Namanya Rinjani wanita cantik bertalenta dan juga misterius Rinjani melanjutkan kuliahnya di universitas terbaik di kota Bandung Rinjani memiliki kemampuan yang tidak biasa di lakukan oleh orang lain.
Suatu hari Rinjani harus terjebak dengan situasi yang tidak memungkinkan dirinya dan teman-teman dekatnya untuk bisa hidup dan keluar dari tempat yang mereka kunjungi.
Penasaran Dengan ceritanya tunggu dan saksikan cerita selanjutnya 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iis Fatmala Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Hari ke hari Minggu ke Minggu pernikahan Radit dan Rinjani akan berakhir hari ini mereka telah sepakat untuk berpisah, demi kebahagiaan mereka masing-masing meski berat untuk Radit namun demi kebahagiaan Rinjani dan juga David, di sisi lain David merasa bersalah dengan perpisahan mereka yang menjadi penyebab perpisahan mereka David tidak menyangka kalau Rinjani akan memutuskan hubungannya bersama Radit demi dirinya.
"Apa kau baik-baik saja." Kata David.
"Ya aku baik-baik saja." Ucap Rinjani.
"Kalau kau berubah pikiran dan tetap bertahan demi zoey, aku akan berusaha ikhlas demi kebahagiaan putra kalian." David menggenggam tangan Rinjani.
"Kami sudah sepakat untuk berpisah demi kebahagiaan kami masing-masing, perihal zoey aku yakin dia akan menerima semuanya." Rinjani tersenyum manis.
Rinjani berjalan masuk ke dalam ruangan Persidangan di sana Radit lebih dulu duduk di kursi perpisahannya, Rinjani duduk menghadap hakim dan menarik nafasnya panjang menghembuskannya secara perlahan, Rani bersama Dimas ikut menyaksikan persidangan mereka kini mereka akan benar-benar berpisah.
Radit menatap Rinjani untuk terakhir kalinya meneteskan air matanya dan segera menyekanya menatap kosong ke depan, deringan ponsel keduanya membuyarkan lamunan mereka Rinjani menekan tombol hijau melihat nomor tidak di kenal menghubunginya.
"Halo siapa ini." Kata Rinjani dengan dingin.
"Halo benar dengan nona Rinjani." Ucap wanita dari sebrang sana.
"Iya benar, ada apa ya." Rinjani mulai cemas.
"Putra anda mengalami kecelakaan dan sekarang berada di dalam ruangan UGD."
"Apa." Teriak mereka serempak.
Radit dan Rinjani saling bertatapan satu sama lain air mata mulai mengalir begitu saja dan beranjak dari duduknya meninggalkan ruangan persidangan, David dan Rani merasa aneh dan segera menyusul mereka menuju area parkiran mobil, Rinjani berjalan masuk ke dalam mobilnya melesat jauh dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, Radit pun menyusul mobil Rinjani ke rumah sakit mereka menambah laju kendaraannya agar lebih cepat sampai di rumah sakit.
Lima belas menit berlalu mereka sampai secara bersamaan berjalan masuk ke dalam rumah sakit dengan tubuh gemetaran, Rinjani berlari menuju ruangan UGD dan melihat putranya sedang di tangani oleh dokter kakinya mulai melemas, tersungkur ke bawah untung saja Radit berhasil menangkap tubuh istrinya Rinjani menangis sejadi-jadinya, melihat keadaan putranya di dalam sana tidak bisa di pungkiri Radit merasakan hal yang sama seperti Rinjani merasa sedih melihat putranya berada di dalam ruangan UGD.
"Zoey." Lirih Rinjani sambil menangis tersedu-sedu.
"Kau yang tenang, zoey akan baik-baik saja." Radit berusaha menenangkan Rinjani.
"Aku takut kalau zoey akan pergi, bagaimana kalau dia pergi meninggalkan kita." Rinjani mulai gemetaran.
"Itu tidak akan terjadi." Teriak Radit." Kita harus berpikir positif dengan keselamatannya kau mengerti." Kata Radit.
Mereka begitu terpukul dan tidak percaya akan keadaan putra mereka tanpa sadar dua pasang mata menyaksikan kesedihan mereka, membuat David merasa yakin kalau Rinjani betul-betul mencintai Radit saat ini rasa sakit melihat, wanita yang di cintainya begitu khawatir dengan putranya menambah keyakinannya untuk melepaskan Rinjani bersama Radit.
"Jangan kehilangan harapan, mungkin saja Rinjani seperti ini merasa sangat sedih karena zoey menemaninya selama tiga tahun." Ucap Rani menenangkan David.
"Aku kehilangan itu Rani, Rinjani benar-benar mencintai Radit dan juga zoey aku akan pergi meninggalkannya." Suara David terdengar putus asa.
"Apa kau yakin melepaskannya, setelah tiga tahun lamanya kau menunggunya kembali, dan sekarang dia akan kembali pada mu malah kau akan melepaskannya, apa kau kehilangan akal mu hah." Bentak Rani merasa bingung.
"Apa kau tidak bisa melihat, mereka saling mencintai meski Rinjani belum merasakan itu, sedikit demi sedikit itu akan terjadi." David berjalan meninggalkan Rani.
"Astaga pria itu, dasar bodoh selalu saja putus asa." Ketus Rani.
Mereka terus menunggu keberhasilan dokter mengoperasi putranya Rinjani mulai panik kalau saja mereka gagal dalam operasinya, Rani terus menenangkan kakaknya membawanya duduk untuk beristirahat David terus menatap wajah kesedihan Rinjani dan juga kekhawatirannya, David tidak menyangka kalau saja Rinjani akan begitu khawatir dengan putra kandung Radit.
"Dugaan ku benar, kau sangat mencintai Radit hanya saja kau belum bisa merasakannya." Batin David.
Waktu yang mereka tunggu akhirnya tiba pintu ruangan UGD terbuka lebar memperlihatkan wajah dokter pria paruh baya keluar dari dalam dengan senyum di, bibirnya Rinjani mulai lega dengan senyuman dokter yang baru saja menangani putranya.
"Kalian tidak usah khawatir, putra kalian sudah melewati masa kritisnya." Ucap dokter itu.
"Alhamdulillah." Lirih Rinjani.
"Apa kami bisa melihatnya." Kata Radit.
"Tentu silahkan, kalau begitu saya pamit dulu." Pria itu berjalan meninggalkan mereka.
Rinjani bergegas masuk ke dalam ruangan UGD untuk melihat keadaan putranya di dalam zoey baru saja sadar dari paska operasinya, Rinjani menggenggam tangan putranya menangis tersedu-sedu melihat kondisi zoey yang begitu prihatin kan.
"Mom." Lirih zoey.
"Iya sayang, mommy di sini apa ada yang sakit." Ucap Rinjani dengan lembut.
"Mommy and Daddy jangan tinggalin zoey, kata orang-orang mommy dan Daddy akan berpisah jauh." Ucapnya dengan polos.
Rinjani terdiam dengan penuturan sang putra tidak percaya, kalau zoey akan berbicara seperti itu dan akan seperti ini jadinya kalau mereka berpisah.
"Zoey nga usah mikirin apa-apa lagi yahh, sekarang anak mommy istirahat lagi." Rinjani mengusap lembut pipi sang putra.
"Daddy." Panggil zoey.
"Iya Daddy di sini kenapa nak." Radit bersimpuh memengangi tangan putranya.
"Jangan tinggalin mommy, kasihan dia zoey nga mau seperti teman-teman zoey yang tidak punya ibu."
"Daddy janji tidak akan ninggalin mommy, sekarang zoey istirahat saja." Radit menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
Rinjani tidak kuasa mendengar ucapan putranya berlari keluar menuju halaman rumah sakit, menangis sejadi-jadinya mengingat permintaan zoey yang sangat sulit untuk di kabulkan, mengingat mereka sudah hampir menjalani sidang perpisahan tanpa sadar David berada di samping Rinjani merangkulnya dengan erat untuk terakhir kalinya.
