Sosok itu mengikutimu karena sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duplicatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 | ꦄꦮꦭ꧀ꦪꦁꦧꦆꦏ꧀ꦱꦼꦥꦼꦂꦠꦶꦧꦸꦔ꧉
"Jadii aslinya... Kita itu hidup seneng diatas kesengsaraannya Zafran ya?.." tanya Stella.
"Maa... Jangan gitu, aku oke jadi diriku sendiri. Aku tau Papa penakut, tapi apa bener dugaanku? Mama indigo kan?. Mama tau apa yang terjadi saat itu, dan buku itu sebenernya petunjuk dari Mama kan agar temen-temen Papa nyelesaiin itu semua. Tapi mereka semua..."
"Gagal."
Zahra menghela nafasnya. "Semua, semua yang pernah kamu tanya itu benar. Tapi sekarang udah gak lagi Za, Mama udah gak bisa bantu kamu. Mama gak bisa buka mata batin Mama karena Mama minta bantuan Pak Ustad dulu dan ditutup dengan paksa."
———
Kazea dalam perjalanan pulang. Gadis itu sedih karena harus kembali secepat itu, namun senang karena akan menjenguk Ghina yang katanya berada dirumah sakit. Berbeda dengan Kazea yang tengah mendengarkan musik dengan earphone. Zafran malah tengah membantu Zahra merapihkan gudang. Mereka baru saja kembali namu Zahra ingin menunjukkan sesuatu pada putranya tersebut.
"Ah, ketemu."
"Papa kamu pernah meneliti sesuatu. Mama si gak pernah baca, mungkin kamu mau." ucapnya memberikan sebuah buku kuno. Zafran menerima dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Zahra—meskipun wanita itu senang bisa melihat pertumbuhan anak-anaknya. Ia merasa ada yang aneh, tapi entah apalah itu.
"MAMA!! BANG ZEBRAA!! I'M COMING!!." Zahra menepuk pelan pipi gadis itu dari samping. Kazea memeluk Zahra lama lalu melepaskannya selang beberapa menit.
"Lho? Bang Zebra mana.." gadis itu mengedarkan arah pandangannya.
"Ada dikamar. Oh ya satu lagi, Mama udah denger cerita tentang kamu yang katanya ditelfon Mama trus ngabarin Tante Ghina sakit. Itu bukan Mama, bisa jadi orang iseng yang nakut-nakutin kamu karena nakal."
Mendengar itu Kazea sudah menganga. "Ih hantuu!!." teriaknya masuk kedalam kamar. Zahra menggelengkan kepalanya.
"Lagi ngapain Tan. Dari Mama." Gilang masuk melihat tingakah Zahra yang tidak biasa lalu memberikannya sesuatu.
"Ah? Oh ya makasih, Zafran di dalem." ucap wanita itu membawa bingkisan dari Ghina.
Zafran membaca satu persatu dengan teliti. Apa ada sesuatu yang terlewat ya hingga penyelamatan ayahnya itu gagal. Tapikan itu tidak mungkin jika ditulis, karena ayahnya juga sudah tiada. Buku itu hanya berisi penelitian ayahnya sebelum tiada.
"Tegang bener bacanya."
Zafran menoleh. Gilang langsung duduk disamping Zafran dan melihat buku yang tengah dibaca. "Bokap lo ya? Gue juga mau baca." ujarnya langsung diperbolehkan.
"Gimana kalo kita cari tempat ini? Siapa tau gitu ada sesuatu, orang atau apalah yang bisa ngasih tau." usul Gilang memang benar, tapi apakah Zahra akan mengizinkannya.
"Gunung dibalik gunung."
"Ah gue tau! Apa jangan-jangan sus-"
Zafran membekap mulut cowok itu yang akan mengeluarkan kata-kata mesum. Gilang menyengir tak bersalah. "Maap, gue tanya Tante Rara dulu." ucap Gilang beranjak keluar kamar Zafran.
