Indonesia
NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Getaran ledakan sonik yang menghantam dinding terowongan belakang mengguncang bodi kereta Vanguard hingga berderit nyaring. Suara runtuhan es dan batu basaltik yang menimbun jalur rel lama menciptakan gemuruh pekat yang seolah meretakkan udara di sekeliling mereka. Namun, di dalam kabin utama kereta yang kini dipenuhi oleh aroma rempah hangat dan kepekatan asap kaldu, dinamika para kru bergerak dengan presisi yang sangat kontras dengan kepanikan di luar.

Di pos komando pusat Korporasi Frost-Guard yang terletak jauh di balik dinding es abadi, kemurkaan telah mencapai puncaknya.

Berdiri di hadapan layar pemantau holografik raksasa yang menampilkan puing-puing pos pemeriksaan hancur dan status hancurnya fasilitas penahanan bawah tanah, Jenderal Vane mengepalkan tangan kanannya hingga buku-buku jarinya memutih mengeluarkan bunyi kertakan tulang yang tajam. Wajahnya yang dipahat oleh dinginnya musim dingin abadi tampak semakin kaku, dihiasi oleh bekas luka bakar vertikal di sisi kiri pelipisnya—luka masa lalu yang selalu membangkitkan dendam kesumat membara.

"Kereta rongsokan itu..." suara Jenderal Vane bergemerincing rendah, dingin, dan penuh racun mematikan yang mencerminkan otoritas absolut militer Aether. "...berani-beraninya mereka menginjak-injak fasilitas pertahanan kita, merusak sektor bawah, dan mempermalukan pasukan khusus di hadapan para petinggi."

Jenderal Vane teringat pada nama-nama yang tertera dalam berkas buronan utama. Nama Ren, pemuda yang membawa inti mesin terlarang—benda yang sama yang pernah merenggut nyawa Lily di masa lalu, meretakkan segalanya dalam hidup Vane dan meninggalkan kehancuran yang tak bertepi.

"Panggil Komandan Skuadron Khusus White-Death," perintah Vane tanpa menoleh ke belakang, matanya menatap tajam ke arah titik merah Vanguard yang bergerak di peta topografi. "Kerahkan seluruh armada pemburu udara dan darat. Aku tidak ingin ada sisa gerbong yang tersisa. Kejar mereka sampai ke ujung rel terakhir, dan bawa kepala Ren kepadaku dalam keadaan hidup atau mati!"

Di dalam kabin Vanguard, jarak antara hidup dan mati diukur dalam hitungan detik.

"Leo! Belokkan kemudi ke jalur pintas sisi timur sebelum meriam plasma mereka mengunci ekor kita!" teriak Soju dengan suara melengking penuh urgensi, tangannya menunjuk peta navigasi holografik tua yang diproyeksikan di atas konsol kendali tengah. Gadis berambut kuning cerah itu memelototi garis-garis jalur rel bawah tanah yang saling bersilangan bagai labirin es yang mematikan.

Di kursi kemudi utama, Leo mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Keringat dingin mengalir deras membasahi pelipisnya yang kotor oleh pelumas mesin. Kedua tangannya mencengkeram kuat-kuat tuas kendali hidrolik lokomotif, memanfaatkan lapisan pelindung baja titanium baru yang baru saja ia pasang untuk menepis hantaman batu es yang berjatuhan akibat getaran musuh.

"Aku sedang berusaha, Soju!" balas Leo dengan napas memburu, otot-otot lengannya menegang hingga menonjol di balik lengan bajunya. "Tapi beban bodi kereta ini bertambah dua kali lipat setelah dipasangi pelindung baja! Kalau kita membelok terlalu tajam di tikungan es ini, as roda belakang bisa patah!"

Di sudut ruangan terminal, Gavin mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan kecepatan luar biasa di atas papan tik virtual, matanya menatap layar monitor sekunder yang dipenuhi barisan kode enkripsi militer yang rumit.

"Aku sedang meretas frekuensi komunikasi internal pasukan White-Death yang baru saja dilepaskan oleh Jenderal Vane!" seru Gavin panik, lensa kacamatanya memantulkan cahaya merah dari sistem peringatan dini. "Mereka bukan lagi pasukan penjaga pos biasa, kawan-kawan! Mereka adalah skuadron elit pembunuh bayaran korporasi yang diprogram khusus untuk melacak keberadaan The Core Engine milik Ren!"

