Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Ketika tidak berhasil menemukan data tentang kompetisi piano tersebut, Revan awalnya berniat mendatangi ketiga korban dan berbicara langsung dengan mereka. Bagaimanapun juga, mereka memang pernah mengikuti kompetisi itu. Mungkin saja ada sesuatu yang mereka ingat dan bisa menjadi petunjuk penting.
Namun setelah dipikir-pikir lagi, Revan segera mengurungkan niatnya.
Dari penyadap yang dipasangnya, Revan sudah mengetahui bahwa Pak Dimas telah menempatkan beberapa orang untuk mengawasi ketiga korban secara diam-diam. Kalau Revan sampai mendatangi mereka sekarang, Pak Dimas pasti langsung tahu bahwa dirinya sedang menyelidiki sesuatu.
Dan kalau Pak Dimas sampai mengetahui arah penyelidikan Revan, semuanya bisa berantakan.
Untungnya, ketika Revan masih dipusingkan oleh pilihan itu, Nina tiba-tiba membawa kabar baik.
Data daftar peserta kompetisi sudah berhasil didapatkannya!
Revan yang langsung bersemangat segera kembali ke kantor polisi.
Namun demi menjaga penyelidikan mereka tetap rahasia, keduanya tidak bertemu di kantor. Mereka malah memilih sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari gedung kepolisian.
Pertemuan mereka bahkan terlihat seperti transaksi rahasia dua mata-mata.
“Luar biasa!”
Revan mengacungkan jempol kepada Nina.
“Kerja cepatmu memang patut diacungi jempol. Mendapatkan data seperti ini bukan perkara gampang. Keren!”
Nina menyeringai bangga.
“Ah, jangan lebay. Aku kan dari bagian informasi di akademi kepolisian. Kalau urusan begini saja aku tidak bisa, mau taruh muka di mana?”
“Jangan besar kepala dulu.”
Revan tertawa kecil, lalu menatap Nina dengan rasa penasaran.
“Tapi serius, kamu dapat data ini dari mana? Aku sudah bongkar semua arsip di SMA Negeri 2 Jakarta, tapi tidak menemukan satu pun catatan tentang kompetisi itu.”
“Aku tarik langsung dari database arsip kota.”
Nina menurunkan suaranya dan memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka.
“Tapi sebenarnya ada sedikit masalah.”
“Apa?”
“Aku kan masih anak magang. Jadi akses yang aku punya terbatas.”
Nina mendekatkan tubuhnya ke meja dan berbisik.
“Untuk menarik data kasus lama itu, aku terpaksa menggunakan username dan password Ketua Tim Bu Maya.”
Revan yang sedang minum langsung berhenti.
“Kamu apaan?!”
“Kamu nanti harus bantu aku beresin masalah ini.”
“Ya ampun!”
Revan hampir berdiri dari kursinya.
Meskipun Revan sendiri tidak pernah terlalu memikirkan soal pendidikan, dirinya yang sekarang cukup memahami teknologi dan sistem informasi. Ia tahu betul bahwa menarik data dari database kepolisian bukan perkara sederhana.
Dalam lingkungan kepolisian, setiap bagian memiliki data dan arsipnya sendiri. Kalau suatu unit membutuhkan informasi dari bagian lain, mereka harus mengajukan permintaan resmi agar data tersebut bisa dibuka dan digunakan untuk keperluan penyelidikan.
Masalahnya, data-data tersebut tidak semuanya bisa diakses sembarang orang.
Sebagian besar berisi informasi internal dan intelijen yang tidak boleh diketahui masyarakat umum. Karena itu, setiap orang yang menggunakan akses tersebut memiliki tanggung jawab hukum.
Hanya personel dengan kewenangan tertentu yang boleh mengambil data.
Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin luas pula akses yang dimilikinya.
Karena itu, menggunakan akun milik orang lain untuk menarik informasi jelas merupakan pelanggaran serius.
Apalagi kalau seseorang menggunakan akses yang levelnya lebih tinggi daripada kewenangan dirinya sendiri.
Itu bahkan bisa berkembang menjadi masalah hukum yang jauh lebih besar.
Dan sekarang Nina justru menggunakan akses milik Ketua Tim Bu Maya.
“Ya Tuhan…”
Revan mengusap wajahnya.
“Bagaimana kamu bisa tahu username sama password-nya?”
