Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 : Harga untuk melepaskan.

‎"Turun, Tuan Pradana. Jangan persulit keadaan."

‎Jason menelan ludah, jantungnya mulai berdegup kencang. Ia tahu kehadiran orang-orang seperti ini biasanya hanya mewakili satu kekuasaan, yaitu kekuasaan yang jauh lebih besar daripada dirinya.

‎‎"Siapa kalian? Kalian tahu siapa aku? Aku—"

‎‎"Kami tahu siapa Anda," potong pria itu dingin, suaranya datar tanpa emosi. "Itulah sebabnya kami meminta Anda turun dengan sopan. Sekarang, tolong buka pintunya sendiri, atau kami akan membukanya dengan cara lain."

‎‎Melihat tidak ada jalan keluar, Jason akhirnya membuka pintu perlahan dan turun ke aspal yang dingin. Sebelum ia sempat berdiri tegak, dua orang pria langsung melangkah ke samping kanan dan kirinya, seolah mengapitnya tanpa kasar namun tak memberi ruang untuk bergerak.

‎‎"Kalian mau bawa aku ke mana? Siapa yang menyuruh kalian?" tanyanya dengan nada yang berusaha terdengar menantang, meski kakinya terasa sedikit lemas.

‎‎Pria yang berdiri di depannya tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat tangan ke arah salah satu mobil di belakang.

‎"Masuk ke mobil itu. Nanti Anda akan tahu semuanya."

‎‎"Aku tidak mau—"

‎‎"Pilihan ada di tangan Anda, Tuan Pradana. Masuk dengan kemauan sendiri, atau kami bantu dengan cara yang tidak akan membuat Anda nyaman."

‎‎Jason menatap mereka bergantian, menyadari bahwa perlawanan saat ini sama saja dengan menghancurkan dirinya sendiri. Dengan napas kasar dan tangan yang mengepal erat, ia akhirnya melangkah menuju mobil yang ditunjuk, dipapah oleh dua orang di sisinya. Pintu ditutup rapat, dan tak lama kemudian keempat mobil itu melaju kembali, membelah kegelapan malam menuju arah yang sama sekali tidak dikenali oleh Jason.

‎‎-

‎‎-

‎Suasana di ruang bawah tanah itu jauh berbeda dari ruang kerja di lantai atas. Udara terasa dingin dan lembap, dinding-dinding betonnya memantulkan suara setiap langkah dengan gema yang dalam. Penerangan tidak terlalu terang, hanya lampu sorot kuning pucat yang menggantung rendah di langit-langit, menciptakan bayangan-bayangan panjang di sudut-sudut ruangan yang luas dan kosong. Bau semen basah bercampur dengan sisa aroma cerutu yang masih tertinggal di pakaian Damian.

‎‎Damian duduk di kursi kulit tua yang ditempatkan tepat di bawah sorot lampu, meja kayu hitam di depannya kosong kecuali piringan cerutu dan sebuah botol minuman yang belum dibuka. Saat Jason dipapah masuk ke ruangan itu oleh dua pengawal, langkahnya terhenti seketika. Kakinya terasa lemas, bukan hanya karena dinginnya udara, tapi karena aura kekuasaan yang jauh lebih berat dan menindas di sini.

‎‎"Duduk," perintah Damian pelan, menunjuk kursi besi sederhana yang diletakkan di seberangnya, tanpa sandaran, terlihat jauh lebih rendah seolah sengaja menciptakan jarak kedudukan di antara mereka.

‎Jason duduk dengan ragu, matanya menyapu sekeliling ruangan yang sunyi dan sepi, tidak ada jendela, tidak ada jalan keluar lain selain pintu baja tebal yang baru saja ditutup dan dikunci di belakangnya.

‎‎"Kau bawa aku ke sini... seolah aku musuh berbahaya, padahal kita tidak pernah ada urusan Tuan Salvatore." ucap Jason mencoba terdengar tenang, namun suaranya bergema pelan dan terdengar rapuh di ruangan itu.

‎‎"Kau bukan musuh berbahaya, Jason," jawab Damian tenang, kembali menyalakan cerutunya, ujungnya berpijar merah menyala di kegelapan. "Tapi kau juga bukan lagi orang yang berhak berdiri di dekat Celine."