Setelah beberapa menit cowok itu kembali dengan raut wajah masam. "Gak boleh kemana-mana katanya bahaya. Tapi kan gue penasaran, selain itu ada yang aneh."
"Apanya?."
"Ya masa lo gak tau sih. Lo tau nenek kakek lo? Maksud gue dari pihak ayah lo. Siapa tau mereka juga tau ceritanya, tapi Tante Rara gak mau kita cari tau." katanya.
"Hm gue tau mereka udah gak ada. Itu kata Mama waktu gue umur lima tahun." sahut Zafran.
"Kalo kalian mau kesana, harus punya niat yang berani dan mau menantang apapun. Kalo kalian takut, kalian bakal berakhir sama kayak Papa kamu." Zahra berucap diambang pintu.
▪ ▪ ▪
"Bang? Mau kemana sih lo? Liburan ya.. Gue mau ikut boleh kan?."
"Gak!!." Zahra menyahut lebih dulu.
"Lah kenapa Mama yang jawab? Aku kan tanya bang Zebra."
"Ga boleh Zee..." kini Zafran bersuara.
"Mentang-mentang dibeliin Mama motor baru lagi, sekarang gak boleh ikut. Mau seneng-seneng sendiri." kesal Kazea
"Bukan Ze. Abang kamu itu mau KKN sama temen kelasnya. Makanya gak ngajak kamu, udah kamu disini aja temenin Mama. Lagian libur kamu kan lebih panjang dari abang." wanita itu menghela nafasnya kasar melihat Kazea yang cemberut tak menatapnya.
"Pokoknya mau ikut!!."
"Tapi abang kamu kan naik Motor. Sama bawa barang, trus nanti kamu ikut dimana."
"Ya Zea minta bang Gilang bawa mobil la. Kan Zea bisa ikut dibelakang." ucapnya.
"Lo nanti sendirian kalo ikut. Lo dirumah jagain Mama." Zafran mengengahi.
"Yaudah kalo gak boleh. Zea bakal naik motor sendiri aja."
"Zea jangan nakal kamu. Abang kamu ini mau pergi ketempat jauh, lagian kamu gak bisa naik motor. Gausah aneh-aneh deh." Zahra menolak keras usaha gadis itu.
"Oh oke!! Kita semua bisa ikut. Mama, sama Mamanya bang Gilang, Papanya kak Chika. Pokoknya semua harus ikut!! Titik!!." Kazea melengos pergi masuk kedalam kamarnya.
Waktu malam tiba. Zafran dan yang lain tengah melakukan panggilan video Skype membahas tentang kepergian mereka. Semuanya terlihat sedang mempersiapkan barang-barang. Televisi menyala dengan Kazea yang memeluk bantal, kiranya gadis itu masih marah pada Zafran dan Zahra.
"Zee.. Iya besok kita semua ikut." Zahra berucap setelah menarik nafasnya panjang.
Matahari telah menjulang tinggi. Semuanya sudah siap. Para orangtua juga absen dari agenda mereka untuk melakukan liburan tersebut. Zafran dan Gilang menaiki motor, berbeda dengan yang lain menggunakan mobil. Kazea senang karena ini pasti akan menyenangkan dan takkan terlupakan.
"Liat Zea, seneng banget dia."
Chika menyadari sesuatu yang aneh. Gadis itu berdoa dalam hati mungkin pemikiran negatifnya yang terlalu berlebihan. Berbeda dengan Kazea, para orangtua tengah merasa cemas karena perjalanan mereka bukanlah untuk bersenang-senang. Melainkan membuka kembali apa yang terjadi di masalalu.
Sosok sekelebat bayangan yang terbiasa memberikan peringatan pada Zafran kini cowok itu tidak mendengarnya lagi. Namun ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
Zafran merasa ada sesuatu yang tertawa dibalik kegelapan. Ia mengawasinya, bukan hanya ia melainkan semua. Sosok itu mengawasi mereka semua dan tertawa. Cowok itu tidak akan diam saja seperti hari-hari itu dimana ia hanya diam dan tidak melakukan apapun.