Indonesia
NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita Taklukan Bersama

Aku berjalan menelusuri lorong rumah sakit dengan ditemani Ciara yang terus menggenggam tanganku. Katanya ingin mengantarkan aku agar aku tidak tersesat untuk menemui Dokter Revan.

"Bu guru, itu pacarnya lagi duduk di bawah pohon."

Ciara menunjuk Kak Revan yang sedang duduk sambil bertekuk siku di atas pahanya. Motor custom hitamnya setia menemani ia duduk di taman.

"Ciara, itu bukan pacar Bu guru..." gumamku halus.

"Tapi kok Pak Dokter udah dua kali jemput Bu Guru Alya...."

"Pak Dokter!!!!"

Belum sempat aku mengelak pertanyaan dari Ciara, bocah cilik itu sudah memanggil Kak Revan dengan sangat kencang. Otomatis, Kak Revan menoleh ke arahku.

"Pacarnya sudah datang!!" Ciara teriak lagi, padahal jarak kami sudah sangat dekat.

Kak Revan hanya menampilkan guratan senyum samar pada Ciara. Aku masih berdiri kikuk di sampingnya. Kemudian, Kak Revan berdiri dan mengacak puncak kepala Ciara.

"Terima kasih sudah dipanggilkan Bu Guru Alya, Ciara."

Disebut Bu Guru Alya oleh Kak Revan, membuat hati ini terasa berbeda. Apa sikap manis ini akal-akalan Kak Revan saja untuk kembali meraih perhatian dariku?

"Sama-sama, Pak Dokter. Aku permisi."

Ciara berlari begitu saja, meninggalkan dua insan yang saling canggung untuk bertegur sapa.

"Ikut aku!" Suaranya begitu mengagetkanku.

"Ke mana, Kak?" tanyaku polos.

"Desa Mekar Ranum, ada bencana tanah longsor di sana. Aku sudah mengurus surat izin untuk tenaga pengajar yang dikirim ke sana. Tunggu apa lagi? Ayo berangkat!"

Pria yang memakai kemeja salur berwarna abu-abu itu telah menaiki motornya. Terlihat sangat gagah dan cocok dibandingkan dengan Kak Revan yang mengendarai mobil. Menurutku, jika dia sedang mengendarai motor, pesonanya akan semakin bertambah.

Aku masih mematung di tempat, tidak menyangka jika Kak Revan akan mengurus surat perizinan secepat itu.

"Kenapa harus aku, Kak, yang ke sana? Bahkan, kamu tidak membicarakannya terlebih dahulu denganku."

"Mungkin kamu orang yang tepat. Ayo cepat naik!"

Perjalanan ke sana akan memakan waktu tiga jam atau bahkan lebih, dengan Kak Revan mengendarai motor berdua. Membuatku sedikit ragu. Sudah terbayang bagaimana canggungnya kami saat di motor berdua nanti.

Akhirnya, aku melangkah dan menaiki motor Kak Revan dengan penuh keraguan.

Menerima helm yang sudah Kak Revan berikan, aku memakainya tanpa mengaitkan bagian pengamannya. Karena pengait helm ini akan susah saat nanti dibuka.

"Kaitkan helmnya!" Suara bariton itu mampu membuatku sedikit tersentak.

"Nanti susah bukanya, Kak."

"Nanti terbang helmnya, bahaya."

Aku berdecak pelan tanpa tersadar. Kak Revan menoleh, kemudian mengaitkan helmku dengan gerakan singkat. Membuatku sedikit tertegun.

Motor mulai melaju pelan, masih pelan. Tapi lihat saja nanti, aku harus siap lagi jika akan dibawa terbang kembali, seperti saat itu.

Motor mulai melaju terarah membelah kemacetan kota, sampai pada akhirnya stang motor berbelok pada jalanan sepi. Hobi banget Kak Revan motong jalan, padahal jalan alternatif lebih ramai dan seru. Daripada jalan pintas yang menurutku sangat menyeramkan. Dengan tebing curam, jalanan berbatu, hawa dingin yang menusuk, serta jalanan yang berbelok-belok bikin kepala pening.

Aku mulai mengeratkan pegangan pada ujung kemejanya.

"Kak, kenapa suka banget jalan sepi seperti ini, padahal jalan biasa juga nggak jauh beda jaraknya?"

Jalanan berbatu mulai terasa. Beberapa kali terasa ban motor ini terpeleset karena licin. Jika tidak lihai mengendarainya, mungkin sudah tergelincir jatuh. Curiga, Kak Revan ini mungkin mantan pembalap motor trail.

"Seru..." jawabnya singkat, sambil fokus mengendalikan stang motor.

"Perutku terasa diaduk-aduk."

