Indonesia
NovelToon NovelToon
L.S. Underworld

L.S. Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Mafia
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: ANDIKA,312

Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 28

Lester membagikan topeng-topeng tersebut satu per satu kepada Michael, Franklin, Andika, dan Trevor.

Keempatnya menerima topeng badut itu, memegang bahan karetnya yang tebal, namun belum mengenakannya ke wajah. Mereka membiarkan topeng itu tergenggam erat di tangan kiri masing-masing.

Lester menatap keempat eksekutor terbaiknya dengan raut wajah yang sangat dingin, serius, dan dipenuhi penekanan mendalam.

"Dengarkan aku baik-baik untuk terakhir kalinya," kata Lester, suaranya bergema menembus dinding-dinding seng gudang tua Cypress Flats.

"Operasi ini diberi nama Code Red: Pacific Bluffs. Target kalian adalah The Fleeca Bank. Jam menunjukkan pukul dua lewat empat puluh menit. Dalam waktu lima belas menit dari sekarang, van kalian harus sudah berada di pelataran parkir samping bank tersebut."

Lester menunjuk monitor laptopnya yang kini menampilkan siaran langsung dari kamera lalu lintas di sekitar lokasi bank.

"Skenarionya tidak berubah sedikit pun," tegas Lester. "Begitu van berhenti di pelataran parkir, kalian berempat wajib memasang topeng badut ini ke wajah kalian sebelum kaki pertama kalian melangkah menyentuh lantai bank. Ingat, tidak boleh ada satu pun inci kulit wajah kalian yang terlihat oleh kamera pengawas atau mata para sandera!"

Lester mengarahkan pandangannya ke arah Michael dan Trevor.

"Michael, Trevor! Tugas kalian adalah penguasaan penuh atas aula utama! Begitu kalian menerobos pintu depan, Trevor langsung tembak seluruh enam unit kamera pengawas di langit-langit hingga hancur! Michael, kau ambil alih mikrofon gedung atau gunakan teriakanmu untuk menyuruh seluruh dua puluh lima staf dan nasabah tengkurap di atas lantai marmer! Jika ada penjaga keamanan yang mencoba menggerakkan tangannya ke arah sarung pistol... habisi mereka seketika tanpa ada ragu-ragu!"

"Mereka akan tiarap sebelum sempat mengerdipkan mata, Lester," sahut Michael dingin sambil mengokang senapan M4-nya.

"Atau aku akan meledakkan kepala mereka hingga otak mereka mengotori kaca bank!" tawa Trevor menyeringai dari balik topeng badut yang dipegangnya.

Lester lalu mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Andika dan Franklin.

"Andika, Franklin! Ini adalah inti dari operasional ini!" seru Lester, menunjuk grafik denah lantai bawah tanah bank. "Begitu aula utama dikuasai Michael dan Trevor, kalian berdua hanya punya waktu tiga detik untuk melompati pagar pembatas teller, menerobos pintu lorong bawah tanah, dan berdiri di depan pintu brankas baja berbobot dua ton tersebut!"

Lester menatap tepat ke dalam pupil mata Andika.

"Andika! Mesin bor termal (thermal drill) yang ada di dalam tas kargo itu adalah kunci dari seluruh jutaan dolar ini. Kau harus merakit dua tabung gas kompresi ke ujung mata bor tungsten dalam waktu kurang dari lima belas detik. Tempelkan mata bor itu ke empat titik engsel pengunci utama pintu brankas! Tekan tuasnya secara stabil! Jangan terlalu kencang karena mata bor bisa patah akibat panas berlebih, dan jangan terlalu pelan karena waktu kita akan terbuang sia-sia! Kau punya waktu tepat dua menit empat puluh detik untuk melelehkan baja tebal itu!"

Andika mengangguk perlahan, suaranya sangat tenang dan terkontrol. "Dua menit empat puluh detik. Baja itu akan meleleh, Lester."

"Bagus!" balas Lester. "Dan Franklin! Tugasmu begitu pintu brankas meledak terbuka adalah langsung merengsek masuk! Abaikan deposit box kecil! Langsung hantam dua rak utama di tengah ruangan yang berisi tumpukan uang kertas seratus dolar dan peti emas murni! Masukkan semuanya ke dalam tiga tas kargo kanvas jumbo! Kau punya waktu sembilan puluh detik untuk menguras isi brankas itu sampai bersih!"

"Pahami, Lester. Tas-tas itu akan penuh sebelum polisi sempat menyalakan sirine mereka," jawab Franklin mantap.

Lester menarik napas panjang, menatap jam digital di komputernya yang kini menunjukkan pukul 14:45 sore.

"Satu hal terakhir yang harus kalian ingat," kata Lester dengan nada yang sangat mencekam. "Sistem peringatan dini silent alarm bank ini akan otomatis aktif begitu mata bor Andika menyentuh engsel pintu brankas. Artinya, dari detik pertama mata bor itu memercikkan api, hitungan mundur untuk kedatangan seluruh armada patroli LSPD dan tim SWAT dimulai. Kalian memiliki total waktu operasional di dalam bangunan selama lima menit lima belas detik. Jika dalam waktu lima menit lima belas detik kalian belum keluar dari pintu belakang..."

Lester menggantung kalimatnya, menatap keempat pria itu satu per satu. "...Maka jalanan Pacific Bluffs akan berubah menjadi zona perang terbuka, dan jalur pelarian di jalan tol akan ditutup total oleh barikade lapis baja kepolisian."

"Itu tidak akan terjadi," potong Michael tegas. "Kita masuk, kita ambil uangnya, dan kita keluar seperti bayangan."

