Indonesia
NovelToon NovelToon
Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Suami amnesia / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Musang_Galau

Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istriku Pencemburu

Yueji tiba-tiba berlarian masuk ke ruang tengah galeri, menyambangi Chandra yang sedang duduk berhadapan dengan Dila. Tanpa aba-aba sedikit pun, Yueji langsung merangkul leher suaminya dan menciumi pipi Chandra berkali-kali secara dramatis.

"Sayang... sayang... sayang..." bisik Yueji manja dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan.

Chandra menggeliat risih, matanya menyipit ke arah sang istri yang mendadak menjadi sangat agresif.

"Ada apa ini? Tumben banget," ucap Chandra heran.

"Pengen aja cium suami aku!" jawab Yueji santai, lalu kembali mencium pipi Chandra dengan mesra. Dia menoleh melirik Dila dengan tatapan menang.

"Dila maaf yah, tidak terganggu, kan?"

Mata Dila menajam menatap Yueji yang terus menempel pada Chandra.

"Siluman rubah ini sungguh licik!" maki Dila dalam batinnya yang mendidih.

Namun, dalam hitungan detik wajah Dila kembali memasang ekspresi profesional. Dia tersenyum tipis, lalu berucap dengan nada sindiran yang tenang.

"Tidak apa-apa, Tuan. Wajar kok kalau punya istri yang kekanak-kanakan seperti itu."

Mendengar ucapan menohok tersebut, mata rubah milik Yueji seketika aktif menyala merah.

"Maksud kamu apa?!" geram Yueji dengan nada mengancam.

Sambil memandangi kuku-kuku jarinya dengan gaya acuh tak acuh, Dila menjawab santai, "Saya cuma bicara fakta, Nyonya."

Yueji semakin emosi mendengar balasan itu. Jemari lentiknya mendadak berotot tipis, dan cakar-cakar tajam berwarna keemasan mulai muncul menyembul, siap mencabik-cabik wajah Dila di tempat.

Chandra yang merasakan hawa panas dari tubuh istrinya langsung panik dan berusaha melerai. Dia memeluk erat pinggang Yueji dari belakang, menariknya mundur, lalu mendudukkan sang istri tepat di atas pangkuannya agar tidak melompat menyerang.

"Hehehe... kok jadi pada ribut ya?" ucap Chandra sambil tertawa canggung, mengelus lengan Yueji yang masih tegang.

Dila yang melihat pemandangan mesra itu mendadak cemberut berat. Merasa tidak ada gunanya lagi bertahan di sana, Dila langsung berdiri seketika hingga kursi yang didudukinya terdorong keras dan terjatuh ke lantai.

"Saya hanya menyampaikan itu saja, Tuan Chandra. Kami tunggu kedatangan Tuan!" tegas Dila dengan wajah ketus.

Tanpa menunggu balasan, Dila membalikkan badan dan melangkah pergi keluar rumah dengan hentakan kaki yang kesal.

Melihat musuhnya retreat, Yueji yang masih di pangkuan Chandra berseru lantang menyoraki punggung Dila. "Huuu! Pelakor!"

Chandra menggelengkan kepala, lalu memandangi wajah istrinya dari samping dengan dahi berkerut heran.

"Sejak kapan kamu tahu kosakata itu, Sayang?" tanya Chandra polos.

Yueji seketika berdiri dari pangkuan Chandra. Sambil mendelikkan matanya dengan gaya cuek, dia menjawab pendek.

"Google!"

Yueji melangkah pergi begitu saja meninggalkan Chandra sendirian di ruang tengah. Chandra cuma bisa mengernyitkan dahinya kebingungan.

Chandra menghela napas panjang melihat kekacauan kecil di ruang tengahnya, lalu berteriak.

"Sisi! Bawakan kopi pahit ya, pakai gelas kecil saja."

"Baik, Tuan!" jawab Sisi cepat dari arah dapur.

Sementara itu, Yueji kembali ke ruang belakang dengan langkah kesal. Namun, matanya seketika membelalak saat melihat Garuda sedang santai tertidur lelap di atas dipan kayu milik Chandra.

"Ayam sialan! Beraninya kamu tidur di situ!" bentak Yueji penuh amarah.

Garuda bahkan tidak membuka matanya secara penuh. "Diam kau, Rubah. Aku sedang memulihkan energi. Lagipula aku heran, suamimu itu sebenarnya siapa? Sisa tempat duduknya saja memancarkan aura dewa, membuat tubuhku hangat."

Mendengar hal itu, Yueji refleks membuka mata rubahnya. Benar saja, terlihat pendar aura keemasan yang tipis namun pekat menyelimuti seluruh permukaan dipan kayu tempat Garuda rebahan.

"Aku tidak bisa mencabik dia kalau dia sedang berada di atas dipan kayu itu," desis Yueji dalam batinnya merutuki nasib.

Garuda terkekeh pelan dari paruhnya. "Rubah, pantas saja kau betah dan nyaman tinggal di sini."

"Diam kamu!" cetus Yueji ketus.

Ogah mempedulikan Garuda lebih lanjut, Yueji berjalan menuju sudut teras dan mengambil alat penyiram tanaman. Dia lalu fokus menyiram koleksi bunga-bunga ras iblis yang diam-diam dia tanam di sudut taman.

Melihat hal itu, Garuda kembali mengomentari dari atas dipan. "Bisa-bisanya kamu menanam bunga iblis di tempat yang penuh aura dewa seperti ini?"

Yueji yang sudah di puncak kejengkelan mendadak geram. Tanpa pikir panjang, dia mengambil segumpal tanah basah lalu melemparkannya tepat ke arah wajah Garuda.