"Jangan bersedih lagi, zoey sudah melewati masa kritisnya." Ucap David tanpa melihat Rinjani.
"Aku harus bagaimana David, permintaan zoey sangat sulit untuk kabulkan mengingat kami akan menjalani sidang perpisahan." Rinjani terus menangis.
"Heii dengarkan aku, apapun yang terjadi aku akan ikhlas melepas mu jika kalian tidak jadi berpisah." David berpura-pura tegar.
"Apa kau tidak waras lagi, aku melakukan ini semua demi diri mu sampai-sampai zoey seperti ini, dan kau malah ingin melepaskan ku apa kau sudah tidak mencintai ku lagi." Bentak Rinjani merasa kesal dengan kekasihnya.
"Aku sangat mencintaimu sampai kapanpun itu tapi posisinya lain, kau sekarang masih istri Radit aku harus bagaimana berat rasanya melepaskan mu bersama orang lain, hati ku hancur harus melihat kekasih ku bersama orang lain tapi aku tidak tega melihat zoey seperti itu mengharapkan mu menjadi ibunya." Air mata David tidak bisa di bendung lagi.
"Maafkan aku seharusnya aku tidak menikahi Radit tiga tahun lalu, kalau seperti ini jadinya harus berpisah dengan orang yang aku cintai." Rinjani tidak menyangka kalau David akan melepaskannya.
"Kembali lahh dengannya, zoey membutuhkan mu sebagai ibunya kita masih bisa bersahabat bukan." David berusaha tersenyum.
Rinjani memeluk erat tubuh David mencurahkan kesedihannya harus berpisah dengan kekasihnya, David membalas pelukan Rinjani untuk terakhir kalinya meski berat namun David tidak mau egois dan melihat zoey menderita tanpa Rinjani, di sisi lain Radit dan Rani menyaksikan adengan mereka yang begitu menyedihkan harus berpisah dengan orang yang begitu dia cintai demi suami dan anaknya.
"Aku tidak menyangka kalau mereka akan tegar seperti ini." Ucap Rani merasa sedih.
"Ini semua salah ku, andai saja waktu itu kami tidak menikah Rinjani akan bisa bersama David saat ini." Kata Radit merasa bersalah.
"Nga ada yang salah dalam hal ini, mungkin Tuhan mengirim Rinjani untuk menjadi ibu zoey dan jangan menyalahkan diri mu sendiri." Rani menepuk pundak Radit berjalan pergi.
Radit terus menyaksikan mereka yang masih enggan untuk melepaskan pelukannya meski dada terasa sakit, namun Radit tidak berhak melarang Rinjani bersama siapapun mengingat mereka saling mencintai, mereka melepaskan pelukannya David mengusap lembut jejak air mata di pipi Rinjani menatap wajah cantik kekasihnya, mengikhlaskan Rinjani bersama pria lain dan juga hidup bahagia meski hatinya berat melepaskan.
"Aku harap kau akan berbahagia dengannya." Kata David.
"Kita lihat saja nanti, aku tidak akan melupakan perasaan ku ini." Rinjani berjalan pergi.
Rinjani berjalan menuju kamar zoey dan melihat kehadiran Radit tepat di depan pintu taman, dan hanya melewatinya saja tanpa ingin menyapa Radit merasa Rinjani masih saja marah padanya, dan hanya diam saja berjalan menghampiri David yang masih termenung di area taman.
"Seharusnya kau pertahanankan saja Rinjani, kau tidak harus mengalah dengan putra ku." Ucap Radit duduk di sebelah David.
"Kau jangan besar kepala dulu, aku melakukan ini demi kebahagiaan Rinjani dan juga putra mu, aku tidak mau menjadi pria yang egois dan terobsesi memiliki istri orang, meski kami memang saling mencintai sebelum kalian menikah." Kata David sedatar tembok.
"Kalau begitu jangan pernah mengganggu kebahagiaan istri dan juga putra ku." Kini suara Radit terdengar serius.
"Kau tidak bisa melarang ku seperti itu, karena sekarang kami sebatas sahabat dan itu tidak akan berpisah." David berjalan keluar menuju parkiran mobil.
Radit menatap kepergian David dengan tajam dan mengepalkan tangannya beranjak berjalan masuk ke menuju ke dalam kamar putranya, Rinjani tertidur pulas setelah mengurus segala makanan zoey dan juga membersihkan tubuhnya, Radit yang baru saja masuk melihat Rinjani tertidur pulas di sofa kamar Radit segera menyelimuti Rinjani yang merasa kedinginan.
"Aku berjanji akan membahagiakan mu, dan tidak akan pernah menyakiti perasaan mu." Lirih David.
Radit berjalan menghampiri tempat tidur putranya duduk menggenggam tangannya, mengelus kepalanya dengan lembut merebahkan tubuhnya tertidur pulas.
Di sisi lain David merasa kecewa dengan dirinya sendiri berusaha tegar padahal hatinya sangat hancur, kini kamarnya sudah berantakan karena hatinya yang hancur bahkan Ken dan Brama tidak sanggup melihat kesedihan David yang melepaskan Rinjani.
"Kau jangan seperti ini, Rinjani akan sedih kalau seperti ini." Kata Ken.
"Yang di katakan Ken benar, kau harus menerima semuanya." Ucap Brama.
"Gua sudah berusaha menerima, namun hati ku merasa tidak sanggup." David mengalirkan air matanya.
Brama beserta Ken tidak bisa berbuat apa-apa dengan permasalahan hati mereka yang memutuskan untuk berpisah, dan menjadi teman baik meski itu sulit namun Rinjani dan juga David harus melakukan itu demi keselamatan dan kebaikan zoey.
Satu Minggu lamanya zoey sudah di perbolehkan pulang oleh dokter karena kondisinya sudah lebih baik, saat ini Rinjani menyiapkan semua barang-barang zoey ke dalam ranselnya dan menunggu Radit mengurus administrasi, zoey menatap keluar jendela dengan senyum yang mengembang di wajahnya selama berada di rumah sakit zoey merasakan kasih sayang dari ibu dan juga kakeknya.
Radit berjalan masuk setelah menyelesaikan semuanya." Apa semuanya sudah beres." Kata Radit.
"Sudah." Jawab singkat Rinjani.
"Baiklah sayang kita pulang sekarang." Ucap Radit mengusap lembut rambut putranya.
"Baik Daddy." Ucap zoey dengan gembira.
Mereka berjalan layaknya seperti keluarga yang harmonis dengan pernikahan mereka meskipun tidak seperti itu kenyataannya, demi zoey mereka melakukan ini semua di parkiran mobil, Danu telah menunggu kedatangan mereka dan segera membukakan pintu mobil untuk bos dan juga istrinya.
"Tolong bawa masuk ke dalam bagasi ya Danu." Kata Rinjani memberikan ransel zoey.
"Baik nona muda." Danu segera berjalan ke belakang mobil.
Rinjani berjalan masuk ke dalam mobil duduk di sebelah zoey dan juga Radit, tak lama Danu berada di dalam mobil melaju dengan kecepatan rata-rata menuju kediamannya, selama di perjalanan mereka hanya menatap keluar jendela tanpa berbincang atau pun apa, mereka masih memikirkan perpisahan mereka yang tertunda.
Tiga puluh menit berlalu mobil mereka memasuki halaman rumah, seluruh pelayan bersiap-siap menyambut kedatangan tuan muda dan juga nona muda mereka, Rinjani takjub dengan kejutan pelayan rumahnya dan juga penjaga rumahnya untuk menyambut mereka, berbeda dengan Rinjani Radit malah bersikap biasa saja dan berjalan masuk ke dalam tanpa menyapa para pekerja rumahnya.
