Kisah ke 2 ini menceritakan tentang gadis berusia 8 tahun bernama Malla yang mengalami kelumpuhan karena kanker tulang yang dia derita semenjak lahir.
Keajaiban pun berpihak kepadanya saat ayah Malla berhasil menyelesaikan penemuanya yang di beri nama project D.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ibu Malla memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak sanggup menanggung rasa bersalahnya.
Sedangkan ayah Malla, mengirimkanya ke pasukan revolusi untuk menyembunyikan Malla dari pihak yang menginginkan project D di tubuh Malla.
Bahkan gadis kecil ini dipaksa untuk bisa memegang pisau untuk membunuh di usianya yang masih 8 tahun.
note : untuk kisah ke 2 ini tidak harus membaca kisah sebelumnya, karena menceritakan tokoh yang berbeda meski semua cerita Milky Way saling terhubung
warning!
Milky Way adalah cerita penuh dengan kekerasan dan hal hal berbau dewasa. selain itu, tidak akan ada kisah yang berakhir dengan happy end.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Monster
Malla merasakan pelukan Yuan yang semakin erat tersebut menyadari bahwa pemuda tersebut benar benar peduli dengannya. Bahkan gadis tersebut terang terangan menatap Yuan dengan menyentuh wajah pria tersebut dengan tangan kirinya.
Saat itulah dia menyadari bahwa tangan kanannya masih meruncing dan menusuk punggung Yuan. Tangan yang semula dia sangka sedang merangkul tubuh Yuan, ternyata tengah melukai pemuda yang sedang melindunginya.
Dengan menahan sedih yang hampir pecah menjadi air mata, Malla berusaha mencabutnya.
Namun tangan Malla, Yuan tahan agar lukanya tidak terbuka lebih lebar.
Dengan wajah tenang dan sedikit senyum, Yuan menggelengkan sedikit wajahnya agar Malla tidak mencabut lengannya.
Malla yang semakin sedih, tidak cukup mampu menatap Yuan. Karena itu hanya akan menambah rasa bersalahnya.
Saat Malla menundukkan mukanya, dia melihat dengan jelas ujung tangannya yang runcing mulai menyusut sendiri tanpa bisa dia kendalikan.
Malla memegang ujung tangannya yang runcing tersebut agar tetap berada di dada Yuan. Cucuran air mata mulai menetes saat Malla merasa bahwa dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
Merasa putus asa, Malla memeluk erat tubuh Yuan dan mengarahkan ujung tangannya yang masih tajam tersebut agar menusuk dadanya juga.
Tidak jauh dari mereka, Vergus yang melihat kelakuan Malla pun langsung merasa memiliki ide dan harapan akan niat awalnya.
“siapapun yang mendengarku, siapkan tim medis!!!” teriak Vergus
Meski hampir semua prajurit sudah dibunuh Malla, ada beberapa yang cedera masih sanggup mengoperasikan dan memanggil mesin tim medis dari alat komunikasi mereka.
Tidak beberapa lama, datanglah beberapa robot yang membawa peralatan medis sedang menyinari tubuh Yuan dan Malla.
Begitu mesin mesin tersebut melihat kondisi mereka dari cahaya kuning, beberapa robot tersebut menghampiri dan langsung membawa tubuh Malla dan Yuan yang saling berpelukan dengan mesin pengangkut.
...****************...
Berhari hari berlalu. Semua peserta ujian masih dalam posisi siaga akan berbagai rintangan yang mereka dapatkan dari Sadonz.
Berbeda dengan Yuan dan Malla yang sengaja Vergus sembunyikan. Yuan saat ini masih dalam perawatan. Meski terluka cukup parah, tubuhnya mampu bertahan dari berbagai situasi kritis.
Sedangkan Malla, saat ini dia sedang di kurung di sebuah ruangan khusus yang terbuat dari logam mistis sebagaimana yang ada di dalam dirinya.
Ruangan ini dirancang khusus untuk Malla agar tidak bisa meloloskan diri dari kurungan Vergus.
