Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26.Kenyataan yang pahit.

Malam masih menyelimuti hutan lebat itu dengan kegelapan yang nyaris tak tersentuh cahaya, ketika Alif melangkah menjauh dari rumah tempat Raisa tinggal. Dadanya masih terasa perih hebat, seolah ada bara api yang terus mendesak di dalam rongga dadanya—bekas satu pukulan Arya yang begitu kuat hingga ia hampir tak sanggup berdiri saat melompat turun dari jendela kamar. Namun rasa sakit fisik itu tak ada artinya dibandingkan kekacauan yang melanda seluruh isi pikirannya. Wajah pucat namun teguh Raisa, tatapan penuh rasa ingin tahunya, serta amarah yang membara di manik mata Arya terus berputar tanpa henti di benaknya, seakan mengejek segala kesetiaan yang selama ini ia bangun dan pelihara rapat-rapat.

Langkahnya berat, namun ia terus melangkah, mengikuti jalan setapak yang selama ini ia hafal di luar kepala. Tanpa sadar kakinya membawa ia kembali ke arah markas besar organisasi—tempat yang selama ini ia anggap rumah, tempat di mana ia tumbuh, belajar bertarung, dan diajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Namun kini, setiap langkah terasa seperti berjalan di atas paku tajam. Keraguan yang selama ini ia tekan dalam-dalam mulai merayap naik, merobek dinding keyakinan yang kokoh selama belasan tahun.

Belum sampai ia melangkah jauh, matanya menangkap cahaya kemerahan yang berkedip samar di antara rimbunnya pepohonan. Alif seketika berhenti melangkah, menahan napas dengan napas yang mendadak tercekat.

“Guru…?” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Di sebuah tanah lapang yang tersembunyi di balik dahan pohon raksasa, puluhan anggota organisasi berdiri rapi membentuk lingkaran sempurna. Di tengah lingkaran itu, beberapa pria dan wanita terbaring tak sadarkan diri di atas tanah lembab, tangan dan kaki mereka terikat erat dengan tali yang direndam ramuan khusus. Wajah mereka penuh memar dan luka lecet, pakaian mereka compang-camping seolah baru saja dipaksa menempuh perjalanan jauh tanpa istirahat sedikit pun.

Alif mengernyitkan dahi, rasa bingung mulai bercampur dengan rasa takut yang samar. Bukankah mereka hanya diperintahkan untuk mengawasi Raisa? Siapa orang-orang ini? Dan mengapa mereka diperlakukan seperti musuh yang baru saja ditaklukkan?

Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, ia menyelinap ke balik batang pohon besar yang berlumut, mengintip dari celah dedaunan sambil menahan detak jantungnya sendiri yang seakan mau meledak.

Di tengah lingkaran itu, sosok yang selama ini ia hormati, ia sebut Guru, dan ia jadikan patokan segala kebenaran melangkah perlahan mendekati tawanan pertama. Wajah lelaki itu terlihat jauh lebih tua daripada biasanya. Keriput dalam memenuhi kulitnya yang dulu kencang, napasnya terdengar berat dan tersengal-sengal setiap kali ia mengangkat kaki, dan rambut hitam legam yang dulu selalu tertata rapi kini sebagian besar telah memutih, kusam dan berantakan.

Salah seorang anggota yang berdiri paling dekat menundukkan kepala hingga dahi hampir menyentuh tanah. “Guru… semua persembahan telah kami bawa sesuai perintah.”

Sang Guru mengangguk pelan, gerakannya tampak lelah namun matanya berkilat tak wajar—seolah ada api yang menyala di balik manik mata itu. “Kalian telah bekerja dengan baik.”

Tanpa peringatan, tanpa kata-kata penjelasan, ia memegang leher salah satu tawanan dan menghitup aura kehidupan mereka.

Detik berikutnya, pemandangan mengerikan itu membuat darah Alif seakan membeku di pembuluh darah. Cahaya pucat keperakan keluar perlahan dari tubuh korban, mengalir seperti kabut tebal yang hidup, melayang pelan menuju telapak tangan sang Guru dan diserap masuk seketika.