"Bagus," tutup Lester sambil mendorong kursi rodanya mundur. "Aku akan memantau seluruh pergerakan kalian dari markas komando seluler ini. Aku akan meretas lampu lalu lintas di rute pelarian kalian dan memblokir frekuensi radio polisi sejauh yang kubisa melalui jammer ini. Jika ada kendala, hubungi aku lewat radio HT di telinga kalian."

Lester mengangkat tangannya, memberi isyarat salam terakhir. "Semoga keberuntungan menyertai kalian, para bajingan. Sekarang... pergi dan ambil uang itu!"

"Ayo bergerak!" seru Michael!

Tanpa membuang waktu satu detik pun, empat pria berjas hitam mahal dengan dasi merah terang itu melangkah serempak menuju van Declasse Burrito hitam yang sudah bersiaga.

Franklin melompat naik ke balik roda kemudi, memutar kunci kontak, dan memicu mesin V8 van tersebut. Mesin mobil menderu halus namun sangat bertenaga, siap dimuntahkan di jalanan kota.

Andika melompat masuk ke pintu samping bagasi belakang, duduk di atas tumpukan tas kargo bersama mesin bor termal dan amunisi cadangan. Michael duduk di kursi penumpang depan di samping Franklin, sementara Trevor melompat masuk ke bagasi belakang bersama Andika, menyandarkan senapan M4 Carbine-nya di pangkuannya sambil terkekeh-kekeh gembira.

SLAM! SLAM!

Pintu-pintu van hitam itu dibanting tutup dengan rapat. Kaca gelapnya menyembunyikan sepenuhnya empat sosok perampok berjas hitam yang kini perlahan memposisikan topeng badut karet di atas wajah mereka masing-masing.

Franklin menginjak pedal gas penuh. Van Declasse Burrito hitam itu meluncur deras keluar dari pintu gerbang gudang tua Cypress Flats, memercikkan debu-debu tanah ke udara sore, melesat masuk ke dalam arus jalanan Los Santos menuju target utama mereka: The Fleeca Bank di Pacific Bluffs.

Aksi perampokan besar yang dirancang penuh perhitungan darah dan peluru ini secara resmi telah dimulai.

Di dalam kabin van Declasse Burrito hitam yang meluncur kencang membelah kelajuan lalu lintas Los Santos, atmosfer di dalam kendaraan terasa sangat kontras. Di balik kaca gelap dan dalam balutan jas hitam, dasi merah, serta topeng badut yang sudah menutupi wajah, ketegangan menyelinap tipis di antara desah napas mereka.

Trevor yang duduk di bagasi belakang bersama Andika mendadak menepuk-nepuk jok depan dengan kasar.

"OI, FRANK! NYALAKAN RADIO!" raung Trevor menembus dengung mesin V8. "Putar stasiun radio metal! Kita butuh musik peningkat adrenalin untuk membakar bank bajingan itu!"

Franklin yang fokus memegang kemudi memutar kenop radio di dasbor tanpa banyak bicara. Layar digital radio menyala, menyetel frekuensi stasiun musik keras.

ZZZZ-BARRR!

Distorsi gitar elektrik yang berat, dentuman ganda drum yang sangat cepat, dan raungan vokal metal yang cadas seketika memenuhi seluruh ruang kabin van!

Di bagasi belakang, Andika menyandarkan punggungnya pada tumpukan tas kargo. Mendengar ketukan ritme musik metal yang agresif dan penuh tenaga itu, Andika tersenyum tipis di balik topeng badutnya. Ia mulai mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan mengikuti tempo drum yang cepat, menikmati tiap ketukan bas yang memompa semangat bertarungnya.

Sementara itu, Trevor benar-benar kehilangan kendali diri secara gila. Pria itu berdiri setengah membungkuk, menghentakkan kepalanya (headbanging) secara liar hingga rambut menipisnya berantakan! Ia bergoyang gila di ruang sempit bagasi, memukul-mukul dinding besi van mengikuti irama musik sambil tertawa histeris.

"YAAAHHH! INI BARU MUSIK!" jerit Trevor gembira. "DENGARKAN ITU, MICKY! HARI INI KITA AKAN MEMBAKAR KOTA INI!"

"Duduk dan diamlah, T! Kau bisa membuat van ini oleng!" tegur Michael dari kursi depan, walau ia sendiri tidak bisa menahan senyum tipis melihat tingkah kawan lamanya itu.

Franklin melirik kaca spion tengah, menggelengkan kepala melihat tingkah gila Trevor dan ketenangan dingin Andika yang menikmati lagu metal tersebut. Ia memindahkan gigi transmisi ke posisi lebih tinggi, menambah kecepatan van melintasi rute coastal highway menuju arah timur.

Deru mesin, lengkingan gitar metal, dan detak jantung yang terpacu berpadu menjadi satu.

Setelah puluhan menit melaju menembus arus kendaraan, lanskap pemukiman berubah menjadi kawasan komersial elite Pacific Bluffs. Bangunan-bangunan megah dengan pilar marmer dan kaca besar mulai berjejer di pinggir jalan raya utama.

Franklin memelankan laju kendaraan, mematikan audio radio, dan menyipitkan matanya menatap ke depan.

"Satu blok lagi di depan," bisik Franklin melalui mikrofon taktisnya, suaranya mendadak berubah menjadi sangat tenang dan fokus. "Target sudah kelihatan."

Di ujung jalan, berdiri anggun gedung megah The Fleeca Bank cabang Pacific Bluffs. Bendera bank berkibar pelan di pelataran parkir samping yang dipenuhi mobil-mobil mewah para nasabah.

Michael mengokang senapan serbu M4 Carbine di pangkuannya—CKLAK!—lalu menoleh ke belakang, menatap Andika dan Trevor dari balik mata topeng badutnya.

"Gunakan radio earpiece kalian. Siapkan senjata," perintah Michael dingin. "Kita sudah sampai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!