Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Sabotase Terakhir dan Benteng Cinta Tak Tergoyahkan

Sinar matahari pagi menyusup halus di antara celah tirai linen krem, membiaskan pendar keemasan yang hangat di atas tempat tidur utama.

Udara pagi Sukamaju terasa sejuk, membawa aroma teh camomile dan sup ayam segar yang mengepul di atas nampan kayu.

Tiga hari berlalu sejak badai hukum di rumah sakit dituntaskan, tetapi Dimas masih memperlakukan Kiara seolah-olah istrinya terbuat dari porselen paling ringkih di dunia.

Pria itu sudah mengenakan kemeja kerja putih yang rapi, namun dasinya masih tergerai di leher. Ia duduk berlutut di tepi ranjang, dengan sabar menyuapkan sendok demi sendok sup hangat ke mulut Kiara.

"Mas... aku ini cuma hamil muda dan sempat mual sedikit, bukan pasien rawat inap," kekeh Kiara pelan. Tangannya terangkat, mengusap dahi Dimas yang mengkerut tegang sejak tadi.

Dimas menangkap jemari Kiara, menyatukan telapak tangan istrinya ke pipinya sendiri, lalu mengecupnya lama.

"Buat Mas, satu helai rambut kamu dan calon adik Rayyan itu harganya tak terhitung, Ra," bisik Dimas dengan suara dalam yang sarat kelembutan.

"Mas nggak akan pernah tenang sebelum memastikan kalian benar-benar aman dari bahaya apa pun."

Di ambang pintu kamar yang terbuka sedikit, derap langkah kecil terdengar tergesa-gesa. Rayyan melompat masuk sambil memeluk boneka beruang cokelat raksasa yang tingginya hampir separuh tubuhnya. Anak kecil itu memanjat kasur dengan hati-hati, lalu menaruh boneka itu persis di samping kaki Kiara.

"Biar Bear-Bear yang jagain Mama sama Dedek bayi waktu Papa kerja ya!" seru Rayyan polos sambil menepuk-nepuk dada bonekanya.

Kiara tertawa renyah, merengkuh tubuh gembul Rayyan dan mencium pipinya gemas. Dimas tersenyum hangat menyaksikan pemandangan itu.

Namun jauh di dalam benaknya, ada sebuah ganjalan dingin yang belum terangkat. Farhan memang sudah menandatangani surat pernyataan hukum, tetapi kekalahan telak dan kehancuran bisnis pria itu bisa saja memicu keputusasaan yang berbahaya.

...***...

Suasana di lorong belakang Gedung Serbaguna terasa sepi dan dingin. Kegiatan gladi bersih pameran UMKM di aula utama baru saja selesai, dan mayoritas panitia telah bergeser ke area depan. Hanya tersisa pendar lampu neon yang berkedip redup di sepanjang koridor beton tempat penyimpanan barang instalasi.

Dimas melangkah menyusuri lorong seraya memeriksa lembar cek fisik bersama Arga. Langkah kaki mereka bergema menabrak dinding-dinding beton.

"Semua stan utama sudah siap, Mas Dim," ujar Arga seraya menutup map dokumennya.

"Gue balik ke kantor dinas dulu buat jemput berkas tambahan ya." pamit Arga

"Siap, Ga. Thanks ya," jawab Dimas.

Setelah Arga berlalu menuju pintu keluar utara, Dimas berbalik hendak menuju mobilnya. Belum sempat ia melangkah lima jangkah, sebuah bayangan tinggi melangkah keluar dari balik pilar beton yang gelap.

Dimas mendadak menghentikan langkahnya. Matanya menyipit tajam.

Di hadapannya berdiri Farhan. Pria dari Jakarta itu tak lagi tampak rapi dan berkelas. Pakaian jasnya kusut bercak noda, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah mendelik dipenuhi pendar kemarahan yang membakar. Tangannya yang gemetar menggenggam erat sebatang pipa besi tebal bekas instalasi panggung.

"Farhan?" desis Dimas dingin, memosisikan tubuhnya dalam mode siaga.

"Mau apa kamu ke sini? Tempat ini area terbatas."

"Gara-gara kamu... gara-gara kamu dan istri hukummu itu, seluruh investasi dan nama baikku di Jakarta hancur!" raung Farhan dengan suara parau yang hilang kendali.

"Rekeningku dibekukan, kawan bisnismu memutus kontrak, dan aku jadi buronan media! Kamu menghancurkan hidupku, Dimas!" racau Farhan

"Kamu yang menghancurkan hidupmu sendiri dengan kelakuan picikmu!" balas Dimas dengan nada tegas membentak.

"Serahkan pipa besi itu sebelum saya panggil keamanan gedung!"

Tiba-tiba, dari ujung koridor lain, terdengar derap tumit sepatu wanita berbunyi tergesa-gesa.

"Mas Dimas!" panggil sebuah suara jernih yang sangat dikenal Dimas.

Dimas menoleh kaget. Di ujung lorong, Kiara muncul didampingi Arga yang ternyata belum jauh pergi. Kiara menyusul ke gedung pameran karena khawatir suaminya belum makan siang.

Farhan ikut memutar pandangannya. Begitu matanya menatap Kiara yang sedang berjalan mendekat—terutama saat matanya menangkap tangan Kiara yang secara refleks melindungi perutnya—sisa akal sehat Farhan runtuh sepenuhnya. Dendam kesumat memuncak menjadi kegilaan liar.

