Yura Zivanna, gadis yatim yang selalu mandiri dan juga ceria dan berprestasi di sekolahnya, tanpa diduga dilamar oleh Zayn sang ketua OSIS yang ternyata dari keluarga yang sangat kaya. Akankah Keluarga Zayn menerima? Dan bagaimana kisah mereka, ikuti terus yaa
Hanya fiksi...happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gini Banget Nikahin Teman Sendiri
"Iya beb, karena kita udah menikah, udah boleh dong,"
"Apaan sih Zayn? Boleh apa?" tanya Yura.
"Ya hubungan suami istri lah, kan kita udah menikah," sahut Zayn, dan tetiba Yura menyesal mengingatkan Zayn bahwa mereka sudah menikah.
"Jujurly, aku masih takut Zayn, harus banget sekarang ya?" cicit Yura, Zayn tersenyum dan membelai rambut wangi Yura.
"Okelah aku bersabar malam ini, aku tunggu kamu siap beb, tapi jangan lama-lama ya," pinta Zayn, Yura tersenyum dan mengangguk.
"Oh iya Ra, karena kita sudah menikah, masa iya kamu mau panggil nama terus ke aku, kaya kita masih temenan aja, mau dong dikasih panggilan khusus," ucap Zayn.
"Iya sih Zayn, aku kepikiran juga, tapi rasanya kaku banget dan bingung mau panggil apa? Mas Zayn? Ahhh aneh Zayn," Yura dan Zayn tertawa bersama.
"Kamu sayang aku ga?" tanya Zayn.
"Ya sayang lah, masa iya mau dinikahin kalau ga sayang," sahut Yura.
"Ya panggil aja sayang," ucap Zayn.
"Hah, apa ... Ehm..sa sayang, ih geli banget Zayn, gini banget ya nikah sama temen sendiri, untung aja kita ga panggil gue elo, haha,"
"Ya udahlah terserah kamu aja, tapi kalau nanti kita punya anak jangan sampai kamu panggil aku dengan nama lagi," ucap Zayn seraya menarik kaki Yura hingga ada di pangkuannya, kemudian memijitnya pelan, Yura memposisikan dirinya bersandar pada lengan sofa agar kakinya bisa lurus dan menikmati pijatan Zayn.
"Alhamdulillah enak banget pijatan kamu Zayn, eh iya bukannya kita sepakat menunda kehamilan dulu, aku juga pengen kuliah Zayn,"
"Iya, Ra, menunda kehamilan bukannya juga kita ga boleh berhubungan kan, ini kamu minum ini kalau kamu sudah siap melakukan kewajiban mu," Zayn mengambil satu strip pil penunda kehamilan dari tas laptop nya dan menyerahkannya pada Yura.
"Pil KB? Katanya ini bisa buat rahim kering ya? Ga mau ah meskipun ditunda aku juga pengen hamil Zayn,"
"Itu mitos beb, dan juga ini sementara aja, setelah habisin itu aja biar aku yang pakai pengaman," ucap Zayn.
"Kenapa ga dari awal aja kamu yang pakai pengaman?" tanya Yura.
"Ish...aku juga pengen rasain tanpa pengaman, kenapa ga sekarang aja sih? Ini malam pengantin kita lho,"
"Ih Zayn, tadi kan kamu udah bilang mau nungguin aku siap, aku takut..." rengek Yura.
"Kan aku temenin, kamu ga usah takut,"
"Ish bukan takut itu, aku takut sakit, katanya itu sakit banget,"
"Aku akan pelan-pelan, aku janji kalau kamu ngrasa sakit banget dan pengen berhenti, aku akan berhenti," Zayn. Mencoba meyakinkan Yura.
"Cepat atau lambat, sekarang atau besok kamu pasti rasain hal yang sama beb," lanjut Zayn, dan Yura berpikir itu benar juga, dan hatinya juga tidak ingin menolak keinginan Zayn yang sudah menjadi suaminya, bisa berdosa jika dia menolak ajakan Zayn.
"Baiklah, tapi janji ya kamu bakal pelan-pelan dan berhenti kalau aku ga kuat sakitnya," ucap Yura.
"Iya, aku janji beb, sekarang kamu minum pilnya dan ambil wudhu, kita sholat Sunnah dulu," ucap Zayn, kemudian Yura menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan bersiap-siap.