"Radit kenapa." Lirih Danu.
"Udah nga usah di pikirin." Ketus Rinjani.
"Baik nona muda." Danu berjalan pergi.
"Terima kasih sambutannya." Kata Rinjani dengan ramah.
"Hanya ini yang kami buat nona muda untuk tuan zoey kami semau turut prihatin." Kata kepala pelayan kediamannya.
"Ini pun sudah lebih baik, Terima kasih kalau begitu saya pamit masuk ke dalam." Rinjani tersenyum ramah berjalan masuk bersama putranya.
Rinjani merasa senang memiliki pelayan yang begitu sangat baik dan juga perhatian kepada keluarganya, Rinjani membuka pintu kamar zoey merebahkan tubuh putranya untu segera istirahat, zoey menggenggam erat tangan Rinjani terlelap dalam tidurnya setelah zoey terlelap Rinjani berjalan keluar kamar. Rinjani berjalan menuju kamarnya membuka pintunya melihat Radit baru saja keluar dari kamar mandinya.
"Dia udah tidur." Sinis Radit.
"Sudah." Jawab Rinjani berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
"Sampai kapan kita seperti ini, aku merindukan mu Rinjani." Lirih Radit merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Rinjani merendam tubuhnya dari penatnya pikiran dan juga hatinya, memanjakan tubuhnya merilekskan tubuhnya dari semua masalah yang ada, dua puluh lima menit kemudian Rinjani berjalan menuju shower untuk membasuh dirinya, Rinjani menikmati setiap guyuran shower meresap ke dalam tubuhnya. Setelah selesai dengan ritual mandinya Rinjani berjalan keluar duduk di atas sofa, mengambil ponselnya yang berdering begitu keras Rinjani mengerutkan keningnya melihat nama Beni di ponselnya.
"Halo Ben, tumben nelpon gua ada apa." Tanya Rinjani mengeringkan rambutnya.
"Kami butuh bantuan mu." Ucap beni dengan serius.
"Bantuan." Tanya Rinjani penasaran.
"Iya kami butuh bantuan mu, untuk mengungkap pelaku pembunuhan mahasiswi yang sedang kami selidiki."
"Kenapa harus gua, kalian tahu kan gua udah nga bekerja di sana selama tiga tahun dan, sekarang kau meminta bantuan ku apa itu tidak terdengar gila." Tawa Rinjani sedikit tenang.
"Ayolah Anjani tolong kami, Lohh mau kan." Kata Beni memastikan.
"Baiklah, gua ke kantor sekarang." Ketus Rinjani mematikan sambungan teleponnya.
Rinjani segera merias wajahnya sedikit dan mengganti bajunya dengan pakaian casualnya, tidak sengaja Radit mendengar semua perbincangan mereka dan segera berjalan menghampiri Rinjani.
"Kau akan kembali bekerja di sana."
"Mereka cuman butuh bantuan aku, bukan kembali ke sana."
"Kalau pun kau mau silahkan saja, aku tidak berhak melarang mu."
"Kamu nga usah khawatir, aku akan menjauhi mantan kekasih ku itu, aku pamit pergi tolong jaga zoey sampai aku kembali."
Rinjani berjalan keluar kamarnya dengan wajah tanpa ekspresinya menuju halaman rumah, Rinjani berjalan masuk ke dalam mobil melesat jauh menuju kantornya Radit memperhatikan kepergian Rinjani melalui jendela kamarnya, di perjalanan Rinjani memikirkan kembali untuk bekerja dan akan menerima tawaran David kalau akan di pekerjakan kembali.
Tiga puluh menit lamanya akhirnya untuk sekian kalinya selama tiga tahun Rinjani berada di sini lagi, di tempat impiannya selama ini menjadi jaksa sekaligus detektif kepolisian, Rinjani berjalan keluar mobil menatap bangunan yang sudah lama di tinggalkan dan akhirnya bisa berdiri kembali di depannya, rasa tidak percaya di perlihatkan semua orang yang berada di sana dan diam melihat wanita cantik yang tiga tahun lalu di nyatakan meninggal oleh pihak kepolisian.
"Apa benar dia jaksa Rinjani." Ucap salah satu staf.
"Itu tidak mungkin, tapi apa dia punya kembaran." Kata yang lainnya.
"Ya nga mungkin juga, setahu gua Rinjani hanya punya seorang adik perempuan di Bandung, apa jangan-jangan dia hantu lagi." Sahut yang lainnya.
Rinjani terus berjalan masuk ke dalam kantornya tanpa memperdulikan tatapan mata dan juga ucapan semua orang, Ken melihat kedatangan Rinjani dan tersenyum ramah padanya berjalan masuk ke dalam ruangan David.
"Halo semuanya." Sapa Rinjani berjalan duduk di sofa.
"Hai Rinjani." Sapa mereka.
"Sudah lama bukan kita tidak seperti ini, membahas kasus dan akan mengungkapnya bersama." Kata Beni dengan antusias.
"Bantuan apa yang kalian butuhkan dari ku." Rinjani berterus terang.
"Kami ingin Lohh bergabung ke dalam tim kami." Kata David.
"Hahaha apa kalian gila, semua orang akan terkejut kalau tahu aku masih hidup." Tawa Rinjani.
"Ayolah Rinjani, bukankah ini adalah impian mu." Timpal Brama.
"Cihh kalian ini bawel sekali, iya aku akan ikut bergabung bersama kalian puas." Rinjani menyeruput minumannya.
Suara sorak-sorai terdengar di dalam ruangan David, Rinjani memperhatikan ruangan yang selama tiga tahun di tinggalkannya belum berubah sedikit pun, Ken membawakan berkas kasus para korban yang viral saat ini, Rinjani menatap hasil otopsinya memikirkan tentang kasus ini dan kembali mengingat mimpi melihat mereka.
"Aku pernah melihat mereka, apa mereka tewas secara bergantian." Tanya Rinjani.
"Iya mereka tewas secara bergantian, apa kau mencurigai seseorang." Kata Ken.
"Aku belum bisa memastikan, karena seingat ku mereka wanita karir bukan, apa dia melakukan ini karena tidak sesuai dengan kriterianya dalam melihat korban." Rinjani memperlihatkan wajah para korbannya.
"Pelaku kali ini benar-benar sudah gila, membunuh orang lain yang tidak bersalah hanya karena tidak suka dengan kriterianya." Timpal Brama.
"Kita selidiki setiap TKP, siapa tahu kita menemukan bukti yang akurat dari kasus ini." Rinjani menatap tajam kertas yang berada di hadapannya.
Setelah berdiskusi Rinjani bersama Ken dan Beni berangkat menuju lokasi para korban mencari tahu bukti yang akurat untuk mereka, Rinjani Berjalan keluar ruangan tanpa menatap David sedikitpun David mengerti kalau saja Rinjani berusaha untuk menjauh darinya sesuai permintaannya.
Dua puluh menit kemudian Rinjani bersama timnya sampai di lokasi kejadian di sana tempat itu belum pernah di sentuh oleh warga, Rinjani menatap pohon di mana wanita itu di temukan tewas dengan luka bakar dan mengingat kembali mimpi yang merasukinya.
"Menurut otopsi korban mengalami beberapa retak bagian tulang kakinya, berarti sebelum pelaku mengesekusi korbannya dia melakukan kekerasan dan menggantungnya di sana agar warga merasa dia bunuh diri bukan." Tebak Rinjani.
Kau benar sebelum korban tewas hasil otopsi, menyatakan kalau saja korban mengalami beberapa retak tulang dan juga luka yang lainnya." Kata Ken.
Heii." Teriak Beni.