PLAK!

Tanah basah itu mendarat mulus di paruh dan dahi sang elang.

"Sialan kau, Rubah! Ganggu meditasiku saja!" umpat Garuda sambil menggepakan sayapnya panik membersihkan tanah di mukanya.

"Cih! Meditasi apaan!" cibir Yueji tajam. "Puasin saja kamu rebahan di situ. Kalau sudah gemuk, nanti kubakar kamu buat jadi hidangan makan malam!"

"Ah, sial! Kalau kau bukan istri tuanku, sudah kucabik-cabik kamu dari tadi!" balat Garuda kesal. Dia menghela napas panjang, lalu memosisikan duduknya. "Baiklah, kali ini aku mengalah saja. Rubah, apa kamu mau hadiah? Tapi syaratnya jangan paksa tuanku mengusirku dari sini."

"Tidak!" jawab Yueji ketus tanpa menoleh.

"Yakin tidak mau?" pancing Garuda.

"Kalau kubilang tidak, ya tidak!"

Garuda berpura-pura menghela napas lelah. "Padahal aku bawa jantung phoenix salju... Ya sudahlah, kalau kau tidak mau biar kubuang saja ke kolam."

Langkah Yueji mendadak terhenti total. Dia tertegun beberapa detik sebelum akhirnya berbalik dan setengah berlarian ke arah dipan kayu.

"Kamu punya itu?!" tanya Yueji dengan mata berbinar penasaran.

"Tentu!" jawab Garuda bangga.

"Mana? Berikan padaku!" tuntut Yueji tidak sabaran.

"Boleh... tapi kita harus berkontrak dulu untuk tidak mengganggu urusan masing-masing," ujar Garuda penuh kelicikan.

"Baiklah, baiklah!" sahut Yueji cepat.

Sekejap kemudian, Garuda mengeluarkan sebuah gulungan kain berwarna emas dari balik bulu sayapnya. Itu adalah Kontrak Pengikat Sumpah—sebuah perjanjian magis kuno di mana jika ada yang melanggar isinya, si pelanggar akan seketika terlempar masuk ke dalam dimensi dunia bawah atau neraka.

Tanpa berpikir panjang karena sifat impulsifnya, Yueji langsung menggigit jarinya hingga berdarah, lalu menempelkan bekas darahnya tepat di atas gulungan emas tersebut.

Yueji pun kegirangan saat menggenggam jantung phoenix salju di tangannya. Sensasi dingin nan murni dari pusaka itu terasa menembus hingga ke telapak tangannya.

"Rubah, jangan kau makan sekaligus," ucap Garuda menasihati. "Efeknya baru akan terasa kalau kamu memakannya tiga potong sehari dalam seminggu. Kekuatanmu akan meningkat pesat. Aku tahu klan rubah saat ini sedang jatuh. Tapi menurutku, kau terlalu naif punya suami dewa. Kenapa tidak minta pertolongan dia saja?"

Yueji mendengkus pelan. "Heh, ayam jelek! Suamiku itu belum sadar kalau dia dewa."

Garuda seketika bangkit berdiri dari posisi rebahannya di atas dipan. "Benarkah?"

"Iyah, makanya dia tidak akan pernah menganggap kamu nyata, Garuda, meskipun dia sendiri yang melukis kamu."

Garuda termenung sejenak mendengar penuturan Yueji. Dahi berparuh emasnya berkerut tipis.

"Betul juga..." batin Garuda. "Aku bukan berasal dari dimensi ini. Tapi di sini tempatnya sangat nyaman... Ah, sudahlah! Aku tidak mempedulikan hal itu lagi. Selama tuanku memberi jatah ikan dari kolam itu, aku rela jadi anjing penurutnya."

Yueji mencibir tajam. "Cih! Penjilat."

Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat. Chandra berjalan kembali ke arah teras belakang sambil membawa cangkir kopi pahitnya. Matanya berbinar melihat Yueji berdiri di dekat sang burung elang.

"Wah, Sayang! Kamu suka elang?" seru Chandra gembira. "Akhirnya! Berarti boleh aku pelihara, ya?"

Yueji seketika terdiam kaku. Dia lupa kalau tadi baru saja melarang Chandra dengan sangat keras.

Melihat kesempatan emas itu, Garuda menatap tajam ke arah Yueji. Melalui koneksi gaib, Garuda memancarkan suara telepatinya langsung ke kepala sang Ratu Siluman.

Ingat, Rubah... kalau kau ingkar dari perjanjian tadi, seketika itu juga kamu bakal berpindah ke neraka!

Yueji yang baru menyadari jebakan dari gulungan kontrak emas itu mendadak menyesal setengah mati dalam hati. Sifat impulsifnya benar-benar membawa petaka.

Takut terlempar ke neraka karena melanggar sumpah, Yueji terpaksa memutar otak. Dia langsung berbalik dan menghambur memeluk dada Chandra dengan gaya super manja.

"Sayang... tapi aku sebenarnya takut burung," ucap Yueji dengan suara merengek. "Kamu buatkan kandang, ya, buat dia?"

Garuda yang mendengar ucapan Yueji seketika matanya menyipit tajam.

"Sialan kau, Rubah..." maki Garuda dalam hati

1
Lagu Teu Baleg
semangat Thor ya
Alinsyah 70: oke siap 👍
total 1 replies
Ruang Senddu
lumayan seru
Waaaaaa_
Hallo aku mampir
Alinsyah 70: Makasih loh udah mampir, maaf loh kalau ceritanya kurang bagus
total 1 replies
Ruang Senddu
seru, mari saling dukung
Doodle Music
semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!