Memerankan peran bajingan untuk kebebasan. Menjaga harta negara dari musuh, atau memata-matai negara tetangga. Mengejar jejak penjahat besar dan melakukan penyergapan. Semua itu sudah menjadi makanan sehari-hariku. Aku Aris, code name 'Cermin'. Aku percaya diri dengan kemampuanku dan memiliki satu cita-cita.
Yaitu menangkap buronan kelas SSS 'Queen of Darkness'
Lalu mencapai prestasi yang luar biasa di antara para kalangan agen rahasia. Kemudian pensiun dengan gunung uang. Betapa indahnya jika itu menjadi kenyataan.
Tapi mengapa jadi begini?!
"Kamu tak bisa kabur Tuan 'Cermin', kamu ada di area kekuasaanku." Bukan aku yang menangkapnya, tapi malah aku yang di tangkap?!
"Dek, kamu.. serius adalah Queen?" Belum lagi, ternyata 'Queen of Darkness' adalah Adikku sendiri!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arin starlit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertempuran di mulai
Pertempuran di mulai
Cukup lama aku dan Mayra berbincang sampai makananku habis. Kemudian Princess datang dengan Ardan. Itu aneh, bukankah Mayra bilang mereka bertiga? Selain itu yang datang bersama Princess adalah Naga merah kecil. Seukuran meja makan. Menurut buku yang ku baca, ukuran sebenarnya dari klan naga adalah setinggi sepuluh sampai tiga belas meter.
"Di mana yang lain?" Aku bertanya saat firasat buruk datang menyapaku.
"Bu Glora telah menggila! Dia bahkan melibatkan para penduduk di pesisir! Xinfey dan Hany telah di kendalikan oleh Bu Glora." Naga itu berujar dengan suara yang terdengar panik.
"Guru Lobak menjadi semakin menakutkan Tuan!" Princess melompat ke pelukanku. Ia bertemu dengan Vy, Vy tampaknya menghibur Princess. Ada sepasang tanduk mungil dan sayap kelelawar di punggung Princess. Kucing ini menjadi lebih lucu menurutku.
"Hm... Saat aku di lukai olehnya, dia sedang dalam proses mengendalikan kepala sekolah. Dia juga berkata kalau aku hanya mengganggu misinya saja." Aku berujar saat aku mengusap kepala Princess.
Jika di pikir-pikir lagi, saat mengintrogasi Nightmare saat itu, Nightmare pernah berkata kalau mereka adalah pemberontak yang tidak menerima kematian Dewa Iblis. Mereka adalah salah satu dari beberapa mahluk yang percaya kalau Dewa Iblis akan kembali. Jadi mereka merusuh dan membuat onar dimana-mana sembari berharap Dewa Iblis datang dan menghukum mereka. Hanya itu yang ku ingat, aku tidak mendengarkan karna mendengar interogasi itu bukan hal yang menyenangkan. Itu lebih ke arah membosankan.
"Ku pikir dia mungkin mencari Pedang Darksein yang di bawa Nightmare. Bagaimanapun juga keduanya ada di kelompok yang sama." Mayra memijat dahinya. Mungkin dia merasa pusing.
"Jangan membebani dirimu. Biarkan aku menyelesaikan masalah ini." Aku berujar tenang.
"Tapi kamu baru saja sadar Aris!" Naga kecil sepertinya juga menghawatirkan aku.
"Pedang itu ada padaku, sebenarnya itu pedang yang indah. Aku menyukainya. Jadi aku harus memperjuangkannya bukan?" Aku bertanya dengan senyum mengembang.
"Tapi-" sebelum Mayra menyelesaikan kalimatnya, aku menutup bibirnya dengan jari telunjukku.
"Sst... Kalian berdua istirahat saja. Biar aku, Vy, dan Princess yang menangani ini. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa membiarkan orang asing mengganggu kehidupan remajaku yang menyenangkan ini." Seringai bangga ku tunjukkan untuk menghibur hati kedua sahabatku itu.
Lalu aku berteleportasi. Ke arah lapangan. Ku perintah Vy untuk mulai mendetoksifikasi pikiran orang-orang dari senyawa pemberian Glora. Lalu memerintah Princess agar mulai prosedur evakuasi kepada orang-orang yang mulai sadar.
"Glora! Datang padaku. Kamu menginginkan ini kan?" Aku yang berdiri di tengah lapangan mengeluarkan pedang Darksein.
"Nak, aku takkan melukaimu bila kamu memberikan itu padaku." Glora mendekat dengan langkah pelan.
"Yang benar? Aku mengalahkan kekasihmu bukan?" Yang aku maksud adalah Nightmare. Glora dan Nightmare adalah sepasang kekasih.
"Berikan saja padaku sialan!" Sepertinya kesabarannya sudah lama habis. Glora melayangkan pukulan keras ke dadaku. Itu bagian yang terluka kemarin.
Sebenarnya meski luka itu telah aku regenerasikan, pukulan keras seperti itu masih saja melukai organ dalamku. Sialnya tubuhku ini belum sepenuhnya pulih. Aku baru saja terbiasa dengan kekuatan kegelapan. Sedikit luka kecil atau kurangnya kepercayaan diri membuat kemampuan dan kekuatanku melemah.
"Senjata itu adalah milik Harist! Dan dia takkan memberikannya kepada siapapun!!" Aku menoleh ke sumber suara, itu adalah Mayra! Argh gadis bebal, bukannya aku menyuruhnya untuk beristirahat!?
