Juara Pertama "Lomba Menulis Novel Cerita Seram" yang diadakan oleh Noveltoon.
Mbah Arni dan suaminya bersahabat dengan seorang penari tradisional. Saat menginap di rumah Mbah Arni, penari itu tiba-tiba lenyap ditelan bumi.
Semenjak hilangnya penari itu, setiap malam Mbah Arni merasa ada yang berkelebatan di sekitar rumahnya. Terlebih, ketika suaminya sudah meninggal dan Mbah Arni tinggal sendirian, bayangan itu semakin intens mengganggu perempuan tua itu.
Apa yang terjadi dengan penari itu? Mengapa sahabat lain Mbah Arni yang bernama Lastri memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri?
Mengapa Imran dan Parto takut dengan Mbah Arni?
SEASON KEDUA
Imran yang baru masuk SMP bertemu dengan seorang gadis misterius yang hanya ia temui di hari pertama ia bersekolah.
Ke mana perginya gadis itu?
Mengapa nama gadis itu sama dengan nama teman kedua orang tuanya yang tewas kecelakaan puluhan tahun yang lalu?
Apa yang dilakukan ayah Imran dan teman-temannya ketika SMP?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Junan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 24 HILANG DITELAN BUMI
Dari celah kecil itu terlihat Mbah Kardi sedang memegang pisau yang tajam dengan tangan kanannya sedangkan di depannya, Cak Pandir memegangi seekor induk ayam berwarna hitam. Kepala induk ayam dipegang oleh Mbah Kardi dan secepat kilat pisau tajam itu menggorok leher induk ayam. Darah mengalir deras dari pembuluh darah yang terputus di leher induk ayam
"Hiiii......" Parto tanpa sengaja memekik agak keras hingga kehadiran kami diketahui oleh mereka berdua.
"Siapa di luar?"
Kami berduapun lari meninggalkan rumah Mbah Kardi menyusul kelompok warga yang sudah ke utara duluan.
"Dari mana kalian?" tanya salah satu warga
"Kami dari me..."
Belum selesai aku menjawab, Parto menyela
"Buang air kecil."
"Iya, kami tadi berhenti buang air kecil." Jawabku kembali
"Jangan jauh-jauh dari kelompok karena itu berbahaya buat kalian. Kalau Agus tiba-tiba muncul di depan kalian, bagaimana?" kata warga yang lain.
"Iya, kami berdua mohon maaf." Jawab Parto.
Benar juga kata warga kalau seandainya Agus tiba-tiba muncul di depan kami tentunya kami bisa dalam bahaya. Bayangkan tubuh kami yang masih kecil ini melawan seorang pembunuh berdarah dingin seperti Agus. Membayangkan hal tersebut aku jadi ngeri sendiri.
Setelah berjalan beberapa lama kamipun sampai di rumahku. Ternyata di sana sudah berkumpul para warga dari kelompok yang lain. Petugas dari kepolisian juga sudah ada di sana, salah satunya Pak Prapto.
"Assalamualaikum" Mbah Nur mengucap salam.
"Waalaikumsalam." Warga menjawab.
Mbah Nur bersalaman dengan Pak Prapto dan Pak Kampung.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya, Pak Kyai?" tanya Pak Kampung.
"Kami sudah memeriksa secara keseluruhan daerah di selatan tetapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan yang dapat kita temui." Jawab Mbah Nur.
"Untuk daerah utara bagaimana, Pak Hendra?" Tanya Pak Kampung lagi.
"Sama, Pak Kampung. Daerah utara hasilnya nihil padahal kita sudah memeriksa sampai ke persawahan paling utara kampung." Jawab Pak Hendra.
Pak Kampung menghela napas kemudian bertanya kembali
"Daerah timur bagaimana, Pak Lukman?" tanya Pak Kampung kembali
"Nihil juga, Pak Kampung. Malah tadi Pak Polisi juga ikut membantu kita memeriksa." Jawab Pak Lukman, bapaknya Parto.
"Benar. Kami tadi ikut membantu memeriksa di daerah timur sampai ke perbatasan kampung. Petugas kami juga ada yang berjaga di kampung sekitar. Sementara tidak ada laporan tentang orang yang mencurigakan juga." Jawab Pak Prapto tegas.
"Berarti tinggal kelompok yang memeriksa daerah barat yang belum datang. Semoga ada kabar baik dari mereka." Kata Pak Kampung
"Aamiiiin....." Jawab warga yang lain kompak.
"Monggo, Pak Polisi, Pak Kampung duduk di ruang tamu saya dulu sambil menunggu laporan dari kelompok barat!" Ucap bapak sambil mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah.
Pak Prapto, Pak Kampung, Mbah Nur dan beberapa warga masuk ke ruang tamu. Karena tidak muat, sebagian besar warga yang lain tetap berada di teras hingga di pinggir jalan."
Bapak memberi kode kepadaku untuk membuatkan minuman untuk para tamu itu, awalnya aku sendirian menghidupkan kompor minyak tanah di dapur. Tapi karena merasa agak merinding sendirian di dapur, akupun memanggil Parto yang sedang berada di teras rumah untuk membantuku membuat kopi di dapur.
