Indonesia
NovelToon NovelToon
World Of Monsters : Kaiju

World Of Monsters : Kaiju

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dunia Masa Depan / Roh Supernatural / Evolusi dan Mutasi / Sci-Fi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lowdod

Kaiju, senjata biologis yang diciptakan oleh manusia dengan cara menyuntikkan darah ras Abyss walker ke dalam tubuh orang orang yang terpilih. Bukan hanya lewat eksperimen saja, namun kaiju juga dapat terlahir lewat reinkarnasi, kontrak, maupun perkawinan.

500 tahun telah berlalu sejak manusia berhasil memenangkan pertarungan mereka melawan para abyss walker yang menjajah dengan bantuan para kaiju, dan kini para kaiju tersebut justru di buang oleh manusia ke sebuah hutan buatan bernama Forestiso. Dan dari sana lah, berbagai ras kaiju mulai menaruh dendam pada manusia dengan menciptakan kaiju eksperimental yang lainnya menggunakan teknologi mereka sendiri. Salah satu dari kaiju eksperimental itu adalah humanoid wanita yang tak diketahui, yang saat ini terdampar di Forestiso dengan sebuah ukiran nama di tabung criogenik nya, Alan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lowdod, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Webs and Woe

Hisss !!!!

Suara desisan laba-laba itu terdengar di seluruh ruangan tersebut. Phoenix dan kawan-kawannya telah berdiri dengan kuda-kuda mereka masing-masing, bersiap untuk menghadapi yang terburuk yang akan dibawa oleh laba-laba raksasa di hadapan mereka itu kepada mereka semua. Taring laba-laba raksasa itu sangat tajam dan panjang, bahkan sampai tidak muat di dalam mulutnya. Racun berwarna hijau mengalir dengan deras dari ujung taringnya, secara perlahan membasahi lantai platform lingkaran itu. Phoenix kemudian menoleh ke arah Alan, seperti sedang menaruh harapan besar kepadanya.

“Alan, kamu bisa melawannya untuk kami ?”

Tanpa basa-basi atau penolakan sedikitpun, Alan langsung meraung keras dan berlari kencang menuju ke arah laba-laba raksasa tersebut. Sontak, laba-laba itu pun langsung terkejut dan sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang sambil mengeluarkan suara mengerik kecil yang terdengar agak serak.

“Hajar tuh sialan, Alan !!” seru Oozlum dengan riangnya, bahkan saat di tengah situasi yang ganas seperti saat ini.

Di saat Alan sudah hampir dekat dengannya, laba-laba itupun menusukkan kaki depannya yang tajam menembus hingga ke dalam platform lingkaran itu, namun Alan telah bermanuver ke samping kanan menghindarinya, dan kini ia sudah untuk menyerang balik laba-laba itu. Sebuah tinju darah pun dilakukan oleh Alan, namun laba-laba raksasa itu telah berayun dan menjauhkan dirinya dari Alan, serta berhasil menorehkan sebuah tebasan kecil yang menyayat dada ke belikat kiri Alan dengan sengat di ujung abdomennya itu. Itu semua berlangsung dengan sangat cepat, bahkan kelima kaiju itu tidak mengetahui apa yang barusan saja terjadi dalam hitungan detik itu.

“Alan, laba-laba sialan itu berbahaya !!” seru Phoenix.

Namun Alan masih seperti biasanya, tidak pernah berubah. Tanpa mendengarkan peringatan dari Phoenix sama sekali, Alan langsung berlari dan berniat untuk menyerang laba-laba raksasa itu lagi. Phoenix sudah bersiap untuk melemparkan pedangnya jika sesuatu yang buruk menimpa Alan setelah ini, namun waktu terasa berlalu lebih cepat daripada biasanya. Alan masih menerjang ke arah laba-laba itu, saat dirinya tiba-tiba saja di dorong ke belakang oleh sesuatu seperti jaring berlendir dari dalam mulut laba-laba raksasa itu, yang kemudian menempel dengan sangat erat di atas lantai platform. Bagaikan seekor naga yang terbang di atas langit, laba-laba itu menggunakan jaring berlendir miliknya untuk berayun ke arah Alan yang sudah tidak bisa bergerak lagi karena jaring yang merekat erat di kedua kakinya itu. Tidak perlu waktu lama bagi laba-laba raksasa tersebut menghujam keseluruhan tubuh Alan dengan kaki depannya yang tajam itu hingga Alan sudah tidak dapat terlihat kembali oleh kelima kaiju yang lainnya. Seketika, area di dalam gua tersebut langsung dipenuhi oleh suara mereka yang panik akan nasib Alan yang benar-benar mengenaskan itu.

