kisah cinta idola dengan trauma,dan seorang wartawan,magang yang mengubah kehidupan kim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon izmie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 MANUSIA BIASA
Waktu masih menunjukkan 02:35 dini hari.
Kim yang sedang berdiri di balkon, menatap kosong gemerlap lampu kota, sontak menoleh. Matanya belum juga terpejam sejak tadi. Entah karena lelah, atau karena pikirannya yang terlalu penuh.
Layar ponsel itu kembali menyala.
Panggilan masuk.
“Siapa yang menghubungiku di jam seperti ini?” gumam Kim pelan, alisnya berkerut.
Ia melangkah mendekat dan menatap layar ponselnya.
Nama yang tertera di sana membuat sudut bibirnya bergerak tipis.
Panggilan masuk
"Wanita ceroboh"
Di layar ponsel itu tertera nama yang sebenarnya Kim tunggu sejak tadi.
Ia menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
Meski Kim sendiri belum benar-benar memahami apa yang ia rasakan, kehadiran Vio perlahan mulai mengubah hidupnya. Ada sesuatu yang berbeda sejak wanita ceroboh itu masuk ke dalam dunianya sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika.
Dulu, malam-malam seperti ini selalu ia lewati dengan bantuan obat penenang. Botol kecil di meja samping tempat tidur hampir tak pernah absen. Namun kini, entah sejak kapan, tangannya mulai jarang meraih benda itu.
Emosinya yang dulu mudah meledak perlahan menjadi lebih stabil. Pikirannya yang biasanya dipenuhi bayangan kelam, kini sesekali teralihkan oleh suara cerewet dan wajah penuh ekspresi milik Vio.
Kim menghela napas pelan.
“Kenapa… hanya dengan satu orang, semuanya bisa berubah seperti ini?” bisiknya lirih.
Ponsel itu masih berdering di tangannya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang benar-benar ia tunggu untuk menghubunginya.
“Halo.”
Suara Kim terdengar rendah dan tenang.
“Ada apa meneleponku jam segini? Kamu juga tidak bisa tidur?” tanyanya.
“Tidak juga… aku cuma iseng saja,”
Jawab Vio ringan, berusaha terdengar santai.
“Kamu masih susah tidur, ya? Mau tahu caraku mengatasi insomnia?”
Kim terdiam sejenak.
“Ya. Apa yang kamu lakukan?”
“Aku memeluk boneka kesayanganku,” ucap Vio polos. “Lalu aku memikirkan hal-hal yang membuatku bahagia. Biasanya tanpa sadar aku sudah tertidur… dan mimpi indah.”
Ada jeda hening di antara mereka.
“Apa yang membuat ku bahagia saja, aku bahkan tidak tahu.”
“Kalau kamu tak tahu apa yang membuatmu bahagia, biar aku yang menciptakan kebahagiaan itu untukmu.”
“Tunggu… apa yang barusan kamu katakan?”
Tanpa sadar, Vio berbicara mengikuti kata hatinya atau mungkin lebih tepatnya, mengikuti apa yang sejak tadi berputar di kepalanya.
Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa sempat ia saring terlebih dahulu.
Begitu menyadari apa yang telah ia ucapkan, wajahnya memanas. Rasa malu menyeruak tiba-tiba, membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Sebelum Kim sempat berkata apa pun, Vio dengan panik menekan tombol merah.
Panggilan terputus.
“Ada apa dengan wanita itu? Kenapa tiba-tiba menutup telepon sepihak?” gumam Kim pelan.
Ia menatap layar ponselnya yang sudah gelap.
“Tapi… apa maksud dari yang dia katakan tadi?”
Angin dini hari berhembus pelan, namun pikirannya justru semakin bising oleh satu kalimat yang terus terngiang di kepalanya.
...****************...
Di kamarnya, Vio yang masih diliputi rasa malu hanya bisa berguling-guling di atas tempat tidur.
Pipinya merah merona mengingat apa yang baru saja ia katakan pada Kim. Ia memeluk bantal erat-erat, lalu menutup wajahnya sendiri.
“Ya ampun… kenapa aku bisa ngomong begitu sih?” gumamnya frustasi.
Jantungnya masih berdebar tidak karuan. Setiap kali mengingat kalimat itu, wajahnya semakin panas. Ia menendang pelan selimutnya, lalu kembali membenamkan wajah ke bantal, berharap rasa malunya ikut menghilang.
Vio sengaja menyetel alarm setiap malam bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk memastikan Kim baik-baik saja.
Ia tahu itu terdengar berlebihan. Namun entah sejak kapan, memastikan Kim tertidur dengan tenang menjadi kebiasaan kecil yang tak pernah ia lewatkan.
Meski begitu, Vio kerap memungkiri apa yang sebenarnya ia rasakan. Ia terus berkata pada dirinya sendiri bahwa ini hanya bentuk kepedulian biasa. Tidak lebih.
Padahal jauh di dalam hatinya, tersimpan perasaan yang tak mampu ia ungkapkan.
Perasaan itu tumbuh diam-diam… untuk sosok laki-laki yang dipuja banyak wanita. Sosok yang terlihat sempurna di mata dunia, namun menyimpan kesepian yang tak banyak orang tahu.
Dan tanpa sadar, Vio mulai ingin menjadi satu-satunya orang yang mengerti sisi rapuhnya.
...****************...
Suara alarm berbunyi nyaring,
memecah keheningan kamar.
Vio yang masih terlelap tersentak kaget. Tangannya meraba-raba meja di samping tempat tidur.
“Vio! Kamu sudah bangun? Kakak berangkat dulu, ya Jangan lupa bawa motormu di bengkel, dan kunci pintu!”
Suara Kak Rio terdengar dari luar kamar.
"Ya, Kak" Jawab Vio, setengah sadar matanya yang masih lengket akibat tidak bisa tidur.
...----------------...
Apartemen
Kim yang sudah bersiap untuk pergi menjalani promo album di luar kota mulai mengemas barang-barang yang ia butuhkan.
Selama dua hari ke depan, ia akan meninggalkan apartemennya menjalani jadwal padat, wawancara, dan sesi tanda tangan yang melelahkan.
Suara Mora yang datang di pagi hari yang damai memecah ke damainya seorang kim
Suara Mora yang datang di pagi yang tenang itu seketika memecah kedamaian Kim.
“Kim, Kamu sudah siap belum? Kita tidak punya banyak waktu!”
"Ya, aku sudah siap" Kim yang sebelumnya menikmati pagi dengan tenang hanya menghela napas pelan. Kedamaian yang baru saja ia rasakan harus kembali tergantikan oleh jadwal padat yang menantinya.
Terkadang dia hanya ingin merasakan hidup normal seperti orang biasa, tidak hidup bagai robot yang tidak pernah berhenti bekerja siang malam tidak ada bedanya.
Bangun pagi tanpa dikejar jadwal, berjalan santai tanpa sorotan kamera, tertawa tanpa beban citra yang harus dijaga.
Di balik gemerlap popularitasnya, ada lelah yang tak banyak orang tahu.
Dan di balik senyum sempurnanya, ada keinginan sederhana yang belum pernah benar-benar ia rasakan: hidup sebagai dirinya sendiri.
Bagaimana kelanjutan kisah kim,dan Vio akankah mereka bisa jujur dengan apa yang mereka rasakan dengan dunia mereka yang berbeda
Bersambung 💜