Karena kepolosannya Masayu Wulandari harus menelan pil pahit, ia harus menjalani kehamilannya di usia 15 tahun, dimana teman-temanya masih meraih mimpi, ia harus mengubur mimpinya.
Namun menikah muda karena sebuah insiden, membawa dampak yang sangat buruk bagi Ayu dan Dimas serta keluarga mereka. Apa yang akan Ayu lakukan, menggugurkannya atau menjalani kehamilannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpio Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Kamu hamil?” tanya Dimas terkejut ketika melihat hasil USG milik Jihan.
Jihan pun hanya mengangguk dan tidak bicara apapun.
“Aku enggak mau tanggung jawab, ‘kan kata kamu. Enggak usah pake pengaman karena selama ini kamu dengan suami kamu yang dulu, enggak hamil ‘kan. Kok sekarang bisa hamil?” tuduh Dimas.
“Aku enggak tahu, kenapa aku bisa hamil. Selama pernikahan aku dengan mantan suami aku terdahulu. Selama enam tahun bersamanya aku enggak hamil. Kenapa aku baru hamil ketika aku sudah berpisah dengannya. Padahal aku sudah berpisah dengannya selama enam bulan lamanya. Ketika aku bertemu dengan kamu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan mantan suamiku, Dim.”
“Pokoknya aku enggak mau tanggung jawab. Itu anak kamu bukan anak aku” tunjuk Dimas kepada Jihan.
“Kamu enggak bisa gitu Dim, ini anak kamu. Anak kita” tegas Jihan.
Dimas pun tertawa mengejek,“Bagaimana kamu tahu itu anak aku, siapa tau kamu pernah berhubungan dengan pria lain selain aku dan kamu menyangkanya itu anak aku. Aku sampai kapanpun tidak akan pernah bertanggung jawab” tuduh Dimas, setelahnya ia keluar dari kamar dan disusul oleh Jihan.
“Kamu pikir aku wanita yang kotor dan hina, Hah! Kamu pikir aku wanita yang sering gonta ganti laki-laki, Hah! Ini anak kamu , Dim. Aku melakukannya sama kamu, bukan sama setan!” teriak Jihan.
“Tapi aku enggak akan bertanggung jawab terhadap anak di dalam kandungan kamu. Itu salah kamu sendiri. Kamu yang bilang enggak usah pake pengaman karena kamu yakin kamu enggak bakal hamil. Ternyata kamu bisa hamil. Aku enggak bisa hidup sama kamu lagi. Kamu harus ingat Jihan, jika ada anak diantara kita, hubungan ini sudah tidak asik lagi. Aku hanya ingin bersenang-senang bukanya menciptakan keluarga dengan kamu dan terikat selamanya sama kamu, paham kamu!” seru Dimas.
Setelahnya Dimas mengambil tasnya dan keluar dari apartemen Jihan dan meninggalkan Jihan sendiri di dalam apartemennya.
Setelah Dimas pergi, Jihan merasa kosong dan sepi. Ia tidak tahu karma apa yang menimpanya. Kehamilan ini bukan seuatu anugerah untuknya melainkan karma untuknya.
Ia layaknya seperti wanita hina yang menjalani kehamilannya seorang diri. Jihan pun kembali ke dalam kamarnya dan menangis sendirian disana.
***
Ayu sedang menyusui Dela di kamarnya. Ia bersyukur sekali jika Dela tumbuh dengan sehat. Walaupun ia bercerai dengan suaminya. Ia yakin bisa membesarkan Dela seorang diri.
Dela nampaknya sudah tertidur pulas, Ayu pun langsung meletakkan Dela ke dalam box bayi.
Box bayi ini pemberian Ibu Selina. Walaupun ia sudah bercerai dari Dimas, Ibu Selina sering mengirim uang untuk Ayu guna keperluan cucunya.
Ibu Selina sangat menyayangi Ayu, walaupun ia kecewa dengan anaknya Dimas yang begitu saja menceraikan Ayu.
Pernah Ibu Selina ke rumah Ayu ingin melihat Dela cucunya. Selina membawakan bermacam- macam hadiah. Ibu Lisa melihatnya hanya biasa saja dan tidak memperdulikan kedatangan Ibu Selina ke rumahnya.
Ibu Selina tahu pasti Ibu Lisa kecewa dengan Dimas. Ia ingin meminta maaf atas perbuatan Dimas kepada putrinya. Namun, Ibu Lisa tidak peduli dan selalu menghindar.
Ayu keluar dari kamarnya untuk makan siang. Ibunya sudah memasakan sayur katuk dan lauk ikan goreng untuk Ayu. Ayu langsung mengambil nasi secukupnya ke mejikom dan mengambil sayur katuk di mangkuk lain.
Ayu bingung, kok Ibunya belum ada di meja makan. Ketika ia menengok keluar ternyata Ibunya sedang melamun di kursi depan warungnya.
Ayu pun menghampiri Ibunya disana, “Bu, kok ngelamun. Ibu udah makan siang belum?” tanya Ayu lembut.
“Ibu lagi enggak lapar, Nak. Dela udah tidur?”