Suasana di dalam kabin mendadak semakin menyesakkan. Ketegangan merambat naik ke permukaan kulit setiap orang, menciptakan gravitasi psikologis yang membuat udara terasa berat untuk dihirup.

Namun, di tengah badai kepanikan dan ancaman pembantaian massal yang sudah berada di ambang pintu, sebuah pemandangan yang sama sekali di luar nalar tersaji di sudut meja kerja.

Ren duduk bersandar dengan santai di kursi operator lamanya. Pendaran cahaya biru dari The Core Engine di dadanya berdenyut stabil dan menenangkan, selaras dengan sirkulasi sel tubuhnya yang telah dipulihkan sepenuhnya oleh hidangan magis Yuna sebelumnya. Di tangan kirinya, pemuda berambut perak itu memegang sebuah piring kecil berisi sepotong kue sus buatan tangan yang baru saja diracik oleh sang koki baru sebagai hidangan penutup pemulihan energi lanjutan.

Dengan gerakan yang sangat lambat, tenang, dan tanpa beban sedikit pun, Ren menggigit ujung kue sus bertekstur renyah tersebut. Krim vanila manis yang berpadu dengan kehangatan rempah meleleh lembut di mulutnya, memberikan kontras yang luar biasa ekstrem dengan suara dentuman meriam dan sirene peringatan yang meraung-raung di luar jendela palka.

Yuna, yang sedang berdiri di dekat meja dapur merapikan sisa wadah rempah, menoleh sejenak dan menatap Ren dengan sebelah alis terangkat tinggi. Ekspresi wajah gadis itu memancarkan perpaduan antara rasa takjub dan keheranan yang mendalam.

"Kapten..." bisik Yuna pelan, menggelengkan kepalanya perlahan sambil tersenyum tipis. "Di luar sana, sebuah skuadron elit militer yang dipimpin langsung oleh jenderal paling mematikan sedang memburu kita untuk membunuh kita semua... dan kau duduk di sana, menikmati kue sus dengan santai seolah-olah kita sedang piknik sore di taman bunga?"

Ren menelan kunyahannya perlahan. Ia menatap Yuna dengan mata datarnya yang tenang, lalu meletakkan sisa kue sus di atas piring kecil dengan sangat hati-hati.

"Makanan yang lezat tidak boleh dinikmati dalam keadaan terburu-buru, Yuna," jawab Ren dengan suara parau yang terdengar sangat rileks, membuat Leo yang mendengar ucapan itu dari kursi kemudi nyaris terpeleset dari pedal rem. "Dan lagi... panik tidak akan membuat gerbong ini melaju lebih cepat di atas rel es yang patah."

Soju mendengus pelan, melempar pandangan jengkel ke arah Ren sambil tetap fokus mengarahkan jalur navigasi. "Kau benar-benar manusia terdingin di dunia es ini, Kapten. Darahmu pasti sudah membeku sepenuhnya sejak sepuluh tahun lalu."

"Fokus pada jalur, Soju," balas Ren datar, kembali menegakkan posisi duduknya. Pendaran biru di dadanya mulai memancarkan cahaya yang sedikit lebih terang, seolah merespons kehadiran energi musuh yang kini semakin mendekat dari arah belakang terowongan.

Di layar terminal Gavin, titik-titik radar merah milik skuadron White-Death bergerak begitu cepat, membentuk formasi penjepitan yang siap menutup seluruh jalur keluar terowongan sektor utara. Gavin menelan ludahnya yang terasa kering, keringat dingin bercucuran membasahi lehernya.

"Teman-teman..." suara Gavin melemah, matanya melotot menatap barisan data jarak yang semakin menipis di layar monitor utama. "Skuadron elit mereka sudah memotong jalur pintas. Mereka tidak lagi mengejar dari belakang... mereka sudah berada tepat di blokade rel stasiun mati di depan kita!"

Mendengar peringatan itu, Leo membanting setir kemudi ke arah kiri dengan seluruh sisa tenaga di lengannya, sementara Ren perlahan berdiri dari kursinya, meraba gagang Rust-Bite Blade yang terselip di pinggangnya.

Di luar jendela palka depan, kegelapan terowongan es mendadak pecah oleh kilatan cahaya laser biru terang yang ditembakan secara serentak dari barisan meriam pengepungan musuh, mengarah lurus untuk menghantam lokomotif Vanguard tanpa ampun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!