Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Kita Yang Belum Selesai

Takdir Kita Yang Belum Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nita_001

Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.

Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.

Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.

Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?

Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Panduan Teknik Tebasan Api

"Huang, jangan memanggilku dengan sebutan Tuan!" Chongyue mengerutkan kening, jelas tidak menyukai panggilan itu. 

Huang mengangkat tangannya dan menunjuk dahi Chongyue sambil berbisik lirih, "Tapi aku telah mengikat kontrak darah denganmu. Aku adalah pelayanmu...."

Sebelum kata terakhir terucap, tatapan tajam Chongyue seketika membuatnya bungkam.

"Panggil aku Kakak!" Chongyue mengusap lembut rambut pirang Huang. "Kau bukan pelayanku, melainkan saudaraku. Jika kau tidak mau menerimanya, kau boleh pergi sekarang juga. Aku tidak akan menjadikan anak kecil sebagai pelayanku!"

Huang menatap Chongyue tanpa berkedip. 

Perlahan-lahan, air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. Dia merentangkan kedua tangan mungilnya, lalu memeluk erat tubuh Chongyue sambil terisak haru.

"Aku bersedia... aku sangat bersedia!" Huang mengangguk berkali-kali. "Tuan... bukan, Kakak, aku sangat bersedia menjadi adikmu!"

Chongyue tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya menepuk-nepuk lembut punggung Huang untuk menenangkannya.

Kruuukkk...

Tepat di tengah suasana yang mengharukan itu, suara nyaring tiba-tiba terdengar dari perut Huang.

Chongyue melirik ke arah perutnya, lalu menoleh kepada Bei Mingye. 

"Apakah ada makanan di tempat ini?" tanyanya sambil mengusap perutnya sendiri. Bukan hanya Huang, dia juga sangat lapar.

Sebelumnya, dia. tidak makan karena makanan yang diantarkan oleh pelayan telah diracuni. Kini, perutnya mulai menuntut untuk diisi.

Bei Mingye melirik kedua orang di hadapannya—seorang gadis dan seorang anak kecil yang kini sama-sama menatapnya penuh harap. 

Dia menghela nafas tak berdaya, lalu melambaikannya kepada seorang pelayan

"Mintalah koki dapur segera menyiapkan makanan," perintahnya dengan tenang.

Beberapa saat kemudian...

Di meja makan, Huang melahap makanan dengan sangat lahap. Sudah terlalu lama dia tidak menikmati makanan selezat ini. 

"Apakah kau berencana membawanya kembali ke Kediaman Jenderal?" tanya Bei Mingye santai sambil menyumpit sepotong paha ayam dan meletakkannya ke dalam mangkuk Chongyue.

"Ya." Chongyue mengangguk sambil melirik Huang. "Lagipula, aku tidak punya pilihan lain. Tentu saja, kalau kau mengizinkannya tinggal disini, aku tidak perlu repot membawanya pulang ke sana!"

Dari pengamatannya sepanjang hari ini, Chongyue menyadari Bei Mingye jelas bukan tipe orang yang menyukai keberadaan anak-anak di sekitarnya. 

Karena itu, dia menduga dia mungkin tidak akan mau menerima Huang tinggal di kediamannya.

Namun, jawaban Bei Mingye justru di luar dugaannya.

"Membawanya kembali ke Kediaman Jenderal hanya akan menempatkan kalian berdua dalam bahaya." Bei Mingye meletakkan sumpitnya, lalu menatap Chongyue dengan tenang. "Biarkan dia tetap tinggal di sini."

Chongyue menatapnya dengan mata membulat. "Benarkah?"

Bei Mingye menatapnya santai. "Apa aku terlihat seperti pria yang suka mengucapkan kebohongan?"

"Tentu saja tidak!" Chongyue segera menggeleng. Dia buru-buru menundukkan kepala, lalu kembali menggigit paha ayam di dalam mangkuknya.

Setelah mempertimbangkan situasi dan berbagai ancaman yang mengintai di Kediaman Jenderal, Chongyue menyadari bahwa memang tidak aman membawa Huang bersamanya. 

Untuk saat ini, membiarkan Huang tinggal di kediaman Bei Mingye merupakan pilihan yang paling tepat.