Tawanan yang semula hanya pingsan seketika tersentak bangun, mulutnya terbuka lebar menjerit kesakitan yang tak sanggup ia ucapkan dengan kata-kata. Tubuhnya yang tadinya tegap dan sehat mulai mengering dengan kecepatan yang tak masuk akal. Kulitnya yang mulus kini mengeriput dan menempel erat pada tulang, matanya yang bening cekung ke dalam rongga, rambut hitamnya memutih dan rontok bersamaan. Dalam hitungan detik yang terasa seperti selamanya, seluruh cahaya kehidupan di tubuhnya lenyap seketika. Yang tersisa hanyalah tubuh kurus kering, kerangka yang hanya diselimuti kulit tipis yang kusam dan tak bernyawa.

Alif membelalakkan mata ngeri, tangannya menekan mulut sekuat tenaga agar tak ada suara yang lolos. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, jantungnya berdegup kencang seakan mau pecah.

Belum sempat ia mencerna apa yang baru saja ia saksikan, sang Guru bergerak perlahan menuju tawanan berikutnya. Tindakan yang sama terulang kembali. Jeritan yang memilukan hati terdengar berkali-kali, memecah keheningan hutan yang sunyi. Pria, wanita, tua, muda—tak ada satu pun yang tersisa. Satu per satu kehidupan mereka disedot habis tanpa ampun, tanpa belas kasihan, seolah mereka hanyalah wadah kosong yang berisi air yang hendak dipakai.

Sementara itu, beberapa anggota lain mulai menggali lubang besar di sudut tanah lapang itu dengan gerakan terburu-buru namun teratur. Mereka mengangkat tubuh-tubuh kering itu dan membuangnya ke dalam lubang tanpa upacara, tanpa doa, tanpa rasa hormat sedikit pun terhadap nyawa yang telah direnggut.

“Guru… kekuatan Anda mulai pulih kembali,” ujar salah seorang anggota dengan nada penuh hormat namun bergetar, seolah ia sendiri pun merasa ngeri namun tak berani mengatakannya.

Sang Guru mengembuskan napas panjang yang terdengar berat, dan perlahan keriput di wajahnya mulai memudar. Tubuhnya yang tadinya membungkuk perlahan kembali tegap, rambut yang memutih kembali berubah hitam pekat, dan sorot matanya yang redup kini kembali bercahaya tajam.

“Belum cukup,” ucapnya dingin, suaranya penuh ambisi yang tak terpuaskan. “Aku masih membutuhkan lebih banyak kehidupan. Kekuatan ini masih jauh dari apa yang dulu kumiliki.”

Jantung Alif berdegup semakin kencang, rasa ngeri kini bercampur dengan rasa muak yang mendadak naik ke kerongkongan. Selama bertahun-tahun ia diajarkan, ia percaya sepenuhnya bahwa organisasi ini didirikan untuk melindungi manusia dari makhluk gaib yang jahat, untuk menjaga keseimbangan alam, dan untuk membasmi segala kejahatan yang mengancam keselamatan manusia. Namun kenyataan yang ia lihat sekarang… justru manusialah yang menjadi mangsa. Justru gurunya sendiri yang menjadi perusak keseimbangan itu.

Seluruh tubuhnya gemetar hebat tanpa mampu ia kendalikan. Kakinya terasa lemas, namun ia tak bisa bergerak pergi. Ia terjebak antara rasa setia yang sudah mendarah daging dan kenyataan mengerikan yang baru saja terbuka di hadapan matanya.

Tanpa sadar, ia mundur selangkah, dan telapak kakinya menginjak ranting kering yang tersembunyi di bawah tumpukan daun.

Krek!

Suara kecil itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan malam, seakan berteriak memanggil perhatian semua orang yang ada di sana.

Sang Guru seketika berhenti bergerak. Perlahan ia menoleh ke arah rimbunnya pepohonan tempat Alif bersembunyi. Tatapannya yang tadinya penuh ambisi kini berubah sedingin es, tajam seakan mampu menembus batang pohon dan melihat langsung ke dalam jiwa Alif.

“Ada yang mengintip,” ucapnya singkat, namun kalimat itu membawa ancaman maut yang nyata.

Dalam sekejap, puluhan anggota langsung mencabut senjata mereka—pedang, keris, dan senjata pusaka lainnya yang berkilat diterangi cahaya obor.

“Temukan dia!” perintah sang Guru tegas. “Jangan biarkan dia hidup.”

Mereka tidak mengira itu adalah Alif si putra wakil ketua mereka,mereka beranggapan hanya warga desa Suka makmur.