“Eh !!? Alan mati !? Alan mati !?”

“Santai dulu, bodoh !! Si monster bugil itu ga mungkin mati segampang itu, tahu !! Ya kan, Firebird !?”

“Yah, begitulah......”

“Amphisbaena juga sama.”

Di antara kepanikan empat orang itu, Phoenix sudah bersiap dengan kedua senjatanya. Matanya terkunci dan menatap tajam ke arah laba-laba raksasa itu yang kini berbalik ke arah mereka. Phoenix secara perlahan membentangkan kedua sayapnya, dan mulai mencondongkan tubuhnya ke depan. Perisai Phoenix menyentuh tanah, begitu juga dengan kedua kaki depan laba-laba itu yang seolah sudah siap untuk meremukkan siapa saja yang berani melawannya.

“Oh ****, dia ngeliat ke arah kita......” gumam Alicanto.

“Kalian semua.... Jangan diam saja, bodoh !!”

Phoenix seketika melesat ke arah laba-laba raksasa itu, yang dengan berdiri dengan dua kaki belakangnya dan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Untuk sesaat, Alicanto dan Oozlum merasa ketakutan jika Phoenix akan segera mengalami hal yang sama dengan Alan, namun yang mereka takutkan itu ternyata hanyalah sia-sia. Lagipula, apa yang harus diragukan lagi dari seorang divine beast kaiju ? Perisai Phoenix bertemu dengan kedua kaki depan laba-laba itu, saling beradu kekuatan dengan satu sama lain. Namun tidak peduli sudah berapa banyak tenaga yang dikerahkan oleh laba-laba raksasa tersebut, Phoenix masih tetap saja mampu menahan beban dari kedua kaki depannya itu. Semua usahanya sudah jelas hanyalah sia-sia belaka, namun laba-laba itu masih berusaha, layaknya umat manusia yang selalu keras kepala.

“Menyerah saja, bangsat !!” seru Phoenix.

Phoenix menghunuskan pedangnya, dan tidak perlu waktu lama bagi pedang tersebut menembus dari bawah hingga keluar dari kepala laba-laba itu. Laba-laba raksasa itu meringik kesakitan di saat itu juga, namun siksaannya pun masih belum berakhir juga. Dari belakang, terlihat bahwa Alan sudah bangkit kembali dari tubuhnya yang sudah hancur lebur saat itu, kini sedang berada di udara sambil mengangkat tangannya yang telah diselimuti oleh bola darah, menuntut untuk balas dendam akan perbuatannya yang lalu itu.

“Alan bangkit lagi !!?”

“Kayak lu ga pernah tau aja, bego......”

Alicanto dengan cepat langsung merasa tersindir oleh ucapan Oozlum itu, dan sebuah helaan nafas terdengar dari arah Firebird dan juga si kembar Amphisbaena. Mereka nampaknya sudah kelelahan melihat tingkah laku brengsek Alicanto itu saat ini, dan itu sepertinya juga akan berlangsung untuk selamanya. Dengan decihan kesal, Alicanto pun memutuskan untuk tidak menjadi 'menyebalkan' lagi. Kembali ke pertarungan, Alan meledakkan punggung laba-laba raksasa itu dengan sihir peledaknya yang sangat kuat, namun itu sepertinya tidak terlalu berpengaruh ataupun menimbulkan satupun kerusakan yang cukup berarti. Setidaknya, laba-laba raksasa itu kini menjauhi Phoenix, dan ia kemudian menggunakan jaring laba-laba nya untuk masuk ke sebuah pusaran berwarna merah darah di atas langit-langit. Laba-laba raksasa itu kini benar-benar sudah menghilang, namun mereka masih dapat merasakan bahwa serangannya tidak akan berakhir begitu saja. Laba-laba itu, pastinya akan segera melakukan sesuatu setelah ini.

“Tuh laba-laba kemana, huh ?” gumam Alicanto sambil menoleh ke arah Oozlum, yang sama-sama lengahnya dengan keberadaan si laba-laba itu.