Setelah makan malam dan mengobrol sebentar dengan Huang, Chongyue akhirnya pergi. 

Setibanya kembali di halaman tempat tinggalnya, dia berdiri di ambang pintu kamarnya dan menatap Bei Mingye yang telah mengantarnya pulang.

"Terima kasih atas semua bantuanmu hari ini." Chongyue tersenyum tipis sebelum melanjutkan, "Hari sudah sangat larut. Sebaiknya kau segera kembali."

Bei Mingye hanya meliriknya sekilas. Tanpa menjawab, dia justru mendorong pintu kamar Chongyue dan melangkah masuk.

Seberkas api melesat dari ujung jarinya dan menyalakan sumbu lilin, menerangi ruangan yang semula gelap gulita. 

Setelah lilin menyala terang, api di ujung jarinya padam.

Menyaksikan tindakannya yang semena-mena, Chongyue hanya bisa mengikutinya dengan pasrah. 

Pria ini benar-benar bertindak sesuka hati. Bagaimanapun juga, ini adalah kamar pribadinya!

"Bei Mingye, apakah kau tidak memahami tata krama bahwa seorang pria tidak sepantasnya menerobos masuk ke kamar tidur wanita?" Chongyue menuangkan secangkir air hangat, lalu meletakkannya di hadapan pria itu. "Di tempatku tidak ada teh. Hanya ada air putih biasa!"

Bei Mingye mengamati seluruh sudut kamar dengan santai. 

"Aku tidak melihat suasana yang menyerupai kamar tidur wanita di tempat ini." Bibirnya melengkung tipis. "Ruangan ini justru lebih mirip gudang kayu tua yang terbengkalai!"

Chongyue terdiam sejenak lalu menatapnya dengan kesal. "Minumlah airmu, lalu cepatlah pergi dari sini!" 

Bei Mingye mengambil cangkir dan meminum habis air di dalamnya, lalu meletakkannya kembali di atas meja. 

Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah buku tua dari lengan jubahnya dan menyerahkannya kepada Chongyue.

"Ini adalah panduan teknik Tebasan Naga Api. Jurus Tebasan Naga Api merupakan teknik bertarung yang berbasis elemen api. Karena kau memiliki bakat elemen api, kau bisa mempelajarinya untuk meningkatkan kemampuan bertarungmu."

Chongyue menerima buku itu dan mengamatinya dari atas hingga ke bawah dengan tatapan menyelidik. 

Namun bukannya langsung membuka halaman pertama, dia justru mengangkat kepala.

"Bei Mingye, ada satu hal yang ingin kutanyakan sejak siang tadi. Kau sama sekali tidak membawa tas ataupun tempat penyimpanan lainnya. Jadi, dari mana benda-benda ini muncul secara tiba-tiba?"

"Dari cincin penyimpanan ini." Bei Mingye mengangkat tangannya dan memperlihatkan cincin yang melingkar di jarinya. "Cincin penyimpanan dapat menyimpan berbagai benda, tetapi tidak bisa menampung makhluk hidup—hanya benda mati."

Dia kemudian memutar cincinnya perlahan sebelum melanjutkan, "Cincin seperti ini tidak diperjualbelikan di Benua Timur. Jika kau menginginkannya, aku akan mencarikannya untukmu. Cincin milikku ini sudah terikat kontrak denganku, jadi aku tidak bisa memberikannya kepadamu."

Setiap artefak ruang penyimpanan yang telah terikat kontrak dengan pemiliknya memang tidak dapat berpindah tangan kepada orang lain.

"Tidak perlu repot-repot." Chongyue menggeleng pelan. "Aku hanya penasaran. Seberapa luas ruang di dalam cincin penyimpananmu?"

Bei Mingye melirik sekeliling kamar sejenak sebelum menjawab santai, "Kurang lebih tiga kali lipat luas kamar ini."

Chongyue tertegun.

Seandainya dia memiliki cincin penyimpanan seluas itu, tentu dia bisa membawa begitu banyak perbekalan ke mana pun dia pergi!

Melihat binar ketertarikan di matanya, sudut bibir Bei Mingye terangkat membentuk senyum tipis.

Cincin penyimpanan merupakan artefak yang sangat langka di Benua Timur. Bahkan cincin miliknya merupakan hadiah dari gurunya saat usianya enam belas tahun.

