Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Beberapa jam telah berlalu sejak insiden menegangkan di koridor.
Kini, meja bundar berukuran besar di sudut kamar VIP terisi penuh oleh berbagai baki makanan hangat beraroma menggugah selera. Atas perintah tegas dari Raiden, pihak rumah sakit menyajikan hidangan kualitas restoran bintang lima mulai dari sup kaldu ayam rempah yang gurih, potongan daging lembut dengan saus spesial, bubur halus bertabur keju, hingga aneka buah segar dan pencuci mulut manis.
Alexa duduk tersenyum sumringah di atas ranjangnya yang disandarkan tinggi. Matanya yang semula redup kini berbinar-binar penuh binar kehidupan. Rasa sakit di perutnya seolah menguap sesaat, terkalahkan oleh kebahagiaan luar biasa melihat gunungan makanan mewah di hadapannya.
"Wah... wenak banget ini mah!" seru Alexa dengan nada suara yang riang, melupakan sejenak statusnya yang berada di dalam rumah sakit klan mafia.
Dengan lahap dan telaten, ia mencicipi makanan itu satu per satu. Mulai dari menelan sendok demi sendok sup hangat yang memanjakan tenggorokannya, menyantap potongan buah naga yang manis dingin, hingga mengunyah kue lembut dengan ekspresi penuh kepuasan.
"Gila, serasa jadi ratu aku kalau begini!" gumamnya terkekeh pelan, menyuapkan kembali sepotong daging lembut ke dalam mulutnya hingga kedua pipinya membal penuh. "Ternyata ada enaknya juga ya dapat fasilitas super VIP dari klan Alteir..."
CEKLEK.
Pintu ganda kamar VIP mendadak terdorong terbuka tanpa suara.
Keriangan Alexa seketika terhenti kaku di udara. Sendok makan yang baru saja hendak meluncur ke mulutnya membeku tepat di depan bibir.
Di ambang pintu, Raiden berdiri tegap dengan balutan setelan jas hitamnya yang sangat rapi. Pria itu menyilangkan kedua tangan di atas dada tegapnya, menyandarkan bahunya di kusen pintu sembari menghujamkan tatapan mata kelam yang amat datar, dingin, dan kaku. Aura intimidasi khas dirinya seketika memenuhi setiap sudut ruangan, membuat suhu kamar terasa mendadak merosot dingin.
Raiden menyapu pandangannya pada tumpukan piring kosong di atas meja, lalu bergulir menatap wajah Alexa yang pipinya masih menggembung berisi makanan.
Sebuah senyum miring yang teramat tipis dan penuh ejekan terukir di sudut bibir tebal Raiden.
"Kau terlihat sangat menikmati fasilitas dari rumah sakitku," ujar Raiden, suaranya mengalun rendah, datar, dan sarat akan celaan yang tajam.
Pria itu melangkah masuk dengan santai, menghentakkan sepatu kulitnya yang berdenting halus di atas lantai granit. Ia berhenti tepat di samping tempat tidur, menundukkan kepalanya sedikit untuk menyejajarkan tatapan mata hitamnya dengan Alexa yang terpaku.
"Hanya karena satu sabetan pisau kecil dari tahanan lemah... kau sudah bergaya seperti hampir mati dan menangis kesakitan," bisik Raiden dingin, menyunggingkan tatapan remeh yang teramat menusuk. "Mentalmu ternyata jauh lebih tipis dari yang kubayangkan, Alexa."
DEG.
Kalimat ejekan itu meluncur mulus tanpa belas kasihan.
Mendengar kata 'pisau kecil' dan 'bergaya hampir mati', rasa kesal seketika membakar dada Alexa sampai ke puncak kepalanya. Matanya membelalak lebar, memprotes keras dalam hati atas ketidakadilan ucapan pria iblis di hadapannya ini.
'Cuman?!' jerit Alexa histeris dalam batinnya, tangannya meremas sendok hingga buku-buku jarinya memutih.
'Dia bilang CUMAN?! Itu pisau komando panjangnya sejengkal nancap dalam banget di perutku sampai bikin organ dalamku terkoyak dan detak jantungku sempat berhenti! Dia pikir ditusuk pisau itu rasanya kayak digigit nyamuk apa?! Iblis gila nggak punya perasaan!'
Meskipun emosinya sudah mendidih hebat dan ingin sekali melemparkan mangkuk sup ini tepat ke wajah tampan Raiden yang menyebalkan, Alexa menahan diri. Mengingat nasihat konyol dari ibu-ibu kantin tadi siang serta kesadarannya bahwa berdebat secara kasar hanya akan memicu murka Raiden Alexa menggigit bibir bawahnya rapat-rapt.
Ia memutar otaknya cepat, mencoba mengubah rasa jengkelnya menjadi sebuah perlawanan yang berbeda. Alexa menurunkan sendoknya pelan-pelan, lalu menatap lurus ke dalam iris mata hitam Raiden dengan raut wajah yang mendadak dibuat sesedih dan semanja mungkin.