"KALAU AKU HANCUR, KALIAN JUGA HARUS HANCUR!" jerit Farhan melengking.

Dengan mata mendelik kalap, Farhan bukannya menyerang Dimas, melainkan berbalik dan melesat cepat ke arah Kiara seraya mengayunkan pipa besi berat itu tinggi-tinggi ke udara, menyasar tepat ke arah perut Kiara!

Waktu seakan melambat. Teror mencekam membekukan udara di koridor dingin itu.

"KIARA, AWAS!" jerit Dimas melengking, gaungnya memecah kesunyian gedung.

Dalam hitungan sepersekian detik yang amat krusial, naluri seorang suami dan ayah melompati segala hukum fisika.

Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, Dimas menerjang jarak belasan meter, memutar tubuh tegapnya, dan melompat memasang punggungnya persis di hadapan Kiara.

Ia merengkuh kepala dan tubuh Kiara, mengunci istrinya rapat-rapat dalam dekapannya, menyembunyikan Kiara dan perutnya di dalam dadanya.

BUGH..

KRAK!

Dentuman pipa besi tebal yang menghantam bahu dan tulang punggung belakang Dimas terdengar begitu mengerikan. Hantaman keras itu memicu rasa sakit luar biasa yang merembet bagaikan sengatan listrik membakar seluruh saraf tubuh Dimas.

Pria tegap itu melepaskan erangan tertahan yang amat memilukan, napasnya tersengal hebat, dan sudut bibirnya meneteskan darah akibat tekanan kejutan fisik yang amat dahsyat.

Namun, bukannya meluruh roboh ke lantai, Dimas justru semakin mengencangkan cengkeraman tangannya di belakang kepala Kiara. Ia menahan seluruh beban pukulan dan goncangan itu sendirian, menolak memberikan celah sekecil apa pun bagi pipa besi itu untuk menyentuh kulit istrinya.

"MAS DIMAS!" jerit Arga dari kejauhan.

Farhan yang sudah gelap mata hendak mengayunkan pipa besi itu untuk kedua kalinya ke arah kepala Dimas.

Sebelum pipa itu meluncur turun, Arga menerjang Farhan dari samping dengan tekel keras!

BRAK!

Tubuh Farhan dihempaskan ke atas lantai beton. Pipa besi terlempar jauh berdentang nyaring. Dua petugas keamanan gedung berlari cepat menindih tubuh Farhan yang terus meracau gila, mengunci kedua tangannya ke belakang dengan borgol besi.

Sirene mobil polisi meraung-raung di luar gedung, suaranya makin mendekat membelah senja. Farhan ditarik paksa berdiri oleh petugas keamanan, digelandang keluar dalam kondisi tak berdaya menanggung hukuman atas penganiayaan berat berencana.

Di dalam koridor yang remang, Dimas perlahan berlutut di atas lantai beton yang dingin. Tubuhnya bergetar hebat, wajahnya pucat pasi, dan napasnya memburu menahan nyeri hebat yang memahat bahu kirinya. Kedua tangannya tetap tak terlepas sedikitpun dari jemari Kiara.

"Mas! Mas Dimas!" tangis Kiara pecah histeris.

Air matanya membanjiri pipinya saat melihat sudut bibir suaminya yang berdarah dan bahu kemeja putihnya yang mulai ternoda merah memar. Kiara berlutut di depan Dimas, meraba wajah suaminya dengan tangan yang gemetar hebat.

"Kenapa Mas nekad begini?! Punggung Mas bisa remuk! Ya Allah, Mas..." histeris Kiara seraya memeluk leher Dimas rapat-rapat.

Dimas menyandarkan dagunya di bahu Kiara, menghirup aroma tubuh istrinya sebagai penawar rasa sakit yang membakar sarafnya. Jemari Dimas yang gemetar perlahan terangkat, menyapu linangan air mata di pipi wanita yang amat dicintainya.

Bibir Dimas yang memucat menyunggingkan sebuah senyum yang sangat tulus—senyum paling hangat yang pernah Kiara lihat dalam hidupnya.

"Kamu... sama anak kita... nggak apa-apa, kan, Sayang?" bisik Dimas dengan suara yang amat lemah, sarat dengan kelembutan mutlak.

Kiara menggeleng cepat dalam tangisnya yang tergugu. "Aku nggak apa-apa, Mas! Aku dan anak kita selamat! Tapi Mas..."

Dimas memejamkan matanya rapat-rapat, mengecup pelipis Kiara dengan sisa tenaga yang ia miliki.

"Nyawa Mas nggak ada harganya, Ra... kalau sampai ada satu goresan pun yang melukai kamu dan malaikat kecil kita. Punggung Mas bisa sembuh... tapi kalau kamu kenapa-napa, jiwa Mas yang akan mati..."

Di bawah pendar neon koridor gedung yang temaram dan raungan sirene polisi yang makin mendekat, keteguhan cinta Dimas berdiri utuh tanpa cacat.

Tak ada lagi fitnah, tak ada lagi bayangan masa lalu. Yang ada hanyalah sebuah janji suci yang telah teruji oleh darah, rasa sakit, dan keabadian pengorbanan seorang suami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!