‎‎Jason terkesiap kaget, matanya membelalak, "Apa maksudmu? Kau... kau kenal Celine?"

‎‎"Ya kenal. Sangat kenal." jawab Damian, ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap Jason lekat-lekat di bawah cahaya lampu. "Jadi aku tanya sekali lagi, dan di sini aku tidak akan memakai kata-kata yang halus. Berapa hutang Celine padamu? Uang rumah sakit, semua uang yang pernah dia pinjam darimu selama kalian menjalin hubungan. Katakan berapa, aku akan mengganti semuanya tapi dengan syarat hilang dari hidupnya. Jangan cari dia, jangan hubungi dia, dan jangan pernah muncul di mana pun dia berada."

‎‎Jason tertawa pahit, suaranya terdengar nyaring di ruangan beton itu.

‎‎"Siapa kau baginya Damian Salvatore?Kau pikir dengan cek tebal di tangan, aku akan pulang dan melupakan dua tahun kebersamaan kami? Aku mencintainya, Damian! Dan aku tidak akan menuruti kata-katamu itu!"

‎‎Damian tetap tenang, namun ujung jarinya yang mengetuk pelan meja kayu hitam itu berhenti seketika. Asap cerutu melayang perlahan di udara dingin, seakan waktu ikut berhenti sejenak.

‎‎"Mencintainya..." ulang Damian pelan, nada suaranya rendah, hampir berbisik, namun terdengar begitu berat hingga membuat Jason menelan ludah tanpa sadar. "Kau menyebut itu cinta?"

‎‎Ia menatap tajam, sorot matanya menembus ke dalam jiwa Jason.

‎"Kau mencintainya, atau kau mencintai rasa memiliki yang kau pikir bisa kau beli dengan uangmu? Dua tahun kebersamaan? Itu bukan alasan untuk terus menuntut dia tetap terikat padamu, apalagi saat dia sudah memilih jalan hidupnya yang baru."

‎‎Jason berdiri tiba-tiba, kursi di bawahnya berdecit keras di lantai beton. "Kau pikir kau siapa?! Kau cuma orang asing yang tiba-tiba muncul dan mengaku-ngaku! Celine belum pernah bicara soal pria lain padaku! Aku yakin dia dipaksa! Kau mengancamnya kan?!"

‎‎"Kau pikir aku butuh memaksa wanita seperti dia?" Damian berdiri perlahan, ketinggian tubuhnya yang menjulang seketika membuat Jason mundur selangkah tanpa sadar. "Celine memilihku dengan sadar. Dia tahu di mana tempatnya berada sekarang. Dan aku... aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk kau, mengganggu kedamaiannya."

‎Damian memberi isyarat tangan ke arah pintu, dan Luca masuk membawa sebuah map tebal, meletakkannya di meja di hadapan Jason.

‎‎"Di dalam sini ada rincian semua pengeluaran yang pernah kau klaim sebagai biaya untuknya dan ibunya. Angka yang lebih besar dari itu sudah kusiapkan di rekening yang akan kuberikan. Itu pelunasan, sekaligus kompensasi atas waktu yang kau katakan dua tahun itu. Ambil, tanda tangan perjanjian ini, dan kau bebas pergi. Bisnismu tetap aman, tidak ada yang akan mengganggu Pradana Group."

‎‎Damian berhenti sejenak, menatap Jason dengan tatapan yang dingin dan mematikan.

‎‎"Tapi jika kau menolak... maka kita tidak akan lagi bicara soal uang. Kita akan bicara soal konsekuensi. Dan aku jamin, Tuan Pradana, kau tidak akan sanggup membayar harganya."

‎‎Jason menatap map itu, lalu menatap Damian. Jantungnya berpacu cepat, kepalanya berputar memikirkan resiko. Di satu sisi, egonya menolak dikalahkan begitu saja. Tapi di sisi lain, ia tahu betul siapa yang sedang berdiri di hadapannya. Pemimpin klan Salvatore, pria yang kekuasaannya jauh melampaui sekedar kekayaan perusahaan miliknya.

