"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25.Pengagum
Hari-hari berlalu berganti, namun bayangan wajah Raisa tak pernah sekalipun lepas dari benak Alif. Dulu setiap kali ia menutup mata, yang terbayang hanyalah deretan perintah tugas, janji kesetiaan buta, dan ambisi kemenangan organisasi yang telah membesarkannya. Namun kini, gambaran yang selalu hadir tanpa ia panggil adalah senyum tipis gadis itu saat berhasil melewati satu tahap latihan berat, atau cara ia menahan rasa sakit saat terluka namun tetap tak mengeluh dengan keras.
Setiap kali ia diam-diam mengamati dari balik rimbunnya pepohonan, jantungnya berdegup tak karuan setiap kali melihat Raisa tertawa lepas mendengar candaan Arya atau Sekar. Tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat membentuk senyum lembut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya selama hidupnya yang penuh kekerasan. Namun seketika itu juga hatinya ikut sakit saat melihat Raisa terpeleset dan lengannya tergores ranting tajam hingga meneteskan darah.
"Kenapa aku begitu cemas? Bukankah dia seharusnya hanya target misi bagiku?" bisiknya pelan pada diri sendiri sambil mencengkeram rumput di sampingnya, namun hatinya berteriak sebaliknya dengan sangat lantang. Setiap tetes darah yang keluar dari luka kecil itu terasa seperti menyayat dadanya sendiri berkali-kali lipat. Ia ingin sekali berlari mendekat, membersihkan lukanya, mengikatnya dengan rapi, dan melindunginya dari segala bahaya yang ada di dunia ini. Namun ia sadar betul siapa dirinya saat ini dan apa batasan yang selama ini mengikatnya.
Hingga suatu hari, saat ia kembali ke tempat persembunyiannya seperti biasa dengan hati yang berharap bisa melihat sosok itu walau sekilas, tak ada siapa pun di sana. Mata air pegunungan itu sunyi senyap, tak ada suara tawa renyah, tak ada suara napas yang tersengal lelah, dan tak ada bayangan yang bergerak di antara bebatuan. Ternyata latihan sudah dipindahkan ke dalam rumah sesuai ucapan Arya tempo hari demi kenyamanan Raisa.
Hari berganti hari, rasa gelisah dalam diri Alif semakin tak tertahankan. Ia tak tahu bagaimana keadaan Raisa sekarang, apakah lukanya sudah sembuh sempurna, apakah ia masih semangat menjalani latihan, atau apakah ia baik-baik saja setiap harinya. Rasa rindu yang tak pernah ia pahami maknanya kini mendesak kuat di dadanya, perlahan mengalahkan rasa takut akan hukuman maut dari pemimpin organisasinya.
Malam itu, saat bulan purnama bersinar redup menembus celah awan dan seluruh penghuni rumah sudah terlelap pulas, Alif akhirnya memberanikan diri menyelinap masuk. Dengan gerakan senyap persis seperti bayangan yang melayang, ia memanjat dinding rumah mewah itu perlahan hingga mencapai jendela kamar Raisa yang sedikit terbuka untuk membiarkan udara malam masuk. Perlahan ia mendorong daun jendela itu masuk tanpa menimbulkan suara sedikit pun, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang hangat dan berbau wangi sabun yang lembut khas gadis itu.
Di sana, di atas tempat tidur yang rapi dan empuk, Raisa terbaring tertidur pulas. Wajahnya yang biasanya tegang menahan lelah kini terlihat begitu damai dan tenang, jauh dari segala kekhawatiran yang sering menghantuinya saat terjaga. Alif melangkah perlahan mendekat satu per satu, matanya tak lepas menatap wajah itu seakan tak ingin melewatkan satu detik pun. Ia menatap perban tipis yang masih melilit lengan gadis itu, rasa haru dan sedih bercampur menjadi satu menyelimuti seluruh hatinya.