“Udah Bu. Ayo Bu kita makan yuk. Aku enggak mau Ibu sakit” bujuk Ayu kepada Ibunya.
Akhirnya Ibu Lisa menuruti keinginan Ayu. Ia masuk kedalam bersama Ayu. Setelah sampai di meja makan, Ayu mengambilkan nasi, lauk dan sayur untuk ibunya.
Ibu Lisa pun menikmati makan siangnya dengan diam.
“Ibu kayak lagi ada masalah. Ibu enggak mau cerita sama aku?” tanya Ayu ketika mereka sedang makan bersama.
Ibu Lisa memilih diam dan meneruskan makannya. Ayu pun tidak berani menanyakan lebih lanjut dan ia pun memilih diam juga.
Setelah selesai makan, Ayu membawa piring bekas Ibu Lisa ke dapur untuk ia cuci. Ibu Lisa pun setelah makan, ia tidak langsung ke warungnya melainkan ia duduk di sofa ruang tamu.
Ayu langsung menghampiri Ibunya dan duduk disamping Ibunya.
“Aku tahu Ibu sedih ya sama nasib yang menimpa Aku. Aku minta maaf ya Bu kalo selama ini membuat Ibu susah dan sudah membuat aib untuk keluarga kita” ujar Ayu sedih.
“Tidak Nak ini udah kehendak Tuhan. Ibu hanya bingung menyampaikan fakta yang belum kamu dengar selama ini. Selama ini Ibu selalu menutupi fakta yang ada dan membohongi kamu. Sebentar ada yang mau Ibu tunjukkan kepada kamu” setelah itu Ibu Lisa ke kamarnya dan mengambil kotak berwarna hitam dan membawanya kehadapan anaknya.
Ibu Lisa pun mengambil salah satu foto dirinya dengan seorang laki-laki di dalam kotak tersebut.
“Ayu, ini foto Ayah kamu” ujar Ibu Lisa menyerahkan foto dirinya dengan Batara. Foto itu diambil ketika ia melangsungkan pernikahan di KUA. Beruntung pihak KUA mengabadikan momen tersebut sehingga Ibu Lisa mempunyai foto dirinya dengan suaminya.
Ayu mengambil foto tersebut. Selama ini Ibu tidak pernah memberitahukan foto Ayahnya kepada Ayu.
“Sebenarnya Ayah kamu belum meninggal. Ayah kamu masih hidup dan selama ini, Ibu sudah diceraikan oleh Ayah kamu sebelum kamu dilahirkan” Ibu menjeda ucapannya karena ia harus menggali lagi luka yang ia simpan sejak lama.
“Ayah kamu menikah dengan Ibu, karena ginjal Ibu cocok untuk nenek kamu. Setelah Ibu memberikan salah satu ginjal Ibu kepada nenek kamu lewat operasi. Pasca operasi, Ayah kamu tidak pernah memunculkan dirinya dihadapan Ibu. Ia terlalu pengecut, ia hanya mengutus pengacaranya untuk memberikan surat cerai kepada Ibu dan saat itu Ibu merasa di zalimi sekali oleh Ayahmu. Namun, Ibu tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Ibu bingung sekali kala itu. Ibu juga belum mengetahui jika kamu ada di dalam rahim Ibu. Ibu tidak terima ketika Ayah kamu mengutus pengacaranya untuk menyerahkan surat cerai kepada Ibu. Ibu akhirnya kerumah nenek kamu, ternyata disana Ibu melihat Ayah kamu sudah memiliki istri dan anak. Ibu merasa ditipu sekali olehnya. Ketika Ibu ingin berbicara dengan Ayahmu. Ayahmu menolak Ibu secara kasar serta menghardik Ibu supaya tidak muncul lagi dihadapannya. Ibu diusir olehnya dan Ayah kamu memberikan sejumlah uang di dalam koper untuk Ibu. Supaya meninggalkan dia. Setelah itu Ibu keluar dari rumah nenek kamu. Ibu berusaha menghadapi takdir yang sangat tidak adil. Sampai akhirnya Ibu tahu jika Ibu sedang mengandung kamu. Ibu tadinya ingin menggugurkan kandungan Ibu. Namun, ada seorang wanita tua yang menolong Ibu ketika Ibu ingin mengakhiri hidup. Ketika itu Ibu baru sadar, Ibu seperti membunuh jiwa yang tidak bersalah. Setelah itu Ibu tinggal dengan Ibu Sri di rumahnya. Ternyata Ibu Sri tidak mempunyai anak dan suami. Anak serta suaminya meninggal karena kecelakaan motor saat menjemput anaknya di sekolah. Kata beliau, mari kita hidup bersama-sama. Kamu sendirian, saya juga sendirian. Setelah itu Ibu hidup dengan Ibu Sri. Setelah Ibu melahirkan kamu. Ibu Sri meninggal. Ibu sangat sedih sekali. Makanya Ibu selalu bilang nenek kamu sudah meninggal ‘kan. Karena Ibu menganggap Ibu Sri adalah orang tua Ibu, Nak” Ibu Lisa menceritakan kisahnya sambil mengusap air matanya.