Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Deru mesin mobil Luca terdengar memekakkan telapak halaman mansion saat pria itu mengerem mendadak. Tanpa membuang waktu, Luca melangkah lebar menaiki tangga menuju ruang rawat khusus di lantai dua. Aura di sekitarnya begitu pekat dan mematikan, membuat para pelayan dan pengawal yang berpapasan langsung menunduk ketakutan.
*Brak!*
Pintu ruang rawat terhempas keras. Dokter pribadi keluarga Oliver baru saja selesai memasang selang oksigen dan infus pada tangan Ruby.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Luca dengan suara rendah yang sarat akan tekanan, napasnya masih sedikit memburu.
"Non Ruby sudah sadar, Tuan. Paru-parunya sempat kemasukan air, tetapi beruntung segera ditangani. Dia hanya butuh istirahat total," jelas dokter itu buru-buru, lalu membungkuk hormat dan keluar ruangan bersama Bi Ratna yang tampak sangat merasa bersalah.
Pintu tertutup rapat. Keheningan yang mencengkam seketika menguasai ruangan.
Ruby yang terbaring lemah di atas ranjang perlahan menoleh. Wajahnya masih pucat pasi, matanya sayu, dan bibirnya sedikit gemetar. Namun bukannya menemukan sorot kehangatan atau rasa lega dari pria di depannya, Ruby justru dihantam oleh tatapan mata elang Luca yang sangat dingin dan dipenuhi amarah yang membara.
Luca melangkah mendekati ranjang, menatap Ruby dari atas dengan raut wajah yang begitu keras.
"Ceroboh." ucap Luca pelan, namun setiap katanya menusuk tajam bagai sembilu.
Ruby tertegun, tenggorokannya terasa menyempit. "T-Tuan... saya cuma—"
"Kamu hampir mengacaukan semuanya, Ruby!" potong Luca tegas, tak memberikan ruang bagi gadis itu untuk membela diri. Amarah yang meledak di dada Luca sebenarnya bersumber dari rasa takut yang sangat gila akan kehilangan gadis ini. Namun, demi menutupi kerapuhan dan perubahan dirinya yang tak terkendali, Luca memilih membentengi dirinya kembali dengan topeng penguasa yang kejam.
Luca memiringkan kepalanya, menatap Ruby dengan tatapan merendahkan yang dingin. "Ingat posisi kamu di sini. Kamu adalah umpan!"
*Umpan.*
Satu kata itu bergema hebat di dalam kepala Ruby, menghantam dadanya hingga terasa sesak melebihi rasa sakit paru-parunya yang sempat kemasukan air. Air mata hangat seketika merebak di sudut mata Ruby, perlahan menetes membasahi bantal.
Hatinya mendadak terasa hancur. Padahal, jika dipikirkan secara logis, Ruby tahu betul siapa dirinya. Sejak awal Luca memang menyelamatkannya demi kepentingan bisnis dan dendam pribadi pria itu terhadap keluarga Archelio. Ia seharusnya sadar diri dan tidak perlu merasa sesakit ini. Tidak seharusnya ia berharap bahwa perlindungan, usapan lembut di pipinya, dan rasa aman yang diberikan Luca selama ini adalah bentuk kepedulian yang tulus.
Ruby menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan isak tangisnya yang mulai pecah. "M-maafkan saya, Tuan Luca... Saya berjanji tidak akan ceroboh lagi dan mengacaukan... rencana Tuan."
Melihat air mata gadis itu membasahi sprei dan mendengar suaranya yang bergetar penuh luka, ada sesuatu di dalam dada Luca yang mendadak remuk. Pria itu mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuhnya, merutuki lidahnya sendiri yang baru saja melontarkan kata-kata sembilu itu. Namun, harga dirinya yang tinggi menahannya untuk menarik kembali ucapannya.
"Dengar, ini yang terkahir Ruby. Jika kamu mau hidup dengan aman, Saya tidak mau rencana ini gagal."
"Ba...Baik tuan."
"Pulihkan saja kondisimu mu, lalu datang kepadaku." Luca pergi melengos begitu saja dengan kalimat yang ambigu.
Ruby bingung apa yang dimaksud Luca, ia cemas karena tuannya orang yang sulit di tebak. Untuk saat ini, ruby benar-benar harus memulihkan kondisinya.