“Alicanto, belakangmu !!” seru Phoenix kepadanya secara tiba-tiba.

Alicanto dengan cepat menoleh ke belakang, dan di saat itu juga, ia melihat si laba-laba raksasa sedang berlari cepat ke arahnya dan bersiap untuk menyerangnya dengan kedua kaki depannya. Begitu kedua kaki depan laba-laba itu akan menghancurkan tubuhnya, Alicanto langsung berputar dengan kedua sayap emasnya terbentang lebar, seketika memotong ujung tajam dari kedua kaki depan laba-laba itu dan mengubahnya menjadi emas cair. Mungkin memang bodoh dan menyebalkan orangnya, namun Alicanto tidak seburuk itu dalam hal bertarung. Dalam hatinya, Phoenix memuji reflek tingkat dewa milik Alicanto itu.

“Rasain nih, bangsat !!” seru Alicanto dengan sangat kesal.

Sebuah luka tebasan tiba-tiba muncul di bagian bawah leher ke dagu kepala laba-laba raksasa itu setelah Alicanto mengayunkan sayap emasnya ke atas. Luka itu mulai mengucurkan emas cair alih-alih sebuah darah segar, dan jelas bahwa laba-laba raksasa itu sangatlah dibuat kesakitan karenanya. Laba-laba itu dengan cepat menciptakan sebuah pusaran merah lainnya di dinding depannya, dan ia berusaha untuk berlari secepat mungkin. Namun sayangnya Phoenix sudah terbang di atasnya dan menembakkan sebuah ledakan yang yang membuat laba-laba itu jatuh ke lantai platform besi seketika. Sebuah kesempatan besar untuk menghabisi nyawa laba-laba itu sehabis-habisnya.

“Sekarang !!” seru Phoenix saat ia masih berada di udara.

Oozlum menyeringai di saat itu juga, dan ia langsung melakukan serangkaian serangan mautnya kepada laba-laba raksasa itu. Oozlum berpindah tempat di setiap detiknya, dan setiap kali ia berpindah tempat, sebuah tendangan keras meretakkan exoskeleton laba-laba raksasa itu, membuatnya merasakan sebuah rasa sakit yang sangat menyiksa. Laba-laba itu berusaha berdiri kembali, namun kaki kiri depannya sudah terpotong seketika saat Maya melesat melewatinya, diikuti oleh Mila di belakangnya. Kaki kanan depan laba-laba itu juga terpotong dalam waktu yang singkat saat Maya mengayunkan rantai yang mengekang mereka berdua ke arah kanan, membelokkan arah lesatan Mila. Laba-laba itu meringik kesakitan, dan di saat yang bersamaan pula dua serangan dari Phoenix dan Firebird menghajar tubuhnya. Sebuah bola api berukuran raksasa dari Firebird menghujani tubuhnya, sementara sebuah tebasan pedang membelah empat mata merah laba-laba raksasa itu menjadi dua.

“Ini lebih mudah ternyata dari yang ku duga ternyata.....” gumam Phoenix sambil berputar di udara.

Tiba-tiba saja, laba-laba raksasa itu juga ikut berputar ke kanan dan menggunakan sengat di abdomennya yang sekeras besi itu untuk menebas Phoenix, namun berhasil dihalau oleh Phoenix dengan perisainya. Tetap saja, Phoenix terlempar ke samping kanan karena serangan itu. Setidaknya dia tidak menerima luka yang cukup berarti setelah menerima serangan laba-laba itu. Kondisi laba-laba raksasa tersebut masih belum berubah sama sekali, masih terpojok oleh serangan beruntun dari teman-temannya Phoenix. Alan melompat ke arah abdomennya laba-laba raksasa tersebut, dan kemudian menancapkan pedang darahnya untuk membelah abdomen itu hingga terbuka lebar. Sontak, laba-laba itu berusaha untuk menyerang balik Alan yang membuatnya sangat kesakitan dan juga tersiksa. Laba-laba itu memutar tubuhnya dan menggunakan kaki kanan bagian tengahnya untuk menyerang Ala. Namun bahkan sebelum kaki kanan tengahnya itu dekat dengan kepala Alan, itu sudah terpotong oleh Alicanto yang melesat melewatinya. Laba-laba itu seketika berhenti menyerang dan mengangkat tubuhnya di udara sambil meringik kesakitan. Alan menarik sengat besi laba-laba tersebut sementara Alicanto mengambil setengah kaki kanan bagian tengah laba-laba raksasa itu sebagai senjata baru mereka. Begitu laba-laba raksasa tersebut jatuh ke lantai platform besi itu menghadap ke arah barat daya, Alan dan Alicanto menusukkan 'senjata' baru mereka menembus hingga masuk ke dalam mata merahnya itu, diikuti oleh Phoenix yang menusukkan kedua senjatanya yang telah bergabung menjadi sebuah tombak ke dalam mulut laba-laba itu. Laba-laba raksasa itu sudah tidak dapat mengeluarkan ringikan kesakitan nya kembali, dan hanya dapat berharap bahwa racun hijaunya itu dapat membantunya lepas dari situasi mautnya saat ini. Dengan sisa tenaganya, laba-laba raksasa itu berusaha untuk menyemburkan racun hijaunya keluar ke arah Phoenix, namun hasilnya hanyalah sebuah percikan-percikan racun yang tidak dapat mengenai Phoenix sama sekali. Di saat itu juga lah, takdirnya telah ditentukan, yaitu...... Untuk mati dengan tragis di tangan Phoenix dan kawan-kawannya.