Tapi kata-katanya aneh. Biasanya dia memanggilku dengan sebutan Aris, bukan Harist. Penekanan pada kata Harist membuatku berpikir banyak hal. Glora tampaknya tidak senang samasekali dengan kata-katanya. Dia mengangkat tangannya untuk menghempaskan tubuh Mayra.
Maka sebelum itu aku harus membawanya pindah dari sana. "Ohoho, tidak-tidak, kamu tidak akan ku biarkan pergi." Tangannya yang tadi di arahkan ke Mayra, sekarang di arahkan kepadaku. Tanah tempatku berpijak bergetar pelan sembari merekah. Lalu akar besar muncul dan menjerat tubuhku.
Semua kejadian berlalu sangat cepat hingga tak bisa ku hindari samasekali. Aku tidak bisa berubah bentuk atau mengeluarkan sihir. "Jangan melakukan hal percuma, akar penyegel itu bukan sembarangan akar. Itu akan menjerat orang yang aku inginkan hingga tak bisa menggunakan sihir sesuai keinginan hatinya."
Glora tertawa tapi untunglah sebelum dia bisa menyentuh bilah Darksein, Vy sudah muncul dan menyimpannya dalam sihir ruang. Saat tawanya terhenti, Glora menatapku dengan penuh kebencian. Rambutnya yang semula hijau berubah menjadi ungu gelap. Lalu sepasang matanya memerah dan tanduk Iblis muncul di kepalanya. Jadi itu wujud aslinya. Rupa siluman lobak itu sepertinya hanya kamuflase.
"Seharunya aku membunuhmu saja. Jika kamu mati aku bisa mendapatkan Darksein kembali bukan?" Saat Glora lagi-lagi mengangkat tangannya, rekahan tanah sebelumnya melebar dan para zombi dan skeleton merangkak keluar dari sana. Mereka menyebar kemana-mana. Dan mulai menyerang orang-orang yang belum di evakuasi.
Zombi dengan penampilan menjijikan dan bau busuk mereka. Sedangkan skeleton dengan suara gemerutuk dari geraham mereka. Kedua Undead itu berkeliaran seperti hama. Para guru tampaknya memutuskan untuk melawan. Begitupun para murid. Tampaknya pertarungan ini lebih buruk di banding peperangan melawan Nightmare. Korbannya akan lebih banyak dan aku sama sekali tidak bisa bergerak!
"Jangan khawatir, giliranmu juga tiba, Harist!" Glora tampaknya mulai mengamuk. Ia mengangkat kedua tangannya dan cairan gelap dan lengket tampaknya berkumpul membentuk bola di atas tangannya. Saat gumpalan hitam itu membesar seukuran meja makan enam kursi, Glora melemparkannya padaku. Saat ku pikir inilah akhir dari hidupku, aku tak merasakan apa-apa selain suhu di sekitarku yang sedikit naik.
Itu adalah Ardan yang berada dalam bentuk naga merah. Ia membentangkan kedua tangannya dan menciptakan perisai api yang ukurannya dua kali lipat tubuhnya. Perisai itu memblokir cairan hitam. Naga merah di depanku sepertinya menggumamkan sesuatu, aku memfokuskan diri agar bisa mendengarnya.
"Tuanku belum dewasa, Tuanku belum kuat, Tuanku belum sepenuhnya bangkit! Untuk itu dia harus hidup. Selama Tuanku hidup, aku juga akan hidup! Aku takkan membiarkan Tuanku pergi lagi!"
Apa yang dia katakan? Siapa yang Tuannya? Apa maksud kalimatnya?
"Jangan pikirkan itu, jika kamu tidak bertindak segera, mungkin saja teman seasrama mu itu akan tiada." Itu bisikan yang ku dengar dari telingaku. Itu adalah suara 'Diriku' yang aku temui dalam alam bawah sadarku.
Aku tau apa maksudnya tapi di tengah teriakan dan darah ini, aku kesulitan untuk mengendalikan kegelapan yang berkecamuk dalam diriku!
Aku kembali tersadar saat mendengar raungan keras. Itu raungan dari Ardan, sayapnya tampak bolong seperti terkena air keras. Dan bolongan itu terus menyebar, seperti kertas tisu yang terbakar. Tak hanya sayap, punggung dan beberapa bagian tubuhnya juga tampak terluka.
Aku masih mencoba menenangkan diri meski Ardan terluka. Selama aku mampu mengendalikan kegelapan dalam diriku, mengalahkan Glora pun bukan hal sulit.
Glora merentangkan jarinya dan sebuah pedang hitam keunguan muncul perlahan.
"Jika saja kapasitas inti energiku sekuat Yang Mulia Dewa Iblis, membunuh kalian akan terasa lebih mudah." Glora menggenggam pedang itu dengan kedua tangannya.
Saat ia akan maju untuk membunuhku, Naga biru gelap datang dengan petir di sekitarnya. Aku yakin itu Xinfey. Raungan marah terdengar saat ia menembakkan beberapa bola petir ke arah Glora. Namun Glora bisa memanipulasi angin membuat gerakannya cepat dan dia mampu muncul dan menghilang seperti seseorang yang berteleportasi. Tapi itu bukan sihir, aku tidak merasakan energi sihir darinya.
"Mungkin jika pengalaman bertarungmu lebih banyak, kamu bisa mengalahkan ku." Lalu pedang itu di hunuskan ke bagian perut Naga besar. Raungan marah terdengar memenuhi langit.
"Xinfey! Hati-hati dengan tandukmu!" Itu suara Hany.
Namun Xinfey terlambat bereaksi dan salah satu tanduknya patah akibat tebasan Glora.