Rinjani menoleh berlari menuju arah Beni yang menemukan sesuatu." Lohh ini nga usah berteriak, seperti itu gua nga budek." Ketus Rinjani.
Pelakunya meninggalkan jejak kaki, apa dia seorang raksasa memilik kaki sepanjang ini." Ledek Beni.
Kita bisa menjadikan ini sebagai bukti." Rinjani memotret foto telapak kaki yang berada di lokasi kejadian.
mereka terus mencari bukti yang akurat untuk mengetahui siapa pelakunya hari semakin gelap, rinjani masih saja berusaha mencari bukti yang mereka butuhkan tiba-tiba guyuran hujan membasahinya, rinjani berjalan masuk ke dalam mobilnya. Dengan terpaksa mereka meninggalkan lokasi kejadian dan kembali ke rumah mereka masing-masing, rinjani terus memikirkan motif dari pembunuhan berantai ini dan apa yang pelaku cari dari mereka kasus ini sangat aneh setiap korban adalah orang-orang yang selalu tampil di televisi.
"Jangan-jangan pelaku mencari wanita yang selalu menjadi pusat perhatian semua orang, karena semua korbannya adalah wanita yang selalu menjadi pusat semua orang." Lirih Rinjani.
"Lohh lagi mikirin apa Anjani." Tanya Beni melihat Rinjani termenung.
"Nga ada kok." Kilah Rinjani.
Ken hanya memperhatikan Rinjani dari kaca spion mobilnya dan mengetahui kalau Sahabatnya itu memikirkan sesuatu, namun enggan untuk memberitahukan kepada mereka hari semakin gelap Rinjani mulai terlelap dalam tidurnya, Ken menatap wajah cantik Rinjani dari balik kaca spion Beni yang mulai merasa aneh dengan tatapan Ken berusaha fokus menyetir mobil.
"Nga usah di liatin Mulu, istri orang tuhh." Ledek Beni.
"Lohh omong apaan sihh Ben." Ken mengalihkan pandangannya.
Beni tertawa kecil melihat ekspresi wajah merona Ken yang kedapatan menatap istri orang, dua puluh menit lamanya mereka memasuki halaman kediaman Radit, Rinjani masih saja terlelap dalam tidurnya tak Sadar kalau mereka telah tiba di kediamannya, Radit yang sedang menunggu istrinya segera berjalan menghampiri Ken dan Beni yang membuka pintu mobil.
"Biar saya yang bawa Rinjani masuk." Kata Radit dengan ekspresi datarnya.
"Ahh iya." Ucap Ken berjalan mundur.
"Terima kasih sudah membawa istri saya pulang." Radit masih saja dengan ekspresi datarnya.
"Nga usah sungkan Rinjani adalah teman kita, kalau begitu saya pamit pulang dulu." Ken berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Beni menatap wajah datar Radit dan melesat jauh dari kediaman Rinjani, Radit bergegas membawa Rinjani masuk ke dalam kamarnya merasa berat dengan badan istrinya, zoey yang belum tidur menghampiri Daddynya yang sedang membawa mommy nya ke dalam kamar.
"Dad, mommy udah pulang." Ucap zoey mengucek-kucek matanya.
"Iya sayang, kok zoey belum tidur sihh." Radit merebahkan tubuh istrinya.
"Zoey kan nungguin mommy, tapi mommy malah tidur." Terlihat raut kecewa dari wajah zoey.
"Kan mommy kerja sayang, jadi zoey istirahat ya besok kan masih bisa ketemu sama mommy." Radit membawa zoey keluar kamar.
Di bawa alam sadarnya Rinjani melihat beberapa wanita yang sudah tidak bernyawa dan tewas dengan cara yang sama, Rinjani memperhatikan setiap sudut tubuh para korbannya dan menemukan hal yang ganjal dalam kasusnya kali ini, setiap korbannya memiliki tanda yang berbeda dari wanita yang lainnya dan semua korbannya terlalu muda untuk meninggal begitu saja. Rinjani melihat bekas-bekas luka yang berada di tubuh mereka naas, sekali mereka harus pergi dengan cara keji di saat namanya melambung tinggu, tiba-tiba sumber suara mengganggu pikiran Rinjani dan berjalan mencari keberadaan sumber suara namun tidak di temukan.
"Di mana kau, tunjukkan diri mu jangan bersembunyi dari ku." Teriak Rinjani.
$Hahahaha." Pria itu tertawa lepas." Lama tak jumpa nona Rinjani." Kata pria itu.
Rinjani tersentak saat namanya di sebut dengan orang yang belum pernah bertemu dengannya." Siapa kau, dan apa kau mengenal ku." Tanya Rinjani.
"Siapa yang tidak mengenal jaksa yang hebat seperti mu, tak ku sangka kita bertemu di alam bawa sadar seperti ini."
"Jangan mencoba bermain-main dengan ku, tunjukkan diri mu sekarang." Bentak Rinjani berjalan ke sana ke sini.
"Percuma saja kau mencari ku karena kita berada di alam yang berbeda, tapi aku akan memberikan mu petunjuk, korban ku selanjutnya adalah wanita karir yang sukses di sebuah perusahaan terbesar dalam kota ini, kalau kau memang pintar selamatkan nyawanya sebelum jam delapan malam." Suara itu pun menghilang entah ke mana.
"Apa, heii di mana kau aihhh sialan kau." Teriak Rinjani.
Rinjani tersadar dari tidurnya dengan keringat membasahi tubuhnya, Radit yang berada di depan matanya khawatir dengan kondisi Rinjani.
"Kau kenapa, apa kau baik-baik saja." Tanya Radit mengusap lembut keringat membasahi Rinjani.
"Aku baik-baik saja." Ucap Rinjani mengatur nafasnya.
"Jangan bohong dengan ku, kau tidak biasanya seperti ini, ada apa cerita dengan ku." Radit menatap wajah pucat istrinya.
"Aku cuman lagi mimpi buruk saja, nanti juga kamu terbiasa dengan mimpi ku, aku mau mandi." Rinjani beranjak dari duduknya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Radit berjalan keluar kamar menemui putranya yang sedang sarapan sendiri di meja makan, Radit duduk di sebelah zoey mengambil sarapan untuknya dan mengunyah sarapannya.
"Mommy belum bangun, Daddy." Zoey mengunyah sarapannya.
"Mommy baru aja mandi sayang."
"Daddy jadi kan anterin zoey ke sekolah."
"Jadi dong sayang, sekarang kamu habisin sarapannya." Radit mengusap lembut rambut putranya.
Mereka menikmati sarapannya hingga habis tak tersisa zoey segera berlari masuk ke dalam kamar Rinjani, Rinjani yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi terkejut dengan kehadiran zoey yang tiba-tiba.
"Mommy." Teriak zoey.
"Astaga zoey, mommy kaget Lohh ada apa sayang." Rinjani memeluk putranya.
"Mommy dari mana aja semalam, kok ninggalin zoey sendiri." Zoey mulai cemberut.
"Mommy harus kerja sayang, jadi mulai sekarang biar Daddy yang anterin zoey ke sekolah nga papa kan." Rinjani membelai setiap rambut zoey.
"Ya zoey maunya sama mommy, zoey ngambek nihh."
"Ya ampun anak mommy ganteng banget kalau ngambeknya, ya udah zoey ke Daddy dulu habis mommy siap-siap mommy anterin zoey ke sekolah."
"Ok." Zoey berhasil membujuk Rinjani berangkat bareng bersama Daddynya.
Rinjani segera menghiasi wajahnya dengan sedikit sentuhan bedak untuk mempercantik wajahnya, menambah sedikit lipstik di bibir ranumnya mengganti bajunya dengan pakaian santainya, setelah selesai bersiap-siap Rinjani berjalan keluar kamar menuju halaman rumahnya, Radit yang baru saja selesai sarapan terpesona dengan kecantikan Rinjani yang semakin cantik saja, zoey menarik tangan Daddynya untuk berjalan masuk ke dalam mobilnya.
