan sedih liat kalian begini. Lagian kalian itu ada kami kok dan juga teman-teman yang lain, kami semua sayang sama kalian jadi kalian harus kuat. " Niko tersenyum sambil terus memberikan semangat.
" Iya benar kita gak boleh sedih nanti ayah ikutan sedih disana. " Amira lekas menghapus air matanya di susul dengan anggukan zahra.
" Ayah doakan kami agar menjadi gadis yang kuat, sekuat ayah " ucap zahra tersenyum memandang nisan sang ayah.
Keduanya mengecup nisan sang ayah lalu tersenyum menatap rian dan niko. Mereka berempat beranjak dari makam ayah zahra dan amira.
Kini mereka sadar bahwa mereka dikelilingi oleh orang baik.
nih mata juga ga bs brenti netes aja
aku kasih bintang 5 ya ka