Nina malah terlihat santai.
“Bu Maya itu tidak terlalu hati-hati. Setiap kali mengetik password, dia tidak pernah repot-repot menutupi layar.”
Nina mengangkat bahu.
“Kalau sampai aku tidak tahu password-nya, justru itu yang aneh.”
Revan menatapnya tidak percaya.
“Kamu serius?”
“Iya.”
“Gila. Kamu benar-benar nekat!”
Revan menggaruk kepalanya.
“Kalau nanti mereka menyelidiki aktivitas akun itu, habis kamu!”
Nina tetap tenang.
“Tadi kamu sendiri bilang sedang buru-buru mencari data, kan? Jadi aku bantu.”
“Aku...”
Revan terdiam.
Nina kemudian tersenyum tipis.
“Kak, kamu harus menyelesaikan kasus ini. Kalau tidak, berarti kamu berutang budi kepadaku seumur hidup.”
“Oke!”
Revan langsung menepuk meja.
“Setuju! Mulai sekarang kamu berada di bawah perlindunganku.”
Nina berkedip.
“Kalau kamu punya masalah, cari aku. Jangan takut.”
Revan menepuk bahu Nina dengan percaya diri.
“Soal akses itu gampang. Setelah ini aku akan bicara langsung dengan Bu Maya. Apa pun caranya, aku akan memastikan masalahnya selesai.”
Revan menepuk dadanya sendiri.
“Kalau dia tidak mau membereskan, aku juga tidak akan membiarkan kamu menanggungnya sendirian. Kalau kamu kena masalah, aku ikut. Kita tanggung bersama. Jelas?”
Nina terdiam.
Mendengar ucapan Revan yang begitu yakin, dadanya terasa hangat.
Meskipun ada beberapa bagian dari ucapan Revan yang sebenarnya tidak ia mengerti, Nina tetap merasa tersentuh.
Perasaan sukanya kepada Revan yang sempat ia tekan kembali muncul.
Bahkan kalau Revan hanya sedang berusaha melindunginya sebagai rekan kerja, Nina tetap merasa semua ini sepadan.
“Kak...”
Nina tiba-tiba tersipu.
“Ehm...sebenarnya yang tadi aku bilang agak menyesatkan.”
“Hah?”
“Aku tidak sebodoh itu sampai menerobos sistem tanpa persiapan.”
Nina tersenyum kecil.
“Memang aku menggunakan username dan password Bu Maya untuk menarik data, tapi aku menggunakan program tertentu untuk menghapus jejak aksesnya.”
Nina menambahkan dengan santai.
“Kalau tidak ada pemeriksaan khusus dari atasan, seharusnya mereka tidak akan menemukan bahwa aku yang melakukannya.”
“Oh?”
Revan tertegun.
Beberapa detik kemudian, ia baru menyadari maksud Nina.
Lalu ia tertawa.
“Wah, ternyata kamu licik juga!”
Revan menunjuk Nina.
“Aku hampir saja kena tipu!”
“Tapi...”
Revan mengangguk puas.
“Bagus. Bagus sekali.”
Untuk menghindari suasana yang semakin canggung, Nina buru-buru menundukkan kepala.
“Kak, aku agak lapar.”
Ia melirik Revan.
“Bagaimana kalau kamu traktir aku makan?”
“Benar juga!”
Revan langsung berdiri.
“Lihat aku. Dari tadi malah sibuk ngomong sampai lupa kamu belum makan.”
Ia mengangkat tangan dan memanggil pelayan dengan suara cukup keras.
“Mas! Mbak! Kami mau pesan!”
Beberapa orang di restoran langsung menoleh.
Nina menutup wajahnya karena malu.
Revan memang punya sifat yang aneh.
Kalau berhadapan dengan orang yang dianggap musuh, dia bisa sangat keras kepala dan tidak kenal ampun.
Tapi kepada orang yang dianggapnya teman sendiri, Revan justru sangat royal.
Nina sudah membantunya mendapatkan informasi penting.
Jadi menurut Revan, mentraktir makan bukan masalah besar.
Tidak lama kemudian, berbagai makanan mulai memenuhi meja mereka.
Ada steak, salad, kerang, sampai hidangan laut mahal lainnya.
Melihat meja yang penuh makanan, Nina sampai bengong.
“Kak...”
Dia menatap makanan di depannya.