"Kok ada kamu sihh." Ucap Rinjani dengan malas.
"Ini maunya zoey, nga usah kepedean kamu." Ketus Radit berjalan masuk ke dalam mobil.
'Dihh dasar kepedean." Kesal Rinjani terpaksa masuk ke dalam mobil.
Danu mengedipkan matanya kepada zoe berhasil membuat kedua orang tuanya berangkat bersama, Danu melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata agar Rinjani dan Radit bisa berlama-lama dalam satu mobil, Rinjani yang merasa Danu sengaja memperlambat laju mobilnya.
"Danu kenapa jalannya kaya siput gini sihh, aku bisa terlambat nantinya." Ketus Rinjani.
"Maaf nona muda." Danu menambah laju mobilnya.
Lima belas menit kemudian mereka tiba di depan sekolah zoey Rinjani berjalan keluar mengantar putranya sampai di depan gerbang, Rinjani menatap kepergian zoey hingga hilang di balik kerumunan orang-orang, Rinjani berjalan masuk duduk di sebelah Danu membuat kedua pria tampan yang berada di dalam tercengang dengan tingkah Rinjani.
"Ngapain kamu duduk di depan." Tanya Radit dengan wajah polosnya.
"Udah jangan banyak nanya, Danu jalan sekarang, kali ini dengan kecepatan tinggi aku bisa terlambat nanti." Ketus Rinjani.
"Baik nona muda." Ucap Danu melirik Radit berada di belakang.
"Dengarin perintahnya kan, jalan jangan kek siput lagi." Kesal Radit.
Danu tertawa kecil dengan wajah Radit yang terlihat kesal karena ulah Rinjani yang duduk di sebelahnya, selama perjalanan Rinjani terus memikirkan teka teki yang di berikan pelakunya untuk menyelamatkan nyawa korban selanjutnya, Radit merasa aneh dengan wajah Rinjani yang hanya diam saja seperti memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.
"Dia lagi mikirin apa sihh, kok wajahnya gemesin gitu." Batin Radit menatap Rinjani.
"Cihh dasar bucin, lihatnya udah kek mau matanya keluar gitu, dasar pria bodoh." Tawa Danu di dalam hatinya.
Tanpa sadar mereka telah tiba di depan kantor kejaksaan negeri, Rinjani pamit pergi bersama Radit dan Danu berjalan keluar dari dalam mobil, Beni yang tidak sengaja melihat Rinjani baru turun dari dalam mobilnya segera berjalan menghampirinya.
"Serius banget liatinnya." Kata Beni.
"Luhh ngangetin aja." Rinjani memukul pelan bahu Beni.
"Lohh mikirin apaan sihh."
"Nga ada kok, gua masuk duluan ya." Rinjani berlari masuk ke dalam ruangannya.
"Dia kenapa sihh." Beni menyusui langkah Rinjani.
Rinjani membuka setiap berkas korban yang mereka dapatkan, melihat data dirinya satu persatu dan menemukan jawabannya, Rinjani mengambil ponselnya berada di dalam tasnya menghubungi Ken.
Deringan pertama tidak ada jawaban, Rinjani kembali mencoba deringan kedua, pun sama tidak ada jawaban, Rinjani menekan kembali dan akhirnya Ken baru saja mengangkat telponnya.
"Halo Rinjani." Ucap Ken dari sebrang sana.
"Lohh di mana sekarang, bisa nga Lohh keruangan gua sebentar ada yang mau gua omongin nihh."
"Gua masih di jalan sihh, kalau udah sampai gua keruangan Lohh dehh."
"Ohh gitu ya udah, gua tunggu ya."
"Baiklah." Ken mematikan sambungan teleponnya.
Rinjani kembali mencari tahu bukti yang akan menjadi petunjuk mereka semua bukti yang mereka dapatkan di lokasi kejadian belum bisa, menemukan jawaban dari teka-tekinya Rinjani terus memikirkan ucapan pria itu dan tidak merasakan kehadiran David di dalam ruangannya.
"Lohh mikirin apaan, serius banget." David duduk di sofa.
"Astaga David, Lohh udah kek hantu aja, ngapain Lohh ke sini." Rinjani berjalan duduk di sebelah mantan kekasihnya.
"Nihh gua bawain kopi." David menyodorkan segelas kopi kesukaan Rinjani.
"Wahh tau aja kalau gua butuh imajinasi." Tawa Rinjani.
"Lohh belum jawab pertanyaan gua, mikirin apa." Tanya David menyeruput kopinya.
"Mikirin teka-teki yang di berikan pelakunya kepada ku."
"Teka-teki."
"Iya semalam gua ketemu dia alam mimpi, dan memberi ku teka-teki itu."
"Apa kau sudah menemukan jawabannya."
"Seharusnya sudah sihh, cuman pengusaha sukses di kota ini banyak aku nga tahu siapa korban dia selanjutnya."
"Pengusaha? Apa dia menyebutkan beberapa informasi yang bisa kita jadikan petunjuk." Ken tiba-tiba berada di dalam ruangan Rinjani.
Mereka menoleh kearah sumber suara dan melihat Ken berada di depan pintu ruangannya, Ken berjalan duduk di sebelah Rinjani.
"Ada masalah lagi." Kata Ken.
"Rinjani menemukan teka-teki dari pelakunya." Ucap David.
"Teka-teki soal pengusaha itu." Tanya Ken.
"Iya tapi gua bingung, wanita pengusaha sukses di kota ini kan banyak, apa lagi waktu gua cuman sampai jam delapan malam, kalau lewat korban selanjutnya akan seperti mereka."
"Kurang ajar, apa dia sudah gila memberikan kita petunjuk seperti itu, astaga kasus ini lebih sulit dari sebelumnya." Sahut Ken.
"Kita harus bagaimana, tidak mungkin kita mencari tahu satu persatu pengusaha sukses di sini, apa lagi mereka orang terpandang kan." Ucap David.
"Benar juga sihh, arkkh kenapa harus seperti ini sihh." Kesal Rinjani.
Rinjani memikirkan kembali ucapan pria itu dan mencari tahu siapa saja wanita pengusaha sukses di kota ini, tak lupa sebagai jaga-jaga Rinjani menghubungi Dimas untuk menjaga adiknya dua puluh empat jam, selama penyidikan Rinjani harus memastikan keselamatan Rani dari pelaku pembunuhan ini, Rinjani terus mencari hingga sore menjelang namun belum menemukan siapa korban selanjutnya dari pelaku.
Deringan ponsel membuyarkan pikiran mereka dan melihat nomor tak di kenal menghubungi Rinjani, David segera melacak keberadaan ponsel yang menghubungi Rinjani saat ini.
"Halo." Ucap Rinjani.
"Halo nona Rinjani, kenapa anda sangat lama menjawab telpon dari ku, apa kau sedang melacak keberadaan ku saat ini." Tebak pria itu.
Ken dan David tidak percaya kalau pria itu tahu kalau mereka melakukan pelacakan ponselnya, namun Rinjani berusaha tenang agar tidak di curigai oleh pelakunya.
"Ternyata kau sangat pintar juga bisa menemukan nomor yang belum pernah ku kasih orang sebelumnya, ada apa kau menghubungi ku." Tanya Rinjani.
"Apa kau sudah menemukan siapa korban ku selanjutnya."
"Beri aku waktu untuk bisa menjawab teka-teki dari pria gila seperti mu."
"Waktu yang harus kau tempuh sesuai dengan keinginan ku malam itu, lewat dari itu kau akan mendengar kabar darinya."
"Apa kau sudah tidak waras, pengusaha sukses di kota ini itu banyak." Bentak Rinjani berusaha menahan emosinya.
