kisah cinta antara Radea, Thariz, Rista dan indra. penghianatan, kesetiaan, cintasejati. hanyauntuk orang yang tepat.
Radea yang begitu mencintai Indra ia tak tau sebenarnya Indra hanya mendekati karena bayang masa lalunya sampai Radea bertemu dengan Thariz ceo yang playboy. bagaimana kisah cinta Radea akankah penghianatan pergi dari kehidupannya, dan kesetiaan yang di dapat.
lika liku kisah cinta segi tiga juga tak luput
dari cerita ini.
baca ini pengalaman hidup sendiri yang di tuang dalam tulisan nama karakter saja yang berbeda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duapuluh Lima
Setelah membeli ayam cemani Rista mampir ke perusahaan tempat Radea bekerja. ia langsung ke recepsionist menanyakan keberadaan Radea sambil marah-marah.
"Mbak panggilin Radea suruh temuin saya! " Ucap Rista dengan nyolot.
"Mbak Radea masih ada meeting bu belum bisa nerima tamu" Jawab si recepstionist.
"Mbak sekongkol ya sama tuh pelakor, panggilin nggak tuh pelakor atau gue obrak-abrik nih kantor" Sungut Rista yang permintaan nya tak segera di turuti.
"Buk, mohon maaf sekali nggak bisa. kalau ibuk nggak bisa nunggu saya panggilkan ke amananan biar ibu tidak bikin ricuh. " Balas nya.
dalam hati sang recepsionist meracau " pelakor nya siapa yang kena semprot siapa. ! "
Alan yang baru selesai meeting mendengar ada keributan di kantor pun segera turun melihat apa yang sedang terjadi.
"Ada apa Ca? " tanya Alan pada sang recepsionist.
"Anu pak Alan ada yang nyariin Radea masalah rumah tangga sih pak! " Jawabnya sambil berbisik pada Alan.
"Eh loe pelakor balikin laki gue, gue lagi bunting kenapa lo kekep aja sih laki gue" ucapnya emosi langsung saat melihat Radea yang berjalan bersama Thariz.
Rista mendekat ke arah Radea ia lalu menapar pipi Radea hinga meninggalkan bekas. "Dasar pelakor ngga tau malu, ngembat laki orang sekarang lagi asik-asik sama laki lain. " Ucapnya sangat pedas emosi Rista sudah di ubun-ubun.
Radea yang mendapat perlakuan seperti itu secara tiba-tiba pun terkejut. mata semua orang yang sedang lalu lalang pun tertuju pada Radea. detak jantung Radea sudah berpacu karena kaget dan sekarang ia merasakan pusing pada kepalanya.
"Mbak saya nggak tau laki mbak dimana! " Ucap Radea lemas. karena ia menahan kepalanya yang pening.
Thariz yang melihat istrinya sedang di permalukan pun merasa geram ia ingin sekali menggeret perempuan di hadapannya untuk segera keluar.
"Pak tolong keluarin perempuan ini sekarang! " titah Thariz sopan pada satpam yang berjaga. ia masih mempertahankan reputasinya sebagai seorang bos.
"Pembohong loe! dasar ja**ng! " Rista hendak melayangkan tamparannya lagi namun di tahan oleh Thariz.
"jangan bikin rusak perusahaan saya karena urusan pribadimu" ucap Thariz dingin tatapannya tajam ke arah Rista.
Radea yang menahan kepalanya yang pusing sedari tadi tak mampu menjawab pernyataan yang di lontarkan oleh Rista pun akhirnya ambruk.
Radea pingsan pandangan Thariz pun langsung beralih pada sang istri.
"Alan panggilkan dokter Fery sekarang, dan jangan sampai wanita ini pergi meninggalkan kantor. Aku belum kasih pelajaran !"
Rhariz lalu menggendong Radea lagi. kembali keruangannya. ia khawatir pada sang istri kenapa bisa pingsan hanya karena di tampar.
Sesampainya di ruang istirahat di ruangannya Thariz pun membaringkan istrinya di atas kasur. ia lalu menelpon Alan agar dokter Fery segera sampai.
tak sampai sepuluh menit dokter yang di tunggu pun datang.
"Permisi tuan maaf saya sedikit terlambat karena di jalan sangat macet" Ucapnya beralasan karena takut dimarahi.
"Sudah cepat kau cek ke adaan istriku ! " Ucap Thariz tegas.
dokter Fery pun mengeluarkan stetoskop miliknya, mengecek nadi Radea dan detank jantungnya. Fery selesai memeriksa dan menuliskan resep.
"Bagaimana istri saya? " tanya Thariz.
"Istri tuan tidak apa-apa, saya berpikir istro anda sedang hamil. tapi untuk lebih jelasnya tuan periksa ke dokter kandungan ya. jangan biarkan istri tuan banyak pikiran. karena kandungannya masih lemah " jelas dokter Fery pada Thariz.
"Dan ini resep yang harus di tebus " Dokter Fery pun menyodorkan kertas resep pada Thariz.
"Baik kalau begitu saya akan menyuruh asisten saya menebus obatnya, terimakasih" ungkap Thariz dengan bahagia karena mendengar istrinya sedang hamil saat ini.
Msmpir keceritaku yuk😊
Lanjut thor