Berhari hari Malla habiskan waktunya dengan merenung. Bibirnya agak memucat dan wajahnya tampak lesu. Meski beberapa robot keluar masuk membawa beberapa makanan, Malla tidak kunjung merubah sikapnya. Dia hanya terdiam dan merenung di pinggiran ruangan.
Saat ini, pikiran Malla hanya dipenuhi oleh rasa penyesalan. Ini pertama kalinya dia merasa seperti terlindungi, namun dia malah melukainya.
Penyesalan itu membuatnya memikirkan kembali masa lalunya di mana saat Yuan melukainya dengan cukup parah. Tatapan Yuan saat itu juga penuh dengan penyesalan.
Perlahan lahan, Malla mulai menyadari akan perasaan dan niat Yuan selama ini. Meski mereka di jadwalkan untuk bertarung, Yuan masih berusaha keras untuk menjaganya. Hal ini yang membuatnya berpikir dengan keras, apakah dia sanggup saat berhadapan dengan Yuan nanti?
Ini bukan soal kemampuan, akan tetapi soal perasaan. Mereka berdua sama sama tidak menginginkan sebuah pertarungan.
Seketika itupun Malla langsung bangkit dan menatap ke arah pintu ruangan yang dia anggap memiliki pertahanan yang cukup lemah dari sisi lain ruangan.
Dengan memusatkan kekuatan ke lengannya, tangan Malla pun berubah seketika menjadi lebih keras. Kulit di sekujur lengan terlihat semakin kencang dan lebih berwarna agak terang.
Satu pukulan kecil dia hantamkan ke arah pintu. Membuat seluruh ruangan jadi bergetar seperti terkena dampak gempa sekala 7.
Merasa optimis akan niatnya, Malla membungkukkan sedikit badannya seperti bersiap dengan serangan ke dua nya.
Setelah mengumpulkan seluruh kekuatannya ke tangan kanannya dan kedua kakinya, Malla menerjang dengan kecepatan yang sangat tidak normal untuk seukuran manusia.
Kecepatannya tersebut dia padukan dengan kekuatannya di tangan kanan. Satu pukulan yang cukup keras bahkan jauh lebih keras berkali kali lipat dari pukulan pertama langsung membuat seisi ruangan bergejolak bagai puding jeli.
Pintu yang Malla pukul seperti tidak memiliki dampak apapun. Hanya membuat seisi ruangan bergoyang dengan lentur.
Malla pun menyadari bahwa ruangan ini memang dibuat khusus untuk menahannya.
Seberapa kuat dia memukul, hanya berdampak menggoyang saja tanpa menggores sedikitpun.
Merasa kesal, Malla memusatkan lagi kekuatan dan pikirannya hingga membuat kedua lenganya meruncing seperti pisau panjang.
Beberapa kali Malla menyayat pintu dengan tangannya yang kuat tersebut, sama sekali tidak meninggalkan bercak sedikitpun di pintu.
Setelah Malla merasa usahanya sia sia, dia pun melangkankan kakinya ke arah sisi dinding yang lain dan memakan makanan yang disediakan untuknya.
Malla memakan semua makanan dengan liar sambil menatap ke arah sebuah kamera pengintai yang terus mengawasinya.
Dari balik kamera pengawas tersebut, ternyata selama ini Vergus sedang memantaunya dari ruangan lain.
Vergus memakan kacang dan meminum soda sambil melihat Malla selayaknya dia melihat tontonan bioskop di layar monitor.
“bagus, menurut lah untuk menghemat tenagamu. Aku akan memberikan sedikit hadiah unuk memeriahkan pertunjukan kalian nanti” ucap Vergus sambil tersenyum dan melempar kulit kacang ke arah layar
...****************...
di tempat Alex berada, tampak terlihat pria tersebut sedang berusaha mengambil kesadarannya kembali. Meski tubuh dan tulangnya banyak yang rusak, dai masih bisa bernafas dengan benar dan menggerakkan kedua tangannya.
Meski sekujur tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa, Alex tampak terlihat dengan mudahnya mengambil beberapa bola sebesar kelereng dari balik saku celananya.