Alif tak menunggu lebih lama lagi. Dengan kemampuan bergerak yang nyaris tanpa suara yang selama ini diajarkan organisasinya sendiri, ia melesat secepat kilat menembus kegelapan hutan, membelah dedaunan yang berdesir kencang.

“Kejar!”

Tiga anggota terkuat yang selama ini menjadi tangan kanan sang Guru segera melesat mengejarnya. Mereka bergerak secepat bayangan, melompati pepohonan tinggi dan bebatuan besar tanpa kesulitan sedikit pun, terus mengikuti jejak energi yang ditinggalkan Alif.

Kejar-kejaran itu berlangsung begitu sengit, napas mereka beradu dengan deru angin malam. Beberapa kali Alif hampir tertangkap—sebuah keris melesat tepat di samping telinganya, sebuah rantai energi hampir melilit pergelangan kakinya—namun ia selalu berhasil lolos berkat teknik penyamaran dan pergerakan yang selama ini ia pelajari dengan giat. Ia tahu setiap kelemahan yang dimiliki rekan-rekannya, ia tahu setiap celah dalam gaya bertarung mereka. Dan kini, pengetahuan itu justru yang menyelamatkan nyawanya sendiri.

Keringat dingin terus membasahi tubuhnya, rasa takut kini bercampur dengan rasa sakit yang mendalam. Ia tak hanya berlari untuk menyelamatkan nyawanya sendiri, ia juga berlari menjauh dari segala kebohongan yang selama ini ia yakini sebagai kebenaran mutlak.

Akhirnya, di ujung pelariannya, ia terdiam di hadapan sebuah air terjun besar yang airnya jatuh memukul bebatuan dengan suara gemuruh yang menutupi segala suara lain. Tanpa ragu sedikit pun, Alif menerobos derasnya air yang dingin menusuk tulang, meraba dinding batu basah di balik tirai air itu hingga ia menemukan celah sempit yang tersembunyi. Ia merayap masuk ke dalam gua kecil itu, lalu duduk bersila sambil menahan napas sekuat tenaga.

Air yang jatuh dengan deras itu menutupi seluruh jejak aromanya, menyamarkan segala getaran energi yang keluar dari tubuhnya. Di luar sana, ketiga pengejar mulai menyisir setiap jengkal area di sekitar air terjun, suara langkah kaki mereka terdengar samar namun jelas bagi pendengaran Alif yang tajam.

“Sumber energinya menghilang begitu saja,” ujar salah satu pengejar dengan nada bingung dan frustrasi. “Tidak mungkin dia lenyap ke udara kosong.”

“Dia pasti bersembunyi di sekitar sini,” sahut yang lain dengan nada penuh amarah. “Cari setiap sudut, setiap celah batu, setiap lubang yang mungkin ada! Guru tidak akan memaafkan kita jika kita membiarkan orang itu lolos.”

“Periksa dekat air terjun itu!” perintah pemimpin regu. “Biasanya tempat tersembunyi ada di dekat aliran air.”

Salah satu anggota mulai melangkah perlahan mendekati tirai air yang deras, tangannya memegang pedang erat-erat sambil memancarkan energi untuk merasakan keberadaan orang asing. Baru beberapa langkah kaki ia melangkah mendekat…

Sebuah suara tenang namun penuh wibawa tiba-tiba terdengar dari arah atas batu besar di sisi air terjun.

“Untuk apa kalian datang kemari?.”

Ketiga pengejar seketika berhenti melangkah, serentak menoleh ke arah sumber suara. Di atas batu besar yang menjulang tinggi, berdiri seorang pria berambut putih, dengan senyum tipis yang tak bisa dibaca maknanya. Cahaya rembulan yang menembus celah awan menyinari separuh wajahnya, menampakkan sorot mata yang tenang namun mengintimidasi.

Jatmika. Siluman ular pelayan setia Arya. Yang diberi tugas untuk menelusuri area dekat segel didesa Suka makmur.

“Ini wilayah tuanku,” ucap Jatmika tenang, suaranya datar namun membawa tekanan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merinding. “Kalian sudah terlalu jauh masuk ke tempat yang bukan hak kalian. Mundurlah sekarang sebelum hal buruk terjadi pada kalian.”

Salah satu anggota mendengus kasar, tangannya mencengkeram gagang pedang lebih erat. “Itu pelayan Ba nas pati.”

Jatmika terkekeh pelan, suara tawanya terdengar seperti gemuruh halus yang menggema di antara bebatuan. “Ternyata aku cukup terkenal diantara kalian.”