“Ini kebanyakan.”
“Kebanyakan apanya?”
Revan santai.
“Makan saja.”
“Aku tidak mungkin menghabiskan semuanya.”
“Kalau tidak habis, nanti kita bungkus.”
Nina hanya bisa menghela napas.
Revan sendiri akhirnya mengeluarkan lebih dari Rp2 juta untuk membayar semua makanan itu.
Bagi Revan, uang memang penting.
Tapi ada prinsip yang ia pegang sejak dulu.
Kalau sudah menganggap seseorang sebagai orang dekat, ia tidak suka setengah-setengah dalam memperlakukan mereka.
Kalau mau membantu, bantu sekalian.
Kalau mau mentraktir, traktir yang pantas.
Namun bahkan sambil makan, pikiran Revan tetap tidak bisa lepas dari kasus Tangan yang Hilang.
Ia menatap Nina.
“Ngomong-ngomong, kalau data itu memang berasal dari arsip kota, kenapa mereka masih menyimpan catatan kompetisi lama seperti itu?”
“Ya tentu saja masih ada.”
Nina mengambil makanan sambil menjelaskan.
“Memang kompetisinya dulu diadakan di SMA Negeri 2 Jakarta, tapi penyelenggaranya bukan pihak sekolah.”
“Bukan?”
“Bukan. Acara itu sebenarnya berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota.”
Nina melanjutkan.
“Sekolah cuma menyediakan tempat. Yang mengatur dan menyelenggarakan acaranya pihak dinas. Jadi kalau kamu mau mencari arsip kompetisinya, jelas bukan cuma datang ke sekolah.”
Revan terdiam.
Matanya perlahan berbinar.
Ucapan Nina barusan membuat pikirannya seperti mendapatkan sambungan baru.
“Begitu...”
Nina mengangguk.
“Nah, sekarang kamu paham.”
“Oh!”
Nina tiba-tiba melihat ke sekeliling.
Ia memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka sebelum mengambil ponselnya.
Kemudian ia membuka sebuah foto dan menyerahkannya kepada Revan.
“Ini satu-satunya arsip yang masih tersisa mengenai Kompetisi Piano Pelajar Tahunan ke-10.”
Revan mengambil ponsel itu.
“Tapi datanya tidak lengkap.”
Nina menunjuk layar.
“Yang tersisa cuma daftar sepuluh pemenang terakhir.”
Revan menatap layar dengan serius.
Jarinya bergerak memperbesar foto.
Lalu…
Matanya langsung membelalak.
Tiga nama yang selama ini ia cari ternyata benar-benar ada di sana.
Bahkan ketiganya tercatat berurutan.
Larasati Maharani - 1.336 poin - Juara 4
Lia Lestari - 1.057 poin - Juara 5
Gita Pratiwi - 1.020 poin - Juara 6
Revan membaca ketiga nama itu berkali-kali.
Tidak mungkin salah.
Ketiga orang tersebut adalah korban dalam kasus Tangan yang Hilang.
Nina menyeringai puas.
“Bagaimana, Kak?”
Ia menunjuk layar ponsel.
“Sudah kubilang, kan? Instingmu benar. Kasus Tangan yang Hilang memang berhubungan dengan kompetisi piano ini.”
“Benar...”
Revan mengepalkan tangannya.
“Tentu saja benar!”
Di dalam hati, Revan hampir ingin memuji dirinya sendiri.
Petunjuk yang selama ini terasa begitu samar akhirnya mulai membentuk sebuah pola.
Daftar di depannya sudah membuktikan satu hal.
Firasatnya tidak salah.
Kalau ketiga korban memang pernah mengikuti kompetisi tersebut, maka pelaku kemungkinan besar juga memiliki hubungan dengan kompetisi itu.
Dan bisa jadi…
Pelakunya ada di dalam daftar ini.
Revan kembali memeriksa satu per satu nama yang tercantum.
Sepuluh nama.
Satu demi satu ia baca dengan teliti.
Namun tidak ada satu pun yang langsung membuatnya curiga.
Tidak ada nama yang terlihat mencolok.
Tidak ada wajah.
Tidak ada petunjuk tambahan.
Revan menyipitkan mata.
Tangannya berhenti di atas layar ponsel.
Kalau pelakunya memang salah satu dari mereka...
Siapa pelakunya?!