“Sudah saatnya kamu mati, laba-laba sialan !!”

Laba-laba itu ingin mengatakan kata-kata terakhirnya, namun ia dilahirkan sebagai makhluk yang tidak dapat berbicara. Sebuah ledakan dari tombak Phoenix lah yang menghancurkan kepalanya, disusul oleh Alan yang dengan beringasnya menarik keluar seluruh organ dalamnya hingga keluar ke alam bebas. Saking sudah liarnya, Alan bahkan hampir ingin memakan organ dalam laba-laba itu tepat di hadapan Phoenix. Namun untungnya, Oozlum dan Firebird yang terlampau jijik itu langsung menghentikan Alan yang mengamuk dengan menahannya dari belakang. Phoenix sempat menatap Alan sambil meneguk ludahnya sendiri. Tidak peduli sudah sejinak apa Alan saat ini, sisi liarnya itu masih ada di dalam dunia ini, di dalam tubuhnya. Dan itu tidak akan pernah menghilang dari dalam dirinya.

“(Sigh deeply) Setidaknya semua kekacauan ini sudah selesai....”

“Oi, Phoenix. Si kembar itu kayaknya minta sesuatu tuh.” ucap Alicanto setelah Alan akhirnya mendapatkan kontrol dari kendali sisi liarnya kembali.

“Huh ??”

Phoenix menoleh ke belakang, dan di sanalah ia melihat si kembar Amphisbaena sedang menyodorkan kedua tangan mereka kepadanya, memohon sesuatu sebagai hadiah atas kontribusi mereka di pertarungan sengit yang baru saja terjadi itu.

“Si kembar Amphisbaena lapar, minta makanan.”

.......

“Uhhhh....... Ada yang punya makanan di sini ??”

Seketika, tatapan mereka semua kecuali Firebird dan Phoenix mengarah ke bangkai laba-laba raksasa itu yang ada di dekat mereka. Itu, adalah satu-satunya harapan mereka untuk memuaskan rasa lapar si kembar Amphisbaena yang kelihatannya juga tidak kalah mematikan dari yang lainnya. Di saat itulah, Alicanto mengutarakan seluruh pengetahuannya tentang dunia manusia sebagai pemecahan solusi untuk saat ini.

“Aku dengar kalau ada manusia yang makan laba-laba sebagai cemilan. Kenapa kita nggak ngelakuin hal yang sama juga ??”

Semuanya diam seketika, mengamati mayat laba-laba itu seolah mereka setuju dengan apa yang dikatakan oleh Alicanto barusan.

“Laba-laba itu adalah manusia, dasar bodoh !!” seru Firebird seketika, yang sudah muak dengan seluruh kegilaan yang terjadi di kelompok Phoenix selama ini.

Begitulah. Organ dalam laba-laba yang ditarik oleh Alan waktu itu....... Itu adalah manusia yang sudah tidak berbentuk lagi karena mutasi gila-gilaan dan juga ledakan besar dari tombak Phoenix.

Beruntung Alan tidak memakannya.

1
YLG Channel
ceritanya seruu & sangat menarik...Smangat terus ya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!