Dia melempar bola pertama yang langsung mengeluarkan cahaya kebiruan yang mengurung dirinya agar tidak terdeteksi oleh serangga pengintai milik Sadonz.
Sedang bola ke dua dan ketiga dia lempar secara langsung di hadapannya hingga bola tersebut terbelah dua masing masing dengan saling terikat oleh cahaya merah seperti laser dan saling menyambung hingga menyerupai sebuah layar yang cukup besar.
Untuk bola ke empat, dia pasang di pundaknya hingga bola tersebut terpisah jadi dua bagian menuju telinga dan pipinya sebagai alat komunikasi.
Setelah beberapa lama Alex menghubungi rekanya, tampaklah di layar besar di hadapannya wajah temannya yang sedang meminum air dari kaleng minumannya.
“kau masih hidup?” tanya temannya
“jemput aku” balas Alex
“kenapa tidak mati saja?”
“aku tidak memiliki banyak waktu luang untuk bercanda”
“bercanda adalah perbuatan biadabmu. Untuk apa kau membutuhkan bantuan kami jika akhirnya kau tinggalkan kami disini? berbahaya katamu?”
“tolong jemput aku sekarang, situasi makin memburuk. Kau boleh melampiaskan amarahmu nanti.”
“7 kali pukulan tanpa perlawanan!” tawar teman Alex
“kau tidak lihat aku sedang sekarat seperti ini?!” balas Alex
“6 kali atau kau membusuk saja disitu”
Mendengar ucapan temannya yang begitu menyebalkan, Alex pun hanya bisa mengangkat tangannya tanda setuju.
Seketika itu juga beberapa teman Alex yang dia bawa untuk misi penyelamatan Malla bersorak dan bergegas menjemput Alex dengan pesawatnya.
Setelah Alex memutuskan komunikasinya, dia merayap dan menyandarkan tubuhnya di pohon yang tumbang.
Setelah menghela nafasnya, Alex merasakan beberapa cairan di tasnya banyak yang pecah.
Dia melihat cairan berwarna merah pekat yang sengaja dia siapkan untuk Yuan sebagai tiket keluar jika sewaktu waktu dia tidak memeliki jalan untuk menyelamatkan diri.
Cairan yang dia bawa tersebut adalah cairan yang bisa membuat Yuan hilang kendali sebagaimana yang terjadi di dalam kandang milik Vergus sebelumnya.
Dari kejadian itulah Alex berniat membuat Yuan hilang kendali dan membunuh semua orang di sekitarnya. Meski dia tidak yakin bisa mengalahkan Vergus, setidaknya Yuan dalam kondisi seperti itu mampu memberinya peluang untuk menyelamatkan Malla.
...****************...
Di dalam tahanan, Malla terlihat sedang berbaring tengkurap dan memainkan ujung jari telunjuknya yang tajam untuk menggores dan menulis namanya di lantai.
Beberapa kali pun Malla mencoba menulis, goresan goresannya langsung memudar. Namun Malla seperti tidak peduli dengan apapun. Tatapannya tampak kosong. Sedangkan jarinya terus menerus menulis.
Tiba tiba, terasa ada sedikit guncangan di dalam ruangan yang sempat membuat Malla bangkit dan menatap ke suatu lantai yang tampak mulai turun dan naik lagi membawa sesosok tubuh pemuda yang terbalut beberapa perban.
Wajah Malla yang sebelumnya murung langsung berubah ceria seketika begitu melihat tubuh yang dibawa masuk ke dalam ruangan ternyata adalah Yuan. Yuan masih hidup dalam kondisi badan penuh perban dan beberapa robot serangga yang terus menerus menjahit dan menutupi lukanya dengan laser.
Dengan begitu riangnya Malla menghampiri Yuan seperti anak kecil yang lugu. Entah kenapa Malla tampak seperti anak kecil semenjak dia mengalami perubahan wujud dan bangkit dari kematiannya.
Yang jelas, Malla yang sekarang agak sedikit berbeda dengan Malla sebelumnya.
Malla dengan cepat memeriksa detak jantung Yuan dengan menempelkan telinganya di dada pemuda tersebut.