"Yaa Allah gini banget ya nikahin temen sendiri, mau unboxing aja pakai diskusi sampai mau tengah malam," gumam Zayn yang melihat jam di dinding yang menunjukkan hampir pukul 00.
Zayn memimpin Yura untuk sholat Sunnah dua rakaat, dan setelah itu dua muda mudi itu melakukan penyatuan mereka yang pertama hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.
.
.
.
Pukul empat pagi Zayn terbangun, padahal baru dua jam yang lalu dia dan Yura terlelap karena lelah. Ia memandang Yura masih erat memeluknya di balik selimut yang menutupi tubuh mereka.
Sebenarnya Zayn masih lelah dan mengantuk tapi sebentar lagi adzan subuh berkumandang, dan apa lagi dia sedang di rumah mertuanya, tentunya ingin memberi kesan yang baik untuk mertuanya.
Zayn perlahan mengangkat tangan Yura yang melingkar di dadanya, lalu segera bangun dan menuju kamar mandi, dia mengguyur tubuhnya dengan pancuran shower, segar namun merasakan perih di belakang pundaknya. Zayn segera menyelesaikan mandi wajibnya lalu melihat punggungnya melalui cermin, ternyata banyak sekali bekas cakaran Yura di sana.
"Ya Allah sebanyak ini, pantesan perih banget," gumam Zayn. Ia kemudian keluar dan berpakaian lalu pergi ke masjid belakang rumah bersama dokter Iqbal.
Yura terbangun mendengar kumandang adzan subuh, tubuhnya terlalu lelah untuk bangun, dan ia tidak melihat Zayn ada di kamar.
"Zayn kemana? Ke masjid ya paling," gumam Yura, ia memaksa dirinya untuk bangun agar tidak kehabisan waktu untuk sholat subuh, setelah mandi dia berpakaian dan merapikan kasur yang sudah tak karuan bentuknya dan juga memungut baju-baju yang berserakan di lantai karena ulahnya bersama Zayn semalam. Yura mengeringkan rambut sekenanya lalu segera sholat subuh, sebenarnya ia ingin turun ke bawah membantu bunda menyiapkan sarapan, namun matanya tidak bisa diajak kompromi dan seperti terkena lem super, akhirnya ia terpejam lagi di atas tempat tidur.
"Assalamualaikum," sapa Zayn dan dokter Iqbal yang baru pulang dari masjid.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," sahut bunda Rosa.
"Mas ini minumannya, yang ini buat kamu dan Yura Zayn, mungkin dia masih capek, biarkan dia istirahat dan bilang sudah ada embak yang masak sarapan," tutur Bunda. Dokter Iqbal duduk di kursi makan dan menikmati susu hangatnya.
"Baik Bun, makasih, saya naik dulu ya Bun, Om," Zayn membawa dua mug susu almond hangat naik ke kamar atas.
Zayn membuka pintu kamar dan terlihat Yura terlelap di tempat tidur, namun sudah wangi dan berpakaian, kasurnya juga sudah terlihat baru dibereskan dan pakaian mereka yang berhamburan di lantai juga sudah dibersihkan. Zayn meminum susu almond buatan mertuanya, lalu meletakkan kedua mug itu di atas meja. Zayn menghampiri Yura.
"Masih ngantuk Ra?" tanya Zayn yang ikut terbaring miring menghadap Yura. Yura tidak menyahut, rupanya Yura benar-benar terlelap. Zayn menyingkirkan anak rambut dari wajah Yura, lalu menciumi wajah yang tenang dalam mimpi itu.
"Ra..." Zayn mentoel pipi Yura, mencubit hidung istrinya itu, dan empunya masih tak bergeming. Zayn tersenyum smirk merencanakan sesuatu.
Sinar matahari mulai terang menyusup sela-sela gorden kamar dimana sepasang pengantin baru saling berpelukan, dan enggan meninggalkan kasur empuk itu. Yura mengeriyipkan matanya karena silau, dan yang lebih mengganggu tidurnya adalah rasa kebas dan geli di dadanya, Yura sangat terkejut melihat kancing bajunya terbuka semua dan Zayn sedang bermain-main di sana.
"Astaga Zayn!! Kamu lagi ngapain??"