Anastasya namanya, wanita cantik yang sudah berumah tangga dari lima tahun yang lalu. Dia menikah di usia dua puluh tahun, hingga tahun ke lima hari jadi pernikahan nya, kini ia sudah berusia dua puluh lima tahun.
Di usia pernikahan nya yang ke lima tahun, malaikat kecil tak kunjung hadir di dalam rumah tangganya dan sang suami, ia tak kunjung mengandung. Berbagai macam pengobatan dan pemeriksaan sudah di lakukan, dia dan sang suami di nyatakan sehat, tapi sepertinya Anastasya masih belum diberi kepercayaan untuk mengandung.
Hingga suatu hari, tiba-tiba saja sang suami yang begitu di cintai meminta izin untuk menikah lagi dengan rekan kerjanya, sekretaris yang sudah bekerja selama dua tahun dengan dirinya. Juwita namanya, wanita cantik yang mampu memikat sang suami hingga berpaling dari Anastasya.
Alasan sang suami ingin segera memiliki anak, membuat Anastasya mengizinkan sang suami untuk menikah lagi, meskipun hatinya begitu hancur, tapi demi kebahagiaan sang suami, ia harus rela.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 01Khaira Lubna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran 2
Tasya berjalan pelan di samping sang mama, dengan tangan nya menggandeng tangan wanita yang telah melahirkan nya. Entahlah, mendadak ia merasa gugup untuk bertemu dengan Sean.
Setibanya di ruang tamu, netra Tasya menyipit melihat Sean yang tak datang sendiri. Ia kira Sean hanya sendirian, tetapi tidak.
''Om, Tante,'' ujar Tasya.
Lalu ia menghampiri orangtua Sean, ia mengambil tangan mereka dan mencium punggung tangan dengan takzim.
Setelah itu ia duduk di samping Bella, beberapa detik, netra Tasya dan Sean bertemu, dan . . . Keduanya sama-sama merasakan debaran aneh di dada. Tasya menundukkan kepalanya dengan pipi bersemu merah.
''Duh, ada apa ini? Kok rame gini? Sean juga, kenapa penampilan nya begitu rapi?'' ucap Tasya di dalam hati. Tasya merasa sedikit salah tingkah, karena ia hanya memakai piyama tidur dengan rambut yang diikat asal. Sedikit berantakan.
''Tasya!'' seru Sarah lembut.
''Iya, Tante,'' Tasya menatap mama nya Sean.
''Nak, kami datang ke sini karena ingin melamar kamu untuk Sean. Sean serius ingin menjadi pendamping mu, dia sangat sangat mencintai kamu, Tasya,'' ucap Sarah pelan.
Mendengar itu, mendadak saja tubuh Tasya menjadi gemetaran, ia kaget mendengar perkataan Sarah. Jujur, ia bingung harus menjawab apa.
''Itu . . . Wanita yang waktu itu mau dikemanakan?'' tanya Tasya. Ia menanyakan tentang Alicia.
''Sean tidak bisa mencintai nya. Tante sudah bicara baik-baik kepadanya, dan Tante tidak jadi menjodohkan Sean dengan Alicia,'' jelas Sarah.
''Bagaimana Tasya? Apa kamu menerima lamaran ku?'' akhir nya Sean bersuara. Ia menatap Tasya lekat.
Tasya tak langsung menjawab, ia berpikir sejenak.
Bella, Sarah, Andi serta Papa nya Sean sudah tidak sabar lagi ingin mendengar jawaban yang keluar dari mulut Tasya. Mereka berdoa di dalam hati, supaya Tasya membuka hati untuk Sean.
Kalau Tasya menerima lamaran Sean, maka mereka akan membuat pesta besar-besaran di kompleks perumahan mereka.
Dan mereka juga sudah tidak sabar lagi ingin menjadi besanan.
''Em . . .,'' ucap Tasya menggantung.
Kini, bukan jantung Sean saja yang hendak copot rasanya karena tidak sabar menunggu jawaban Tasya, tapi kedua orangtua mereka pun merasakan hal yang sama.
''Iya, aku bersedia menerima lamaran mu, Sean, aku ingin menjadi istri mu,'' ucap Tasya yakin.
''Yey ....,'' Repleks Sean berteriak kegirangan. Ia langsung saja berdiri dari duduknya. Tasya tersenyum tipis melihat respon yang ditunjukkan Sean.
Tapi yang paling heboh adalah kedua orangtua mereka.
''Alhamdulillah,''
''Akhirnya tidak lama lagi kita akan menjadi besan juga Jeng,''
''Yey, senangnya,''
''Hahaha . . .''
Seru Sarah dan Bella, mereka saling berpelukan, merasa begitu terharu.
Andi dan Papa Sean pun sama, mereka juga ikut berpelukan.
Sean dan Tasya tersenyum melihat tingkah orang tua mereka.
''Kalian apaan sih! Aku dan Sean yang hendak menikah, tapi kalian yang kegirangan,'' celoteh Tasya.
Mendengar itu, mereka semua tertawa bersama.
''Terimakasih,'' Sean berucap dengan tatapan tertuju kepada Tasya. Tasya pun mengangguk kecil. Rasanya ia merasakan getaran yang cukup kuat di dada. Bahkan saat dilamar oleh Rama dulu, Tasya tak sebahagia ini. Kini semakin yakin lah Tasya, bahwa selama ini ia mencintai Sean, tetapi ia belum menyadari hal itu. Tidak apa-apa lah terlambat menyadari, asalkan masih diberi kesempatan untuk bersama. Pikirnya.
Sean merasa bagai mimpi, sungguh jawaban 'Iya' yang keluar dari mulut Tasya untuknya sudah sangat lama ia tunggu. Akhirnya sekarang semua impian nya terwujud juga. Impian sederhana tetapi penuh makna.
* * *
Di tempat berbeda, akhirnya tangis bayi bergema di ruangan itu.
Bayi Juwita sudah lahir ke dunia, dan bayinya berjenis kelamin laki-laki. Juwita merasa begitu senang saat tahu anaknya laki-laki, karena sesuai sama apa yang diinginkan nya.
Rama beserta keluarga nya merasa bersuka cita, mereka rebutan ingin menggendong bayi yang masih merah tersebut.
''Alhamdulillah, akhirnya aku bisa juga membuktikan kepada semua orang, kalau aku adalah lelaki tulen. Duh, tampan sekali kamu, Nak. Tapi kenapa hidung kamu pesek, padahal hidung Papa mancung,'' ucap Rama di dalam hati dengan tatapan mata tertuju kepada paras bayi yang ada di dekapannya.
Bersambung.