Selamat datang dengan pernikahan.
Andira berpikir, bahwa menikah dengan Leo akan bahagia.
Nyatanya setelah menjalani pernikahan bukan bahagia yang Andira dapat, hanyalah siksaan dan siksaan. Andira menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga yang di lakukan oleh suaminya sendiri.
Leo suami Andira adalah pria tempramen dan kasar. Setiap hari Andira selalu mendapatkan siksaan seperti ditampar, di pukul dan dihina dengan kata-kata nyelekit.
Selamat datang air mata rumah tangga yang diberikan, apakah Andira akan bertahan dengan rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris ariesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siksaan Luar Biasa
Siksaan luar biasa dirasakan oleh Andira suaminya semakin haus, untuk menyiksa dirinya saat itu. Bahkan Leo tidak memberikan ampun kepada Andira yang sudah mempermalukan dirinya.
"Kamu sudah mempermalukan diriku dihadapan Orang tuamu," bentak Leo menyiksa istrinya.
Pada malam itu dengan tangannya yang ringan, saat anak-anak pergi heeling ke mall Leo menyiksa istrinya di kamar. Pria ini benci dengan Andira, sebab rahasianya sudah ketahuan oleh mertuanya sendiri.
"Aku tidak mempermalukan, aku cuma menceritakan apa yang aku pendam, di dalam hatiku," lirih Andira, saat suaminya menimpa tubuhnya dari atas.
Plakkkkkkk
Terdengar tamparan keras dari Leo, malam itu Leo menjadi ringan tangan. Tak peduli dengan istri dan tetap melakukan adegan kekerasan di dalam rumah tangga. Pria ini mengikat istrinya di kamar mandi.
"Sakit ...." Andira mengerang kesakitan, badan terasa lebam semua.
"Masuk, tidak ada ampun sama orang seperti kamu!" perintah Leo, menarik rambut istrinya dan menyuruh untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Di kamar mandilah pria ini menjalankan aksinya, membenturkan kepala istrinya dan mengikat tangan istrinya dengan menggunakan tali. Andira mengerang kesakitan dan menjerit, tetapi jeritan Andira tidak didengar oleh para pembantu dan sopirnya. Kamar mereka sudah memakai penyadap suara.
"Mengapa kamu siksa aku, kalau kamu sudah tidak sanggup lagi berumah tangga, bilang sama aku! Lepaskan aku dan jangan kamu tahan membentuk rumah tangga, jika kamu masih menyiksa diriku," tutur Andira pada suaminya.
"Kalau kita cerai, aku merasa rugi akan rumah tangga ini. Aku sudah perintahkan kamu selama ini! Jangan membuat suatu kesalahan, jika kamu berbuat kesalahan aku bisa kejam sama kamu," ancam Leo melotot ke arah Andira dan memegang dagu istrinya tersebut.
"Lepaskan aku dan kita cerai saja. Kalau bukan karena permintaan Orang tua aku saat itu, mungkin aku tidak akan mau balikan lagi sama kamu!" sahut wanita itu, tidak suka sebenarnya untuk bersama.
"Orang tua kamu yang ingin kita bersama dan tidak bercerai. Bukan aku yang bodoh, tetapi mertua aku sendiri!" gerutu Leo.
Andira kesal saat kedua Orang tuanya dikatai bodoh. Sebagai anak Andira tidak suka melihat sopan santun suaminya tidak ada dan bahkan sudah berkata kasar tentang Orang tuanya.
"Kamu mengatakan Orang tuaku bodoh, aku tidak pernah menyebut Orang tua kamu bodoh! Apakah pantas seorang menantu mengatakan mertuanya bodoh? Kejam kamu sebagai menantu ...!" kata Andira menggelengkan kepala.
Semakin hari omongan suaminya, semakin kasar seakan tidak peduli dengan perasaan Orang lain. Saat itu Orang tua Andira meminta memberikan kesempatan untuk Leo karena pria ini bersimpuh di kaki Orang tua Andira untuk meminta maaf.
"Saya memang ingin sama kamu, tetapi Orang tua kamu jangan ikut campur dengan masalah rumah tangga. Anak mereka sudah mempunyai suami, jadi suami membuka kebebasan untuk mengatur rumah tangga ini istriku," jawab Leo dengan sinis, lalu meludahi istrinya.
"Mau sampai kapan kamu menyiksa aku begini? Kalau kamu menginginkan aku mati saat ini, lebih baik bunuh saja aku. Kalau aku tidak menjadi istri berguna dalam rumah tangga ini," bentak Andira menyuruh suaminya untuk membunuh dirinya.
