Obsesi, suatu kecenderungan untuk memiliki ataupun memperhatikan sesuatu secara berlebihan.
Perasaan yang tidak sehat dan berlebihan terhadap seseorang ini di miliki oleh Grania Ivy Livingston, putri sulung dari Garrick Filbert Livingston dan Jennifer Priscillia Livingston.
Jika obsesi itu tertuju pada orang lain tentu akan sedikit lebih mudah situasi nya, tetapi wanita berusia dua puluh lima tahun itu terobsesi pada kekasih sepupu nya sendiri.
Hingga akhirnya obsesi itu berbalik pada dirinya tanpa diri nya ketahui bahwa sebenarnya diri nya di obsesikan oleh dua pria berbahaya.
Siapakah dua pria itu? Dan siapa yang akhirnya akan menang?
-Jika meleset dari alur mohon di maklumi
-Sequel dari karya "Garrick Possesion"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri_923, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Pergi dan Kembali
"Bos--"
Gama mengangkat tangan nya, pria itu saat ini duduk di balkon kamar nya dengan tatapan lurus. Terlihat kosong.
Xenon menghela napas sejenak, kemudian ikut duduk di kursi samping Gama yang terhalang meja kecil di tengah-tengah nya.
"Aku sudah mengosongkan jadwal mu selama dua bulan ke depan, kau hanya perlu fokus pada semua terapi besok dan seterusnya"
Mendengar penuturan Xenon kini bergantian Gama lah yang menghela napas nya.
"Awasi apa yang perlu di awasi jangan terlewat sedikit pun bahkan sampai kecolongan" Ucap Gama masih dengan tatapan lurus nya.
"Tentang perusahaan dan Veterax, atau nona muda Livingston itu?" Tanya Xenon.
Gama menoleh menatap datar Xenon, pria di samping nya ini sangat suka mempermainkan perintah nya yang jelas-jelas dia sudah tau apa yang harus di jalankan.
"Hahaha baiklah-baiklah" Xenon tertawa renyah mengalihkan tatapan menyeramkan dari bos nya.
Gama pun kembali meluruskan pandangan nya dengan tangan yang menggenggam sebuah gantungan berbentuk bulan dan bintang yang ia curi dari Ivy.
***
***
"Kau tidak berniat untuk kembali tinggal di sini 'bukan?"
Cio menoleh saat mendengar suara yang tak asing, suara yang sering berbicara keras dan pedas pada nya.
Di sebelah nya ia mendapati Ivy tengah berdiri dengan kedua tangan yang memegang cangkir, menyeruput isi dari cangkir itu kemudian Ivy menoleh membalas tatapan nya.
"Tentu tidak, tetapi Daddy mu terus memaksa ku untuk tetap berada di sini" Jawab Cio.
Ivy berdecih. "Pergi lah sesegera mungkin" Usir nya.
Kemudian Ivy pun berbalik hendak pergi dari taman belakang itu, namun suara Cio menghentikan langkah nya.
"Apa perasaan mu pada pria itu masih sama setelah semua ini?"
Ivy terdiam, kedua tangan nya membekap erat cangkir yang berisi coklat hangat itu.
"Apa urusan mu" Sahut dingin Ivy kembali melangkah.
"Kemari lah sebentar, kita bicara"
Ivy berdecak kesal namun tanpa sadar kaki nya berbalik dan kembali mendekati Cio dengan wajah yang terlihat menahan amarah.
"Berhenti--"
"Duduk lah" Potong Cio menarik pelan Ivy hingga terduduk di sebelah nya.
"Hei!" Tegur kaget Ivy, menjauhi posisi nya dari tubuh Cio.
"Selama ini kamu tidak pernah mendapat timbal balik atas perasaan mu pada pria itu 'bukan?" Tanya Cio yang enggan menyebut nama Gama.
"Apa urusan mu?" Ulang Ivy marah.
"Itu urusan ku, karena kamu adik kecil ku" Cio menepuk-nepuk kepala Ivy bak seekor peliharaan yang menurut.
"Haishh menyebalkan!" Ivy menyentak tangan Cio kemudian memalingkan pandangan nya.