Merasa Yuan masih hidup dan dalam posisi sedang tidur pulas, Malla pun merebahkan tubuhnya di samping Yuan dan menatapnya begitu lama. Berharap pemuda tersebut akan terbangun secepatnya.
Empat jam berlalu, di dalam kurungan , Malla tampak sedikit bosan tetapi dia tidak sekalipun memalingkan wajah dan pandangannya dari Yuan.
Telinga Malla yang sensitif dengan mudahnya mendengar tekanan detak jantung Yuan yang naik.
Malla beranjak dari posisi berbaringnya dan menghampiri Yuan dengan lebih dekat.
Dengan tatapan lembut, Malla mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Yuan yang nampak mulai berkeringat dingin.
Malla menyadari bahwa Yuan seperti ingin terbangun dari mimpi buruknya akan tetapi tidak mampu. Yuan seperti terjebak dalam mimpi buruk dari penyesalannya selama ini. Bahkan pemuda itu tampak jelas sekali meringis menahan rasa sakit hatinya yang luar biasa.
Dengan lembut Malla menaruh telapak tangannya ke dada Yuan. Begitu kulit telapak tangan Malla menyentuh kulit dada Yuan, perlahan lahan pemuda itupun mulai tenang dan membuka matanya.
Yuan terbangun dari mimpi buruknya begitu merasakan sentuhan hangat tangan Malla. Begitu dia tersadar, dia melihat Malla sudah berada di atas tubuhnya dan menatapnya begitu dekat.
Begitu dekatnya wajah mereka saling menatap hingga baik Malla maupun Yuan sama sama terpesona satu sama lain. Ini pertama kalinya mereka saling menatap dengan sangat dalam.
“apa kalian sedang mempertontonkan drama anak sekolahan?” ucap Vergus dari balik layar
Suara Vergus yang sudah disambungkan di ruangan tersebut langsung membuat Yuan tersadar dan bangkit dengan mendorong Malla menjauhinya.
Yuan meraba tubuhnya yang dia rasa masih menyisakan rasa sakit. Kemudian pemuda tersebut berusaha berdiri dan menatap sekelilingnya yang hanya ada Malla dan dirinya saja di dalam ruangan.
Hal ini membuatnya semakin putus asa. Dia sadar bahwa dia tidak mungkin bisa menghindari hal yang diinginkan Vergus yaitu melawan Malla.
Saat ini tangan kiri Yuan meraba pisaunya yang ternyata masih berada di sabuk pinggannya. Kedua matanya sedikit berkaca kaca sambil menatap bayangan wajahnya di pisau tersebut.
Seketika itu juga beberapa robot serangga sebesar lalat menghampiri dan hinggap ke leher Malla dan Yuan. Dengan cepat robot robot tersebut saling mengikat dan menyatu menyerupai kalung di leher mereka berdua.
Malla yang berusaha melepas benda aneh tersebut langsung terluka. Kulit Malla yang seharusnya sangat kuat dan keras tersebut langsung terkoyak dan berdarah. Karena robot serangga tersebut memang dibuat khusus dari campuran logam Adamant seperti halnya logam yang ditanamkan di tulang Malla.
“jangan berpikir, bisa lari ataupun lepas dari kalung itu. Dalam 30 menit, leher kalian akan terpotong semua jika tidak ada salah satu yang mati. Pertunjukan, dimulai sekarang” ucap Vergus dari balik layar
Yuan menggenggam erat tangannya hingga berdarah memukulkan kedua tangannya ke dinding dengan keras berkali kali.
Malla yang melihat sikap aneh Yuan selalu berusaha untuk mendekati dan menatapnya, namun Yuan selalu memalingkan wajahnya dan berjalan menghindarinya.
Di sisi lain ruangan, Vergus dan bawahannya mempersiapkan tayangan langsung ke berbagai saluran milik Sadonz.
Di tengah kebingungannya, Yuan mulai mengambil jalan yang sebelumnya dia rencanakan, yaitu dengan memberikan nyawanya untuk Malla agar Malla bisa terus hidup.