"Itu bukanlah urusan ku, segera cari tahu siapa korban ku selanjutnya." Pria itu mematikan sambungan teleponnya.
"Heii kau, kurang ajar." Teriak Rinjani dengan kekesalannya.
"Dapat." Ucap David.
"Apa kau sudah menemukan keberadaan ponselnya." Ucap Rinjani antusias.
"Kita bergerak sekarang." Kata Ken.
Mereka segera berjalan keluar menuju lokasi di mana keberadaan pria itu, Rinjani terus memikirkan siapa target selanjutnya Ken menambah laju mobilnya melewati beberapa gudang tidak terpakai, mereka mulai waspada ketika memasuki halaman gudang yang begitu sepi dan juga menyeramkan, Rinjani mengecek kembali lokasi keberadaan ponsel yang mereka lacak dan berhenti di gudang ini.
"Apa kalian yakin untuk masuk ke dalam." Ucap Ken.
"Apa kau takut." Kata Rinjani.
"Nga kok, cuman gua mastiin kalian aja." Kilah Ken menelan Silvanya.
"Kita masuk sekarang." Sahut David.
Rinjani mengganggukkan kepalanya berjalan masuk dengan hati-hati Rinjani melirik ke sana kemari tidak menemukan siapa-siapa, Ken membuka pintu gudang yang tidak terpakai secara perlahan memperhatikan setiap sudut ruangan gudang yang begitu gelap.
"Apa dia benar-benar berada di dalam." Kata Rinjani berjalan masuk.
"Menurut lokasinya dia berada di sini, tapi di sini tidak ada siapapun." Ucap Ken berhati-hati.
David menemukan cahaya berasal dari ponsel yang mereka cari, dan terkejut dengan pintu yang dengan sengaja terkunci dari luar, kini suara yang semalam kembali terdengar dari dalam gudang semua lampu menyala dengan tiba-tiba, menyinari mereka dan terkejut dengan semua mayat yang sudah membusuk di dalam gudang ini.
"Astaga." Rinjani terjatuh ke bawah.
"Lohh baik-baik saja." Ucap David.
"Si-apa mereka semua." Tanya Ken.
"Mereka korban yang sudah sangat lama, mereka selalu membuat ku kesal setiap kali tampil di dalam televisi." Sahut pria misterius.
"Siapa kau, dan di mana kau sekarang, apa kau takut berhadapan langsung dengan ku hah." Bentak Rinjani.
"Ternyata kau tidak pernah berubah nona Rinjani, kau masih sama seperti dulu, pikirkan teka-teki itu di dalam gudang ini, kalau kau salah dengan jawabannya, wanita ini akan segera tiada." Pria menampilkan sosok wanita misterius.
"Tolong." Teriak wanita itu.
Rinjani kalang kabut mencari keberadaan mereka dan tidak ingin melihat wanita itu menjadi korban selanjutnya, Rinjani menghubungi Dimas untuk memastikan Rani baik-baik saja di sana, setelah mendapat informasi dari Dimas Rinjani memperhatikan wanita itu dengan seksama dan merasa pernah melihatnya sebelumnya, Ken melihat tatapan Rinjani yang begitu sangat tajam melihat wanita itu di balik layar monitor.
Deg deg jantung Rinjani berdegup kencang melihat kalung wanita itu, dan mengingat kembali kalung itu dan di berikan oleh siapa, Rinjani menangis sejadi-jadinya melihat kalung itu dan berteriak histeris.
"Ku mohon lepaskan dia, kalau kau menginginkan orang lain ambil saja aku dan lepaskan dia." Ucap Rinjani putus asa.
"Apa yang kau katakan, Rinjani apa kau sudah tidak waras lagi." Ucap Ken.
"Tapi aku akan menyesal kalau dia kenapa-kenapa."
"Dia mana kau lepaskan dia, siapapun kau kalau dia benar-benar tiada aku sendiri yang akan menghabisi mu sialan." Teriak Rinjani.
Ken dan David tidak mengerti dengan situasi saat ini kenapa Rinjani begitu sangat marah melihat wanita itu, tiba-tiba suara teriakan memilukan terdengar dari gudang itu dan melihat salah satu jarinya terputus begitu saja.
"Arkhhh tolong, ampuni saya." Teriak wanita itu.
"Heii kurang ajar, jangan pernah menyentuhnya." Kini Rinjani sudah tidak mampu menahan emosinya.
"Rinjani ada apa dengan mu, siapa dia." David menggoyangkan tubuh Rinjani.
"Dia sahabat gua." Lirih Rinjani.
"A-pa yang kau maksudkan dia adalah thisa." David tidak percaya melihat thisa berada di sana.
"Itu tidak mungkin, thisa bukan wanita karir dia hanya menjadi istri yang baik." Sahut Ken.
Kini pikiran mereka kalut Ken segera menghubungi Angga untuk memastikan siapa wanita yang berada di sana, Angga yang baru saja selesai dengan makan siangnya segera menekan tombol hijau melihat nama Ken menghubunginya.
"Halo Ken, tumben nihh Lohh nelfon gua, ada apa." Tanya Angga.
"Thisa mana, dia baik-baik saja kan." Ucap Ken dengan nafas memburu.
"Tunggu, ngapain Lohh tanyain soal istri gua, ada apa." Angga mulai cemas.
"Gua cuman mau tahu aja, dia baik-baik saja kan dan di mana dia."
"Dia ada kok di rumah, ada apa sihh." Angga kembali menanyakan.
"Ahh nga papa, apa Lohh yakin dia berada di rumah sekarang."
'Iya ini ada apa sihh, jujur sama gua sekarang." Bentak Angga.
"Kita cuman lagi jalanin misi, doang kirain thisa kenapa-kenapa gitu doang." Kilah Ken.
"Dia baik-baik saja kok, tapi tunggu suara siapa itu." Angga mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
"Apa kau mengenalnya." Tanya Ken.
"Tentu itu suara thisa, apa dia berada di sana sekarang." Ucap Angga.
"Ti-tidak itu bukan thisa." Kata Ken dengan gugup.
"Jangan bohong siapa dia." Teriak Angga.
"Sekarang Lohh hubungi thisa, kalau dia baik-baik saja segera hubungi gua." Ken mematikan sambungan teleponnya.
Kini mereka menunggu Angga menghubunginya sementara itu Rinjani berusaha kuat untuk menerima kenyataan ini, David menenangkan pikiran Rinjani dan berpikir positif tentang semua masalah ini Rinjani menatap tajam arah kalung itu, menatap dengan seksama dan menemukan hal yang berbeda dari kalung itu Rinjani berdiri memperhatikan wanita itu kembali dan tertawa lepas membuat David dan Ken merasa khawatir.
"Apa kau mencoba membodohi ku." Ucap Rinjani.
"Apa yang kau bicarakan nona Rinjani." Kata pria itu.
"Dia bukan orang yang dekat dengan ku, sayangnya kau tidak mudah membodohi ku, sejak awal kau memang merekayasa semua ini agar aku membuang-buang waktu, agar aku melupakan teka-teki yang kau berikan bukan." Tegas Rinjani.
"Hahahaha." Tawa pria itu." Ternyata kau memang sangat pintar, aku harus akui itu bahwa dia memang bukan sahabat mu, dan sekarang waktu yang kau miliki hanya tiga jam lagi, sebaiknya kau gunakan waktu itu untuk sebaik-baiknya agar wanita ini selamat dari nyawanya." Tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya.
Mereka berlari keluar memuntahkan semua isi perutnya dengan aroma cairan segar yang begitu busuk dan segera menghubungi Brama dan Beni, untuk mencari tahu siapa saja wanita yang berada di dalam sana kepala Rinjani mulai pusing dengan semua pikirannya hingga jatuh tak sadarkan diri. David segera membawa Rinjani masuk ke dalam mobil melesat jauh dari gudang, meninggalkan Ken yang sedang menunggu kedatangan timnya dan juga pihak medis untuk mengotopsi korban yang berada di dalam.