Aduhhhh! Sakittt... aduh, perutku!"
Alexa seketika melepaskan sendoknya, menjatuhkan tubuhnya sedikit bersandar ke bantal sembari meremas perban di perutnya secara dramatis. Matanya dipejamkan rapat-rapt, bibirnya mengerucut maju dengan raut wajah yang dibuat sesakit dan semenderita mungkin. Air mata buatan bahkan dicoba dipaksa keluar dari sudut matanya.
"Sakittt banget, Tuan Raiden... aduh, perihnya melilit-lilit sampai ke dada," rintih Alexa dengan suara yang disengaja menjadi cempreng dan manja, mencuri pandang sedikit lewat sudut matanya untuk melihat reaksi pria di hadapannya.
Namun, Raiden sama sekali tidak tertipu.
Pria itu tetap berdiri tegap dengan kedua tangan bersedekap di dada. Tidak ada sedikit pun riak cemas di wajah tampannya yang ada hanyalah tatapan mata hitam legam yang makin dingin, tajam, dan penuh intrik, seolah sedang menonton pertunjukan teater kelas teri yang amat murahan.
"Hentikan akting konyolmu itu, Alexa," pangkas Raiden datar, suaranya mengalun dingin tanpa beban. "Kau pikir aku tidak tahu kau baru saja melahap setengah dari hidangan di meja ini dengan sangat lahap?"
Alexa mendadak menghentikan rintihannya. Matanya mengedip cepat, merutuki kebodohannya yang lupa bahwa piring-piring kosong di meja adalah bukti otentik bahwa tubuhnya sebenarnya sudah sangat bertenaga.
Raiden memajukan badannya sedikit, menatap Alexa dengan tatapan menekan. "Begitu kau keluar dari rumah sakit ini, seluruh tugasmu di mansion termasuk membersihkan area bawah tanah akan tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada potongan atau kelonggaran."
DEG.
Mendengar kata 'bekerja lagi' dan 'ruang bawah tanah', mata Alexa membelalak lebar. Rasa takut ditusuk pisau untuk kedua kalinya langsung membakar keberanian nekat di dalam dirinya.
"Nggak bisa gitu dong!" protes Alexa refleks, lupa akan drama sakitnya dan langsung duduk tegap. "Aku begini kan gara-gara kelalaian pengawal kamu sendiri! Coba kalau mereka jaganya benar dan nggak teledor, aku nggak bakalan ketusuk pisau sampai hampir mati begini!"
Raiden hanya menaikkan satu alisnya, membiarkan wanita di hadapannya terus mengoceh.
"Sebagai suamiku—eh, maksudku sebagai pemilik mansion, kamu harusnya kasih aku kompensasi!" cerocos Alexa bersemangat, mengacungkan satu jarinya di udara. "Libur kerja minimal satu bulan, plus uang jajan! Itu baru adil namanya!"
Atmosfer di dalam kamar VIP yang tadinya agak longgar mendadak merosot membeku hingga ke titik nol.
Raiden tidak menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya tegak, lalu melangkah satu tindak mendekati sisi ranjang Alexa. Pendar di dalam iris mata hitamnya meredup pekat, berganti menjadi pendar intimidasi absolut yang teramat dingin dan membunuh.
Ia menundukkan kepala, memangkas jarak di antara wajah mereka hingga Alexa bisa merasakan hembusan napas dingin Raiden yang menusuk kulit pipinya.
"Kompensasi?" desis Raiden sangat pelan, namun getaran kejam di balik suaranya sanggup menghentikan detak jantung siapa saja. "Kau lupa sedang bicara dengan siapa, Alexa?"
Raiden menyelipkan jemari tangannya yang dingin ke bawah dagu Alexa, mencengkeramnya pelan namun sangat kuat hingga Alexa terkunci tak bisa berkutik.
"Napas yang masih berhembus di tenggorokanmu saat ini... adalah satu-satunya kompensasi yang aku berikan," bisik Raiden berdarah dingin. "Aku tidak menerima bantahan, negosiasi, atau penawaran dari mainanku. Sekali lagi kau bersuara soal libur atau uang... aku sendiri yang akan mengantarkanmu kembali ke ruang operasi."
Glek.
Alexa menelan ludahnya dengan sangat susah payah. Keringat dingin seketika membasahi seluruh punggungnya. Aura membunuh yang terpancar dari mata hitam Raiden terasa begitu nyata dan pekat, membuat seluruh keberanian dan rencana manja konyolnya melayang terbang tanpa sisa.
Nyali Alexa ciut seketika hingga ke dasar bumi.
"I-iya... faham, Tuan Raiden..." cicit Alexa parau, menundukkan kepalanya dalam-dalam dan tidak berani menatap mata pria iblis di hadapannya lagi.
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔
ketagihan kan kan 🙊🙄🙄
Raiden bikin Alexa hamil
tunjukkan kehebatan mu Raiden
siap siap besok kita liat perkedel human😱