"Banyak sekali orang yang ikut mencari ibumu, semoga ini pertanda baik."
"Iya, To. Aku tidak mau terjadi hal buruk pada ibuku."
"Mau pake wadah apa, Im?"
"Letakkan nampan itu di meja makan, taruh secukupnya gelas di atasnya.!"
"Terus?"
"Masukkan satu sendok kopi dan satu setengah sendok gula ke masing-masing gelas."
"Hanya cukup sepuluh gelas ini, Im di atas nampannya."
"Ya, nggak apa-apa. Itu nanti untuk tamu yang di ruang tamu saja. Yang di luar rumah dibuatkan pake teko saja biar mereka menuang sendiri nanti. Yang penting disediakan gelas kosong."
"Oke siap, Bos. Tekonya diisi berapa sendok kopi dan gula?"
"Isi wes 10 sendok kopi dan 15 sendok gula pasir! semoga masih cukup ya kopi dan gulanya soalnya kemarin ibu belum sempat belanja."
"Cukup, Im ternyata."
"Alhamdulillah.".
"Airnya belum mendidih, ya?"
"Sebentar lagi, To."
Melihat air di dalam panci seperti itu aku kembali teringat dengan ibuku, biasanya kalau lagi musim dingin ibu menyiapkan air panas untuk aku pakai mandi pagi tentunya dicampur air dingin. Kembali air mataku menetes
"Sabar ya, Im. Yakinlah ibumu pasti ketemu."
"Ya, To. Aamiiin.
"Sudah mendidih tuch airnya, ayo segera kita tuang ke gelas dan ke teko mumpung orang-orang belum buyar."
"Ayo...."
Setelah selesai membuat kopi, kami berdua membawa kopi tersebut ke depan. Aku membawa nampan berisi kopi ke ruang tamu sedangkan Parto membawa teko dan beberapa gelas kosong ke teras rumah.
"Monggo diunjuk kopinya mumpung masih panas." Kata Bapak
"Waduh, cowok-cowok pintar buat kopi kalian, ya?" tanya Pak Prapto
"Inggih diajari ibu, Pak Polisi. Kalau kurang manis atau kurang pahit ngomong nggih, Pak?" Kataku
"Sudah pas ini kalau ke saya, enak mantap pokoknya." Jawab Pak Prapto.
"Mata langsung melek, jadinya." Kata warga yang lain.
Setelah menyajikan kopi di dalam, aku menuju ke teras rumah menghampiri warga yang di luar rumah
"Mohon maaf, Bapak-Bapak. Gelasnya ada yang gantian, ya?"
"Nggak apa-apa, Im. Enak minum kopi ala santri begini lebih nikmat. Satu gelas untuk beberapa orang." Jawab Pak Lukman bapaknya Parto
"Pokoknya tidak satu gelas sama Rosid saja." Kata Pak Hendra.
"Kenapa Pak Hendra?" tanya Pak Hari.
"Soalnya Rosid membawa virus berbahaya." Jawab Pak Hendra yang mengundang perhatian warga lainnya. Cak Rosid juga melihat ke arah Pak Hendra.
"Virus berbahaya apa, Pak Hendra? lepra atau flu spanyol?" tanya Pak Hari.
"Bukan." Jawab Pak Hendra.
"Terus virus apa? Apa ada virus baru yang lebih berbahaya dari itu?" tanya Pak Hari lagi
"Ada, namanya virus....."
"Virus apa?"
"Kolorna."
"Apa? Kolorna."
"Iya.... Virus Kolorna. Soalnya kolorna Rosid kan nggak ada yang nyuciin jadi kena virus."
Semua warga jadi tertawa semua, sementara Cak Rosid mukanya memerah karena malu
Karena merasa tidak enak, Pak Hendra merangkul Cak Rosid sambil berkata
"Bercanda ya, Sid. Jangan lekas marah supaya enteng jodoh."
"Iya, Pak Hendra." Jawab Cak Rosid
"Nah. Begitu dong ngomong. Jangan diam terus!" Kata Pak Hendra
Setelah itu Cak Rosid terlibat perbincangan dengan Pak Hendra dan warga yang lain. Syukurlah akhirnya Cak Rosid agak membuka diri malam itu meskipun harus dengan cara dirundung terlebih dahulu.
-----
"Assalamualaikum..."
"Walaikumsalam..."
Melihat ada yang datang, orang-orang yang di ruang tamu sebagian keluar ke teras.
"Akhirnya kalian datang juga setelah ditunggu agak lama. Bagaimana hasil kelilingnya, Pak RW?" tanya Pak Kampung.
"Anu Pak Kampung."
"Anu kenapa?"
"Kita sudah periksa di daerah barat, nggak nemu apa-apa."
"Nggak nemu apa-apa kok lama sekali."
"Iya, maaf Pak Kampung. Kami lama datangnya karena tadi Pak Irwan dan Pak Zen mengalami kendala sedikit."
