Aghnia Azalia atau dengan sebutan nama Nia adalah seorang anak yang mendambakan kasih dan sayang dari orangtuanya, hidup sebatang kara jauh dari yang namanya perhatian orangtua diakibatkan perceraian yang tidak dapat terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna anzela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
"Nia senyum nak," ucap Kay yang siap hendak membidik gambar alias ingin memfoto Nia bersama dengan Albi.
Nia tersenyum terpaksa sebentar dan kemudian berpandagan kosong kembali setelah beberapa lembaran gambar tersimpan di memori penyimpanan.
Meriahnya acara tidak terasa sama sekali, hebohnya pembukaan kado yang Nia terima tidak Nia hiraukan sama sekali.
Nia masih diam tanpa kata sampai seluruh tamu undangan yang hadir pulang kerumah mereka masing-masing.
Rumah megah, mewah dan luas yang Nia tempati hampa, terasa sangat hampa, kini di ruang tamu tersebut yang baru saja satu jam yang lalu ribut dan berisik akan teriakan dan tawa anak-anak kini senyap kembali dan kini di ruang tersebut hanya menyisakan bekas-bekas acara.
Nia masih duduk lesu tanpa kata dengan tetap memandang lurus kedepan, menanti kedatangan seseorang yang ia harapkan berkunjung datang menghampirinya.
Albi dan Bira yang masih disana, membantu mengemasi kado-kado yang Nia terima, melihat Nia yang tiada semangat sama sekali lantas Bira bertanya "Nia, kenapa? Princess paman kenapa seperti tidak ada tenaga heum?" Tanya Bira pada Nia.
"Paman, ibu dimana?" bertanya dengan bola mata yang sudah menunjukan embun siap hendak menangis.
"Ibu lagi ada kerja sayang, nanti sebentar lagi ibu pasti akan datang! Anak cantik harus senyum ya," ucap Bira yang tersenyum di depan Nia.
"Iya paman," jawab Nia lesu.
"Nia tinggal sama paman dulu mau?" Tanya Bira.
"Tidak. Jika ibu datang nanti, aku tidak ada di rumah, ibu akan kebingungan paman."
Bira berpaling pandangan dan mengedipkan-ngedipkan matanya berulang kali ingin menangis rasanya akan kesedihan yang keponakannya rasakan. Dada Bira berdenyut sakit bagikan tertusuk jarum, hanya dengan beberapa kata sederhana yang Nia lontarkan mampu membuat hatinya teriris sakit.
"Nanti kan ibu bisa menelfon sayang," ucap Bira menenangkan Nia.
"Benarkah paman? Jika seperti itu, tolong telpon ibu Nia sekarang paman, Nia ingin bicara sama ibu."
"Sebentar ya nak." Bira mengambil hp nya dan memencet nomor Diba dan memanggil Diba melalui sambung telpon yang kini sudah terhubung.
Setelah sambungan telepon tersambung "Ibu. Ini Nia. Ibu kenapa tidak datang diacara ulangtahun Nia." ucap Nia sambil melihat Diba yang berada dibalik layar hp Bira.
"Maafkan ibu nak, ibu lagi sibuk kerja, nanti kalau ibu tidak sibuk lagi, ibu akan pulang dan kita akan bermain sama-sama ya."
"Benarkah ibu?" Tanya girang Nia yang semangatnya kembali meningkat drastis.
"Iya nak. Doakan ibu supaya sehat selalu dan bisa cepat pulang kerumah ya," ucap Diba tersenyum.
"Baik ibu. Nia sayang ibu. Nia rindu ibu."
"Iya nak, ibu juga."
Nia telah selesai bercakap, berbicara sebentar dengan seseorang yang amat sangat ia rindukan dan ia nantikan kehadirannya di hari ulangtahunnya ini.
"Ayok kak Albi, tolong bantu adek memindahkan semua barang ini ke kamar adek."
Albi berdecak kesal dan menjawab "iya," yang kemudian bolak balik naik turun tangga bersama Nia, dan menyusun semua barang Nia ke kamar.
Bira mengubah sambungan telpon dari Vidio call menjadi telepon biasa dan pergi sedikit menjauh dari Nia. Bira berbicara sedikit kata nasihat pada Diba dan bertanya penyebab tidak hadirnya Diba.
"Bisa kamu jelaskan pada kakak, Diba?"
"Jelaskan apa kak?" Tanya balik Diba.
"Yang membuatmu marah dan kecewa itu Doni, Diba. Kenapa kamu lampiaskan dan yang turut sertakan kamu hukum termasuk Nia? Nia anak kamu Diba."