Tanpa aba-aba, salah satu pengejar yang paling berani langsung menerjang ke depan dengan pedang yang berkilat diliputi energi merah menyala. Pertarungan meledak seketika. Pedang yang penuh mantra dan energi gaib beradu dengan ekor ular raksasa yang tiba-tiba muncul dari bayangan tubuh Jatmika, berwarna putih cerah dengan sisik yang berkilau seperti batu berlian.

Dentuman demi dentuman terdengar mengguncang seluruh hutan di sekitarnya. Percikan energi memancar ke segala arah, memukul pepohonan hingga ranting-ranting besar patah dan jatuh ke tanah. Air terjun itu sendiri bergetar hebat, semburan air yang tinggi berhamburan ke mana-mana.

Dua anggota lainnya tak tinggal diam. Mereka segera menyerang dari sisi kanan dan kiri, mengeluarkan senjata pusaka serta mantra kuno yang selama ini mereka pelajari. Mereka bekerja sama dengan sangat baik, saling menutupi kelemahan satu sama lain, mengatur serangan agar Jatmika tak memiliki celah untuk melawan balik. Namun pengalaman Jatmika yang telah hidup selama ratusan tahun jauh melampaui apa pun yang bisa mereka pelajari dalam masa hidup manusia.

Jatmika bergerak lincah seperti bayangan yang melayang di antara cahaya dan kegelapan. Sesekali ekor ular raksasanya melilit batang pohon besar, menghancurkannya menjadi serpihan kayu yang beterbangan. Sekali ayunan ekornya saja mampu mengirim salah satu pengejar terpental jauh hingga menghantam batang pohon besar dan terkulai lemas tak sadarkan diri.

“Dasar...siluman ular sialan!” bentak pemimpin regu yang kini tinggal berdua saja dengan rekannya. Ia mengeluarkan mantra terakhir yang memusatkan seluruh energinya ke ujung pedang, lalu melesat menyerang dengan kecepatan tertinggi.

Namun Jatmika sudah menunggunya. Dengan satu hantaman telapak tangan yang dipenuhi energi perak pekat, ia menyambut serangan itu. Pedang itu seketika terlempar dari genggaman pemimpin regu, dan tubuhnya terpental mundur menembus dinding bebatuan di belakangnya hingga menimbulkan lubang kecil di sana sebelum akhirnya tergeletak diam tak bergerak. Rekannya yang tersisa tak sempat bergerak—satu ayunan ekor ular yang tak terduga membuatnya pingsan seketika di tempat.

Hutan kembali sunyi senyap, hanya tersisa suara gemuruh air terjun yang jatuh dan napas berat Jatmika yang terdengar tenang.

Jatmika memandang ketiga tubuh manusia yang kini tergeletak tak berdaya di tanah, lalu perlahan mengalihkan pandangannya kembali ke arah tirai air yang deras. Tatapannya seolah mampu menembus dinding air dan melihat langsung ke dalam gua sempit tempat Alif bersembunyi. Ia tahu betul siapa yang bersembunyi di sana, ia merasakan detak jantung yang tak tenang dan rasa bingung yang mendalam dari sosok muda itu. Namun Jatmika memilih diam, tak bergerak mendekat maupun berteriak memanggil.

Di dalam gua yang gelap dan lembab itu, Alif masih duduk terpaku menahan napas. Matanya tak lepas menatap sosok Jatmika yang berdiri tegap di atas batu besar. Rasa syukur yang tak terlukiskan bercampur dengan kebingungan yang makin dalam memenuhi dadanya. Untuk kedua kalinya dalam satu malam ini, nyawanya diselamatkan oleh pihak yang selama ini diajarkan kepadanya sebagai musuh, sebagai makhluk jahat yang harus dimusnahkan tanpa ampun.

Ia meremas tangannya erat-erat hingga kuku menancap ke telapak tangan sendiri. Seluruh ajaran, seluruh kepercayaan, dan seluruh kesetiaan yang selama ini ia bangun perlahan runtuh berantakan seperti reruntuhan bangunan yang tak sanggup menahan badai. Di hadapan kenyataan pahit ini, ia tak lagi tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia tak lagi tahu kepada siapa ia harus memercayakan hidupnya. Dan satu hal yang ia yakini sekarang—ia tak akan pernah bisa kembali ke tempat itu lagi.​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!