Selama ini, Yuan hanya merasakan penyesalan yang luar biasa setiap mengingat apa yang telah terjadi kepada Rini dan Carlla.
Rasa penyesalan akan ketidakmampuannya untuk melindungi orang yang sangat berharga baginya. Penyesalan itu menggumpal menjadi penderitaan yang terus menusuk hati selama dia hidup.
Kali ini, Yuan berniat untuk tidak lagi merasakan hal yang sama untuk ketiga kalinya. Dia benar benar berniat mengorbankan dirinya.
Setelah berpikir panjang, akhirnya Yuan menatap Malla dengan sangat layu. Tatapan yang dia anggap untuk terakhir kalinya itu menunjukkan dengan jelas betapa dia sangat menyesal.
Malla yang melihat tatapan Yuan kepadanya, langsung tersadar dan tersentak hatinya. Karena tatapan tersebut serupa dengan tatapan ibunya sebelum bunuh diri.
“jangan menatapku seperti itu” ucap Malla
“apapun yang terjadi, tetaplah berusaha untuk hidup” balas Yuan
Malla yang mendengar detak jantung dan cara bernafas Yuan semakin yakin bahwa pemuda di depannya benar benar putus asa dan hendak melakukan hal bodoh demi dirinya.
Hal ini membuat Malla semakin sedih. Bukan hanya karena dia melukai Yuan yang telah melindunginya, akan tetapi karena menyadari betapa besarnya tekad pemuda tersebut untuk melindunginya bahkan dengan nyawanya sendiri sekalipun.
“tatapanmu dan kata katamu membuatku teringat dengan orang yang meninggalkanku sendirian”
Yuan pun berjalan menghampiri Malla dan dengan perlahan dia mengulurkan tangannya.
“namaku Yuan”
Malla hanya menatap Yuan dengan mata yang memerah menahan air matanya jatuh. Gadis tersebut seperti tidak mempedulikan apapun. Karena saat ini hatinya sedang beradu dengan nada jantung dan nafas Yuan yang tengah menunjukkan isi hatinya tanpa kata.
“masih ada beberapa waktu lagi, tetapi aku tidak ingin berlama lama berada di depanmu, aku takut jika hal itu akan membuatmu semakin terluka nanti.” Ucap Yuan sambil mengambil pisaunya.
Dengan cepat, pisau tersebut dia tusuk kan ke lehernya sendiri. Malla yang sudah mengetahui niat bodoh Yuan sejak awal, dengan sigap menahan mata pisau tersebut dengan tangannya.
Namun, karena pisau Sadonz memiliki kadar logam Adamant, telapak tangan Malla langsung tertembus hingga ujung mata pisau menusuk tidak terlalu dalam ke leher Yuan.
Yuan yang mengetahui itupun tidak tinggal diam, dia semakin menekan ke dalam pisaunya agar segera mengakhiri hidupnya.
Malla yang merasa sedih pun hanya menggelengkan kepalanya sambil terisak menatap sedih ke arah Yuan.
"ibu, jangan lakukan ini, jangan meninggalkanku" ucap Malla yang sudah terbawa suasana dan menganggap bahwa Yuan adalah ibunya yang hendak bunuh diri.
Melihat Malla yang terluka hatinya sempat membuat Yuan menghentikan sejenak niatnya. Akan tetapi dia merasa jika itu hanya berakibat buruk untuk Malla nantinya, Yuan semakin menekan tusukannya melalui luka di tangan Malla.
Vergus yang mengetahui niat Yuan, langsung mengerahkan beberapa serangga mesin yang melesat seperti angin memasuki lubang udara menuju kedalam kurungan.
Serangga serangga tersebut langsung menusuk leher Yuan dan beberapa lagi menusuk di lengannya dengan menyuntikkan beberapa cairan buatan yang bisa memicu amarah Yuan.
Seketika itu juga mata Yuan mulai berubah memerah dengan detak jantung yang bergejolak.
Malla yang sempat terbawa suasana akan masa lalunya tidak menyadari Yuan yang di hadapannya berubah menjadi iblis.