"Maaf kak, Aku juga tidak tahu. Setiap kali aku melihat Nia, wajah dia selalu terlihat, aku membencinya kak," ucap marah teriak Diba.
"Kendalikan dirimu Diba. Nia tetaplah Nia, bukan Doni," sambung teriak Bira.
"Iya, aku akan berusaha."
Tittt ....
Sambung telepon Diba putuskan sepihak tanpa izin ataupun permisi.
Bira kembali ke ruang tamu, menjatuhkan tubuhnya pada sofa dan juga bersandar pada sofa sambil memijat pelipis kepalanya yang terasa pusing.
Kay yang baru saja siap membantu Hasnah di dapur, menuju ke ruang tamu dan melihat Bira yang seperti orang tertekan, lantas berkata "adakah cerita yang ingin kamu bagi bersamaku?"
Bira bangun dan duduk tegap kembali "nanti setelah sampai dirumah akan aku ceritakan."
Seperti yang Bira janjikan sesampainya mereka dirumah, Bira menceritakan apa saja yang sedang menjadi permasalahan Diba yang membuat Bira dilema. Bira menangis akan keadaan Nia yang begitu merindukan Diba.
Bira berulang kali mengajak Nia pulang ikut bersamanya namun masih sama alasan yang Nia paparkan, jika ia pergi takut akan ibunya kembali dan kebingungan dalam mencarinya.
Bira tidur di pangkuan Kay dengan isakan tangis yang terdengar lirih menyayat hati akan yang Nia rasakan. "Sayang coba jawab, aku harus apa? Aku sangat menyayanginya, Nia dan Diba sama-sama penting dalam hidupku, posisi Nia sama seperti Albi dalam hidupku, mereka berdua sama-sama anakku."
Kay ikut merasakan sedih namun menutupi segala kesedihan yang ia rasakan. Kay mengusap sayang kepala Bira "nanti kapan-kapan aku akan mengajak Diba bicara ya. Dan untuk Nia kita akan sering mengunjunginya dan mengajaknya berjalan-jalan atau liburan ya."
Bira diam tanpa kata namun masih menangis. Bira membalikkan badan tidur menyamping dan memeluk pinggang Kay dan kembali menangis sejadi-jadinya.
"Abang, sudahlah, jangan menangis lagi," ucap Kay yang sudah tidak dapat menahan air matanya lagi. "Nanti hak asuh Nia kita urus sama-sama ya. Kita yang akan mengurus dan mendidik Nia sama-sama," ucap Kay dengan tetap mengusap-ngusap kepala Bira sayang.
Dalam seketika Bira bangun dan duduk menatap mata Kay dalam "benarkah, sayang mau mengurusi Nia bersama kita?" Tanya Bira memastikan dengan tetap air mata yang terus berlinang.
"Iya, nanti kita rawatt Nia sama-sama."
"Terimakasih sayang," ucap Bira kembali memeluk Kay erat.
"Iya sama-sama sayangku. Ayok kita tidur, besok siang sidang terakhir Diba akan berlangsungkan?"
Bira mengangguk sekali dan bangun berdiri melangkahkan menuju kamar bersama Kay untuk beristirahat.
Burung-burung terbang mengepakkan sayap dengan berkicau indah, suara adzan shubuh berkumandang merdu menyejukkan hati dan pikiran jiwa. Udara pagi yang masih bersih bersih dan juga dinginnya suasana pagi menembus pori-pori.
Bira tersadar akan tidurnya yang kurang lelap dan ikut serta membangunkan Kay untuk sholat shubuh berjamaah bersama.
Bira sholat qabliyah shubuh dan juga shalat wajib shubuh yang kemudian mereka melanjutkan dengan bacaan lantunan merdu ayat suci Al-Qur'an. Bira memunajatkan doa panjang dengan kembali meneteskan air mata "Ya Allah, aku serahkan hidup dan matiku hanya untukMu, Ya Allah lapangkan dada kami dan luaskan ketabahan kesabaran kami Ya Allah. Ya Allah aku memohon ampunan dan juga memohon petunjuk pertolongan dari-Mu ya Rabb. Aku memohon pada-Mu Ya Allah, tolonglah hamba, adik hamba dan keluarga hamba ya Allah. Ya Allah lindungi kami dari kekhilafan dosa kami dan arahkan kami untuk selalu dekat dengan-Mu ya Rabb dan hamba memohon untuk selalu mengarahkan pada keluarga hamba untuk berpijak pada jalan kebenaranMu Ya Allah."
"Aaamiiinnn," jawab Kay yang ikut serta menengadahkan tangannya.
Setelahnya Bira menunduk dan kembali meneteskan air matanya.
sbuk ya thor bru up