"Tapi seperti nya perasaan mu mulai berubah, obsesi mu mulai menyurut pada pria itu" Tebak Cio.
"Aku hanya sedang malas melakukan apapun, bukan berarti rasa cinta ku pada Gama berubah!" Ketus Ivy.
Tidak ada jawaban namun Ivy merasakan deru napas hangat yang menerpa kulit leher nya. Begitu ia menoleh hidung Cio langsung bersentuhan dengan pipi nya.
"Yak!" Ivy langsung berdiri hingga coklat hangat di cangkir yang ia pegang tumpah mengenai kulit tangan nya.
"Shh.." Ivy meringis, menaruh asal cangkir nya kemudian mengibaskan tangan nya.
"Ck, dasar ceroboh!" Omel Cio yang ikut berdiri dan menarik tangan Ivy.
"Lepas!" Ivy mencoba menarik tangan nya tetapi pegangan Cio terlalu kuat.
"Diam dan lihat lah kulit mu terbakar!"
Ivy terkesiap mendengar omelan dari Cio, menatap wajah serta netra keemasan itu membuat jantung Ivy berdebar tidak karuan tanpa wanita itu sadari.
"Ayo kita obati" Cio menarik Ivy untuk berjalan dan Ivy yang masih terdiam hanya mengikuti langkah pria itu seraya menatap punggung kekar di depan nya.
"Aww" Ivy meringis dan hendak menarik tangan nya.
Tetapi Cio masih menahan nya begitu erat dengan tatapan tajam nya.
"Kemarin di dorong hingga terbentur meja tidak mengeluh, sekarang di obati saja terus meringis" Sindir Cio.
"Diam lah!" Bentak tertahan Ivy.
Rasa perih akibat alkohol yang dituangkan ke atas kapas untuk membersihkan bekas coklat hangat itu terasa perih di punggung tangan nya.
"Kalau begitu kamu juga diam lah, aku sedang mengobati. Kamu mu tangan mu ini terinfeksi lalu di ampu--"
"Ada apa ini?"
Ocehan Cio terhenti kala mendengar pertanyaan dari suara bariton, dan pemilik suara itu tak lain adalah Garrick yang di samping nya ada Victor.
"Astaga ada apa dengan tangan mu?!" Seru kaget Victor, mendekat dan mengambil alih tangan Ivy untuk di perhatikan nya.
Tentu Cio tidak menahan hingga akhirnya kini tangan Ivy di genggam oleh adik dari wanita itu untuk di memperhatikan luka tersebut.
"Coklat panas yang Ivy pegang tumpah lalu menyiram punggung tangan nya sendiri" Jelas Cio.
"Kenapa bisa sampai tumpah?" Tanya Garrick yang kini juga ikut memperhatikan punggung tangan putri nya yang begitu memerah.
Ivy yang sejak tadi mengalihkan tatapan nya pun kini melirik Cio namun tak lama sebelum kembali memalingkan tatapan nya.
"Salah aku, Om" Jawab Cio. "Aku mengejutkan Ivy tadi" Lanjut nya.
Garrick menggeleng pelan. "Kalian sudah dewasa kenapa terus bertingkah seperti anak kecil huh?"
"Dia yang menganggu ku, Dad" Adu Ivy pada akhir nya menatap sang Daddy.
Sedangkan Victor saat ini tengah fokus mengantikan Cio untuk mengobati punggung tangan Ivy.
Meniup nya seraya mengoleskan salep pada kulit punggung tangan itu, Victor begitu teliti mengingat seperti apa sikap pria itu pada kakak perempuan nya.
"Iya, aku yang salah" Jawab Cio atas aduan Ivy.
Garrick hanya menggeleng pelan dengan ekspresi lelah nya.
"Bagaimana Vic?" Tanya Garrick.
"Sudah aku oleskan salep, kalau besok masih belum kering kita ke dokter saja" Jawab Victor memperhatikan punggung tangan Ivy.
"Jangan terkena air" Peringat Garrick menatap Ivy.
Ivy yang kembali merasa perhatian Daddy nya mulai kembali pun tersenyum lebar dengan anggukan di kepala nya.
...****************...
penasaran nih😆