Suasana mulai mengcengkram dengan aroma cairan segar dari dalam gudang menambah ketakutan Ken seorang diri, Ken terus waspada dengan sekelilingnya hingga timnya sampai di depan gudang, Beni bersama Brama berjalan keluar mobil menghampiri Ken yang begitu kacau dengan penampilannya.
"Kau ini kenapa, seperti orang gila saja." Ledek Brama.
"Dasar kau, sana masuk cari tahu siapa mereka semua." Ketus Ken.
"Baiklah bos." Goda Brama berjalan masuk bersama Beni.
Ken memainkan ponselnya mengirimkan pesan singkat kepada David untuk mengetahui kondisi Rinjani saat ini, sekilas bayangan seorang pria melewatinya Ken mengangkat kepalanya melirik ke sana kemari untuk mencari keberadaannya namun, tidak menemukan siapa-siapa di sana Ken semakin waspada dengan situasi saat ini dan berjalan masuk menemui Brama dan yang lainnya.
Buk buk buk.
Beberapa pukulan menghantam kepala Ken tersungkur ke bawah menatap wajah yang memukulnya, pandangannya semakin kabur dan semakin pudar melihat wajahnya hingga tak sadarkan diri, Brama yang baru saja keluar mendapati seorang pria sedang menggenggam balok dengan cairan merah segar dan melihat Ken tergelatak tak sadarkan diri.
"Siapa kau." Teriak Brama.
"Waktu kalian hanya tinggal dua jam lagi, pastikan Rinjani mengetahui jawabannya." Pria itu berjalan pergi.
"Kurang ajar." Teriak Brama dengan frustasi.
Beni segera berlari keluar melihat Ken tidak sadarkan diri dengan kepala yang mengeluarkan cairan merah segar, Brama menangis tersedu-sedu melihat kondisi Sahabatnya yang seperti ini, Beni segera menghubungi tim medis untuk segera datang ke gudang, Beni membawa Ken setelah ambulance tiba dengan cepat di lokasi kejadian. Brama segera melesat bersama tim medis ke rumah sakit untuk membawa Ken agar segera di tangani, Beni Kembali menyelidiki kasus ini berjalan masuk menemui teman-teman medisnya.
"Bagaimana, apa kita menemukan sesuatu." Kata Beni.
"Menurut dari hasil pemeriksaan beberapa korba sudah lama berada di sini, makanya aroma mereka membusuk dan sulit untuk di ketahui siapa saja mereka." Ucap seorang dokter cantik.
"Jadi mereka sengaja di bawa ke sini, untuk di eksekusi sesuai dengan keinginan pelakunya, dan membiarkan mereka membusuk di sini astaga dia manusia apa iblis ya kejam sekali." Kata Beni.
"Kami akan memberikan informasi terkait hasil otopsi nya, kalau begitu kami pamit pergi." Heni segera keluar dari dalam gudang bersama teman medisnya.
Beni menyusul langkah Heni ketika memastikan bahwa lokasi ini aman untuk mereka selidiki setelah Ken sadar, Beni tidak sengaja melihat seorang pria berada tidak jauh dari gudang dan segera berjalan menemuinya namun hilang entah ke mana. Hari semakin larut Beni berjalan masuk ke dalam mobilnya melesat jauh dari lokasi, menuju rumah sakit Brama yang baru saja tiba di rumah sakit segera berlari membawa Ken masuk ke dalam ruangan IGD.
David bersama Rinjani segera masuk ke dalam rumah sakit setelah mendapat kabar dari Beni, kalau Ken berada di dalam IGD Rinjani berdiri di depan kamar IGD menatap Ken dari luar yang sedang di tangani dokter.
"Kenapa ini bisa terjadi." Ucap Rinjani kepada Brama.
"Gua juga nga tahu, gua nga sengaja liat pria misterius di gudang itu membawa balok untuk memukul kepala Ken." Kata Brama dengan gemetaran.
"Apa kau melihat wajahnya." Tanya David.
"Tidak dia memakai penutup muka, dan hanya memberitahukan kepada ku bahwa waktu kita hanya tinggal dua jam lagi, apa maksud dari semua ini."
Rinjani teringat dengan teka-teki yang di berikan oleh pelaku, melirik jam tangannya waktu mereka hanya kurang satu jam lagi, Rinjani semakin panik dan juga cemas dengan jawabannya kalau salah korban akan selalu berjatuhan.
"Kau baik-baik saja." Ucap David memperhatikan wajah Rinjani.
"Iya kamu tenang saja, aku baik-baik saja kok." Rinjani kembali memikirkan teka-teki yang sulit ini.
Seorang suster berlari keluar dari dalam ruangan Ken, dengan terburu-buru membuat Rinjani dan yang lainnya panik.
"Suster ada apa." Tanya Rinjani.
"Maaf kami harus pergi, pasien mengalami penurunan drastis dan harus melakukan transfusi darah." Suster itu berjalan pergi.
"Astaga apa yang terjadi." Sahut Brama.
"Kita yang tenang jangan panik." Kata David berusaha tenang.
"Pelaku ini pasti sengaja, melakukan ini kepada Ken agar kita tidak bisa menyelesaikan teka-teki ini." Ucap Rinjani.
Hari semakin larut operasi yang di lakukan Ken pun berjalan lancar dan waktu yang mereka tunggu pun kini tiba, deringan ponsel membuat mereka semua khawatir dengan keadaan korbannya, pria itu melakukan panggilan video dan memperlihatkan seorang wanita cantik berada di dalam sebuah ruangan gelap, detak jantung Rinjani semakin cepat dan memikirkan siapa wanita itu dan apa motif dari pelakunya.
"Apa kau sudah menemukan jawaban dari teka-tekinya nona Rinjani." Kata pria itu dengan santai.
"Kau sangat licik ternyata, kau bahkan membuat kami harus berpikir keras untuk mendapatkan jawaban yang kau butuhkan." Rinjani berusaha tenang.
"Kau harus menjawab pertanyaan ku itu, dan menyebutkan nama korban ku selanjutnya, kalau kau salah dia akan menjadi seperti korban ku yang lainnya, tapi kalau kau benar aku akan menepati janji ku untuk melepaskannya."
"Kau memang bukan manusia, kau mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini, agar aku tidak bisa menjawab dari pertanyaan mu itu kan." Bentak Rinjani.
"Pikirkan lagi siapa wanita ini, dan akan aku lepaskan kalau kau mengetahui jawabannya."
Rinjani memperhatikan wajah wanita yang berada di bawah sinar lampu yang semakin menyadarkan wajahnya, mereka semakin panik ketika mereka belum bisa menemukan siapa wanita itu dan apa motifnya, Rinjani memikirkan hal-hal yang terlintas di benaknya dan menemukan cara untuk memastikan dia adalah targetnya.
"Bagaimana aku bisa yakin kalau kau akan melepaskannya, jika aku menjawab dari pertanyaan mu itu."
"Apa kau ragu dengan ku, ternyata kau licik juga baiklah aku akan membawanya sendiri kembali ke rumahnya dengan aman."
"Aku tidak percaya, bisa saja kau meleyapkannya di jalan dan membuang mayatnya."
"Apa kau mencoba mengulur waktu agar kau bisa menemukan jawabannya."
"Aku akan menjawab sesuai dengan perintah yang kau inginkan, dan aku sendiri yang akan memastikan kalau wanita itu pulang dengan selamat."
"Baiklah penawaran yang sempurna, siapa wanita ini dan kenapa aku memilih dia menjadi target ku selanjutnya."