"Kendala apa, Pak Irwan, Pak Zen?"
"Eeee... anu Pak...Tadi waktu memeriksa KUD kami ketemu Genderuwo." Jawab Pak Irwan
"Grrrrrrr..........."
Keterangan Pak Irwan disambut dengan tawa oleh semua warga. Selama ini Pak Irwan memang terkenal penakut dan parnoan. Jadi warga banyak yang kurang percaya dengan ceritanya.
"Berarti KUD tidak kalian periksa tadi?"
"Ssssss....sudah, Pak Kampung. Saya yang memeriksanya." Jawab Pak Zen.
Pak Irwan melirik ke arah Pak Zen, tetapi Pak Zen melirik juga ke arah Pak Irwan. Aku yang melihat raut wajah mereka berdua menjadi agak curiga.
Pak Kampung melanjutkan pembicaraannya
"Bagaimana, Pak Polisi. Semua warga sudah memeriksa seluruh penjuru kampung tetapi tidak menemukan apa-apa. Sementara sekarang sudah pukul sebelas malam."
"Sepertinya pencarian malam ini oleh warga dicukupkan dulu saja. Tetapi polisi akan terus berpatroli di sekitar kampung ini. Besok pagi saya harap warga kembali membantu kami."
"Siap, Pak Polisi. Silakan Bapak-Bapak pulang dulu sekarang. Kita lanjutkan pencarian Bu Ningrum besok pagi. Tetaplah terus waspada jangan sampai lengah."
"Oke, Pak Kampung. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Wargapun berpamitan pulang secara bergantian. Aku melihat kegetiran di wajah bapakku.
"Pak Hasan, saya dan Pak Polisi akan berpatroli keliling kampung. Pak Hasan sebaiknya beristirahat dulu di rumah supaya besok bisa melanjutkan pencarian lagi."
"Tidak, Pak Kampung. Saya mau ikut berkeliling saja."
"Terus anakmu bagaimana?"
"Biar saya dan Parto tidur di sini malam ini." Jawab Mbah Nur.
"Terimakasih, Pak Kyai. Maaf sudah merepotkan."
"Tidak apa-apa, Hasan. Tapi tolong kalau patroli lewat depan rumah saya, tolong teriak dari luar rumah ke istri saya sampaikan kalau saya menginap di sini."
"Baiklah, Pak Kyai."
Setelah berpamitan, mereka masuk ke dalam mobil polisi dan mobilpun melaju menuju pekatnya malam.
Tinggal kami bertiga yang berada di rumahku. Mbah Nur menyuruhku menutup pintu depan rapat-rapat dan menutup gorden juga. Saat semuanya telah selesai kitapun sholat isya' berjamaah.
"Sekarang kita harus tidur dulu supaya besok bisa segar bugar. Jangan lupa kita doakan ibumu baik-baik saja."
"Aamiiin..."
"Mbah. Ada sesuatu yang menganjal di pikiran saya?"
"Apa itu, Im?" Kamu nggak usah mikir macem-macem.
"Tadi Pak Irwan dan Pak Zen pas cerita ketemu genderuwo orang-orang nggak ada yang percaya."
"Lah iya, Pak Irwan kan orangnya emang parnoan. Mungkin dia tadi berhalusinasi saja."
"Tapi, Pak Kyai. Di KUD tersebut kami berdua juga pernah bertemu genderuwo juga."
"Terus apa hubungannya dengan ibumu?"
"Tadi ketika Pak Zen bilang sudah memeriksa gedung KUD, aku agak curiga. Mungkin saja gedung KUD tersebut belum diperiksa oleh mereka. Tapi mereka gengsi mau berkata jujur."
"Darimana kamu tau mereka tidak berkata jujur?"
"Mereka lirik-lirikan, Mbah Nur."
"Oalah ya sudah kita periksa gedung tersebut besok."
"Bagaimana kalau malam ini, Mbah? Karena aku takut besok sudah terlambat."
"Kamu yakin, Im? "
"Yakin, Mbah. Kasian ibu soalnya."
"Baiklah, Im. Ayo kita berangkat ke sana. Kita siapkan dulu peralatan yang harus dibawa."
Setelah menyiapkan segala sesuatunya, kamipun berangkat menuju gedung KUD.
Kami berjalan pelan-pelan supaya tidak diketahui orang lain. Tak terasa kami sudah hampir sampai di gedung KUD tua itu. Mendadak bulu kudukku berdiri, dari kejauhan aku seperti melihat bayangan mencurigakan sedang berdiri di gedung KUD yang terlihat samar-samar dalam keremangan cahaya langit malam.
"Siapa itu?" pekikku dalam hati
-bersambung-
pak rengga melecehkan mita karna minta cantik dan makaya ada cerita anak dilecehkan saat masuk ruang lab pak rengga, mita hamil dan pak rengga gak mau tanggung jawab makanya dia coba bunuh Mita dgn menabrak mita
baru beberapa chapter aja udah buat sakit jantung