Leo menatap tajam, tangannya menggengam kemarahan. Untuk menenangkan pikiran pria ini tinggalkan kamar mandi, melangkah ke ruangan untuk minum. Pria ini menenangkan pikiran dengan minuman keras.
Diambilnya satu botol minuman keras, lalu disuguhkan pria itu ke dalam gelas. Leo meminum banyak minuman keras tersebut karena hatinya tak bisa tenang. Masih banyak pikiran yang menghambat hidupnya membuatnya menjadi seorang yang tempramental.
Di dalam kamar mandi, istrinya mengerang kesakitan. Wanita ini mencoba meminta tolong, berharap ada yang menolongnya dan mendengar jeritan Andira.
"Tolong lepaskan aku!" ujar Andira menjerit supaya kedengaran.
Tetapi alhasil suara jeritan tersebut, tidak didengar oleh banyak orang karena memakai penyadap ruangan. Wanita ini menangis betapa berat beban yang ditanggung oleh dirinya sendiri.
"Mengapa harus seperti ini, kuat banget aku menghadapi suami psikopat," ujar Andira merasa capek.
Saat anak-anak pulang, pria ini langsung mengembalikan minuman keras itu ke dalam lemari. Leo langsung menghampiri anak-anak saat kedua putrinya menenteng banyak belanjaan.
"Wah anak-anak ayah sudah pulang? Wah banyak banget, menenteng suatu yang dipegang."
"Iya, Ayah. Kami berbelanja sesuai kebutuhan ayah," tutur Yuna.
Yuni melirik kearah sekeliling rumah, tetapi tidak ada mamanya. Yuni menjadi tanda tanya, mamanya pergi kemana. Apakah mamanya sudah tidur atau belum.
"Mama pergi kemana ayah?" tanya Yuni kepada ayahnya.
Leo terdiam, sejenak tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan putrinya. Malam ini adalah titik dimana Leo menyiksa istrinya sendiri.
"Hmm mama kamu sudah tidur terlebih duluan, Nak," jawab Leo menutupi perlakuan dengan kebohongan.
"Tidur ... jam berapa ini? Masih jam delapan malam. Cepat amar mama tidur?" tanya Yuni merasa heran.
Selama ini mamanya tidak pernah tidur lebih awal. Mamanya selalu tidur di atas jam 10 malam. Tetapi malam ini mamanya tidur lebih awal.
"Ya, mama lagi kelelahan. Butuh istrahat karena capek," jawab Ayah Leo.
"Ayah kami sudah menghabiskan uang yang ayah berikan. Sudah habis, nanti seandainya kami butuh uang jajan lagi, boleh minta kan ayah?" tanya Yuni kepada ayahnya.
"Boleh dong, Sayang," jawab Leo.
Perlakuan Leo terhadap anak dan istri sangat berbeda. Pria ini selalu bersikap manis kepada anak-anak, tetapi tidak dengan perlakuan kepada istri. Terhadap istri sebagai suami Leo sangat kasar dan mudah terbawa emosi.
"Ayah kami ke kamar, ya, soalnya mau istrahat besok mau sekolah." Yuna dan Yuni merasa lelah dan capek.
"Oke, Sayang. Selamat tidur putri ayah,"
"Iya ayah,"
Leo mencium kening sang putri, ketika putrinya sudah di kamar. Pria ini melanjutkan untuk minum lagi, tak peduli dengan keadaan dirinya. Pria ini sudah merasakan sakit hati mendalam, teringat omongan mertua yang membuatnya mengerang.
"Omongan mertuaku sudah buat aku benci dan mereka sudah tahu tentang aibku, aku tak akan biarkan itu. Anaknya sudah membuat aku malu, membuat diriku merasa benci kepada Orang tua itu," gumam Leo dalam hatinya.
Leo sudah meminum sebanyak tujuh gelas minuman. Hingga membuat dirinya sedikit mabuk dan tak sadarkan diri, pria ini saat sedang sedikit mabuk pergi dari rumah dan beranjak menuju bar.
"Aku harus ke bar, bersama-sama dengan teman-teman aku. Merasa pusing kalau di rumah ini," ujar Leo dalam hati, pergi menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di bar, pria itu memesan lag' banyak minuman dan meminumnya bersama teman-teman di bar. Mereka menjadi mabuk dan berkata-kata, mereka asik berdansa dan menikmati alunan musik.
nggak nanyambung ceritanya