‎‎"Dan jika aku tetap menolak?" tanyanya pelan, suaranya sedikit bergetar.

‎‎Damian tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya.

‎‎"Maka kau tidak akan keluar dari ruangan ini dengan cara yang sama seperti saat kau masuk. Dan kau juga tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada perusahaanmu, reputasimu, bahkan orang-orang yang kau sayangi. Pilihan di tanganmu, Jason. Sekali lagi, ambil uangnya, pergi, dan lupakan Celine. Atau hancur bersama egomu."

‎‎-

‎-

‎-

‎‎Pintu kamar Elena terbuka pelan. Celine melangkah masuk, tangannya masih menggenggam gagang pintu, napasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, "Bu... aku harus pergi sebentar."

‎‎Elena yang sedang menyisir rambut di depan cermin kecil berhenti, menatap pantulan putrinya dengan bingung. Ia berbalik perlahan. "Pergi kemana, Sayang? Malam-malam begini?"

‎‎Bibir Celine terbuka, hendak menjawab, namun kata-kata itu seakan tertahan di tenggorokan. Ia tampak bimbang, matanya menunduk sejenak sebelum mengangkat wajah.

‎‎TIIINNN!!!

‎‎Suara klakson mobil terdengar nyaring dari halaman depan, memecah keheningan malam itu hingga bergema sampai ke dalam rumah. Elena mengerutkan kening, menoleh ke arah jendela yang terbuka sedikit.

‎‎"Itu siapa yang datang bertamu?" gumamnya, lalu secercah harap muncul di matanya. "Apakah itu Jason?"

‎‎Tanpa menunggu jawaban dari putrinya, Elena langsung bergegas melangkah keluar kamar dengan semangat.

‎"Bu, pelan-pelan!" seru Celine sambil segera mengikuti di belakangnya, langkahnya cepat namun tetap waspada agar ibunya tidak terjatuh.

‎‎Sesampainya di teras, lampu teras yang menyala terang menyambut mereka. Mobil hitam besar, berkilau di bawah cahaya lampu jalan, terparkir rapi di halaman. Pintu pengemudi terbuka, sepasang sepatu kulit hitam menginjak tanah, lalu sesosok tubuh tinggi berbalut jas hitam rapi melangkah keluar. Damian berdiri tegak, aura dinginnya sedikit meleleh saat mendongak melihat mereka berdua di teras.

‎‎Ia melangkah satu langkah ke depan, menunduk hormat sedikit, lalu suaranya terdengar rendah namun sopan dan jelas menembus keheningan malam.

‎"Selamat malam, Ibu."

--

--

--

Bersambung...

1
Lembang Azam
udah sana ikuti suamimu yg penghianat itu,, biar kamu bisa melihat kbenaran klw mmg Matteo itu ingin menggantikan posisi damian😤
🔥Violetta🔥: Perlu dikasih faham dulu si Valen kak 🤭😂😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
sulit Cel... mana dia bos nya
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
🍓ADIRA🍓
Kalaupun si Matt tak balik, masih ada yang nganggur di depan mu noh Val 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Masih aja dirimu Val /Proud/
〈⎳ FT. Zira
bales aja Cel.. doakan juga yaa sambil ngelus perut🤣
〈⎳ FT. Zira
ketika kekakuan berubah menjdi jelly🤭🤭
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwkwk... diriku cuma intip dikit Thoorrr 🫣😂😂
🍓ADIRA🍓: Diriku masih polos Thorrrr 😂😂 janganlah kau nodai dengan kelakuan messyyumm si Revan 😂😂😂
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
jawab apa hayo 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Seketika Val pun lupa dengan gengsinya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Pamer 🤮🤮🤮
🍓ADIRA🍓
Oh si remote toh 😂😂
MamDeyh
Aku bukan bocil tp emak yg punya bocil, jadi boleh yaaa/Grin/
🔥Violetta🔥: boleh banget... diwajibkan malah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Siapa. pulak ini /CoolGuy/
🍓ADIRA🍓
Yeeee suka^ Oma donk /Tongue/
MamDeyh
Siapa itu yaaaa
🍓ADIRA🍓
Nah 👏👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!