Bagaimana jadinya jika kalian dipertemukan kembali dengan masalalu yang belum usai?
sering dihadapkan dengan situasi yang begitu ambigu nan membingungkan.
Airin Azalea Rustandi adalah perempuan sangat tangguh wanita dengn segala lukanya. berpacaran dengan kakak dari sahabatnya Kenzo malik arsenio. namun tak direstui oleh sang ibu dari kedua belah pihak. yang membuat mereka berdua akhirnya berpisah. Namun Azalea yang masih kukuh dengan hatinya. ia tak lagi mengenal laki-laki lain setelah putus dengan Kenzo.
tiba-tiba Azalea dihadapkan kembali bertemu dengan Kenzo setelah kian lama berpisah. Akan kah kisah mereka akan bersatu atau berpisah?
yuk kita ikuti kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riffzianur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 24
"Kamu!!!" geram Vaola pada Nayla.
"Nay ... Udah!!"
Nayla mendengus lalu membuang muka kearah lain.
"Ada apa bu? Mohon maaf sebelumnya kalau saya gak sopan. Tapi, saya ada keperluan untuk saat ini. Kalau memang sangat penting dan mendesak, mungkin bisa disini dan disaksikan oleh mereka bertiga," ucap Zea dengan halus.
Vaola mengapalkan tangannya karena rencananya untuk menarik Zea tak berhasil. Ia harus berhadapan dengan Alvaro dan Raymon yang merupakan pemilik Pondok pusat yang ada dikota kembang.
Alvaro bersidekap sambil memicingkan matanya melihat gerak gerik dari Vaola.
"Udah Ze, kita berangkat aja. Vaola cuma pengen marah-marah sama lo palingan sepeti biasanya. Biarin aja!!" ucap Raymon tanpa embel-embel bu, sungguh tidak hormat. Di tambah ia menatap tajam kearah Vaola. Membuat wanita itu menelan salivanya susah payah.
Raymon langsung mengajak Nayla pergi bergitu juga dengan Zea yang mau tidak mau harus ikut Nayla karena tangannya ditarik paksa olehnya.
"Lain kali jangan teriak-teriak kaya gitu!" tegur Alvaro sebelum menyusul temannya yang sudah berlalu.
"Zea gak budek!! Dan jangan lakuin apapun kalo lo mau selamat" lanjutnya seraya berlalu dari hadapan Vaola yang kini mematung sejenak lalu mengeram karena kegagalan rencananya.
"Sialan!!!" umpat Vaola. Ia merogoh sakunya meraih ponsel yang ada didalamnya.
Lalu ia mendial nomor seseorang
"Hallo! Gue punya tugas baru buat lo. Dan kali ini harus berhasil!!!"
Vaola menyeringai karena yakin rencananya kali ini untuk mencelakai Zea dan Nayla pasti berhasil.
"Gue gak rela kalo Kenzo harus balik lagi sama lo Zea. Kalo hidup gue gak bisa disamping Kenzo lagi. Maka jangan harap lo bisa masuk lagi kedalam kehidupan dia."
Vaola berlalu kearah ruangan pribadinya disekolah itu. Sekolah yang selama ini hanya kedoknya agar bisa terus menarik perhatian Kenzo karena disini ada adiknya.
sementara Zea, Nayla, Alvaro dan Raymond kini sudah sampai ditempat yang dituju. Ternyata tempat itu adalah danau buatan yang dikelola oleh perusahaan papa Raymond.
"Tadaaa... Jeng.. Jeng. Gimana? Cakep gak?" ujar Raymond sambil memebentangkan kedua tangannya menghirup udara segar yang ada ditempat itu.
"Masya Allah, ini... Cakep banget Ray," ucap Nayla dengan mata yang tak berkedip karena saking takjubnya dengan tempat ini.
Padahal saat jalan menuju ketempat ini, ia asyik sekali mengerutu sambil memukul-mukul punggung Raymond. Tanpa peduli jika Raymond tengah membonceng dirinya.
"Bagus kan Yang? Gak sia-sia punggung gue lo geplakin sepanjang jalan." sindir Raymond.
Nayla mendelik sinis kearah Raymond "Cih! Itukan gara-gara lo yang bawa motornya kaya jurig! Coba kalo normal kaya si Alvaro, buktinya Zea diem aja tuh anteng." sarkas Nayla.
"Hehe iya deh yang maaf, abis gue pengen cepet nyampe dan cepet nunjukin tempat ini ke elo." Raymond menggaruk tengkuknya.
Zea dan Alvaro hanya menggelengkan kepalanya bingung dengan kelakuan kedua temannya itu.
"Ze," panggil Alvaro dengan lembut.
Zea mengalihkan padangannya pada Alvaro menarik sebelah alisnya seraya berdeham.
"Ini... Pertama kalinya lo mau gue bonceng setelah hampir 4 tahun kita kenal." ucap Alvaro tanpa menatap kearah Zea. Pandangannya tertuju kedepan melihat air tenang danau.