Rinjani kembali memperhatikan wajahnya mengingat semua wanita pengusaha sukses yang pernah bertemu dengannya, Rinjani membulatkan matanya melihat baju yang pernah di pakai oleh salah satu rekan bisnis suaminya, dan semakin yakin dengan gaya rambut dan mengetahui apa motif pria itu memilih wanita ini.
"Dia adalah nona Sandra pengusaha sukses termuda di kota ini, dan memiliki banyak usaha hingga sampai panca negara bukan." Tebak Rinjani.
"Hahahaha." Tawa terbahak-bahak menggema satu ruangan." Kau memang sangat pintar, aku akui itu nona Rinjani dan benar dia adalah nona Sandra, kau belum menjawab pertanyaan ku kenapa aku memilihnya."
"Itu karena nona Sandra belum pernah tampil di semua stasiun televisi dan juga majalah, karena dia bukan tipe wanita yang selalu mengumbar senyum palsu di depan semua orang." Tegas Rinjani.
"Bravo kau memang sangat cerdik pantas saja kau menjadi seorang jaksa, yang hebat temui aku di tempat itu aku akan membawanya dengan selamat." Pria itu menutup sambungan teleponnya.
Brama dan David tercengang mendengar semua ucapan Rinjani yang luar biasa dan tidak menyangka kalau mereka akan berhasil, siapa sangka jawabannya akan berhasil membuat nyawa seseorang tidak melayang kali ini, Rinjani pamit pergi untuk membawa wanita itu kembali kerumahnya awalnya David akan ikut bersamanya, namun Rinjani menolak karena keinginan dari pelaku itu sendiri dan akan memastikan keselamatan korbannya.
Rinjani bergegas masuk ke dalam mobilnya melesat jauh menelusuri jalanan yang nampak sangat sepi, setiap jalanan yang di lewatinya tidak ada satu pun kendaraan yang melewati jalanan itu, Rinjani semakin waspada dengan situasi yang seperti ini dan menepikan mobilnya tak jauh dari gudang sebelumnya dan melihat seorang pria misterius berdiri bersama seorang wanita.
Rinjani berjalan turun dari dalam mobil berjalan menghampirinya, dan tetap waspada dengan segala serangan yang di lakukan oleh pelaku, teriakkan wanita itu menyakinkan Rinjani bahwa dia tidak salah lagi.
"Bawa dia kepada ku." Suara Rinjani terdengar serius.
"Kenapa kau begitu buru-buru, kita belum saling bertatapan nona Rinjani, bukan kah itu yang kau butuhkan." Ucap pria itu.
"Aku akan menangkap mu setelah aku, memastikan dia kembali dengan aman."
"Ayolah kita bersenang-senang dulu di sini." Tepukan tangan membuat beberapa orang keluar dari dalam gudang.
Rinjani tidak menyangka kalau pria itu akan membawa anak buahnya tapi ada ke anehan dari mereka, yang nampak sangat berbeda dari manusia biasanya tatapan mereka begitu kosong dan Jalan mereka sempoyongan, Rinjani menepis setiap bogem yang mereka berikan dan melayangkan satu pukulan di wajah mereka hingga tersungkur kebawah.
Situasi semakin mencekam satu pukulan keras menghantam kepala pria itu dan tersungkur ke bawah membuat Rinjani terkejut, Rinjani menoleh ke arah belakang mendapati suaminya bersama asistennya sedang memberikan mereka semua pelajaran, pria itu kembali menyerangnya dan mengalihkan perhatiannya Rinjani menatap pria yang berdiri dengan santainya di sana, Rinjani berjalan menghampirinya menatap wajahnya yang tidak begitu asing baginya dan mengingat kembali kejadian tiga tahun lalu.
"Kau." Rinjani membulatkan matanya." Kau masih hidup." Ucap Rinjani..
$Apa kau terkejut, sudah lama kita tidak berjumpa." Ucap Aska.
"Itu tidak mungkin kau, bukan kah kau menjalani eksekusi hari itu." Kata Rinjani tidak percaya.
"Sepertinya mereka salah mengesekusi seseorang, aku masih hidup berkat bantuan dari seseorang."
Itu tidak mungkin, kau sendiri yang mengakui semuanya, dan kenapa kau masih hidup."
Sayangnya kau salah besar nona Rinjani, aku masih berdiri di sini, dan yang mereka eksekusi adalah saudara kembar ku."
Rinjani tidak percaya dengan semuanya dan terjatuh ke bawah, mengingat kembali kejadian itu di mana pria itu meronta-ronta untuk di lepaskan dan merasa tidak bersalah, dan di vonis hukuman mati dengan kesalahan yang tidak pernah di buatnya.
"Itu tidak mungkin, kau pasti berbohong kan." Teriak Rinjani berusaha tenang.
"Terima lah kenyataan kalau kau salah mengeksekusi seseorang, dan pelaku sebenarnya masih berkeliaran di luar sana."
Tidak." Teriak Rinjani.
Radit segera berlari mendekati Rinjani menatap wajah pria itu dan kembali membantu Rinjani berdiri, Rinjani melayangkan satu bogem mentah ke wajah Aska namun masih bisa di tepis, kini perkelahian mereka tak terelakkan lagi Rinjani terus menepis tangan Aska, Radit segera membantu Rinjani namun terhalangi dengan anak buah Aska yang masih tersisa melawan Danu.
Sirine polisi menghentikan perkelahian mereka Aska segera berlari menjauh dari kerumunan, anak buahnya pun pingsan tak sadarkan diri setelah polisi berada di lokasi, David menghampiri Rinjani dan juga wanita itu untung saja Aska belum melakukan apa-apa kepadanya.
"Kalian baik-baik saja kan." Tanya David dengan cemas.
"Sedang apa kau di sini, bukannya kau berada di rumah sakit." Kata Rinjani membawa Sandra masuk ke dalam mobil.
"Aku mengkhawatirkan mu sendiri berada di sini, makanya aku mengirim bantuan untuk menyelamatkan mu." David menatap wajah Rinjani.
"Tapi Radit membantu ku, aku tidak sendirian."
"Radit." David mengerutkan keningnya.
"Iya, dia di sana." Rinjani menoleh kearah Radit dan Danu tapi tidak ada siapapun di sana." Lohh mereka di mana, tadi Radit dan juga Danu berada di sini." Rinjani melirik ke sana kemari dan tidak menemukan siapa-siapa.
"Apa kau baik-baik saja." Tanya David.
"Iya aku baik-baik saja, mungkin mereka sudah kembali kita pergi sekarang." Rinjani berjalan masuk ke dalam mobil.
David berjalan masuk dan melirik ke sana kemari mencari keberadaan Radit dan juga asisten pribadinya, namun tidak menemukan siapa-siapa dan kembali masuk ke dalam mobil melesat jauh, menuju kediaman Sandra.
Radit yang melihat kepergian Rinjani keluar dari persembunyiannya dan berjalan masuk ke dalam mobilnya, Danu merasa aneh dengan tingkah Radit yang seperti ini dan hanya diam saja berjalan masuk ke dalam mobilnya, melesat jauh menelusuri jalanan kembali ke kediamannya.
Flash Back.
Sebelum Rinjani tiba di sana Radit mengikuti Rinjani dari rumah sakit sampai di lokasi, untuk memastikan keadaan istrinya baik-baik saja dan dugaannya benar Rinjani mengalami kesulitan.
Babang Ken memang sangat tampan 😘❤️
Kalau ini my love love nya aku😘 babang David 😘❤️❣️😂
Nahh yang satu ini suami orang😂 suami Rinjani babang Radit ganteng banget 😂❣️❤️😘😍
Salam dari "His Heartbeat" 🌺
👍👍👍💗💗💗
next
salam dari MAHABBAH RINDU
KETEGARAN BUNDA
SENYUM ANYA