"Maafkan aku..." bisiknya hampir tak terdengar oleh telinga manusia biasa. "Seandainya aku bisa melindungimu dengan lebih baik dan lebih terbuka lagi..."
Ia perlahan mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar, ingin sekali menyentuh wajah itu dengan lembut, ingin memastikan perasaannya terhadap Raisa memang berbeda. Namun tepat saat ujung jarinya hampir menyentuh kulit lembut lengan Raisa...
"Kau berani sekali menginjakkan kaki di tempat ini tanpa izin."
Suara berat, dingin, dan penuh ancaman itu tiba-tiba menggema dari sudut kamar yang tadinya gelap gulita. Belum sempat Alif menoleh atau menarik tangannya kembali, sosok besar sudah melesat menyerang dengan kecepatan yang tak bisa diikuti mata biasa. Serangan itu begitu cepat dan kuat, membuat Alif tak sempat menghindar atau membela diri. Tubuhnya terpental keras melintasi ruangan hingga membentur dinding tembok kamar dengan suara dentuman yang menggelegar memecah keheningan malam.
"Agh!" erang Alif tertahan menahan sakit yang luar biasa, mencoba bangkit namun dadanya terasa perih seakan diremas kuat oleh sesuatu yang panas.
Suara benturan keras itu seketika membangunkan Raisa dari tidurnya. Ia tersentak bangun dengan napas yang tersengal kaget, jantungnya berdegup kencang seakan mau melompat keluar. Dengan tangan yang gemetar, ia segera meraba saklar lampu di samping tempat tidurnya dan menekannya. Cahaya terang seketika menyinari seluruh ruangan dengan jelas.
Matanya membelalak tak percaya melihat pemandangan di hadapannya. Arya berdiri tegak tepat di tepi tempat tidurnya, tubuhnya merenggang lebar seolah siap melindungi gadis itu dari segala ancaman yang ada. Di hadapannya tak jauh dari sana, seorang pemuda asing berpakaian serba hitam sedang duduk bersandar lemah di dinding sambil memegangi dadanya yang terasa sakit sekali. Wajahnya tampak pucat namun matanya tetap berani menatap ke arah mereka.
"Siapa kau? Dan berani-beraninya kau menyelinap masuk ke kamar ini?!" bentak Arya, suaranya mengancam penuh kemarahan yang masih ia tahan sekuat tenaga, sementara samar-samar cahaya merah mulai menyala di manik matanya menandakan amarah Ba nas pati yang mulai mendidih.
Alif mengangkat wajahnya perlahan, menatap Arya dengan tatapan yang bercampur aduk antara rasa sakit, rasa takut, namun juga keteguhan hati yang tak tergoyahkan. "Aku... aku tidak bermaksud jahat sama sekali."
"Tidak bermaksud jahat?" Arya tertawa dingin, suaranya penuh penyangkalan. "Menyelinap diam-diam masuk ke kamar seorang gadis yang sedang tertidur disebut tidak bermaksud jahat? Jelaskan padaku sekarang juga sebelum aku menghancurkanmu di tempat ini tanpa sisa!"
Raisa masih terpaku diam di tempat, jantungnya berdegup kencang antara rasa takut yang mendadak dan rasa heran yang tak terkira. Ia menatap lekat-lekat wajah pemuda itu, dan perlahan ada sesuatu yang terasa begitu akrab meski belum pernah ia temui sebelumnya. "Kau... apakah kau yang selama ini mengawasi kami dari kejauhan?" tanyanya pelan dengan suara yang masih bergetar. "Apakah kau yang melempar buah mangga itu saat aku kehausan? Yang membuat angin sejuk datang saat aku kepanasan? Dan yang menggeser ranting tajam itu menjauh sebelum aku menginjaknya?"
Alif terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk pelan dengan penuh rasa segan. "Benar... semua itu aku yang melakukannya."
Mendengar pengakuan itu, kemarahan yang meluap di dada Arya meluap dan membuat tangan Arya mengeluarkan api yang bisa membakar Alif sekali serang. "Beraninya kau!.
