Kisah seorang perempuan yang memilih antara lelaki pilihan Orang tua atau pilihan dari Allah. Jalan manakah yang ia pilih?
Kisah ini hanyalah fiksi belaka. Sebagian nama tempat benar dan nama tokoh hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hastinar Halimudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merindukan Kampung Halaman
Seminggu kemudian..
Aufa sudah berpuasa setelah masa liburnya.
Hari ini adalah hari pertama ia berpuasa padahal bulan puasa sudah 7 hari.
Selama ini jika ia berpuasa, ia sering meratapi hidupnya dan membandingkan dirinya saat ia berbuka puasa waktu di kampung halamannya dengan berbuka puasa selama ia di Kendari.
Jika di kampung saat berbuka puasa Aufa hanya minum air putih, nasi dan ikan pindang toh saja, tapi tidak di Kendari. Selama ia di Kendari, Mama Rayna membuat menu yang sangat enak menurutnya.
Ada es buah, es teh manis, aneka kue dari kue basah hingga berbagai macam gorengan, pisang ijo, kurma dan masih banyak lagi menu-menu yang tidak pernah ia lihat selama ini.
Semua itu tidak ia dapatkan selama ia di kampung. Itu adalah pertama kalinya ia merasakan menu buka puasa yang begitu lengkap dan menggiurkan.
“Ah, enak sekali makanan-makanan ini. Seandainya bisa kubawa untuk Mama, bapak dan adik-adikku. Mungkin mereka juga bisa makan-makanan yang enak ini.”
Aufa masih meratap, terdiam beberapa saat hingga tersadar ketika adzan Magrib berkumandang.
“Alhamdulillah, akhirnya puasa pertama selesai juga” batin Aufa lalu mengambil air putih di atas meja kemudian mengambil buah kurma yang selama ini ia jarang cicipi.
18 tahun usia Aufa, selama itulah hidupnya hanya satu atau dua kali ia merasakan buah kurma. Ia pernah memakannya ketika ia menjadi remaja masjid di kampungnya saat ia masih duduk di bangku SMP
Setelah berbuka puasa, Aufa membersihkan sisa-sisa makanan yang berantakan di atas meja makan. Mama Rayna, suami dan Kak Arul kembali ke kamar mereka. Rayna dan Raysa bersiap untuk tidur di kamar orang tuanya.
Sembari membersihkan, Mama Rayna keluar dari kamarnya lalu berkata kepada anak tinggalnya itu
“Kamu mau shalat tarawih ya, dek? kalau mau shalat, itu masjidnya tidak jauh dari rumah, hanya beberapa langkah saja dari rumah.” Sambil menunjuk ke arah masjid.
Aufa hanya mengangguk dan melempar senyum kepada bos majikannya itu. Ia tidak bertanya apakah Mama Rayna mau shalat Tarawih di masjid.
“Saya shalatnya di rumah saja.” Seolah mendengar isi hati Aufa, Mama Rayna berkata sambil tertawa kecil kepadanya. Bos majikannya pun meninggalkan Aufa yang masih berdiri di dapur.
Selesai bersih-bersih dan mencuci piring, Aufa segera mengambil air wudhu karena sebentar lagi shalat isya dan tarawih.
Di perjalanan, Aufa melihat anak-anak dan ibu-ibu tetangga juga sedang menuju masjid. Tetapi saat Aufa tiba di masjid, ia merasa heran kalau masjidnya hanya ada beberapa shaf saja.
Itu artinya hanya sedikit saja yang ikut shalat tarawih di masjid. Kebanyakan anak-anak, itupun tidak sampai sepuluh orang.
“mungkin mereka lagi sibuk atau orang yang ada di komplek ini hanya sedikit saja.” Batin Aufa yang memperhatikan di sekeliling masjid tersebut.
Shalat isya sudah selesai..
Namun pada saat waktunya ceramah, tidak ada ustadz atau pemuda yang naik di atas mimbar untuk berceramah.
Biasanya yang Aufa tahu, ketika shalat isya selesai, seharusnya ada yang ceramah di depan atau di atas mimbar sebelum tiba waktunya untuk melaksanakan shalat tarawih berjamaah.
Tiba-tiba ada ibu-ibu yang naik di atas mimbar untuk berceramah. Anehnya, orang-orang di dalam masjid itu tidak ada yang menghalangi atau melarangnya.
Padahal setahu Aufa, yang seharusnya yang menjadi penceramah itu adalah seorang laki-laki apalagi itu di atas mimbar seperti itu.
“Kok bisa? Padahal masih ada laki-laki atau bapak-bapak di dalam masjid ini. Tapi masa iya, perempuan yang ceramah?”
Aufa hanya menganga tidak mempercayai apa yang ia lihat. Itu adalah pengalaman pertamanya melihat ada seorang perempuan berceramah di depan, yang di mana di situ masih ada laki-laki.
/Frown//Frown/
hahhaa.
menyemangati diri sendiri nggak apa2 kan. wkwkwk