Blurb :
"Aku rela berkorban demi dirimu, Mas. Bahkan, dengan sukarela memberikan uang gajiku kepadamu. Tapi kenapa, teganya dirimu memberikan semuanya kepada selingkuhanmu!"
Airin benar-benar merasa kecewa atas apa dilakukan oleh Aldi suaminya. Airin merasa di lecehkan dan tidak dihargai.
Hingga Airin berpikir untuk mengakhiri pernikahannya dan berniat untuk balas dendam.
Akankah rencananya berhasil atau ia berubah pikirannya dan menerima Sonia untuk jadi istri kedua suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipihpermatasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.Saat yang tepat.
Pagi berganti siang. Bell pun berbunyi pertanda saatnya untuk istirahat. Airin membereskan tempat kerjanya sebelum istirahat. Seperti bisa wanita itu pasti selalu makan di restoran bersama atasannya itu.
"Ayo, masuk ke dalam," ucap Bram sambil membukakan pintu mobilnya.
Tanpa basa basi Airin langsung masuk ke dalam mobil tersebut dan Bram segera masuk ke dalam mobil. Saat sudah siap, Bram segera menjalankan mobilnya menuju restoran.
#Tiga puluh menit sudah mereka sampai di restoran yang tuju. Mereka segera keluar dari mobil tersebut dan berjalan masuk ke dalam tempat tersebut.
Saat Airin memasuki restoran tersebut, wanita itu melihat pria yang sangat dikenalinya. Airin hanya mengelengkan kepala dan benar-benar tidak menyangka pria itu pandai selingkuh.
Tenyata kalau udah melekat darah daging perselingkuhan, maka dia akan terus melakukannya dan enggak akan berubah batin Airin.
Airin merasa heran pada pria itu. Bagaimana bisa dia selingkuh? Padahal dia punya istri yang cantik dan kaya raya. Terus apa yang di inginkan pria itu? Ada apa antara pria itu dengan istri barunya?
Airin pun memilih untuk masa bodoh dan ogah ikut campur. Bram berserta Airin segera duduk saat mendapatkan kursi kosong.
"Selamat siang, Pak. Ini mau pesan apa?"
Seorang pelayan berjalan menghampiri mereka. Bram langsung menatap pelayan tersebut dan mengambil daftar menu yang sudah ada di buku.
"Saya pesen makanan ini saja serta minumannya yang ini dua ya, Pak," ucap Bram.
"Baiklah, Pak."
Sang pelayan tersebut langsung pergi dari hadapan Bram. Pria itu menatap Airin yang kini sedang menatap seseorang.
"Lagi tatap siapa sih? Serius banget kayaknya," tanya Bram sambil menatap Airin.
"Hustt ... jangan banyak bicara. Lihatlah, aku sedang mengintip si pria gila itu?" jawab Airin.
Bram pun mengerutkan keningnya merasa tidak mengerti siapa pria yang dimaksud. Namun, tanpa sengaja Bram menatap Aldi sedang bermesraaan bersama wanita lain.
"Apakah yang dimaksud pria itu?" tanya Bram.
"Iya, si tukang selingkuh dan enggak tau diri itu!" Airin menatap Bram.
"Benar-benar enggak berubah ya mantanmu itu! Apa yang dia mau sebenarnya?" tanya Bram.
"Mana aku tau! Tanya aja sama orang, tuh," kata Airin.
Sekilas Bram merasa ada sesuatu yang ingin dilakukan oleh Airin. Bisa di lihat dari matanya saat memandang mantan suaminya itu.
"Terus apa yang ingin kamu lakukan?" Bram menatap Airin.
Wanita itu mengambil ponsel miliknya, kemudian mengambil photo Aldi bersama wanita lain.
"Aku akan memberikan photo ini sama dia. Bila si pria brengsek itu ingin selamat dari istrinya maka harus mengembalikan rumahku!" Airin tersenyum tipis.
"Udahlah, biar saja untuk dia. Kamu sudah ada tempat tinggal di hotelku," ucap Bram.
"Aku enggak mungkin memberikan rumah itu buat mereka. Kamu tau sendiri rumah itu punya orangtuaku! Begitu banyak kenangan indah disana bersama Ayah dan Ibu," jelas Airin.
"Ya udah, kalo gitu. Aku juga bisa membuat mantanmu itu mengembalikan rumahmu," ucap Bram.
Airin pun meminta agar Bram tidak usah membantu. Biar dia sendiri yang melakukannya karena tidak mau nanti masalahnya tambah panjang.
"Udahlah, biar aku sendiri yang melakukannya. Kamu enggak usah ikut campur, lagian itu urusanku dengan dia," ucap Airin.
Bram pun tidak bisa berbuat apa-apa jika Septi sudah berkata seperti itu. Tiba-tiba seseorang datang mengambil ponsel milik wanita itu.