Karena Chongyue begitu tertarik, Bei Mingye diam-diam bertekad akan melakukan segala cara untuk mencarikannya, lalu memberikan cincin itu kepada gadis di hadapannya.

Sembari mengusap lembut rambut Chongyue, dia berkata dengan suara yang sangat hangat, "Ah Yue, hari sudah sangat larut. Aku harus pergi sekarang. Beristirahatlah dengan tenang. Dalam beberapa hari ke depan, aku akan datang lagi menemuimu."

Chongyue mengedipkan mata dengan heran. "Ke mana kau akan pergi selama beberapa hari ke depan?"

"Ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan." Bei Mingye tersenyum jenaka sebelum menambahkan, "Hanya beberapa hari saja, jadi jangan terlalu merindukanku!"

Dia mengatakan itu karena tiba-tiba teringat bahwa Pemimpin Paviliun Xiaoyao tampaknya memiliki sebuah cincin penyimpanan yang belum terikat kontrak. 

Karena orang-orang dari Paviliun Xiaoyao sudah berulang kali mengejarnya, kali ini dia akan menghadapi mereka secara langsung!

"Hanya hantu yang akan merindukanmu. Cepat pergi dari sini!" Chongyue mendengus kesal sambil mendorong Bei Mingye keluar dari kamarnya, lalu membanting pintu hingga tertutup rapat.

Bei Mingye yang berdiri di luar pintu hanya menyunggingkan senyum tipis sebelum berbalik dan melangkah pergi.

Di dalam kamar, Chongyue tidak langsung beristirahat. Dia justru membentangkan buku panduan teknik Tebasan Naga Api dan mulai mempelajari setiap petunjuk di dalamnya dengan tekun.

Keesokan paginya...

Saat Chongyue masih tertidur pulas, suara keributan terdengar dari luar halaman.

Dia langsung duduk, mengacak rambutnya dengan kesal, lalu mengenakan pakaiannya dan keluar. 

Begitu membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada rombongan pelayan dan pengawal yang telah memenuhi halamannya. 

Xuan Xi berdiri paling depan, sementara di sampingnya terlihat seorang wanita dengan perban tebal membalut seluruh kepalanya.

Tanpa perlu menebak, Chongyue tahu bahwa wanita itu adalah Xuan Qingqing.

"Menggonggong di halamanku sepagi ini, apa kalian semua terkena rabies?" Chongyue menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu dengan wajah masam. 

Lantaran tidur nyenyaknya terganggu, suasana hatinya sangat buruk sehingga ucapan yang keluar dari bibirnya jauh lebih tajam dari biasanya.

"Apa itu rabies?" Xuan Xi mengerutkan kening, kebingungan mendengar istilah asing tersebut.

Chongyue terkekeh sinis. "Kau benar-benar ingin mengetahuinya?"

"Tentu saja," Xuan Xi mengangguk yakin.

Chongyue berpikir sejenak, lalu menjawab santai, "Rabies adalah penyakit gila yang biasa menyerang anjing."

1
beybi T.Halim
semakin menarik
marlaina marliana
walau ini ke -dua kalinya saya membaca tetap sj ikut menahan nafas saat membaca.
saya ingin sekali mencabik Xuan meng😡
marlaina marliana
nona chongyou sudah dikeroyok kalo raja hantu tak menghancurkan para tetua bodoh dan kediamany jendral saya kecewa. katanya satu kali lagi bila menyentuh chongyou tidak ada ampun😔😔
Author Nita_001: Bisa aja Bei Mingye menghancurkan mereka kak, hanya saja Chongyue maunya balas dendam sendiri nantinya
total 1 replies
marlaina marliana
beraninya main keroyokan dasar iblis
marlaina marliana
semangat chongyue, balas dendam musnahkan semua musuh 💪💪
marlaina marliana
nah baru tau cerita awalnya pertemuan mereka ternyata seperti itu ya 🤔
marlaina marliana
masih menyimak 😊😊❤❤
marlaina marliana
kakak syantik ini sama seperti yg yg f**z* ya.
Author Nita_001: Iya kak say, aku pindah kesini, karena disana sepi pembacanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!