Lalu Raisa bangun mendekati Arya mengapai tangan Arya dan berkata lembut.
" Jangan bunuh orang sembarangan didepan mataku, aku tidak mau kau kotori tanganmu dengan nyawa manusia tak berdosa lainnya. "
Arya pun memandang Raisa, perlahan api yang keluar dari tangannya menghilang, Arya merasakan untuk pertama kali rasa sejuk di hatinya.
Lalu Raisa berdiri disamping Arya, dan menatap Alif.
"Aku berterimakasih atas semua kebaikan mu, dan aku tahu kau berbeda dari anggota organisasi yang lain. Tapi sebenarnya apa maksudmu?, apa kamu menculik ku atas perintah pimpinan mu?. "
"Bukan!" seru Alif cepat memotong dengan suara yang sedikit meninggi namun tetap berusaha menahan diri. "Aku tidak untuk menculikmu, aku hanya diperintahkan untuk mengawasimu."
"Kenapa kau begitu peduli pada Raisa?" tanya Arya tajam sambil melangkah selangkah lebih dekat ke arah pemuda itu. "Bukankah kau bagian dari kelompok yang ingin mencelakainya? Bukankah kau mata-mata yang dikirim khusus untuk memantau perkembangannya sampai saatnya merenggut apa yang menjadi milik kalian?"
Alif menunduk dalam-dalam, rasa bersalah yang luar biasa menyelimuti seluruh hatinya. "Dulu... memang itu tugas yang diperintahkan kepadaku. Tapi semenjak hari pertama aku melihatnya, semenjak melihat betapa tulus, kuat, dan baik hatinya... aku tidak bisa lagi melaksanakan apa yang diperintahkan kepadaku. Aku mulai menyadari bahwa segala sesuatu yang diajarkan guruku selama ini hanyalah kebohongan dan kesalahan besar."
Ia mengangkat wajahnya kembali, menatap lekat-lekat mata Raisa dengan pandangan yang tulus dan penuh perasaan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dari siapa pun. "Dan... dan aku sadar sepenuhnya sekarang. Aku tidak lagi melihatnya sebagai sekedar target misi atau benda berharga. Aku..."
Kata-katanya terhenti sejenak karena rasa malu yang meluap, namun tatapan matanya sudah menjelaskan segalanya lebih jelas daripada ribuan kata yang bisa diucapkannya.
Raisa mengerti yang dimaksud Alif, dia menahan senyumnya di belakang Arya.
Lalu berjalan mendekati Alif, "Apa aku cantik?. "
Alif tertunduk malu, dan menganggukkan kepalanya pelan sambil menahan senyum di sudut bibirnya.
Arya mulai terbakar dan ingin segera menyingkirkan pria didepan Alif, Raisa pun terdiam dan merasakan aura api yang panas di belakangnya dan benar saja Arya sedang terbakar yang membuat Raisa bingung.
Pria ini gila? Apa mau membakar kamarku dan aku, pikir Raisa.
Raisa bergerak refleksi memeluk Arya didepan Alif, dan berkata.
"Hentikan Arya! Apa kamu ingin membakar tempat ini dan aku dengan api sebesar ini. "
Arya menghela napas panjang yang terdengar berat, mencoba menenangkan api amarah Ba nas pati yang masih berkobar di dadanya.
Arya pun menatap Raisa lembut, "Tapi beraninya dia merayumu, memangnya siapa dia?. "
"Dia hanya memujiku saja,aku mengatakan itu hanya ingin tahu maksudnya memberikan perhatian diam-diam pada ku. "
Arya melepaskan pelukannya, dan berjalan kearah Alif.
Ia menatap Alif dengan pandangan yang kini lebih tajam namun juga penuh pertimbangan yang matang.
"Pergilah jangan kembali lagi, " Perintah tegas Arya.
Alif pun berdiri dengan kaki lemas dirinya keluar lewat jendela kamar seperti bayangan tak terlihat.