Zea diam ia baru menyadari satu fakta itu. Hari ini pertama kalinya ia menerima kehadiran Alvaro. Ya, Alvaro mengejarnya dari pertama ia menginjakkan kaki disekolah itu.
"Sorry!" ucap Zea lirih. Ia merasa bersalah karena sadar tak pernah bersikap baik pada Alvaro selama ini.
Alvaro tersenyum lembut dan menatap kearah Zea.
"Woy.. Kalian mau ikut gak? Kita mau baik perahu nih," teriak Raymon pada Zea dan Alvaro.
Alvaro menekuk wajahnya. Ia kesal pada Raymon yang sudah merusak momentum dirinya dengan Zea.
Namun ia tetap menghampiri Raymon pada akhirnya karena Zea telah lebih dulu berjalan kearah Nayla.
"Ganggu lo sat!"
"Alah sia boy! Biasa aja dong. Kan lebih romantis diperahu. Biar ala-ala titanic boy! Iya gak yang?"
"Yang yung yang yung. Gue geprek juga tuh bibir lo!"
Raymon mengerucutkan bibirnya lima centi membuat Zea dan Alvaro tekekeh melihat kelakuan mereka berdua.
Saat berhasil naik diperahu tersebut Raymon mencoba untuk menyalakan mesinnya tiba-tiba keluar percikan api dari tengki bahan bakar.
"Heyy perahu itu tak bisa dipakai.." teriak seorang perempuan dari tepi danau namun terlambat.
Boom
...****************...
"Permisi!! Paket!!!" teriak Daniel di akhiri dengan kekehan.
Kenzo mendengus kala melihat kelakuan usil Daniel. "Ngelamun mulu lo! Kejerat pinjol? Susah bayar? Pake pesugihan... Aww!! Sakit goblok!!" pekik Daniel saat asbak rokok Kenzo melayang ke kepalanya.
"Makanya jangan ngeselin!!" ucap Kenzo.
Daniel mengerucutkan bibirnya seraya terus mengusap-usap kepalanya yang sudah terlihat membiru. Karena asbak milik Kenzo bukan sekedar asbak biasa.
Melainkan terbuat dari tembaga kuningan dan itu sangat berat dan kuat. Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya kening Daniel yang terkena lemparan asbak itu.
Apalagi Kenzo melemparnya cukup keras. Kepala Daniel sedikit pening, baru ia rasakan setelah duduk dikursi depan meja Kenzo.
"anjrit lo Zo, kening gue yang mulus dan halus sampe ijo membiru seperti ini !! Alamak!" ujar Daniel dengan nada menyebalkan.
"Alay lo sat !! Ngapain lo ganggu gue lagi?" tanya Kenzo dengan sinis
"Biasa aja nyet! Gue mau izin pulang. Istri gue nyuruh pulang dia mau ditemenin check kandungan." ucapnya dengan senyum selebar iklan asta gigi merah putih.
"Oh, udah kagak ngambek lagi bini lo?" tanya Kenzo.
"Alhamdulillah enggak, dia minta maaf duluan tadi. Terus nyuruh gua pulang karena semalem dia gak bisa tidur dan uring-uringan. Tapi kagak mau ngabarin gua karena gengsi, cih!"
Kenzo terkekeh mendengar penjelasan Daniel. Rania istri Daniel memang sering sekali ngambek karena hal-hal kecil. Namun yang ia syukuri mantan playboy didepannya ini sangat sabar menghadapi istrinya.
Padahal jika mengingat masalalu mereka berdua yang sempat menjadi Casanova. Hanya saja bedanya Kenzo hanya pernah menyentuh satu wanita.
Dia memang petualang dan ahlis tentang wanita. Tapi tidak untuk merayu hanya sekedar bisa tidur dengan wanita.
Dalam hidup Kenzo bukan dia yang merayu untuk bisa tidur dan bermalam dengan wanita. Tapi, wanita lah yang merayu dan ingin merasakan kehangatan tubuh berotot dan atletis miliknya.
Entahlah, dia memang sering menggoda wanita. Tapi disituasi yang sama ia pun merasa jijik jika wanita itu dengan gampangnya menawarkan dirinya hanya untuk dipuaskan. Atau malah hanya sekedar penasaran dengan rasa tubuh lawan jenis.
"Jadi gimana bro?!" tanya Daniel menghentikan lamunannya.
"Okey!" jawabnya sambil mengangguk.
Daniel tersenyum puas karena ia diberi izin oleh Kenzo.
"Kalo gitu gua bakik dulu." pamitnya.
bersamaan dengan berlalunya Daniel dari hadapannya. Ponselnya berdering menandakan panggilan masuk.
Wajahnya suram saat melihat siapa yang menelponnya.
"Udah gue bilang jangan hubungi gue lagi Shella" geram Kenzo saat menerima panggilan tersebut. Ia meloudspeaker ponselnya agar tak perlu mendengar suara perempuan itu langsung dikupingnya.
"Kenzo!! Zea dan Nayla ..."
Deg.