"Yaudah, kalau gitu pegangan. Kita lebih ngebut lagi sampai nemuin jalanan bagus..."

"Akk, Kak!" Ban motor kembali terpeleset dan hampir saja kami terjatuh.

"Gimana sih. Ini katanya mau nolongin nyawa banyak orang, tapi kamu seperti akan membuang nyawa satu orang." Aku menimpuk bahunya, refleks karena saking kagetnya.

Dari kaca spion, aku bisa melihat pantulan tawa Kak Revan. Bukannya mikir, malah ketawa.

"Cepat, Kak, udah mau sore. Nanti kalau ada begal gimana? Ini jalanan sepi, rawan, loh..."

Aku semakin mengeratkan pegangan, menyandarkan tubuh pada punggungnya karena hawa dingin semakin menusuk. Berpura-pura ketakutan, padahal aku hampir menggigil kedinginan dan mencari kehangatan di balik punggung kokoh ini.

"Maaf, nggak sempat bawa jaket. Mungkin di sana kita bisa membelinya. Sekalian untuk perbekalan satu minggu ke depan."

Aku tidak bisa menjawab. Bibirku sudah bergetar kedinginan. Parah sekali, memang, Kak Revan. Mau ngobatin orang, malah jadi bawa orang sakit ujungnya.

Dua jam perjalanan, kami memutuskan untuk istirahat sejenak di salah satu pusat perbelanjaan. Kak Revan pergi entah ke mana. Sementara aku duduk bersandar di kursi, disuruh menunggu motor kesayangannya. Parah sekali memang.

Pantas saja hawa dinginnya semakin menusuk. Rupanya daerah sini sudah masuk daerah pegunungan. Lereng gunung dengan selimut kabut mulai terlihat.

"Baru setengah perjalanan, jangan nyerah."

"Aww, panas, Kak." Aku memegang gelas panas yang Kak Revan berikan.

"Lah, udah tahu panas, kenapa dipegang itunya?"

"Minum! Biar nggak menggigil kayak tadi...."

Sontak aku melebarkan mata, melihat sekilas pada pria yang dengan santainya sedang menyeruput segelas kopi. Jadi tadi Kak Revan tahu kalau aku menggigil.

"Aku nggak bisa minum kopi," ujarku pelan. Bahaya. Aku bisa tremor sampai sana. Ditambah aku punya anxiety yang akan kambuh jika minum kopi.

"Kenapa?" Sorot mata teduhnya kembali terlihat. Ada apa dengan Kak Revan? Apa dia sedang menarik perhatianku lagi di rumah?

"Gak bisa," ucapku sambil menggeleng. Meletakkan gelas kopi di atas meja.

"Ada GERD, kecemasan, panic attack, atau kamu positif bakteri H. pylori?"

"Aku lebih ke tremor aja kalau minum kopi."

Kak Revan tampak mengangguk. Ternyata ada manfaat juga, ya, punya suami dokter. Selain bisa mendiskusikan keluhan penyakit yang tidak kita ketahui, juga bisa dapat pengobatan VIP tanpa bayar.

Tapi, kamu harus sadar diri, Alya. Pernikahan ini hanya sementara. Jika Kak Revan sudah mendapat restu untuk menikahi Aira, kamu siap-siap saja dibuang.

Gumamku dalam hati.

"Yaudah, nanti cek lab."

"Hah... jangan dianggap serius gitu, Kak. Aku jadi takut."

"Simpan kopinya, ganti sama minuman hangat yang lain!"

Pada akhirnya, aku diberikan minuman sereal, juga seporsi nasi dan sate ayam. Kak Revan menuntutku untuk memakan porsi nasi kuli yang sangat banyak. Katanya takut lambungku lemah di jalan.

Ya Allah, perhatian Kak Revan hari ini begitu terasa hangat. Saat dia mengetahui aku menggigil di jalan, pria ini menghentikan sejenak perjalanan. Memberiku minuman hangat, juga jaket tebal yang ia beli di sini.

Berat sekali, ya Allah, jika rasa ini terlarut lebih dalam. Aku takut jika nanti saat kami berpisah. Aku yang paling merasa sakit oleh rasa ini, sebuah rasa cinta yang tidak pernah kupinta. Ia tumbuh dengan sendirinya.

"Ayo naik, pegangan yang erat. Kita akan menaklukkan jalanan terjal dalam waktu satu jam..."

Benar saja, kami sama-sama tertawa lepas saat Kak Revan berhasil menaklukkan tanjakan panjang yang curam tanpa menurunkan kakinya.

Menepis rasa takut bersama orang yang kita sayang itu rasanya begitu indah, tapi aku tidak tahu ada drama menyakitkan apa lagi setelah tertawa bahagia ini.

Bersambung

Jangan lupa like, ya, readers 🤩

1
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!